BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S Part 110


__ADS_3

Selamat membaca ❤️


Maaf banyak typo 🙏


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


❤️❤️


"Selamat ya sayang. Ayah bangga sama kamu nak." Darren mencium kening Rayya dengan penuh rasa bangga.


"Ini semua untuk ayah, abi dan bunda." kata Rayya.


Darren tersenyum lalu memeluk putri kecilnya yang kini sudah lulus kuliah kulinernya dan menyandang gelar yang dicita citakannya selama ini.


"Terima kasih nak. Ayah yakin abi sama bunda sedang memandangmu dengan bahagia di sana. Mereka tersenyum bangga padamu nak. Lihat Rayya anak kita,,,Dia sudah meraih cita citanya dengan nilai terbaik."Darren mencoba mempraktekkan kira kira apa yang dilakukan Chaira dan Ray.


Rayya tersenyum lalu memberikan pelukan terhangatnya untuk sang ayah.


"Semua ini karena ada ayah yang selalu mendampingi dan membimbing Rayya sampai Rayya bisa sampai di titik ini. Kalau tidak ada ayah,,,Rayya tidak tau akan jadi seperti apa. Terima kasih ayah,,, Terima kasih sudah menjadi sandaran yang kuat untuk Rayya." ucap Rayya.


Pelukannya pun terasa makin erat dan hangat membuat Darren agak sedikit susah bernapas.


"Uhuk,,,Uhuk,,," Darren terbatuk batuk.


Rayya melepaskan pelukannya itu.


"Ayah maaf,,, Rayya buat ayah sesak napas ya??" Rayya bingung mencari sebotol air untuk Darren.


Segera diberikannya air itu pada Darren yang langsung meminumnya sampai habis.


"Ayah gak apa apa??" tanya Rayya cemas.


"Ayah gak apa apa nak. Sudah jangan cemas gitu. Ayo temui kakakmu dan semua yang sudah menunggumu di luar." kata Darren.


"Siapa memangnya ayah??" tanya Rayya heran karena dia tak merasa mengundang siapa pun untuk datang hari ini kecuali Darren.


Aturan dari kampusnya yang melarang mengundang banyak orang menjadi alasan Rayya. Karenanya dia hanya meminta Darren yang datang menghadiri acara wisudanya.


Tapi rupanya Darren tak datang sendirian dan sudah menyiapkan kejutan untuk putri cantiknya itu.

__ADS_1


"Keluar saja dulu dan temui mereka." titah Darren.


"Iya ayah,," Rayya tak sabar berlari keluar gedung tempat wisudanya.


Rayya berlarian hingga tak sadar meninggalkan Darren yang kembali terbatuk batuk.


"Kakaaaakkk,,," pekik Rayya begitu melihat Levi membawa sebuket bunga cantik menyambutnya di luar gedung.


Tak hanya Levi, tapi ada juga Tiara dan Birru yang memakai baju warna senada dengan yang dipakai Levi. Mereka bak keluarga kecil bahagia dengan baju kompaknya itu.


Tapi memang bukan hanya bak,, melainkan mereka memang keluarga kecil yang bahagia.


Ada juga Dion sahabat Darren berdiri tersenyum ke arah Rayya. Pria tua itu masih saja terlihat keren dengan penampilan formalnya. Sayangnya tak ada sosok wanita di sampingnya. Tampaknya Dion mengalami hal sama dengan Darren.


Jatuh dalam penyesalan masa lalu.


Dan di sebelah Tiara,,, Ada sesosok laki laki yang juga tersenyum menampilkan sederet gigi putihnya yang beraturan. Wajah tampan itu sangat dikenali Rayya bahkan sangat dirindukannya dengan segenap cinta di hatinya.


Ya,,,Darren mengajak Bimo turut serta datang ke Paris untuk memberi kejutan pada Rayya.


Rayya langsung menghambur dalam pelukan Levi yang sudah merentangkan kedua tangannya lebar lebar menyambut princess kesayangannya itu.


"Selamat ya Ay,,, Kamu sudah lulus dengan nilai terbaik." ucap Levi.


"Mana mungkin kami tak ingin bersekongkol dengan ayahmu kalau itu untuk urusan kamu Rayya." Dion menjawab pertanyaan itu sambil tersenyum.


"Sini peluk om Dion juga. Om juga ingin mengucapkan selamat dan om juga rindu padamu." ucap Dion kemudian langsung membuka kedua tangannya juga.


Rayya agak ragu ragu tapi kemudian berpikir bahwa Dion menyayanginya seperti ayahnya juga selama ini. Lagipula pakaian Rayya tertutup sempurna dan dilengkapi sarung tangan hingga tak apa jika Dion memeluknya sebagai bentuk kasih sayang ayah pada anaknya.


"Terima kasih om Dion." ucap Rayya memeluk Dion tak lama tapi secukupnya saja.


"Anak om ini sudah besar sekali. Tidak terasa ya waktu berjalan begitu cepat. Melihatmu seperti ini,,, Om jadi teringat bundamu. Semoga kamu istiqomah di jalanNYA seperti bundamu ya Rayya." ucap Dion kemudian.


"Aamiin,,," sahut Rayya.


"Ay,,, Selamat ya."Akhirnya suara yang sangat dikenali Rayya pun terdengar.


Kalau biasanya hanya lewat ponsel namun kali ini suara itu begitu nyata terdengar di telinganya.

__ADS_1


"Terima kasih bang." Rayya menangkupkan jari jarinya di depan.


Pandangan mata keduanya saling mengunci untuk beberapa saat namun keduanya langsung sadar dan beristighfar dalam hati.


Seberapa besarnya keinginan keduanya untuk saling melepas rindu namun keduanya sadar ini belum saatnya. Bukan hanya karena belum ada yang tau tapi karena mereka belum sah menjadi muhrim.


"Eh mana ayahmu Rayya? Kok gak kelihatan??" tanya Dion cemas dan menyadari Darren lama tak muncul.


"Eh iya. Tadi di belakang Rayya kok. Kemana ya ayah? Biar Rayya susul ke dalam aja om." ucap Rayya.


"Itu dia ayah." tunjuk Levi membuat Rayya mengurungkan niatnya karena Darren sudah muncul dan berjalan ke arah mereka semua.


"Ayah dari mana?" tanya Rayya.


"Dari kamar mandi nak. Tadi ayah tiba tiba sakit perut. Maaf sudah membuat kalian menunggu. Ayo kalau begitu kita langsung ke hotel saja. Ayah sudah siapkan pesta kecil dan makanan di sana. Ayah yakin kalian semua sudah lapar kan??" tanya Darren.


Mendengar kata hotel dan makanan membuat mata semuanya berbinar karena mereka memang sudah lapar. Semuanya pun bergegas masuk ke dalam mobil mobil yang sudah disiapkan oleh Darren juga.


Levi masuk ke dalam mobil yang sama dengan anak istrinya. Sementara Rayya semobil dengan Bimo sesuai instruksi Darren karena Darren ada yang ingin dibahas dengan Dion selama di perjalanan. Rayya menurut saja perintah ayahnya. Bimo juga tak kalah senang mengambil kesempatan itu.


Bukan untuk berbuat yang macam macam tapi lebih ke leluasa bicara dengan Rayya. Tak usah juga peduli dengan si sopir asli Paris yang tak mengerti bahasa mereka.


Mobil pun berangkat beriringan menuju hotel. Dion menatap cemas pada Darren yang sudah duduk di sampingnya.


"Lo masih gak mau bilang sama mereka tentang kondisi lo Dare?" tanya Dion.


Darren menghela napasnya dengan berat.


"Belum saatnya. Gue gak mau buat mereka cemas." kata Darren.


"Tapi kan dengan mereka tau lo jadi leluasa berobat. Lo juga kan harus membuat mereka siap dengan kenyataan terburuk. Kita makin tua Dare,,, Lo juga gak tau kan kapan lo dijemput yang maha kuasa. Jangan sampai membuat mereka terkejut hingga mereka tenggelam dalam kesedihan luar biasa karena mereka tak menyadari kesehatan lo makin memburuk." Dion menasehati.


Sebagai sahabat yang tau persis kondisi Darren saat ini,,Wajar saja jika Dion memang sangat mencemaskan Darren.


"Iya gue akan kasih tau mereka nanti pada waktu yang tepat. Tapi itu bukan sekarang. Gue masih harus tetap semangat hidup karena masih ada hal yang jadi tanggung jawab gue ke Rayya." ucap Darren dengan penuh semangat.


Dion geleng kepala namun kemudian tersenyum senang melihat tekad Darren.


"Gue pasti bantu lo mencari mereka."ucap Dion.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Terima kasih atas vote, like dan komennya ❤️


__ADS_2