
"Maafkan aku sayang,,, aku ingin sekali mengantarmu tapi aku sungguh tidak bisa membatalkan pertemuanku dengan klien pentingku" Ray lesu.
Hari ini aku telah mendapat ijin Ray membawa Levi ke makam mama papa. Aku pun sudah menunggu dan duduk di teras rumahnya.
Ray ingin sekali mengantarkan Chaira turut serta ke makam namun dia mendapat telpon dari asistennya yang memberitahukan bahwa klien penting mereka meminta agar jadwalnya diubah menjadi hari ini sebelum mereka kembali ke Jerman.
"Tidak apa apa sayang,,, kalau kamu mau aku batalkan saja untuk ke makam hari ini" sahut Chaira.
Ray tampak berpikir sejenak. Dia tak ingin mengecewakan hati istrinya. Dia yang memintanya untuk mengunjungi makam dan sudah diiyakan olehnya. Namun sekarang dia juga yang tak bisa mengantarnya.
Ray merasa tak enak hati.
"Tidak perlu sayang,, pergilah bersama Darren. Aku mengijinkanmu" ucap Ray sembari tersenyum.
"Ray,,,???" Chaira memastikan ucapan suaminya.
Ray mengangguk pasti. Dirinya yakin tak akan terjadi sesuatu yang diluar batasan karena dia yakin istrinya itu pandai menjaga diri.
"Aku percaya padamu sayang" dikecupnya kepala istrinya.
"Temani Levi mengunjungi makam kakek neneknya." lanjutnya.
Chaira mengangguk. Dalam hatinya dia sangat bersyukur memiliki suami yang begitu pengertian padanya. Mampu menerima seluruh masa lalunya dengan baik.
"Hai Dare,,, aku minta maaf jika aku harus merepotkanmu. Aku minta tolong kamu bawa istriku sekalian ke makam. Tolong antarkan dia pulang juga nanti. Aku sungguh sedang tak bisa meninggalkan pekerjaanku" pinta Ray.
"Apa kau yakin Ray?" tanyaku yang tak percaya dirinya memintaku membawa Chaira serta.
"Aku yakin kalian berdua bisa dipercaya" ujar Ray.
"Baik Ray,,, aku janji akan menjaganya dan mengantarkannya pulang" janjiku.
Aku memutuskan untuk sibuk di ponselku saat Ray berpamitan pada Chaira. Dia akan segera berangkat ke kantornya. Aku sengaja menyibukkan mataku di ponselku agar aku tak melihat kemesraan mereka.
Aku tak ingin hatiku kembali dipenuhi kecemburuan. Aku letih disiksa kecemburuan.
Mobil Ray telah meninggalkan halaman. Chaira berjalan menghampiriku.
"Tunggu ya Dare,, aku siap siap dulu." ucapnya.
Aku hanya mengangguk. Aku sibuk meredakan debaran jantungku yang detakannya mulai kencang. Aku membayangkan akan bersama dirinya dalam satu mobil.
Ditambah Levi anak kami turut serta. Sungguh aku merasa Tuhan tiba tiba begitu baik mengatur agar kami bisa bersama sama. Tak lama kemudian Chaira muncul dengan Levi yang sudah digandengnya.
Levi yang melihatku langsung berlari memelukku. Aku segera menggendongnya. Putri sengaja tidak kami ajak karena masih terlalu kecil untuk diajak ke makam.
"Jangan lupa jaga kehormatan suamimu ya nak" pesan mama sebelum Chaira keluar menemuiku.
"Iya ma,,, Chaira titip Putri sebentar ya ma" ujar Chaira.
Mama mengangguk. Chaira mencium pipi Putri dan tangan mama. Mama mengikuti mereka hingga ke depan. Mama melihat saat aku membukakan pintu mobil depan untuk Chaira namun dia menolak.
"Maaf Dare,,, sebaiknya aku duduk di belakang saja" ucap Chaira.
Aku tak memprotesnya. Aku tau dia hanya tak ingin terlalu dekat denganku. Dia sedang berusaha menjaga diri dan kehormatannya serta suaminya. Aku salut.
Namun kembali penyeselan mengoyak hatiku. Rasa bersalah menggerogotiku. Wanita yang sedemikian baiknya telah ku tuduh yang tidak tidak.
Kamu kejam Dare,,,
Hatiku mencaci diriku,,,
__ADS_1
Aku segera membukakan pintu belakang mobil untuknya. Pintu depan yang sudah ku buka akhirnya ku tutup setelah mendudukkan Levi yang meminta untuk duduk di depan.
"Dia memang istri yang baik dan pandai menjaga diri" batin mama yang melihat semua itu.
Mobilku mulai bergerak meninggalkan rumah itu dan menuju ke makam. Selama perjalanan ku sempatkan mencuri pandang Chaira dari kaca mobil.
Dia terlihat sedang bertasbih. Tangannya terus menggerakkan untaian tasbih yang dipegangnya. Matanya memandang ke luar jendela.
Dia masih seperti dulu. Anggun dan mempesona.
"Ayah kita mau kemana?" tanya Levi.
Aku segera mengubah pandanganku dan menjawab pertanyaan jagoan kecilku itu.
"Kita ke makam kakek sama neneknya Levi ya. Levi belum pernah kesana kan nak?" tanyaku.
Levi menggeleng. Aku tersenyum dan mengelus kepalanya. Aku memarkir mobil saat kami telah memasuki areal pemakaman. Aku keluar dan hendak membukakan pintu untuk Chaira namun dia telah terlebih dahulu membukanya sendiri.
"Terima kasih Dare,, aku bisa sendiri" tolaknya halus.
Aku menurut. Aku membukakan pintu untuk Levi dan menurunkannya. Dia tampak bingung melihat pemakaman. Chaira yang telah menggandeng tangan kiri Levi menungguku yang masih mengunci mobil.
Ku gandeng tangan kanan Levi.
Aku kembali menahan pilu saat menyadari betapa kami sangat cocok berjalan saling bergandengan seperti ini. Hanya saja saat ini kami bukanlah satu keluarga utuh.
Seharusnya ini menjadi hal yang sangat membahagiakan ketika ayah dan bunda berjalan berdampingan menggandengmu seperti ini nak,,,
Sekali lagi maafkan Ayah,,,
Kami tiba di depan pusara papa mama. Aku berjongkok dan mengusap pusara itu dan mengucapkan salam. Levi mengikuti gerakanku.
"Papa,,, mama,,, Dare datang bawa Chaira dan Levi,, cucu kalian." Lirihku.
"Maafkan Chai ma,, pa,, Chai tidak bisa terus mendampingi Darren. Tapi walau begitu Chai tak akan menghalangi dia menemui Levi." batin Chaira.
"Maafkan Dare pa,, ma,,, Dare baru bisa membawa mereka kesini sekarang. Dare tidak berguna,,, Dare mengecewakan papa dan mama. Dare tidak bisa menjaga harta berharga yang pernah Dare miliki ini. Sekarang dirinya telah menjadi milik orang lain" batinku.
"Ayah ini lumah kakek nenek Levi ya?" tanya Levi.
Aku segera menghapus airmataku yang sedari tadi berlinangan.
"Iya sayang,,, Kakek sama nenek Levi sudah berada di surga. Suatu hari nanti kita akan bertemu dan berkumpul bersama ya nak" ucapku padanya.
Aku tak sadar perkataanku itu membuat Chaira memandang kami. Aku tak tau apa yang dipikirkannya yang jelas dia segera membuang pandangannya saat mata kami beradu.
"Ayo Levi turun dulu,,, kita sama sama doakan kakek nenek ya nak" ujar Chaira.
Kami berdoa dalam hati masing masing untuk papa mama. Levi yang belum paham hanya ikut diam sambil sesekali memainkan jarinya.
Dalam perjalanan pulang Levi yang mengantuk tidur di pangkuan Chaira di kursi belakang. Aku melihat dari kaca mobil kembali. Chaira terlihat tengah membelai kepala anak kami dengan lembut.
Aku kembali merasa pilu. Aku merasa kami seperti sopir yang tengah mengantar majikan dan anaknya. Tak ada yang berbicara.
Kenapa sayang,,,
Kenapa kita bagaikan tidak saling mengenal,,,
Kamu begitu diam,,
Tak inginkah kamu bertanya tentang perasaanku padamu,,,,
__ADS_1
Tak inginkah kamu tau apa saja yang telah ku lewati akhir akhir ini tanpamu,,,
Perjalanan kami yang sebenarnya tak begitu jauh terasa begitu lama karena kebisuan kami. Aku lega ketika kami telah sampai di rumah mereka dengan selamat.
Aku mengambil alih Levi yang digendong Chaira. Aku tak ingin Chaira yang tengah hamil menggendong Levi yang sudah semakin besar dan tentu lebih berat saat dia tertidur seperti ini.
Apa yang ku lakukan itu membuat tubuh kami sangat dekat. Bidadariku itu berdiri sangat dekat denganku.
Ingin rasanya aku memeluk dirinya dan menumpahkan segala kerinduanku yang membuncah ini.
Mata kami bertemu sejenak.
Ya tuhan,,,
Mata itu masih sungguh teduh dan menghangatkan hatiku. Entah kapan hatiku bisa lepas dari jeratan mata itu.
Chaira kembali membuang pandangannya dariku. Aku segera mundur dan menjauh dengan Levi sudah di gendonganku.
"Bisa tolong bawa Levi ke kamar Dare?" pinta Chaira.
" Bisa "sahutku singkat dan langsung mengikuti langkahnya menuju kamar Levi.
" Ehh cucu mama sudah pulang" sambut mama yang langsung mengecilkan suaranya begitu menyadari Levi yang tertidur
Dia tak ingin membangunkan Levi. Aku segera menidurkannya dan mengecup keningnya sebelum menutup pintu kamar.
"Terima kasih Dare" ucap Chaira yang berdiri di depan pintu kamar dan tak ikut masuk.
"Untuk apa Chai?" tanyaku.
"Telah menjadi ayah yang baik untuk anak anak." lirihnya.
Aku mengangguk tak menjawab.
"Aku hanya baik untuk anak anak tapi tidak untukmu Sayang" hatiku mulai sendu.
"Dare,,, kapan kamu akan segera menyusul Ray,,, Tidak baik berlama lama sendiri" suara mama memecah kesunyian.
Aku menoleh dan menghampirinya.
"Belum ada rencana tante" jawabku.
"Mau tante kenalin sama anak teman tante?? Cantik lho,,, Gak kalah sama Chaira" kata mama Ray.
Aku hanya tersenyum dan menggeleng. Mama Ray memang baik dan ramah. Dia tentu juga menganggapku keluarga sendiri oleh karena itu dia biasa saja saat mengatakan hal semacam itu walau ada Chaira juga disana.
Aku menatap Chaira yang sibuk menerima telpon. Mungkin itu dari Ray yang memastikan bahwa aku telah mengantarnya pulang.
Secantik apa pun wanita lain,,, tak ada yang akan bisa mengalahkanmu bidadariku,, Tidak akan pernah ada yang menandingi kecantikanmu di mata dan di hatiku sayang,,, Apalagi menggeser posisimu di hatiku.
Tidak akan pernah ada!!!
"Terima kasih atas kesediaanmu mengunjungi makam papa mama Chai,,, itu sangat berarti bagiku." ucapku padanya saat dia mengantarku hingga depan pintu.
"Sama sama Dare" jawabnya lembut.
"Terima kasih juga untuk kebersamaan kita hari ini,,, itu cukup mengobati rinduku padamu. Jaga diri dan kesehatanmu,,, Aku titip anak anak" ucapku.
Chaira mengangguk.
"Kamu berubah Dare,,, Semoga tuhan senantiasa membantu dan melindungi hatimu agar tetap istiqomah dijalanNYA. Semoga kamu segera menemukan penggantiku yang jauh lebih baik dan bisa mendampingimu hingga ke surgaNYA" batin Chaira.
__ADS_1
Jangan lupa Vote, like dan komen yaaaa
Terima kasih 😍