
Hati itu aku mendapat kesempatan yang cukup lama berbincang dari hati ke hati bersama Chaira.
"Chai,, mengenai pesanmu tempo hari,,, Aku tak tau apa yang Dion katakan padamu,, Tapi aku ingin kau mengabaikannya" ucapku
"Kenapa Dare,, kenapa kamu menyiksa dirimu seperti ini?" tanya Chaira
"Bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu bahwa aku sudah memaafkanmu. Jadi kau tak perlu terus larut dalam penyesalan dan rasa bersalahmu itu." lanjutnya
"Aku tau Chai,,, aku bahkan sangat berterima kasih karena kau telah memaafkanku. Tapi aku mencintaimu bukan karena aku ingin menebus kesalahan yang pernah ku lakukan padamu. Dari awal aku memang mencintaimu,,," ucapku.
"Tapi aku tak ingin cintamu padaku membuatmu menderita seperti ini Dare" jawab Chaira.
"Tidak Chai,,, aku sama sekali tidak menderita karena mencintaimu. Justru cintaku padamu memaksaku untuk tetap bertahan hidup agar aku bisa menyaksikan sendiri bahwa kau telah bahagia walau bukan bersamaku" tegasku
"Tolong jangan melarangku untuk tetap mencintaimu,,, Biarkan aku hidup dengan cintaku padamu,,, dan kau,, Teruslah hidup dan bahagialah bersama cintamu,, bersama Ray" pintaku.
"Insyaallah aku sudah ikhlas melepasmu" tutupku
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Dare,,,, kami harus pergi ke luar kota untuk acara kumpul keluarga besarku. Aku sebenarnya ingin sekali mengajak anak anak turut serta. Tapi aku juga tak ingin mengganggu jadwalmu bersama mereka" Ray mengutarakannya padaku.
"Tidak apa apa Ray,,, aku bisa mengalah untuk minggu ini. Nanti bisa kita atur agar aku dapat jadwal lebih lama bersama mereka di minggu berikutnya" jawabku
Ray setuju. Chaira pun tak keberatan.
"Aku akan datang besok pagi sebelum kalian berangkat" lanjutku.
"Iya Dare,,, datanglah sebelum jam 7 karena kami harus berangkat pagi pagi sekali." tukas Chaira.
Keesokan paginya,,,
Aku menepati janjiku untuk datang mengantar kepergian mereka. Ray memutuskan membawa mobil dan menyetir sendiri saja. Dia membawa semuanya.
Aku turut membantu mengangkat dan menaikkan barang mereka ke bagasi. Ray sengaja membawa mobil besar dengan bagasi ekstra di belakangnya.
"Levi sama Putri jangan nakal disana ya,,, Jaga adik Rayya,,, Patuh sama perintah abi dan bunda" pesanku pada anak anakku.
Aku mencium kening mereka sebelum mereka masuk ke mobil. Mama Ray sudah terlebih dulu masuk dan duduk di kursi belakang sopir.
Ray juga sudah duduk di balik kemudinya. Dia tersenyum ketika anak anak naik.
"Hati hati sayang" ucapnya.
Levi membiarkan Putri masuk duluan karena dia ingin duduk di tepi saja.
"Ayah gak ikut?" tanyanya sebelum aku menutup pintu mobil.
"Ayah masih ada pekerjaan sayang,,, tapi ayah usahakan bisa menyusul kalian ya" jawabku berbohong.
Tak mungkin juga aku menyusul mereka karena itu adalah acara keluarga besar Ray. Aku merasa tak perlu berada disana.
"Kami pergi dulu Dare,,, Terima kasih telah mengijinkan anak anak ikut dengan kami. Terima kasih sudah mengalah" ucap Chaira.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Aku membantu membukakan pintu untuknya. Sekali lagi dia mengucapkan terima kasih padaku sebelum menutup pintunya. Dia duduk di kursi depan di samping Ray dengan memangku Rayya.
__ADS_1
Saat Ray hendak menjalankan mobilnya aku setengah berlari memutari mobilnya dan mengetuk kaca pintu Ray.
"Ada apa Dare?" tanyanya.
"Hati hati Ray,,,Bawa kembali mereka semua padaku dengan selamat Ray,,, Mereka adalah harta berharga milikku. itu saja" ucapku.
Ray tersenyum dan mengangguk. Dia kembali menaikkan kaca mobil dan mulai bergerak. Aku memandang kepergian mereka sambil melambaikan tanganku pada anak anakku.
Entah kenapa ada perasaan sedih dihatiku ditinggal mereka. Ada perasaan aneh yang ku rasakan namun aku tidak tau perasaan apa itu.
Sejenis rasa khawatir dan takut akan kehilangan.
"Mereka hanya pergi 3 hari saja Dare,,, mereka akan segera kembali." lirihku menenangkan diriku sendiri.
Aku masuk ke mobilku dan menuju kantorku dengan perasaan yang masih kacau. Sepanjang jalan wajah dan tawa ceria anak anakku terbayang.
Lambaian tangan mereka entah kenapa membuat perasaanku semakin tak menentu.
Lindungi mereka tuhan,,, Lancarkanlah perjalanan mereka. Bawa mereka kembali padaku tanpa kurang suatu apa.
Aku terus berdoa dalam hati.
Setibanya di kantor pekerjaan yang sudah menumpuk membuatku sedikit bisa melupakan dan mengabaikan perasaan kekhawatiranku.
Aku tenggelam dalam kesibukanku dan tak menyadari waktu telah berjalan dengan cepat.
Ku lirik jam tanganku.
"Kenapa belum ada kabar dari Ray atau Chaira? Sudah jam segini tidak mungkin mereka belum sampai" aku mulai khawatir lagi.
Aku juga sudah mencoba menelpon Chaira tapi nomernya tidak bisa dihubungi. Aku menarik napas dalam dalam berusahan mengalirkan oksigen sebanyak banyaknya kedalam tubuhku agar aku merasa lebih tenang.
Tok tok tok,,,
"Masuk" ucapku saat pintu ruanganku di ketuk.
Sekretarisku masuk dan menyampaikan padaku bahwa semua dewan direksi sudah siap dan menunggu di ruang rapat. Aku kembali melirik jam tanganku.
Rupanya sudah jadwalku memimpin rapat direksi.
"Baiklah,, aku akan segera datang" ucapku.
Sekali lagi aku melihat ponselku yang tak kunjung ada pemberitahuan apa pun dari Ray. Aku kembali menarik napas dalam sebelum memutuskan untuk tidak membawa serta ponselku ke ruangan rapat.
Aku melarang keras semua karyawanku membawa ponsel sata kami sedang rapat. Jadi kali ini aku pun harus memberikan contoh pada mereka semua. Aku tak ingin jadi pemimpin yang hanya bisa memerintah tapi tak bisa melakukannya sendiri.
Aku tak mau jadi pemimpin yang hanya bisa memberikan wacana tanpa praktek yang jelas.
Walau hatiku masih belum bisa tenang tapi begitu memasuki ruangan rapat aku fokuskan sepenuhnya konsentrasiku. Rapat kali ini lumayan membutuhkan perhatian khusus karena ada beberapa masalah yang terjadi di beberapa anak cabang perusahaanku.
Hampir dua jam berkonsetrasi penuh pada pekerjaan,, aku kembali ke ruanganku dan duduk di kursiku. Aku meneguk air putih yang tersedia di mejaku. Ku longgarkan ikatan tali dasiku dan menyandarkan kepalaku di kursiku.
Setelah cukup merasa lebih tenang dan fresh setelah meeting yang cukup menyita pikiranku tadi,, aku meraih ponselku. Mataku terbelalak melihat ada sepuluh kali panggilan tak terjawab dari Ray.
Sepenting apa pun Ray tak biasanya menelpon sampai sebanyak itu. Dia paling banyak hanya akan menelpon dua kali saja dqn tak akan mengulangi untuk ketiga kali jika aku tak menjawab.
__ADS_1
Sebagai sesama pengusaha sibuk dia tentu tau jika aku tak menjawab telpon darinya bisa jadi aku memang sedang sibuk dan belum memungkinkan untuk menjawab telpon.
"Ada apa kira kira?" batinku sambil mulai menekan tombol panggilan.
Aku menelpon Ray. Cukup lama berdering akhirnya Ray mengangkat telponnya.
"Selamat siang pak Darren" suara orang yang menjawab telponku.
Aku menarik ponselku dari telingaku dan melihat layarnya memastikan benar nomer Ray yang ku tuju. Aku heran saat melihat bahwa aku memang tak salah. Itu memang nomer Ray.
"Tapi siapa yang mengangkat? Kenapa sepertinya itu bukan Ray? " pikirku
Aku memutuskan menjawab sapaan orang diseberang yang terus memanggil namaku.
"Halo,,, maaf anda siapa ya? Saya menelpon Ray keluarga saya. Tapi kenapa bukan Ray yang menjawab telpon saya?" tanyaku
"Maaf pak,, saya dari pihak kepolisian. Sebelumnya saya mencoba menghubungi anda berkali kali namun anda tak menjawab." tukasnya
"Polisi? Kenapa bisa ponsel Ray ada bersama anda? Apa yang terjadi?" tanyaku heran
"Begini pak,,, kami menelpon anda karena kebetulan nomer anda adalah yang paling sering dihubungi oleh pemilik ponsel ini. Kami menemukan ponsel ini di lokasi kecelakaan mobil yang menimpa pemilik ponsel beserta keluarganya." jelasnya
"Kami berharap bapak bisa datang dan membantu kami mengidentifikasi korban.,,,,,, " polisi itu menjelaskan dimana lokasi kejadian kecelakaan itu.
Ponselku terjatuh setelah polisi menutup panggilan. Tanganku gemetar. Badanku lemas.
Bidadariku,,,
Putra putriku,,,,
Ray,,,
Keluargaku,,, bertahanlah,,,
Aku menelpon Dion memintanya menemaniku. Aku hanya tak ingin mengemudikan mobil dalam kondisi sedang kalut begini.
Dion menyanggupi permintaanku dan mengajak Hana turut serta. Kami segera memacu mobil kami menuju rumah sakit tempat mereka dibawa.
Polisi yang masih menungguku langsung menjelaskan kronologi kejadian. Mobil Ray dan beberapa mobil lain yang menjadi korban kecelakaan ditabrak dari belakang oleh sebuah truk bermuatan berat yang mengalami rem blong di sebuah perempatan ketika mereka berhenti saat lampu merah.
Mobil Ray adalah mobil yang berada paling belakang jadi mobilnya adalah yang paling rusak parah karena benturan keras dan sempat terpental lalu terguling.
Lututku terasa lemas mendengar penjelasan itu. Dion memberikanku kekuatan dengan menyangga tubuhku yang hampir roboh ini.
Dia membawaku duduk di kursi yang tersedia disana. Polisi masih menunggu keterangan dari dokter yang menangani semua korban.
Tuhan,,,,
Beri kekuatan pada mereka semua agar mereka bisa bertahan,,
Berikan juga kekuatan padaku agar bisa menerima kabar apa pun tentang mereka.
Bertahanlah bidadariku,,, permata hatiku,,,, Aku ingin kau terus hidup untukku.
Jangan lupa vote, like dan komen yaaaa
__ADS_1
Terima kasih 😍