BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S Part 63


__ADS_3

Selamat membaca 🌹


Maaf banyak typo 🙏


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌹🌹


"Sudah siap belum Ara bu??" tanya pak Herman.


"Sudah ayah." sahut bu Mila lesu.


"Ibu kenapa lesu begitu. Yang semangat dong. Senyum. Biar terlihat lebih ramah lagi. Kita kan mau menyambut calon menantu kita." tegur pak Herman.


"Ibu hanya merasa bersalah sama Ara ayah. Apa kita ini tidak keterlaluan menjodohkan paksa anak kita demi menyenangkan hati teman ayah itu??" bu Mila memberanikan diri mengungkapkan uneg unegnya.


"Bu,,, satu hal yang harus ibu ingat. Ini bukan masalah balas budi tapi masa depan Tiara. Kita ini miskin bu,,, Ayah bangkrut sejak beberapa tahun lalu dan hidup kita pas pasan. Apa ibu mau Tiara itu merasakan hidup seperti ini terus??" tanya pak Herman dengan suara menekan.


"Kalau masalah itu,,, Memang apa kurangnya Levi ayah?? Ibu yakin dia juga bisa kok membuat hidup anak kita berkecukupan. Itu kalau ayah memang murni hanya memikirkan masa depan Tiara. Levi juga anak orang kaya kan??" bu Mila makin berani protes.


"Tapi tidak berbobot!!! Dan ayah tidak mau anak ayah menjadi menantu Darren sialan itu. Ingat bu,, Darren yang membuat perusahaan kita jatuh. Ayah sudah habiskan dan berhutang banyak modal untuk persiapan kerjasama dengan perusahaannya lalu dengan segampang itu dia menolak proposalku!!!" ketus tuan Herman.


Bu Mila diam tak menjawab karena beliau yakin pak Herman menyimpan rahasia dibalik penolakan proposal itu. Sebagai sekretaris dulu,, bu Mila banyak dengar dari teman temannya sesama sekretaris bahwa perusahaan Darren jarang menolak proposal kecuali ada alasan tertentu.


"Kenapa diam?? Tidak terima dengan apa yang ayah bilang??? Masih mau mempromosikan anak bajingan itu??" tantang pak Herman.


"Terserah ayah saja sudah. Ibu tidak mau ribut." jawab bu Mila.


"Bagus!! Gitu kek dari tadi kan enak. Ayo siapkan semua jajanan di meja. Bobi pasti sudah hampir sampai." pak Herman merapikan pakaiannya.


"Iya ayah. Ibu ke belakang dulu." pamit bu Mila.


"Lihat Tiara dulu di kamarnya. Jangan sampai anak itu mengacaukan semuanya." titah pak Herman.


Bu Mila tak menyahut lagi dan hanya berjalan menuju kamar Tiara. Pak Herman melongokkan kepalanya saat sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan pagar rumahnya.


"Buuuu sekalian panggil Tiara. Ini Bobi sudah sampai!!" teriak pak Herman yang segera keluar menyambut tamunya.


Namun begitu sampai di pintu wajah ramahnya itu langsung berubah karena ternyata yang keluar dari mobil mewah itu bukanlah Bobi melainkan Bimo dan Levi.

__ADS_1


"Mau apalagi sih anak sialan ini???" batinnya kesal.


"Assalamualaikum om. Kita kesini mau ketemu Tiara om. Tiaranya ada kan om??" tanya Bimo memulai dan sok akrab.


"Mau apa cari Tiara???!!!" ketus pak Herman.


"Ohh gini om,,, Hari ini kan ada tugas kelompok yang harus dikumpulkan dua jam lagi. Nah Tiara kan hari ini gak ke kampus. Makanya kami kesini ingin menemui Tiara biar bisa kerjakan tugas kami bersama sama om." jawab Bimo.


"Lalu anak orang kaya ini ngapain kesini juga??" tanya pak Herman melirik kesal pada Levi.


"Maaf om,,,Kebetulan saya ketua kelompoknya jadi saya harus ikut juga mengerjakan tugas kami." sahut Levi sopan.


"Kalau ketuanya saja kurang didikan gini,,,Apa gunanya kerjakan tugas kelompok?? Pasti juga akan jelek nilainya." ucap pak Herman.


"Waahh jangan salah om,,, Levi ini selalu terbaik nilainya." sahut Bimo tidak terima sahabatnya dihina.


Levi menepuk pundak Bimo dan menggelengkan kepalanya melarang Bimo bicara seperti itu.


"Apaan sih, Kan emang bener apa yang gue bilang???" protes Bimo.


"Ya tapi kan malah bikin situasi makin runyam,,," bisik Levi gregetan.


Keduanya pun saling bicara dengan bisik bisik di depan pak Herman yang makin kesal melihat mereka.


"Hehhh,,, Sudah jangan ruwet di sini. Pulang sana. Tiara tidak ada di rumah!!!" usir pak Herman.


"Tiara kemana om??" tanya Levi.


"Bukan urusanmu!!!" ketus pak Herman.


"Tapi om,,,"Sela Levi.


"Pergi atau saya dorong paksa kalian keluar dari halaman rumah saya???!!!! Punya tata krama gak sih bertamu ke rumah orang?? Sudah gak diterima kok masih ngeyel saja. Gak pernah diajarin sama tuan Darren Narendra yang sok kaya dan bijak itu????!!!!" tanya pak Herman membawa bawa nama Darren lagi.


"Cukup om,,, Saya yang salah. Jadi saya mohon Jangan bawa bawa ayah saya. Saya minta maaf sudah mengganggu om. Assalamualaikum om." ucap Levi langsung menghela tas di punggung Bimo agar mengikutinya pulang.


"Ehh Tiaranya belum ketemuu,, Yakin mau pulang Lo???" tanya Bimo mengikuti Levi yang berjalan cepat.


Levi tidak menjawab dan sudah mencapai pintu pagar saat suara Tiara terdengar memanggilnya.

__ADS_1


"Leviiiiiii,, Jangan pergiii,,," teriak Tiara.


Levi menoleh dan dia melihat Tiara sudah meronta ronta karena pak Herman memegang kedua lengannya berusaha menahan agar Tiara tidak mengejar Levi.


"Tiara???" Levi masuk kembali ke halaman karena tak tega melihat Tiara yang terus meronta ronta.


"Berhenti di situ!!! Jangan ganggu Tiara lagi!!! Jangan temui Tiara lagi!!! Tiara tidak perlu mengerjakan tugas apa pun karena Tiara berhenti kuliah. Tiara akan segera menikah dengan Bobi. Jadi sebaiknya kalian pergi saja dari sini. Pergiiii!!!!" usir pak Herman.


Bimo dan Levi melongo mendengar penuturan pak Herman tentang Tiara itu.


"Apa?? Berhenti kuliah?? Menikah???" tanya Levi.


"Budeg ya kamu???!!! Isi tanya lagi,," ketus pak Herman.


"Leviii,,,Jangan pergiiii. Aku mohon." suara Tiara kembali terdengar dan memelas saat Levi hanya diam menunduk mengetahui kabar perjodohan itu.


"Maaf Ra,,," lirihnya dan berbalik badan kembali berjalan keluar dengan lunglai.


Bimo yang biasanya urakan juga kali ini hanya bisa diam dan menepuk bahu Levi berusaha memberi sahabatnya itu kekuatan.


"Ara gak mau dijodohkan ayah,,, Ara gak mau!!! Ara hanya cinta sama Levi. Leviiii jangan pergiiii. Aku cinta sama kamu Leviiii,,, Aku tau kamu juga begitu kan?? Bawa aku pergi Levi." teriak Tiara.


Plaaaakkkk,,,


Tamparan keras dari tangan pak Herman menghentikan teriakannya. Tiara memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan itu. Levi menghentikan kembali langkahnya karena tak ingin Tiara lebih menderita lagi.


"Om,,, Tolong jangan kasar. Saya akui saya juga cinta sama Tiara. Tapi saya tidak akan menghalangi kalau memang om sudah memiliki jodoh untuk Tiara. Jadi saya mohon jangan sakiti Tiara om." pinta Levi.


"Ijinkan saya bicara sebentar saja sama Tiara om. Saya janji hanya sebentar." lanjutnya.


"Bicara apa lagi sih???!!! Sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Lagipula sebelumnya juga tidak ada hubungan atau kejelasan status di antara kalian kan?? Jadi tidak perlu lagi banyak alasan!!!" tolak pak Herman.


"Ayah,,, Ara mohon,,," Tiara memohon.


"Diam dan masuk!!!" titah pak Herman.


\=\=\=\=\=\=


Terima kasih atas vote, like dan komennya yaa 🌹

__ADS_1


__ADS_2