
Kamis manis,,,
Aku segera bangun dan mandi.
"Hana tolong jadwalku yang pertama pagi ini diubah menjadi jam 4 sore saja. Aku ada perlu pagi ini" ucapku pada Hana lewat telpon.
"Ok Dare" jawab Hana.
Walau Hana sekretarisku saat ini tapi aku tetap memintanya untuk tak perlu memanggilku dengan sebutan pak saat kami sedang berdua saja. Kecuali jika saat acara formal di kantor.
Kamis selalu terasa manis bagiku karena hari ini selalu membawaku untuk kembali menemui permata jiwaku. Hari ini aku sengaja mengubah jadwalku menemui mereka karena aku ingin mengajak Levi jalan jalan atau sekedar membeli mainan.
Aku sengaja tak memberitahukan pada Chaira bahwa aku akan datang pagi ini. Aku segera memacu mobilku menuju rumah Ray. Aku segera saja masuk saat melihat pintu pagar yang sudah terbuka.
"Mungkin tiap pagi mereka memang membukanya karena sebentar lagi Ray akan berangkat kerja" pikirku.
Mendekati pintu aku mendengar suara pekikan yang cukup keras. Aku mengenali suara itu. Itu suara mama Ray.
" Alhamdulillaaaaaahhhhh,,,, Akhirnya Raaaayyyyy,,,, ih anak mama memang hebat!!!!" suara mama Ray.
"Tokcerrr kan ma???" kali ini suara Ray yang disambungnya dengan tawa keras.
"Raaayyy,,, kamu ini tidak tau maluuu" suara bidadariku.
Suaranya terdengar sangat manja dan bahagia. Bahkan Selama menikah denganku rasanya aku tak pernah mendengar dia berbicara semanja itu padaku.
Bidadariku itu selalu sopan padaku. Dia selalu anggun. Hari ini aku melihat sisi lain dari dirinya yang tertawa lepas dan penuh kebahagiaan.
Aku turut bahagia bidadariku,,,
Aku turut bahagia untukmu,,
Mungkin keputusanku melepasmu adalah hal yang benar karena akhirnya kamu menemukan kebahagiaanmu yang sesungguhnya,,,
Bersama Ray,,,
Aku kembali sendu mengucapkan kata itu. Bersama Ray,,, Kenapa Dare?? Kenapa kau ciptakan celah hampa diantara dirimu dan Chaira dulu?? Hingga akhirnya tanpa kau sadari Ray masuk dan mengisi celah itu,,,,
Hatiku kembali tertikam oleh pertanyaan pertanyaanku sendiri.
Aku kembali mendengar tawa Chaira yang lepas. Hatiku kembali sakit karena aku menyadari selama ini ternyata aku belum bisa sepenuhnya membahagiakannya seperti ini.
Ternyata memang Ray cinta sejatimu sayang,,, Ray yang mampu membuat dirimu menjadi dirimu seutuhnya.
Aku,,, Aku sakit sayang. Aku sakit menyadari semua ini sudah begitu terlambat.
"Ayo biar mama ikut dengan kalian ya,, mama juga ingin tau perkembangan cucu mama ini!!!" suara mama Ray kembali terdengar.
Apa aku tidak salah dengar???
Mama Ray menyebut kata perkembangan cucu,,, cucu yang mana maksudnya? Setauku selama ini mama Ray memang menganggap anak anakku sebagai cucunya sendiri.
Tapi kalau memang mereka yang dimaksudnya untuk apa dia ingin ikut pergi bersama Chaira dan Ray jika hanya ingin melihat perkembangan mereka.
Toh anak anakku ada dirumah bersamanya.
Aku tak mengerti.
"Dare,,, Hai,,, Kenapa berdiri saja disini? Ayo masuklah!!!" Ray yang terkejut melihatku berdiri langsung menyapaku.
Ray yang awalnya ingin keluar untuk memanaskan mobilnya terkejut melihat aku yang sudah berdiri mematung.
__ADS_1
"Oh,,, aku hanya ingin menjenguk anak anak. Apa kau keberatan Ray?" tanyaku.
Walau bagaimana pun aku harus tetap minta ijinnya. Mereka memang anakku tapi mereka tinggal dirumah dan dalam pengawasan Ray.
"Tentu saja aku tidak keberatan,, tapi sayangnya kami semua akan pergi pagi ini. Maaf Dare,,, ku pikir kamu akan datang sore seperti biasanya" ujar Ray.
"Oh ya,, aku minta maaf jika aku tak memberitahu terlebih dulu. Aku hanya berencana mengajak Levi pergi jalan jalan denganku sebentar Ray. Tapi jika memang kalian sudah ada acara aku bisa menundanya. Aku bisa datang lagi hari sabtu" ucapku walau sebenarnya aku agak kecewa.
Ray menatapku. Sepertinya dia paham dengan perasaanku.
"Jika kau mau kau boleh membawanya bersamamu. Lagipula kami hanya akan pergi ke dokter saja." Tukas Ray.
"Siapa yang sakit Ray?" aku heran karena aku mendengar semua sedang bahagia tadi.
Sama sekali tak terdengar ada suara yang sedang sakit.
"Bukan sakit,,, kami hanya ingin memeriksakan kandungan Chaira Dare" Ray tersenyum dan tampak senyumnya itu ditahan agar tak terlalu menyakitiku.
Ray pria yang baik. Dia tentu tau kabar kehamilan Chaira ini akan membuatku merasa sakit atau cemburu. Oleh karena itu dia tak mau terlalu menunjukkan betapa bahagianya dirinya saat inj.
Tinggal aku yang tiba tiba linglung mendengar kabar itu. Aku tak tau kali ini apa aku bisa berpura pura bahagia atau aku harus menunjukkan rasa sakitku.
"Se,,, se,, selamat Ray,,, " aku tak mampu melanjutkan perkataanku.
Aku sungguh tak rela jika harus mengucapkan selamat atas kehamilan Chaira.
Dalam benakku terbayang saat Ray menggauli Chaira,,, Terbayang saat Ray memiliki Chaira seutuhnya,,, Terbayang saat Ray akan melenguh manja ketika dia menyiramkan benih cintanya,,, Terbayang saat Chaira menikmati semua yang dilakukan Ray terhadap dirinya,,,
Aku cemburuuuuu!!!!!
Ingin rasanya ku teriakkan kata itu dengan keras saat ini. Hatiku benar benar terbakar membayangkan semua itu. Aku sungguh sakit membayangkan Ray menyentuh tiap inci tubuh mulus Chaira.
"Terima kasih Dare,,, Sebenarnya kau tak perlu mengucapkannya jika hatimu berat. Aku tau ini berat bagimu" ucap Ray penuh pengertian.
Aku terdiam. Ray benar benar pria baik. Dia tau bagaimana menyikapiku. Sikapnya yang begitu gentle dan memahamiku mampu menyadarkan dan menurunkan emosiku.
Astaghfirullah,,,
Maafkan aku tuhan karena telah membiarkan pikiran buruk dan penyakit hati kembali menguasai diriku untuk sesaat.
"Maaf Ray,,, Aku hanya,,,, " aku kembali tak menyelesaikan perkataanku.
"Sudahlah,,, aku ingin kau turut berbahagia bersama kami. Aku menganggapmu keluargaku juga. Kau tetaplah menjadi bagian penting dalam hidup Chaira. Hidup Chaira adalah hidupku juga jadi aku selalu menerimamu. Aku ingin membagi kebahagiaanku denganmu juga" ujarnya.
Aku terpana mendengar ucapannya itu.
Ucapan Ray sungguh terasa menamparku berkali kali. Saat aku masih saja memiliki rasa benci dalam hatiku terhadapnya,, dia malah sudah jauh tinggi kemuliaan hatinya diatasku karena dia dengan tulus menganggapku sebagai keluarganya.
Kamu sungguh kalah jauh Dare darinya,,,
Itulah sebabnya tuhan menghadiahkan Ray untuk Chaira,,,
Bukan dirimu yang penuh iri dan prasangka,,,
Kamu sungguh tak layak untuk bidadari itu Dare,,,
Kamu tak layak,,,,
Hatiku dihujami kata kata pedas dari batinku sendiri.
"Sayang,,, kenapa tak memberitahu ada Darren disini?" Chaira yang baru muncul menegur suaminya.
__ADS_1
Sayang,,,,
kau sudah memanggilnya sayang,,,
Ya tuhan,,, aku berlindung darimu dari bisikan bisikan kecemburuan ini,, aku tak ingin kecemburuan ini menyakitinya lagi,, aku tak ingin melukainya dengan memperlihatkan kecemburuanku ini.
"Darren ingin mengajak Levi jalan jalan bersamanya. Aku pikir lebih baik kita mengijinkannya sayang" tukas Ray.
"Apa benar Dare?" tanya Chaira
Aku hanya mengangguk. Aku belum mampu berkata kata karena aku terus sibuk meredakan kecemburuanku yang terus berusaha menguasaiku terutama saat melihat tangan Chaira yang bergelayut manja di lengan Ray.
"Kamu boleh membawanya Dare,,, antarkan saja dia sebelum atau setelah jam makan siang" kata Chaira.
"Sebentar,, biar aku menpersiapkan keperluannya dulu" bidadariku itu langsung masuk.
Kedua pria ini kembali berhadapan.
"Ray,,, boleh aku meminta sesuatu kepadamu?" lirihku.
"Selama bisa ku kabulkan maka akan ku penuhi. Apa permintaanmu?" tanya Ray yang tak ingin ceroboh mengiyakan apa mauku.
"Aku hanya memintamu untuk tidak membedakan rasa sayangmu kelak pada anak anakku jika anakmu telah lahir" ucapku.
Ray tersenyum.
"Sebenarnya aku terkejut mendengar permintaanmu ini. Bagaimana bisa kamu berpikir bahwa aku akan membedakan kasih sayangku kepada mereka kelak,,, bagiku mereka semua sama Dare,, mereka anakku. Aku pikir kamu juga memiliki pikiran yang sama denganku. Jika aku bisa menganggap anak kalian adalah anakku,,, kenapa rasanya kamu tak sanggup menganggap anakku juga anakmu?" pertanyaan pedas itu keluar dari bibir Ray.
"Levi lahir dari rahim Chaira,,,aku menerimanya,,, Putri tak terlahir dari rahimnya namun aku tetap menerimanya saat Chaira memutuskan mengadopsinya karena dia berpikir saat itu anakmu juga anaknya. Kini aku mohon,,, kamu juga bisa berpikir sama sepertiku" pinta Ray.
Aku kembali merasa kulit wajahku dikelupasi. Aku malu bukan kepalang. Sungguh aku merasa hina di hadapan Ray.
"Maafkan aku Ray,," lirihku.
Ray hanya menepuk bahuku.
Chaira datang membawa Levi yang sudah siap.
"Ayaaahhh" Levi langsung berteriak dan memelukku.
Kehadiran dan pelukan Levi menghangatkan hatiku,,, Aku membawanya masuk ke mobil setelah berpamitan pada Chaira dan Ray.
"Selamat Chai atas kehamilanmu. semoga diberi kelancaran dan kesehatan" ucapku
"Terima kasih Dare" jawabnya yang merasa heran karena merasa belum memberitahuku.
Dia menoleh pada Ray yang mengedipkan matanya memberi isyarat bahwa dialah yang sudah memberitahuku. Mereka melambaikan tangannya padaku dan Levi.
Kamis manisku tak terlalu terasa manis,,,
Ada duka mendalam menyelimutiku,,,
Namun Levi ku memberikan senyuman manis dan kecupan manis di pipiku,,,
Maafkan ayah nak,,, karena ayah tak bisa membuat kita bisa bepergian bersama bunda,,
Maafkan ayah,,,
Jangan lupa vote, like dan komen yaaaa
Terima kasih 😍
__ADS_1