BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S Part 62


__ADS_3

Selamat membaca 🌹


Maaf banyak typo πŸ™


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌹🌹


"Ngaco lo pada ah,,," seru Levi ketika semua meledekinya.


"Gue cabut aja lah." serunya lagi.


"Eh lo mo kemana?? Gue ikut,,,!!!" Bimo langsung berdiri dan menyusul.


Levi tak menyahut dan terus berjalan. Matanya terus menyusuri setiap lorong yang dilewatinya siapa tau menemukan Tiara. Namun tak kunjung menemukannya.


"Apa ada hubungannya sama perkataan om Herman kemarin ya??" batin Levi sambil terus berjalan dan matanya fokus mencari cari keberadaan Tiara.


"Coba deh lo telponin dia pake nomer lo."titah Levi yang sudah putus asa pada Bimo.


"Lah kenapa jadi gue yang harus telpon?? Emang nomer lo kenapa??" protes Bimo.


"Kan gue sudah bilang kalau gue gak bisa telponin doi." Sungut Levi.


"Oh iya ya hehehe,,,Lo yang jatuh cinta kok gue yang ikutan songong yaa,,," Bimo tepuk jidatnya sendiri.


"Terus aja lo ngomong gitu,, Gue tabok juga lo,,," sungut Levi.


"Aman bro aman,,, Jangan naik darah gitu. Lo tuh musti sabar sabarin diri dan nikmatin tuh drama percintaan kalian. Sudah saatnya kali buat si Tiara mendapat jawaban dari penantiannya." Bimo tak berhenti menggoda.


Tak ayal ucapannya itu membuat Levi memukul lengannya dengan cukup keras saking gregetan diledekin terus.


"Aduuuhhh,,, orang lagi jatuh cinta kenceng banget tenaganya ihhh,,," goda Bimo lagi.


"Buruan telponin,,," Sungut Levi lagi sambil terus berjalan menuju warung makan tongkrongan langganan mereka karena masih berharap bisa menemukan Tiara di sana.


"Iya iyaaa sabarrr,, Tiara juga kemana sih nih baby lovelynya kebingungan dan gue yang jadi korban bogemnya,,," Bimo mengomel dan mulai menekan angka angka di ponselnya.


Bimo mengerutkan alisnya karena yang terdengar hanya suara operator telpon yang mengatakan bahwa nomer itu tidak bisa dihubungi.


"Gimana?? Nyambung gak??" tanya Levi tak sabar.

__ADS_1


Dirinya memang meminta Bimo yang menelepon karena hanya ingin mencari tau apakah nomernya saja yang diblokir oleh Tiara karena kejadian kemarin atau memang semua nomer juga tak bisa menghubunginya.


Bimo menggeleng dan sekali lagi coba menelpon Tiara. Lagi lagi hanya suara operator yang terdengar.


"Kemana nih anak,,, Gak biasanya nih hareem ngilang begini. Lo apain anak orang kemarin??" Bimo mendesak Levi.


"Kok gue??" protes Levi.


"Ya masak gue??? Yee kan lo aja yang selalu sama doi." jawab Bimo.


Levi duduk di bangku yang tersedia sesampainya di warung makan itu. Lagi lagi tak ada Tiara di sana. Levi pun menghela napas dan kecemasaannya bertambah.


"Apa gara gara kemarin ya??" gumamnya.


"Eh ada apaan kemariiiinnnn??? Cerita dong ke gue,,," Bimo mendadak mendekat dan kepo.


"Kepo banget lo ah,,," sahut Levi mendorong Bimo agar menjauhi dirinya.


"Gue kan teman dekat kalian,, Jadi gue juga pengen tau dong ada kejadian apa. Bukan karena gue mau kepo tapi karena gue peduli ma lo berdua." jawab Bimo sambil mulai menyeruput kopi yang sudah baru dihidangkan di mejanya.


Levi yang merasa dekat dengan Bimo pun percaya pada ucapan sahabatnya itu. Selama ini memang hanya Bimo dan Tiara orang yang bisa dipercayainya. Dengan gamblang Levi pun menceritakan kejadian kemarin di rumah Tiara.


"Udah lo tenang dulu. Tuh minum kopi lo. Keburu dingin. Abis ini kita samperin aje ke rumahnya. Kan kita berdua bisa bilang ini urusan kerjaan kampus. Tiara kan anggota kelompok kita. Nanti biar gue yang ngomong." ucap Bimo menyanggupi.


"Yakin lo bapaknya gak bakal ngamuk?? Tuh bapak bapak aneh soalnya,, Gue masih tunggu ayah ngabarin gue sih sebenarnya. Gak sebaiknya kita tunggu aja ayah gue??" tanya Levi.


"Kelamaan keburu jauh perginya Tiara." Sahut Bimo langsung berdiri dan beranjak.


"Eh lo mau kemana woyy,,, Kopi gue belum gue minum!!!!" seru Levi.


"Pilih kopi apa Tiara????" teriak Bimo tak menoleh dan terus berjalan.


"Tiara laaaaahhhh,," sahutnya tanpa sadar.


"Cieeeeeeee,,,,," sontak seisi warung pun menyahut.


"Uppsss,,,," Levi baru sadar dengan apa yang diucapkannya barusan dan menutup bibirnya meski sudah terlambat.


Tak ingin berlama lama diledekin teman teman kampusnya,,, Levi pun langsung berdiri dan mengejar Bimo karena dirinya tak ingin kehilangan Tiara. Akhirnya timbul rasa takut kehilangan Tiara dalam dirinya.


Bimo yang sudah lebih dulu sampai di mobil Levi langsung meminta kunci dan menawarkan dirinya untuk menyetir. Dia tidak mau sahabatnya yang sedang jatuh cinta itu melamun di jalan dan membuatnya celaka.

__ADS_1


"Bagaimana pun juga aku harus tau keadaanmu dan apa yang sebenarnya terjadi,,, Kamu tidak seperti biasanya. Ini bukan dirimu Ra,,, Pasti terjadi sesuatu padamu dan besar kemungkinan itu karenaku." batin Levi.


Jalanan yang lumayan ramai dan macet membuat Levi makin tidak sabar untuk segera sampai di rumah Tiara.


"Klakson dong yang di depan biar buruan jalan,,," titahnya pada Bimo.


"Hmmm ini nih makanya gue gak mau lo yang nyetir. Bisa bisa lo tabrak semua nih mobil." ucap Bimo kesal karena Levi makin tidak sabaran.


"Jalan Bim,,, jalaaaann jangan ngomel aja." titah Levi begitu mobil di depan sudah bergerak.


"Iyaaa bosss iyaaaaa,,,," sahut Bimo langsung tancap gas.


🌸🌸🌸🌸


"Herman Soedibyo itu salah satu klien yang gue tolak proposalnya Dare,,," ucap Dion saat Darren menanyakan apa dia ingat nama itu.


"Kenapa lo tolak?? Ada masalah dengan proposalnya??" tanya Darren.


"Sama sekali gak ada salahnya." jawab Dion.


"Trus kenapa lo tolak??" tanya Darren tak mengerti.


"Dia bilang dia teman kuliah kita dulu bro tapi gue agak lupa. Pas gue tanya dia itu jurusan apa,,, ehh dia malah bilang kalau lo gak pernah cocok jadi suami Chaira karena dia lebih cocok. Songong banget,,,." kata Dion.


"Hah??? Dia bilang gitu??" Darren terkejut.


"Iyaaa,,, Orang itu mengaku bahwa dirinya adalah pacar Chaira sebelum lo. Lo yang buat Chaira ninggalin dia. Karena gue tau Chaira seperti apa,, Dan gue rasa tuh orang hanya halu aja,,Langsung gue tolak saja lah proposalnya meski itu bagus. Gue pikir daripada lo kenal sama tuh orang mending langsung gue tolak atas nama lo. Daripada nambah masalah lo yang waktu itu lagi runyam runyamnya sama Chaira,," jawab Dion.


"Mungkin dia diam diam demen kali sama Chaira tapi gak direspon ma Chaira,,, Jadi dia bikin ulah lagi sekarang??," lanjutnya.


"Pantas dia benci banget ma gue. Jadi ini masalah salah paham saja. Gue sama sekali gak ketemu dia tapi hanya karena pemilik perusahaan adalah gue jadi pak Herman kira keputusan menolak itu dari gue. Sudah dia kesal karena kalah saing sama gue,,,Masih harus gagal dalam urusan pekerjaan gara gara gue." gumam Darren.


"Lo mau gue urus tuh orang??" tanya Dion.


"No,,, Jangan diusik lagi. Biar gue yang jelaskan baik baik dan luruskan semuanya. Kita sudah tua bro,,, sudah bukan waktunya main belakang. Setiap ada masalah sebaiknya kita hadapi saja dengan cara yang baik. Bicara dari hati ke hati. Apalagi ini menyangkut Levi,,, Sudah tugas gue untuk mendampinginya." jawab Darren.


"Dare,,,Lo berubah total dan gue salut sama lo." ucap Dion.


\=\=\=\=\=\=\=


Terima kasih atas vote, like dan komennya yaa 🌸

__ADS_1


__ADS_2