
Aku segera pamit undur diri dari rumah Chaira. Aku berjanji akan datang lagi.
"Ku harap kamu sudah punya jawaban atas permintaanku Chai,,, aku ingin kita bisa segera berkumpul lagi" ucapku.
Setelah mengucapkan salam aku pun langsung memacu mobilku menuju kantorku. Hari ini aku sangat bersemangat. Aku harus mulai bekerja keras lagi memajukan perusahaanku yang hampir saja oleng.
Mulai sekarang aku harus lebih keras lagi bekerja karena aku akan mulai menafkahi istri dan mencukupi kedua anakku. Mereka penyemangatku. Aku tak ingin mengecewakan mereka.
Aku memutuskan untuk tidak memusingkan urusan Ray yang bisa dibilang telah menikungku diam diam. Aku sadar itu semua terjadi karena aku yang memberi celah untuknya masuk ke dalam hidup Chaira.
Ray akan selamanya menjadi sahabat Chaira jika saja aku tak menyakitinya dulu.
Ku pimpin rapat dewan direksi hari ini. Aku bawakan mereka ide ide baru dan yang pasti itu akan bagus untuk perusahaanku. Dewan direksi menerima kembalinya kepemimpinanku atas perusahaan dengan senang.
Pada dasarnya mereka tau aku layak jadi pemimpin. Aku dulunya adalah pemimpin yang sangat mereka segani karena aku selalu baik dalam memperlakukan semua karyawanku.
"Tuhan,, berilah aku kesempatan untuk kembali menjadi manusia baik dan selalu berjalan dijalanMU" doaku
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ray menutup rapat karyawan yang dipimpinnya pagi ini. Dia kembali ke ruangannya. Diambilnya ponselnya dan mengecek apa ada pesan atau telpon masuk dari Chaira.
Ray kecewa karena hanya pesan dan telpon dari para klien saja yang masuk. Dia meletakkan ponsel itu kembali ke meja dengan sedikit kasar.
"Masihkah Darren berada disana bersamamu Chai? Apa kalian sudah selesai membahas masalah kalian?" pikir Ray.
Ray menghela napas.
"Aku harus bersabar dan kembali memberinya waktu menyelesaikan semuanya" lirihnya lagi dan mulai menelpon asistennya untuk menemaninya rapat di tempat lain.
Dreeett,,,,
Ray dengan cepat menyambar ponselnya ketika bergetar. Dia berharap itu dari Chaira. Matanya membulat saat melihat nama Darren di layar ponselnya.
"Kenapa dia menelponku?" pikir Ray sesaat sebelum menekan tombol jawab.
"Halo Ray,,, aku ingin kita bertemu jika kamu ada waktu luang. Aku yakin kamu tau apa yang ingin ku bahas bersamamu" kataku
"Aku tau. Temui aku tiga jam lagi di cafe depan kantorku" jawab Ray
"Ok" aku menjawab singkat dan menutup telponku.
Ray berpikir sejenak setelah menutup telponnya.
"Sebaiknya memang ku temui saja dia. Aku ingin tau apa yang ingin dikatakannya. Aku akan menghadapinya. Sudah saatnya kami dua pria saling gentle dan dewasa menghadapi urusan ini" pikir Ray.
Tak ingin membuang waktu lagi. Kedua pria dewasa yang tengah jatuh cinta pada satu wanita itu berlomba untuk bekerja keras agar dapat membahagiakan wanitanya dan anak anaknya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Jam menunjukkan angka 2:45 saat Ray tiba di cafe yang dijanjikannya. Aku yang sudah tiba Lima menit sebelumnya melambaikan tanganku padanya.
Ray segera menuju ke tempatku.
Aku memberinya kesempatan memesan minum terlebih dahulu sebelum kami mulai bicara.
"Ray,, rasanya aku tak perlu lagi berbasa basi padamu. Aku tau kamu tak punya banyak waktu. Jadi aku langsung saja" ucapku.
"Aku ingin kamu mengalah Ray,,, Berikan aku kesempatan sekali lagi untuk membahagiakan Chaira. Ijinkan aku mendampingi putra putri kami" aku langsung saja.
"Aku tau kau sangat mencintainya bahkan jauh lebih dulu dariku,, aku sangat berterima kasih untuk cinta yang kau berikan untuknya selama ini. Cintamu melindunginya saat aku tak ada disisinya."
"Aku tak membencimu untuk rasa cintamu itu,, aku pun tak menyalahkanmu karena telah kembali mengisi kekosongan diantara kami. Celah itu,,, akulah yang membuatnya,,, "
"Sekarang aku hanya ingin mengharapkan kebaikan hatimu sekali lagi untuk membiarkan kami kembali bersatu. Ijinkan aku menebus semua dosaku padanya. Ijinkan aku menghapus luka yang sudah ku torehkan di hatinya"
Aku terus berbicara.
Ray diam. Hatinya berkecamuk. Wajah bahagia mama terlintas di benaknya.
"Apa Chaira sudah memberimu jawaban atas permintaan rujukmu? " tanya Ray
Aku menggeleng.
"Aku tak ingin terlalu memaksanya. Aku tau dia akan mengambil keputusan terbaik apalagi jika menyangkut anak kami" tukasku
Ray mengerti.
"Kita berdua harus sama sama bersabar menunggu keputusannya. Dan berbesar hati menerima siapa pun yang kelak akan dipilihnya. Baik kau dan aku,,, kita sudah sama sama dewasa. Aku yakin kita bisa sama sama menyikapi dengan baik" kata Ray lagi
"Aku mencintainya Ray,,, kau tau itu. Berat bagiku melepaskannya lagi." lirihku
"Dan aku pun ingin kau tau bahwa aku pun juga sangat mencintainya. Aku menutup diriku dari semua wanita karena hatiku hanya memilihnya" ucap Ray
"Jika sudah tak ada lagi yang ingin kau sampaikan aku ingin pamit" tukas Ray kemudian setelah kami sama sama tenggelam dalam kebisuan.
"Terima kasih atas kesediaanmu meluangkan waktumu. Dan sekali lagi ku ucapkan terima kasih karena telah menjaga Chaira selama ini" ucapku
Ray menoleh dan memandangku.
"Aku sanggup memberikan seluruh hidupku untuk menjaganya tanpa mendapat ucapan terima kasih darimu atau darinya. Aku tulus kepadanya. Apa pun yang ku lakukan kepadanya bukan semata aku ingin mendapatkan simpatinya."
"Aku mencintainya,,, selalu,, setiap detiknya,,,, sejak pertama kali kami bertemu,,,, bahkan saat dia menerimamu,,, saat dia menjadi istrimu,,, saat kau menyakitinya,,, saat kau berbicara denganku saat ini,, dan sampai tuhan mengambil kembali apa yang menjadi hakNYA atas diriku,,, Aku tetap mencintainya" Ray menutup kalimatnya dan pergi meninggalkanku.
"Terima kasih Ray,,, terima kasih atas cintamu untuknya. Cinta yang bahkan mungkin melebihi cintaku padanya. Tapi aku tak bisa merelakannya bersamamu seperti kau merelakan dirinya bersamaku dulu." lirihku
"Ku akui aku kalah darimu Ray" batinku
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Chaira menutup sholatnya dengan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya
"Aamiin"
Selepas sholat dia merasa lebih tenang. Jiwanya terasa sejuk dan damai. Dia memohon petunjuk kepada Rabb nya agar dibukakan mata hatinya dan mendapatkan jawaban yang tepat atas permintaan rujukku.
Dipandanginya kedua anak yang tertidur pulas di ranjangnya itu. Diciuminya pipi mereka.
Betapa ingin dia melihat tumbuh kembang mereka hingga mereka dewasa nantinya. Dia ingin melihat mereka tumbuh dalam keluarga bahagia.
Tidak seperti dirinya dulu yang tumbuh tanpa kehadiran abinya. Hanya ditemani umi. Selalu merasa rindu akan sosok abi yang menjadi pelindung.
Dia teringat saat dirinya menangis dan merajuk pada umi karena dia ingin raportnya diambil di sekolah oleh abi seperti beberapa teman teman lainnya yang ayahnya selalu hadir.
Dia ingat umi menangis waktu itu.
Dulu dia tak mengerti kenapa umi menangis namun saat ini dia paham. Umi bersedih karena tak bisa menyenangkanku dengan mengabulkan keinginanku karena umi tak tau dimana abi berada saat itu.
Bahkan saat umi telah mengetahui keberadaan abi,,, umi masih sering menangis tiap kali dirinya menanyakan kapan abi pulang.
"Chaira rindu abi umi,,,"
Kata itulah yang selalu membuat umi menangis dulu.
Sungguh aku tak ingin kedua anakku merasakan apa yang ku rasakan dulunya. Sungguh aku tak ingin mereka kekurangan kasih sayang ayahnya jika aku memutuskan menolak ajakan rujuknya.
Lalu bayangan Ray datang,,,
Chaira memandang cincin lamaran Ray yang sudah diterimanya.
Sungguh dia terima lamaran itu bukan karena dia merasa Ray telah mengisi kekosongannya selama ini,, Sungguh bukan karena dia merasa dirinya berhutang budi banyak pada Ray,, Sungguh bukan karena dia tak tega menolak Ray,,
Tapi karena hatinya juga mencintai Ray,,,
Ray adalah cinta pertamanya,, Ray adalah sahabatnya,, Ray yang selalu ada untuknya dari dulu hingga tuhan kembali mempertemukan mereka,,,
Ray yang telah mampu membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya dan kecewa juga karena Ray yang dulu jujur mengatakan dirinya belum siap jika harus menikahi Chaira,,,
Chaira telah berusaha memupus cintanya pada Ray saat itu kini kembali dipertemukan dalam kondisi Ray yang telah siap menikahinya dan cintanya yang kembali bermekaran,,,
Namun Rabb nya masih ingin menguji cintanya sekali lagi dengan kembali menghadirkanku dalam hidupnya,,,
Chaira bimbang,,,
Manakah yang harus diutamakan,,,
Hatinya kah?? Atau buah hatinya??
Jangan lupa vote, like dan komen yaaa
__ADS_1
Terima kasih 😍