BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
Imam yang ku rindukan


__ADS_3

Pagi ini aku berangkat ke Bali sendirian saja. Dion dan Angga meminta untuk pergi bersamaku tapi ku tolak.


"Gue ingin menyelesaikan sendiri masalah gue kali ini. Gue harap kalian ngerti" tukasku pada mereka.


"Baiklah Dare,, lu hati hati. Ingat jaga baik baik emosi lu. Apalagi saat lu ketemu Febby juga. Biarkan polisi saja nanti yang mengurusnya. Lu jangan tambah masalah disana!!!" Dion mengingatkan.


Kami semua memang belum tau soal Febby yang sudah tiada. Kami menarik semua orang suruhan kami saat kami rasa informasi kami sudah cukup.


Kami memang hanya mencari dimana keberadaan Febby saja waktu itu ternyata tanpa sengaja menemukan Chaira juga.


Itu sudah sangat cukup bagi kami.


"Baiklah aku berangkat" pamitku


Kedua sahabatku itu ku ijinkan hanya mengantarku sampai bandara saja.


Sepanjang perjalanan aku merangkai kata kata apa saja yang akan ku sampaikan jika aku sudah menemui Chaira. Tapi aku menghapus sendiri rangkaian kata kataku begitu mengingat aku harus menemui Febby dulu dan menyelesaikan urusanku dengannya.


Aku akan tetap meminta tanggung jawabnya atas meninggalnya mama,, aku juga akan menceraikannya karena aku tau dia pasti sudah melahirkan jadi aku bisa menalaknya.


Dan anaknya,,,


Ah aku tak yakin itu benar anakku. Aku tak mau mengulang kebodohan yang sama dengan segampang itu menerima Mike dulu.


Aku sudah tidak percaya dengan hasil tes DNA sejak aku tau beberapa orang bisa menyulapnya. Buktinya aku juga sudah jadi korbannya.


"Aku tak akan tertipu lagi olehmu. Aku tak mau segampang dulu menerima pernyataan apa pun tentang anak itu" tekadku


Sampai dirumah sakit aku langsung ke bagian informasi menanyakan apa pernah ada pasien bernama Febby Aurora. Setelah beberapa saat mencari di data komputernya pegawai itu mengatakan bahwa tidak pernah ada pasien bernama itu.


Aku memintanya untuk sekali mengecek namun tetap saja hasil pencarian nama itu tidak ditemukan. Lalu aku memintanya untuk mengecek daftar pasien yang masuk di tanggal saat foto yang dikirimkan padaku diambil.


"Maaf pak,, kami tidak bisa membantu menemukan nama pasien seperti yang bapak sebut. Mungkin bapak salah rumah sakit" tukas pegawai itu


Aku tak mungkin salah. Rumah sakit itu memang disini. Tapi bagaimana bisa nama Febby tak terdaftar sebagai pasien disini???


Aku sudah hendak meninggalkan rumah sakit itu saat muncul ide baru di benakku. Aku segera kembali ke bagian informasi tadi.


"Eh,, eh,, maaf,,, bisa bantu sekali lagi mencari data pasien atas nama Chaira Fajira?" pintaku


"Baik pak" sahutnya dan kembali mengecek data pasiennya.


"Maaf pak,,, di data kami tidak ada pasien bernama Chaira Fajira." tukasnya lagi


"Tapi nama tersebut tercantum sebagai nama ibu dari pasien bernama Pahlevi" lanjutnya


"Ibu???" aku mengulang kata itu


"Benar pak" sahutnya


Aku memejamkan mataku dan menggeleng gelengkan kepalaku seperti sedang mengocok isi kepalaku. Aku berharap ada jawaban atas kebingunganku saat itu.

__ADS_1


"Berapa usia Pahlevi?" tanyaku lagi


"Mohon maaf pak,, kami tidak bisa memberikan informasi terlalu banyak" katanya setengah berharap agar aku mengerti apa yang harus kulakukan padanya.


Aku mengerti. Aku segera mengeluarkan beberapa lembar uangku dan ku sodorkan padanya. Pegawai yang melihat lembaran merah banyak di depan matanya dia langsung memasukkannya agar tak dilihat orang lain.


Dia segera menuliskan sesuatu di kertas yang kemudian di sobeknya lalu diberikannya padaku.


"Saya sudah tulis alamatnya disini. Anda bisa menemuinya sendiri dan tolong jangan bilang bahwa pihak rumah sakit yang memberikannya" tukasnya


Aku tak lagi mengucap terima kasih pada pegawai culas itu dan langsung pergi. Sesampainya di mobil yang sudah ku sewa aku meminta sopir segera membawaku ke alamat yang ditulis pegawai itu di kertas.


Di jalan aku memandangi kertas itu. Aku terus memikirkan perkataan pegawai tadi.


"Ibu pasien Pahlevi?? Apa itu nama bayi yang digendong Chaira dan pria itu? Apakah,,,, " bermunculan banyak spekulasi di otakku.


Mobil berhenti tepat di depan sebuah vila megah.


"Anda yakin ini tempatnya pak?" tanyaku pada sopirku


"Yakin pak,, itu disana tertulis nama Vila Seroja" tunjuknya pada sebuah tulisan di dinding vila


Dengan perasaan berdebar aku turun dari mobil dan memencet bel yang tersedia disitu. Beberapa saat kemudian muncul pria dengan pakaian khas penjaga keluar.


"Maaf anda siapa dan mau bertemu dengan siapa?" tanyanya


" Apa benar ini alamat vila ini?"tanyaku memastikan sembari menyerahkan kertas itu.


"Benar pak. Anda cari siapa?" tanyanya lagi


"Chaira" jawabku


"Apa anda sudah membuat janji?" selidiknya


Aku mulai kesal diperlakukan seperti itu oleh seorang penjaga pintu.


"Katakan saja Darren suaminya ingin menemuinya!!!!" bentakku


Penjaga itu terlihat terkejut mendengar kata kataku. Para asisten dan penjaga di vila memang tau bahwa Chaira bukan istri Ray namun mereka tak pernah tau siapa suaminya.


Jadi ketika ada seorang pria tiba tiba dengan galak membentak dan mengatakan bahwa dirinya adalah suami Chaira tak heran penjaga itu terkejut.


Saking terkejutnya penjaga itu malah bengong berdiam diri.


"Apa kau tidak dengar kata kataku haahhhhh" aku kembali membentaknya.


"Ada apa pak Wayan?? Kenapa terdengar ribut? " suara lembut wanita terdengar dari halaman vila


Aku mengenali suara itu. Dengan tidak sabar ku dorong ke samping tubuh penjaga itu agar tak menghalangi langkahku.


Aku berdiri disana. Mematung. Menatap sosok yang tengah duduk menyuapi bayi laki lakinya yang duduk di kereta dorongnya. Wanita itu terlihat sangat bahagia walau tidak tampak senyuman dari wajah bercadarnya.

__ADS_1


Tapi gerakannya membimbing bayi itu agar mau membuka mulutnya terlihat keibuan sekali.


Wanita itu juga menggendong seorang bayi lagi. Aku tak sanggup berkata kata. Aku pun tak sanggup melangkahkan kakiku.


Mataku yang melihat pemandangan itu tak berkedip.


"Apa ini,,, 2 bayi??? Jadi benar kau meninggalkanku karena pria lain Chai??? Kau bahkan begitu berbahagia merawat bayi bayi kalian. Pantas kau sama sekali tak menolak atau keberatan saat aku memintamu pergi. Apakah sejak kita tak lagi berbicara kamu sudah punya hubungan dengan pria lain????" Pikiranku mulai menuduh


"Apa karena aku tak kunjung bisa memberimu keturunan lalu kau bisa bermain dengan pria lain? Pantas saja kau terus memintaku menikah lagi. Karena kau benar benar tak peduli lagi dengan perasaanku kan??? Agar suatu saat jika kau ingin pergi dariku kau tak terlihat terlalu bersalah!!!!" geramku


"Tak ku sangka wanita sepertimu juga munafik Chai,,, Kau meninggalkanku demi pria lain. Kau menjual semua asetmu agar bisa tinggal di vila mewah ini bersama pria lusuhmu itu!!!" aku masih terus berpikir buruk


Hingga tanpa ku sadari Chaira menoleh ke arahku yang berdiri.


"Darren????" lirihnya.


Kami saling berdiri berpandangan. Tanganku yang mengepal sedari tadi tetap saja mengepal. Aku menahan amarahku. Aku tak mungkin memukulnya.


Aku memaksa melangkah masuk lebih jauh dan mendekati Chaira walau penjaga masih berusaha mencegahku.


"Biarkan saja pak Wayan. Bapak boleh pergi" tukasnya lembut.


Mendengar lembut suaranya aku muak karena pikiranku sudah diracuni dengan berbagai pikiran kotor terhadapnya.


"Assalamualaikum Dare,," salamnya


Aku semakin muak dibuatnya karena lagak sok alimnya itu.


"Duduklah" ujarnya mempersilahkan aku duduk di samping putranya yang tangannya tengah menggapai gapaiku memintaku untuk menggendongnya.


Aku menatap bayi itu dengan sinis. Terbayang perselingkuhan Chaira dengan pria lusuh itu hingga menghasilkan anak itu. Namun sekilas aku seperti mengenali wajah mungil itu.


Aku merasa pernah melihat wajah itu namun entah dimana dan aku tak ingin mempedulikannya lagi.


"Aku tak akan lama. Aku disini hanya ingin menyampaikan bahwa aku akan menalakmu!!! Dengar baik baik Chaira Fajira,,, aku talak kamu. Mulai saat ini kau bukan istriku lagi" tukasku cepat dan dengan terengah engah saking emosinya


Chaira hanya diam. Sudut matanya mulai basah oleh airmata. Dielusnya kepala putranya yang mulai menangis karena mendengar suara lantangku tadi.


Aku tak peduli. Aku tak ingin berlama lama disana dan melihat adegan ibu dan anak itu. Aku tak ingin melihat Chaira memperlakukan anak hasil perselingkuhannya dengan manja.


"Sampai jumpa di pengadilan!!" ketusku


Aku segera meninggalkan vila itu dengan amarah memuncak. Aku yang awalnya sangat ingin memulai hidup baru dengannya malah kecewa.


Chaira menatap kepergian suaminya.


"Bahkan setelah sekian lama,, mata hatimu masih buta. Melihat wajah kecil putramu pun sama sekali tak menggugah hatimu. Aku ikhlas Dare,,, aku terima perceraian kita." lirih Chaira


"Aku tak menyesal pernah mencintaimu dan menjadi istrimu. Tapi setelah kejadian hari ini,,, aku semakin yakin bahwa kau bukan imam yang ku rindukan selama ini." batinnya


Jangan lupa vote, like dan komen yaaaa

__ADS_1


Terima kasih 😍


__ADS_2