
Selamat membaca 🌹
Maaf banyak typo 🙏
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌹🌹
"Om,,,Saya mohon. Sebentar saja." pinta Levi sekali lagi.
"Astaga ini anak bandel banget sih dibilangin sudah gak perlu ada yang dibicarakan lagi juga,,,!!!" Pak Herman semakin kesal.
"Ara juga,,,!!! Sana masuk dan perbaiki itu make up kamu. Ayah gak mau Bobi lihat kamu berantakan begini. Sana bu,,, Bawa dia masuk!!" titah Pak Herman.
"Ayo Ra,,, Masuk ya nak. Jangan buat ayah makin kesal.Tiara anak baik kan,,," bujuk bu Mila.
"Tapi bu,,, Ara gak mau dijodohkan. Ara cintanya sama Levi dan ibu juga sudah dengar sendiri kan tadi Levi juga bilang kalau dia cinta Ara,,, Jadi kenapa ibu dan ayah tidak biarkan saja Ara menikmati hasil dari penantian panjang Ara selama ini???" tanya Tiara memprotes tindakan orang tuanya.
"Cinta gombal,,,!! Sudah telat!!!" sahut pak Herman.
Bertepatan dengan itu sebuah mobil yang tak kalah mewah dari milik Levi pun berhenti. Seorang pria muda dengan setelan jas serba rapi dan kacamata hitam berkilaunya turun dari mobil setelah sopirnya membukakan pintu untuknya.
"Naahhh,,, Bobi sudah datang. Ara cepat masuk dan rapikan dirimu!!" bisik pak Herman.
Bu Mila segera menarik lengan Tiara agar beranjak dari tempatnya berdiri meski putrinya itu masih melawan.
"Ibu mohon Ara kali ini mengalah ya. Malu sama tetangga nak,, Banyak yang nontonin sedari tadi,,,, Ara gak kasihan sama ibu?? Ibu besok yang harus menghadapi semua pertanyaan ibu ibu komplek yang selalu kepo. Ibu mohon Ra,,," bu Mila meminta pengertian Tiara.
Tiara menunduk dan tubuhnya tak lagi melawan. Dengan langkah lemasnya dia pun mengikuti langkah bu Mila setelah sempat menoleh pada Levi yang masih setia memandangi dirinya juga. Tampak kesedihan yang amat sangat tersirat di kedua bola mata Levi.
Sedih karena kisah cintanya tampaknya tak akan menemui jalan keluarnya. Ingin berbuat sesuatu tapi merasa tidak ada yang bisa diperbuat jika sudah bertentangan dengan restu orang tua.
Semakin Tiara menghilang ke dalam rumahnya,,, Levi merasakan sakit luar biasa dalam hatinya.
"Ayo nak Bobi,,, Selamat datang di rumah om ini. Ayo,,, Tiara sudah menunggu di dalam nak." suara pak Herman inilah yang membuat Levi kembali sadar sepenuhnya.
__ADS_1
Levi menoleh.
"Jadi ini calonnya Tiara." batin Levi.
Pria bernama Bobi itu hanya berjalan melewatinya tanpa menolehnya. Terkesan sangat sombong dan dingin. Tak ada seulas senyum ramah pun di wajahnya meski pak Herman sudah begitu ramah menyambutnya.
"Rumah apaan seperti ini om?? Gak salah ya om tinggal di gubuk beginian?? Mana calon istriku juga tumbuh di tempat seperti ini lagi." Bobi bersuara dan nadanya terdengar mengejek pak Herman.
"Ah iya nak,,, Maklum nak. Usaha om kan bangkrut beberapa tahun silam dan om masih berusaha bangkit. Setidaknya rumah ini masih cukup layaklah untuk kami tinggali." pak Herman merendah meski rumahnya tak seburuk yang dikatakan Bobi.
Rumah pak Herman masih terbilang bagus di kalangan komplek perumahan tempat mereka tinggal. Namun bagi Bobi yang biasa tinggal di istana megah tentu rumah itu hanyalah gubuk reot.
"Gubuk kecil gini om bilang layak?? Ini bahkan tak lebih besar dari kamarku." cibir Bobi.
"Ya pastilah nak,,,Mana mungkin rumah om bisa mengalahkan rumahmu. Ayo nak silahkan masuk,,," pak Herman menyentuh lengan Bobi namun segera ditepiskan.
"Hati hati om,,, Ini jas mahal." ketusnya.
"Oh maaf nak,,, Om tidak akan sembarangan lagi." Pak Herman terkejut mendapati sikap Bobi seperti itu namun tetap berusaha tersenyum ramah.
"Bukan siapa siapa. Hanya anak muda iseng yang minta sumbangan saja.Jangan dihiraukan. Om akan suruh mereka pergi saja." sahut pak Herman sekenanya dan langsung menuruni tangga terasnya dan mendorong Levi keluar pagar.
"Sudah aku bilang pergi dan jangan pernah kembali!!! Lupakan Tiara!!!" Dengan berbisik dan mendorong Levi,, pak Herman mengucapkan kalimat itu begitu sampai di pagar dan yakin Bobi tidak bisa mendengarnya.
Levi diam tak menjawab dan matanya masih memandangi Bobi yang juga menatapnya dengan pandangan curiga. Bobi terlihat berbisik pada orang yang berjalan mengikutinya sedari tadi. Tampaknya itu bodyguardnya. Pria bertubuh kekar itu pun mengangguk mengerti setelah Bobi menyelesaikan kalimatnya.
Tampaknya Bobi menyuruh si kekar itu melakukan sesuatu pada Levi dan tentunya bukan hal yang baik.
Pak Herman yang sudah masuk kembali ke halaman naik ke teras dan kembali mempersilahkan Bobi masuk.
"Om masuk saja duluan. Panggilkan calon istriku biar dia kemari." titah Bobi.
"Baik nak. Tunggu sebentar ya." jawab pak Herman langsung masuk ke dalam.
Bobi menunggunya di teras dan sepertinya dia sengaja ingin menunjukkan sesuatu pada Levi yang masih berdiri di depan pagar bersama Bimo.Tatapan mata Levi pada gerak gerik Bobi masih tak bisa membuat Bimo berhasil mengajaknya pulang.
__ADS_1
"Lo lihatin apaan sih bro,,,,Ayo pulang sajalah. Lainkali lo balik sini cari Tiara. Sekarang situasinya sudah gak enak bro." bujuk Bimo.
Tak lama kemudian,,,Pak Herman pun membawa Tiara keluar. Levi tak bergeming dan tetap memandangi Bobi yang kali ini tersenyum sinis padanya dan membuat gerakan tangan ke arah matanya seakan memberitahu Levi agar Levi terus melihat apa yang dia akan lakukan.
"Halo Tiara sayang,,, Benar kata papi,,, kamu cantik sekali. Tidak menyesal aku menerima perjodohan ini." Bobi langsung memegang kedua bahu Tiara.
"Hmm,,, Om tinggalkan kalian berdua di sini ya biar kalian lebih akrab." kata pak Herman tak ingin mengganggu.
"Sebaiknya memang begitu om. Tiara tampak canggung kalau ada om di sini. Benar kan sayang??" tanya Bobi semakin sok akrab.
Bobi bahkan berani menyentuh dagu Tiara. Tiara yang tidak tau bahwa Levi masih ada di luar pagar tampak risih dibuatnya namun tak bisa memindahkan tangan yang mencengkeram erat bahunya itu.
"Jangan kurang ajar Bobi." tepis Tiara.
"Uuuhh galaknya,,,Aku suka gadis galak." seringai Bobi dan mencengkeram bahu Tiara.
"Lepasin Bobi,,, Kamu menyakitiku." ucapnya.
"Tidak sebelum aku,,,," dengan cepat Bobi mendaratkan sebuah kecupan di bibir Tiara.
Tiara kaget mendapatkan perlakuan begitu namun tak bisa melepaskan diri karena Bobi menekan kepalanya dan terus mengabsen bibir Tiara.
Emosi dalam diri Levi langsung meledak melihatnya namun saat dia mau masuk kembali ke halaman,,, tubuh si kekar tiba tiba sudah menghalanginya.
"Jangan ganggu dan cari masalah dengan kami anak muda. Pulang saja ke ibumu sana!!!" perintah si kekar.
"Pulang bro,,, Gak usah nekat deh kali ini. Percaya sama gue. Ngalah bukan berati kalah men,,, Ayooo pulang." seret Bimo.
Si kekar tertawa mengejek melihat Levi yang diseret paksa oleh Bimo masuk ke mobilnya. Si kekar lalu menelpon rekannya.
"Selidiki siapa dia." titahnya.
\=\=\=\=\=\=
Terima kasih atas vote, like dan komennya yaa 🌹
__ADS_1