
Selamat membaca ya 🌸
Maaf typo bertebaran 😆🙏
🌹🌹
Selepas Adi dibawa ke kantor polisi,,, Levi membawa Darren pulang ke hotel lebih dulu atas suruhan Dion karena tiba tiba kondisi Darren menurun. Semua fakta yang ada tentang Adi sepertinya cukup menguras stamina Darren.
"Lo balik aja dulu Dare,,, Ingat penyakit lo. Jangan terlalu memaksakan diri. Istirahat saja dulu. Biar gue yang urus sisanya." ucap Dion saat Darren sudah naik ke mobil.
"Thanks bro. Lo sudah melakukan banyak hal. Gue pulang dulu ya. Lo cepat balik ke hotel setelah semuanya kelar. Dan satu lagi,,, jangan godain anak gadis orang." Darren dengan setengah berbisik masih sempat menyandai Dion.
"Siapa???" Dion berlagak tidak paham.
"Ah lo masih saja mikir gue gak tau isi otak lo. Udah ya gue duluan." tukas Darren.
"Jangan ngaco lo Dare,,, gue gak ada apa apa ya,,," teriak Dion dan hanya dibalas dengan lambaian tangan Darren saja.
"Apa maksud om Dion ayah??" Levi kepo.
"Bukan apa apa. Itu rahasia orang tua,,," Darren tak mau cerita pada Levi.
Levi pun hanya mengangguk mengiyakan. Lagipula dieinya juga tak terlalu ingin tau dan hanya sekedar tanya saja.
"Rayya pulang juga ya. Mobilnya sudah nunggu tuh." Dion juga meminta Rayya dan Bimo untuk menyusul pulang ke hotel.
"Iya om,,, sebentar ya. Rayya mau bicara sama karin." ucap Rayya.
Dion hanya mengangguk sambil mencuri pandang pada Karin yang duduk di sofa.
"Rin,,, ikut aku ke hotel saja yuk. Kamu pasti juga terpukul dengan kejadian hari ini." Rayya duduk di samping Karin dan merasa berat meninggalkan sepupunya itu sendirian di rumahnya.
__ADS_1
Rayya takut terjadi sesuatu pada Karin. Khawatir Karin frustasi dan nekad melakukan sesuatu yang buruk.
"Aku di sini saja Rayya. Aku tidak mau membuat hubunganmu dengan Bimo jadi bermasalah. Aku minta kamu tidak usah memikirkan persyaratan papa yang kedua ya. Karena meski kamu mengiyakan,,, aku juga tidak mau menikah dengan Bimo." Karin bulat mengambil keputusan itu meski hatinya terluka.
"Aku tau kamu tidak bahagia dengan keputusanmu itu. Kita sama sama wanita Rin,, Aku paham dan bisa melihat masih ada banyak cinta di matamu untuk bang Bimo."
"Justru karena kita sama sama wanita juga makanya aku tidak bisa menikah dengan Bimo karena aku tau kamu yang akan lebih terluka berbagi suami denganku."
Rayya menatap sepupunya itu sendu. Tak disangka dia harus dihadapkan pada situasi seperti ini. Suka citanya bertemu saudara masih begitu membekas di hatinya. Keinginannya untuk berbagi suka duka dengan mereka juga masih begitu kuat.
Tapi jika harus berbagi hati juga,,, rasanya tetap berat.
"Mungkinkah kamu saja yang menikah dengan bang Bim Rin?? Aku yang mengalah,,," lirih Rayya.
"Ay,,, ngomong apa sih?? Abang gak akan ninggalin kamu dan memilih Karin. Meski kamu nantinya memutuskan mengalah,,, Abang tetap gak akan menikahi Karin." Bimo yang sedari tadi curiga melihat keduanya berbicara langsung menyerobot begitu mendengar apa yang dikatakan Rayya.
"Tapi bang,,, tanpa om Adi kita juga gak bisa menikah. Kehadiran wali itu sifatnya wajib bang. Sebuah pernikahan tidaklah sah jika tidak ada wali yang sah juga. " Rayya mengingatkan Bimo.
"Kan bisa pakai wali hakim saja Ay,,," Bimo tetap tak mau menyerah.
"Ay,,, jangan menyerah. Pasti ada jalan keluarnya." Bimo tak ingin Rayya menyerahkan hatinya pada keadaan.
"Sebaiknya kalian pulang saja dulu. Bicara dari hati ke hati. Siapa tau bisa menemukan solusi terbaik. Aku atas nama papa meminta maaf pada kalian karena ulah papa kalian jadi harus menghadapi situasi seperti ini. Aku sungguh minta maaf." Karin menangkupkan sepuluh jarinya di dadanya.
"Bukan salah lo Rin,,, Gue juga minta maaf kalau awalnya gue kira semua ini mau lo. Gue respect sama kebesaran hati lo melepas gue." kata Bimo.
"Bang,,," Rayya tak tega membayangkan perihnya hati Karin saat itu.
"Kita pulang yuk Ay,, kasihan ayah. Sepertinya ayah lagi sakit." Bimo mengingatkan Rayya akan kondisi Darren.
"Astaghfirullah Ayya hampir lupa ayah lagi sakit. Rin,,, kalau begitu aku pulang dulu ya. Kamu baik baik di sini ya. Hubungi aku kalau ada apa apa." pesan Rayya.
__ADS_1
Karin hanya tersenyum mengiyakan. Wajahnya tampak begitu ayu dengan hijabnya itu. Setidaknya begitu yang tampak di mata Dion.
"Kalian duluan saja ya. Om menyusul segera." ucap Dion ketika Rayya mengajaknya pulang.
Dion memandangi Karin dari ambang pintu. Otaknya mengajaknya untuk segera pulang menyusul Darren namun hatinya menahannya. Akhirnya Dion memutuskan masuk kembali dan duduk di depan Karin.
"Kenapa?? Kenapa kamu melakukannya??" tanya Dion.
"Saya takut dengan azab Allah yang lebih pedih untuk papa. Sesakit sakitnya hukuman di dunia,,,itu jauh lebih baik daripada hukuman di akhirat. Setidaknya begitu yang saya pelajari." sahut Karin.
Dion menarik napasnya dalam dalam berusaha agar jantungnya berdetak lebih normal. Di hadapan Karin jantungnya begitu kacau.
"Lalu Bimo???" tanya Dion lagi.
"Cinta tidak harus selalu memiliki. Merelakan orang yang kita cintai untuk bahagia walau tidak bersama kita adalah bukti cinta itu sendiri. Cinta tidak selalu hanya diungkapkan dengan kata bukan?? Tapi kadang juga menuntut sebuah tindakan meski itu menyakitkan." ucapan Karin sontak mengingatkan Dion pada wanitanya.
Hana,,, yang sudah direlakannya untuk bahagia bersama suami dan anak anaknya.
"Aku paham rasanya merelakan yang kita cintai dengan orang lain." lirih Dion.
"Apa itu sakit?? Sampai berapa lama sakitnya?? Seumur hidupkah??" tanya Karin.
"Ya,,, sakit dan lama. Susah sembuhnya kecuali hingga suatu hari nanti hatimu akan kembali dibuka oleh senyuman makhluk lainnya yang sudah tuhan siapkan untukmu. Kapan,,,Di mana,,,Siapa??? Hanya tuhan yang tau,,," kata Dion.
"Tapi setauku,,,masa itu telah datang padaku." lanjutnya dalam hati.
"Tapi aku tak ingin hadir sosok lain lagi." sela Karin.
Dion tersenyum sangat manis meski wajahnya tak lagi mulus seperti dulu. Kerutan tipis di beberapa bagian wajahnya tak membuat ketampanan masa mudanya meluntur begitu saja.
"Yang diatas itu Maha membolak balikkan hati manusia. Dan manusia itu sendiri boleh bertekad,,, boleh merencanakan,,, tapi tetap hanya ketetapanNYA lah yang akan berlaku. Hari ini kamu menyatakan Bimo adalah yang terakhir bagimu,,, tapi kamu tak akan pernah tau mungkin besok ada aku,,," Dion tersenyum sekali lagi lalu beranjak meninggalkan Karin yang memandangi punggungnya.
__ADS_1
🌹🌹🌹
Terima kasih atas vote, like dan komennya ya 🌹