
Selamat membaca 🌹🌹
\=\=\=\=\=\=\=
🌹
Ratna kembali dengan membawa secangkir kopi hitam untuk Dion. Diletakkannya kopi itu di meja dan wajahnya merengut melihat Dion tengah sibuk dengan ponselnya.
"Ngapain sih sayang?? Sibuk banget!!!" sungutnya.
"Nih lagi selesaikan kerjaan saja sayang. Kenapa memangny??" sahut Dion tanpa menoleh atau pun melirik Ratna.
"Kerjaan Darren??' tanya Ratna balik.
"Iya ada sisa sedikit yang belum selesai." sahut Dion.
"Kenapa sih masih mau mau saja urus kerjaan Darren. Memangnya apa yang kamu dapat selama ini dari dia coba?? Dia lho yang buat rumah tanggamu secara tidak langsung bermasalah begini." kata Ratna mulai beraksi.
"Tau dari mana sayang?" selidik Dion.
"Dengar obrolanmu di telpon sama dia tadi. Berarti benar kan dia yang memberitahu Hana lebih dulu?? Dia juga lho yang suruh aku tinggal di sini karena dia memikirkan dirinya sendiri." jawab Ratna.
"Memikirkan diri sendiri??" ulang Dion sembari meletakkan ponselnya.
Ratna menghela napasnya.
"Demi melindungi nama baiknya saja kan tidak tercemar karena membiarkanku tinggal di rumahnya. Padahal harusnya biarkan saja aku tinggal di sana toh aku juga gak ngapa ngapain kan?? Aku kerja jaga anak anaknya saja. Tidak merayunya atau pun apa lah itu." kata Ratna berbohong.
"Intinya Darren itu cuma mencari keuntungan saja darimu sayang." lanjutnya kemudian.
"Kenapa aku baru sadar ya kalau selama ini memang aku sudah terlalu baik pada Darren sampai sampai sekarang rumah tanggaku pun jadi korban. Ingin rasanya aku menepis semua rasa kesal dan kecewa ini tapi kalau dipikir pikir perkataan Ratna itu memang benar." batin Dion.
"Sudah jangan lagi bantu bantu pekerjaannya sayang. Kamu kan bisa urus perusahaanmu sendiri. Darren ya biar urus sendiri perusahaannya. Masak mau kamu terus yang kerjakan semua untuk dia. Biar tau rasa juga si Darren itu,,, Punya beban anak anak dan harus urus pekerjaan juga." Ratna mulai memanasi Dion.
"Benar sayang,,, Sudah saatnya aku lepas dari perusahaan Darren. Toh selama ini aku sudah tau semua titik kelemahan perusahaannya. Jadi aku bisa pakai itu untuk sewaktu waktu jika aku ingin mengalahkannya."jawab Dion.
__ADS_1
"Gitu dong sayang,,, Ini baru suamiku. Dan suami Hana juga,,," ucap Ratna berusaha semakin meyakinkan Dion bahwa dirinya sudah mau menerima Hana jika sewaktu waktu kembali.
"Terima kasih sayang atas pengertianmu. Aku janji akan selalu berbuat adil pada kalian nantinya." janji Dion.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan dulu,,, Yang penting sekarang selama Hana masih butuh waktu sendiri kamu jangan ganggu dia dulu ya sayang. Kan juga sudah ada aku di sini yang mengurusmu." Ratna tersenyum.
"Jadi menurutmu aku tidak perlu cari dia dulu??" tanya Dion.
"Tidak usah,,,Wanita itu hanya ingin dimengerti saja sayang. Dan saat ini Hana hanya ingin kamu ngerti bahwa dia butuh waktu sendiri dulu. Kamu itu dulu player loh,,, Casanova,, Masak begini saja kamu tidak paham sih??" goda Ratna.
"Iya juga ya,,," jawab Dion menggaruk kepala belakangnya sambil tertawa.
"Jadi,,, Turuti saja semua kata kataku. Aku kan yang sesama wanita pasti lebih tau apa maunya Hana." Ratna mengerlingkan mata.
"Iya sayang,,, Aku akan dengerin semua katamu."jawab Dion.
Sahabat Darren yang biasanya begitu bijaksana itu kini bagai kerbau dicocok hidung. Segampang itu dirinya menuruti dan termakan semua omongan Ratna. Segampang itu juga dia melupakan pelajaran hidup tentang berumah tangga dari yang sudah dialami oleh Darren.
Termakan omongan wanita penggoda itu selalu berujung petaka. Dion lupa itu.
"Kita ini sebenarnya mau kemana sih Han??" tanya bu Irma.
Beliau merasa bingung saat Hana putri semata wayangnya tiba tiba datang ke rumahnya dengan koper besarnya dan langsung memintanya mengemasi barangnya semua.
Bu Irma juga semakin bingung saat Hana dengan segera memutuskan menyumbangkan semua hasil penjualan rumah itu ke pihak masjid. Meski itu memang dilakukan sesuai dengan pesan mendiang pak Kyai namun tetap saja bagi bu Irma semua ini terlalu cepat dilakukan dan terkesan terburu buru.
"Kita ke luar negeri saja bu. Hana dapat pekerjaan di sana."sahut Hana.
"Pekerjaan?? Bukannya kamu sudah lama nganggur Han. Terus Dion suamimu,,, Apa gak ikut??" bu Irma tidak mengerti.
"Iya bu selama ini Hana memang nganggur tapi di rumah Hana kerja online. Dan sekarang Hana ingin pekerjaan online Hana ini punya kantor dan bisa Hana kerjakan offline." jawab Hana tanpa menyinggung Dion.
"Ibu tidak paham tapi ibu nurut saja lah sama kamu nak. Ibu sudah tua dan hanya punya kamu saja. Ibu senang kamu masih tetap melibatkan ibu dalam semua hal termasuk masih mau bawa ibu ke tempat barumu." tukas bu Irma.
"Hana juga senang ibu selalu mendukung apa pun keputusan Hana. Kehadiran ibu sangat penting bagi Hana bu,,,"jawab Hana.
__ADS_1
"Ayo bu kita sudah waktunya check in." ajak Hana membimbing tangan renta bu Irma.
"Loh,,,Dion belum datang." protes bu Irma.
"Nanti dia nyusul bu. Ayo bu sebelum kita terlambat." jawab Hana.
Bu Irma mengangguk dan menurut membiarkan Hana putrinya menuntunnya.
"Maafkan Hana bu,,,Hana terpaksa berbohong. Hana tidak mau ibu kepikiran kalau ibu tau yang terjadi sebenarnya." batin Hana.
Hana anak baik yang dididik dengan ilmu agama yang kuat dari orang tuanya. Berbohong adalah hal yang paling tidak pernah dilakukannya apalagi pada orang tuanya. Namun kali ini Hana memilih berbohong demi kebaikan ibunya.
Pesawat yang ditumpangi Hana telah mengudara membawanya pergi membawa luka hatinya dan meninggalkan suami yang telah mengecewakannya. Tak ada setitik pun airmata yang keluar dari kedua matanya.
"Pantang menangisi pria yang tak memikirkan perasaanmu Han. Kuatkan dirimu. Buktikan kamu wanita tangguh yang mampu berdiri sendiri tanpa suami. Relakan saja suami yang tidak bisa tegas itu. Relakan saja suami yang diam diam membawa masuk istri pertamanya dan membiarkanmu berhari hari tertipu."
Hana terus membatin.
"Kamu baik baik saja kan nak??" bu Irma memecah kediaman Hana.
"Iya bu,,Hana baik baik saja kok. Kenapa bu??" tanya Hana balik dan berusaha meyakinkan ibunya bahwa tak terjadi apa apa.
"Entahlah nak,,, Ibu hanya ingin bertanya saja." jawab bu Irma yang naluri keibuannya merasa terusik oleh hal yang tak dimengertinya.
"Tenang bu. Semua baik baik saja dan akan terus begitu. Mungkin ibu hanya merasa tidak nyaman naik pesawat saja." canda Hana.
"Iya nih Han,,, Ibu takut. Ini pertama kalinya ibu pergi pakai pesawat. Mendiang ayahmu dulu kan gak pernah ajak ibu pergi jauh jauh. Tapi walau begitu,,,Ayahmu tetaplah suami dan ayah terbaik bagi kita. Ibu berdoa semoga Dion suamimu juga bisa begitu ya nak. Meskipun kalian belum dikaruniai momongan tapi ibu yakin suatu hari pasti kalian dipercaya." doa bu Irma.
Hana hanya mengangguk dan tersenyum saja tanpa mengaminkan atau pun mengiyakan doa ibunya.
"Dion sudah mati bagi Hana bu,," gumamnya dalam hati.
\=\=\=\=\=
Bersambung,,,
__ADS_1
Terima kasih 🌹