BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S Part 98


__ADS_3

Selamat membaca 🌸


Maaf banyak typo πŸ™


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌸🌸


"Bantu Ayya ya kak,,,Ayya percaya kakak bisa menjalankan amanah abi dan Ayya." ucap Rayya pada Levi begitu pak Malik pamit undur diri.


"Meski ini berat,, Tapi kakak akan berusaha sebaik mungkin menjalankan amanah ini. Meski kakak merasa tidak pantas,,, Tapi kakak tidak ingin mengecewakan abi juga yang sudah begitu menerima kakak." jawab Levi.


Darren masih sibuk dengan airmatanya menyaksikan hari dimana kasih sayang adik kakak ini kembali diperlihatkan. Dia bangga,,, senang,,, Sedih,,, terharu,,, bercampur aduk.


"Baiklah kalau begitu Ayya tutup dulu ya telponnya. Ada yang harus Ayya kerjakan di sini. Mana ayah??" tanya Rayya karena tak melihat Darren di sekitar Levi.


Tanpa banyak bicara Levi menyerahkan ponselnya pada Darren. Dengan cepat Darren mengusap airmatanya.


"Ayah,,, Jangan menangis." ucap Rayya.


"Ayah baru sadar kamu sudah berusia tujuh belas tahun nak,,," ucap Darren kembali tak kuasa menahan airmatanya.


"Iya ayah,,, lebih dari sepuluh tahun Rayya jadi putri ayah." ucap Rayya dengan suara bergetar menahan kerinduan untuk memeluk sosok pengganti abinya itu.


Sosok yang selama ini melindunginya dengan sangat baik.


"Nak apa kamu benar benar rela membagi apa yang seharusnya jadi milikmu pada kakakmu ini??" tanya Darren memastikan Rayya tak menyesal membagi harta peninggalan Ray dengan Levi.


Sebenarnya Levi juga tidak akan kurang harta walau Rayya tak membaginya karena Darren sendiri sudah banyak menyiapkan segala sesuatunya bagi Levi. Dan Rayya juga tentunya.


"Ayah,,, Ini bukan soal Rayya yang rela atau tidak rela. Ini soal bakti Rayya pada mendiang abi yang sudah berpesan demikian. Bagaimana mungkin Rayya tidak percaya atau tidak rela kalau abi saja sudah percaya pada kak Levi?" tanya Rayya balik.

__ADS_1


"Semasa hidup abi,,, Rayya belum berbuat apa apa untuk abi ayah. Abi sudah pergi saat Rayya masih kecil. Masih belum tau caranya membalas budi pada orang tuanya seperti anak anak yang lain. Seperti kak Levi pada Ayah. Rayya tak seberuntung itu ayah,,," lirih Rayya.


"Ayya,,, Kok gitu ngomongnya. Kakak jadi ikut sedih." Levi ikut bicara dan mengambil ponsel itu dari Darren.


Levi memandang adiknya dengan tatapan sedih.


"Tidak udah sedih kak. Rayya gak lagi sedih kok..Justru Rayya senang sekali saat ini karena sekarang ada amanah abi,,, Ini adalah momen yang tepat bagi Rayya menunjukkan bakti Rayya pada abi dengan menjalankan amanahnya dengan baik." Mata Rayya masih berkaca kaca.


"Iya Ayya,,, Semangat ya Ayya. Semangat untuk kita berdua. Kita saling jaga amanah orang tua kita. Bagaimana pun juga kita ini tetap anak anak yang beruntung karena tuhan tak hanya memberikan satu,,, Tapi dua sosok pria yang menyayangi kita dengan segenap jiwanya. Kita harus senang karena kita tak hanya punya abi,,, tapi juga punya ayah." ucap Levi mengarahkan layar ponselnya pada Darren yang masih saja belum berhenti berurai air mata.


"Peluk ayah untukku kak,,," pinta Rayya begitu melihat wajah Darren yang sudah mulai ada kerutan tipis di dahinya.


Rayya paham betul,,, Ayahnya itu sudah berusaha sangat keras bekerja agar bisa memberikan segala sesuatu yang terbaik untuk dirinya dan Levi. Bahkan ayahnya itu mengesampingkan kebutuhan pribadinya sendiri sebagai pria.


Ayahnya tak menikah lagi demi tak ingin menghadirkan sosok pengganti bundanya pada Rayya dan Levi tak peduli ada banyak wanita di luar sana ingin masuk dalam kehidupannya.


"Rayya sayang ayah,,," ucap Rayya begitu Levi memeluk Darren.


Sontak ucapan keduanya dan pelukan hangat dari putranya membuat Darren tersedu sedu saking bahagianya. Bahagia karena kedua anaknya menerimanya dan menyayanginya setelah semua yang dilakukannya di masa lalu.


"Jaga dirimu baik baik di sana ya nak. Semoga iman dan hijabmu mampu menjagamu dari hal hal yang buruk di sana. Semoga isitiqomah nak. Ayah percaya padamu nak." ucap Darren pada Rayya.


"Inshaallah ayah,,," jawab Rayya.


Dirasa cukup sedu sedannya,,, Rayya menutup telponnya dengan salam yang dijawab balik oleh Darren dan Levi. Darren merasa dadanya plong melihat sendiri putrinya kini telah berhijab dengan kesadarannya sendiri. Penarik surganya telah hadir dan semoga senantiasa menariknya semakin jauh dari neraka.


Pandangan Darren beralih pada Levi.


"Ingat nak,,, Tugas dan tanggung jawab kamu makin berat sekarang. Ada perusahaan ayah yang harus kamu jalankan dan juga perusahaan abi yang sudah dipercayakan Rayya padamu. Jangan lalai dengan segala pencapaian kamu,,, Ingat semua ini bukan hanya milikmu. Ada hak orang lain di dalamnya..Jangan lupa bagikan sebagaian pendapatan kamu pada yang membutuhkan." pesan Darren pada Levi.


"Iya ayah,,,Akan selalu Levi ingat pesan ayah." jawab Levi.

__ADS_1


"Satu hal lagi,,, Jangan lupa juga kamu juga punya tanggung jawab lain sebagai kepala keluarga. Sebentar lagi Tiara lahiran. Tanggung jawabmu bertambah lagi. Jadi suami dan ayah yang baik jauh lebih berat dari menjalankan perusahaan nak." ucap Darren.


"Dulu ayah sukses menjalankan perusahaan tapi ayah gagal menjadi suami dan ayah yang baik. Dengan gagalnya ayah jadi kepala keluarga,,, Perusahaan pun makin hari juga makin terpuruk karena tidak adanya kebahagiaan dalam hati bunda. Kebahagian istri itu sumber dari segala kebaikan hidup suami nak. Istri bahagia,,, semua urusan suami menjadi mudah." lanjut Darren.


Ucapan Darren terhenti karena ponsel Levi kembali berbunyi.


"Maaf ayah Levi jawab telpon dulu ya. Ini dari Tiara." kata Levi.


"Iya nak. Jawab dulu siapa tau ada yang penting." ucap Darren.


Levi menjawab telponnya dan wajahnya menegang.


"Iya sayang,,, Aku segera pulang. Kamu tunggu ya. Sabar sayang ya,,," pesan Levi langsung menutup telpon setelah tak lupa mengucapkan salam.


"Ada apa nak??" tanya Darren yang melihat Levi panik.


"Tiara kayaknya mau lahiran ayah. Katanya perutnya sudah sakit sekali." jawab Levi sambil membereskan barang bawaanya.


"Wah padahal cukup jauh dari perkiraan lahirnya. Ayo nak kalau begitu ayah ikut pulang. Ayah khawatir sama Tiara dan calon cucu ayah juga."kata Darren juga langsung mengemas bawaannya.


"Iya ayah,,," Sahut Levi yang sudah siap.


Keduanya langsung berjalan cepat bahkan setengah berlarian agar bisa lebih cepat sampai ke parkiran mobil.Keduanya sama sama berharapa agar jalanan tidak macet dan Tiara kuat menahan sakitnya.


Untungnya di jalan Levi juga mendapat kabar bahwa bu Mila dan pak Herman sudah lebih dulu sampai di rumah Levi dan mereka langsung membawa Tiara ke rumah sakit ibu dan anak yang terdekat.


"Kamu langsung ke rumah sakit saja ya nak Levi." pesan bu Mila.


"Baik bu." jawab Levi langsung membelokkan kemudinya ke arah rumah sakit tempat selama ini Tiara periksa kandungannya.


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Terima kasih atas vote, like dan komennya 🌸


__ADS_2