
Selamat membaca 🌹
Maaf banyak typo 🙏
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌹🌹
Setelah hampir seminggu mendapat perawatan intensif,, Tiara pun berangsur angsur pulih bahkan bisa dikatakan secara jasmani dia sudah sehat. Namun beban rohani akibat tindakan Bobi malam itu tampaknya tak bisa langsung hilang begitu saja.
Tiara masih sering menangisi kebodohannya malam itu terutama jika hari itu Levi menemani dirinya. Semua perlakuan hangat Levi membuat Tiara makin merasa tak pantas untuk Levi.
Seperti hari itu,,,
"Sebaiknya kamu jangan datang Levi,,," lirih Tiara.
"Kenapa Ra??" tanya Levi sambil memandang Tiara yang tertunduk.
Sedari tadi Tiara memang tak banyak bicara.
"Memangnya apa yang kamu harapkan dengan berlama lama atau setiap hari datang ke rumahku??" suara Tiara meninggi.
"Kesembuhanmu,,, Keceriaanmu,," jawab Levi.
Tiara mulai menangis. Batinnya terasa perih.
"Aku bukan anak kecil yang bisa kamu tipu begini Levi,, Aku tau kamu masih mengharapkanku tapi bukankah sudah ku bilang padamu jangan berharap lebih. Aku sungguh merasa ini semua tidak adil untukmu,,," ucap Tiara disela isakan tangisnya.
"Kenapa kamu masih saja mempermasalahkan itu Ra,,,?? Kan aku sudah bilang aku menerimamu seperti apa pun keadaanmu,,," Levi meraih tangan Tiara dan menggenggamnya lembut.
Tiara menarik tangannya dengan kasar.
__ADS_1
"Bukankah semua laki laki lebih menginginkan untuk dapat istri yang masih gadis??!!!" ketus Tiara.
"Tidak semua,,, Aku termasuk salah satu yang tidak. Mendiang abiku juga bukan yang mempermasalahkan kegadisan istri,,, Kamu tau kenapa?? Karena aku dan abi mencintai wanita kami tulus,,, karena kami mencintai wanita kami karena Allah,,,bukan karena ***** semata, bukan karena kemolekan tubuh wanita,," jawab Levi.
Tiara terdiam mengingat cerita Levi tentang mendiang abi, bunda dan ayahnya yang pernah diceritakan Levi padanya dulu.
"Kenapa memangnya kalau wanita kami tidak gadis lagi,,,?? Apa enaknya mendapatkan kegadisan wanita kalau misalnya hatinya bukan untuk kita,,, Untuk apa dapat gadis tapi tak bisa diajak ke jalan surgaNYA bersama sama,,,Aku ini mencari istri yang bisa ku ajak kumpul bersama di JannahNYA kelak bersama sama,,, Dan aku yakin kamu adalah gadis yang tepat." lanjut Levi.
"Ra,,, Aku sama sekali tak mempermasalahkan hal itu. Bukan karena itu menimpamu,,,Misalnya pun bukan kamu tapi gadis lain yang ku cintai,,,Aku akan tetap menerimanya selama apa yang menimpanya itu bukan keinginannya,,, Bagiku tidak adil menyalahkan gadis yang menjadi korban sepertimu karena aku yakin,,, seandainya kamu disuruh memilih,, tentu kamu tak akan memilih menjadi seperti ini. Ini semua di luar kuasamu,, dan aku tak berhak menghakimimu,,," panjang lebar Levi meyakinkan.
Airmata Tiara makin banyak berjatuhan hingga membasahi baju yang dikenakannya. Levi pun Terlihat sangat sedih melihat Tiara seperti ini. Direngkuhnya tubuh Tiara dan dibawanya dalam pelukannya.
"Menikahlah denganku,,,Apa pun yang terjadi. Biar aku yang bertanggung jawab padamu." ucap Levi penuh dengan harapan agar Tiara mengiyakan.
Tiara meremas pakaian Levi di bagian punggungnya dan membenamkan wajahnya lebih dalam ke dada bidang pemuda yang selama ini sangat dicintainya itu. Ditumpahkannya seluruh tangisnya di dada bidang itu agar dirinya merasa lebih baik lagi.
Levi sabar menunggu jawaban Tiara sambil membelai lembut kepala Tiara dan sesekali mengelus punggungnya yang terus saja bergerak gerak karena Tiara masih terisak isak.
"Ra,,,Mau ya,,," Levi masih mengharap jawaban.
Tiara mengangkat wajahnya lalu menatap dua bola mata Levi yang selalu disukainya itu. Tiara mencari cari di sana siapa tau dirinya bisa menemukan rasa iba belaka di mata Levi. Namun hanya dua bola mata yang menyiratkan dan menghujaninya dengan cinta saja yang ditemukannya di sana.
"Ra,,," Levi kembali menggenggam jemarinya.
Tiara akhirnya mengangguk. Levi memandang gerakan kepala yang hampir tak terlihat saking lemahnya itu dan menarik jemari Tiara lebih dekat dengan dadanya.
"Ra,, Apa kamu baru saja menganggukkan kepala??" tanyanya kembali penuh harap.
"Iya Levi,, Aku bersedia jadi istrimu." wajah Tiara seketika memerah saat mengucapkan kalimat itu.
"Alhamdulillah,,,Terima kasih ya Ra atas kesediaanmu." Levi hampir bersorak kegirangan jika saja tak ingat dirinya masih di rumah Tiara.
__ADS_1
"Jangan berterima kasih padaku karena harusnya aku yang berterima kasih banyak padamu atas pengorbananmu,,," jawab Tiara sambil tersenyum.
"Ah akhirnya kamu tersenyum lagi,,, Aku rindu senyum itu Ra,,,Dan aku ingin mulai hari ini,, jangan pernah hilangkan senyum itu dari wajah cantikmu ini ya,,," pinta Levi.
Tiara mengangguk dan tetap tersenyum manis. Di balik dinding ruang tamu ada bu Mila dan pak Herman yang saling berpelukan dan menangis haru untuk kebahagiaan mereka berdua.
🌹🌹🌹
"Apa apaan sih,,, Kok malah kena pasal berlapis gini?? Pengacara mama goblok apa gimana sih,,,!!!!" ketus Bobi saat bu Maria dan pak Agung membesuknya di kantor polisi.
Kondisi pak Agung pasca dirawat di rumah sakit akibat serangan jantungnya sudah membaik dan sudah bisa kembali bekerja.
"Jaga bicaramu!!! Kamu pantas mendapatkannya. Sudah bagus pengacara itu masih mau mengusahakan agar hukumanmu tidak terlalu berat." ketus pak Agung.
"Tapi kan juga biasanya pengacara kita bisa bereskan semuanya,,, Kenapa kali ini masih saja Bobi harus mendekam di penjara sih,,,??!!" Bobi tetap tidak terima.
"Pengacara itu tidak berani melawan kuasa hukum dari pak Darren Narendra. Orang tua pemuda yang kau celakai itu karena dia itu orang berpengaruh. Lagipula kamu kan memang benar terbukti bersalah mencelakai putranya jadi bisa apa kita,,, Ini juga sudah bagus bisnis dan kerjasama papa tidak diputus oleh beliau. Masih bagus kamu bikin ulah saat beliau sudah tak seperti dulu." pak Agung kesal bukan main.
"Mama jangan diem aja dong,,, Bantuin Bobi!!!" ganti bu Maria yang dirayu Bobi.
"Mama gak bisa apa apa sayang. Meski mama berat dan gak rela kalau kamu harus dipenjara."bu Maria menangis.
"Mama jangan menangisi kriminal ini!!! Anak ini sudah pandai mengancam dan membahayakan nyawa orang. Sekarang mungkin hanya nyawa pemuda itu,,, besok besok bisa jadi nyawa kita yang dihabisinya!!!" ketus pak Agung.
"Papa jangan gitu dong,,, kAsihan kan Bobi kalau harus dipenjara. Nanti dia kedinginan kelaparan,,,Belum lagi dibully sama napi lainnya." sahut bu Maria.
"Biar kapok,,,Papa malu punya anak pengecut beraninya main keroyok dan main belakang begini. Belum lagi urusan Tiara,,,Dasar otak mesum!!! Gak bisa lihat yang bening bening main perkosa saja!!! Jijik sekali papa sama kamu Bobi,,, Lebih baik kamu memang mendekam saja di sini merenungi semua kesalahanmu!!!" pak Agung langsung bangkit dan pergi dari ruangan itu.
"Bobi gak pernah perkosa Tiara papaaaa,,,, Gadis itu masih gadis,,,!!!!" teriak Bobi.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Terima kasih atas vote, like dan komennya ya 🌹