BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
Kembali normal


__ADS_3

"Surpriseeeeeee!!!!!! "


Aku terkejut mendengar teriakan anak buahku di kantor.


"Selamat datang dan bergabung kembali bro,,, kami khusus membuat pesta kecil kecilan ini untuk menyambutmu" Dion mewakili semuanya menjabat hangat tanganku.


"Thanks bro sudah banyak membantu gue dan papa selama ini. Gue minta maaf sudah banyak nyusahin lo" ucapku


"Santai,,,jangan dipikirkan bro,,, yang penting sekarang lo udah balik." ujarnya sambil menepuk nepuk bahuku


"Halo Chaira,, apa kabar? Lama kita tidak berjumpa" sapanya juga pada Chaira yang hari ini khusus menemaniku berangkat ke kantor


Chaira menganggukkan kepalanya sopan. Dion yang memang sudah tau karakternya yang tak pernah berjabat tangan dengan pria lain memaklumi dan tak menjadikan hal itu sebagai masalah besar


" baiklah semuanya,,,, kita sambut CEO kita yang sudah kembali dari masa kelamnya,,, dan mari kita doakan agar beliau sehat terus dan senantiasa bisa bersama sama dengan kita bersama sama memajukan perusahaan ini" Seru Dion sembari memimpin semua bertepuk tangan


Ruangan itu riuh oleh suara tepukan dan dipenuhi dengan suasana gembira atas kembalinya aku di perusahaan. Selama ini aku termasuk pimpinan yang selalu bersikap baik pada semua anak buahku jadi tak heran mereka bersukacita menyambutku kembali.


"Sayang aku pamit pulang dulu ya,,, aku tak ingin mengganggu pekerjaanmu" pamit Chaira usai pesta penyambutan


"iya sayang,,, biar ku pesankan taksi dulu untukmu ya" sahutku segera menelpon Sinta agar memesankan taksi ke alamat ini


5 menit menunggu Sinta menelpon dan mengabari bahwa taksi sudah menunggu di depan lobby. Aku segera mengantar Chaira. Usai mencium tanganku Chaira segera masuk ke taksi yang membawanya pulang. Aku pun segera kembali ke ruanganku untuk membicarakan banyak hal tentang pekerjaanku yang sudah lama ku tinggalkan bersama Dion.


"Bagaimana kerjasama kita dengan PT ***? Apa masih berjalan lancar?" aku menanyakan banyak hal termasuk proyek yang terakhir kali ku garap bersama Febby


"oh ya untuk yang itu,,, mereka memutuskan kontrak secara sepihak. Setau gue sih karena mereka memutuskan menjual saham perusahaannya kepada pengelola terbarunya ini karena keluarga Febby memutuskan pindah keluar negeri. Gue gak tau persis kenapa mereka semendadak itu pergi." kata Dion


"dan si pengelola baru tidak tertarik menjalin kerjasama sama kita. Makanya proyek stop deh,,, kalau urusan kerugian gue rasa lo bisa langsung ke bagian finance aja biar lebih jelas" tambahnya


Aku manggut manggut saja walau sedikit merasa heran. Tapi jauh di dalam hatiku aku senang karena akhirnya Febby tak menggangguku lagi. Dia sudah jauh diluar negeri. Kuputuskan untuk menutup rapat rahasia terbesar yang pernah ada diantara kami.


Aku menghabiskan banyak waktu berbincang dengan Dion masalah pekerjaan hingga waktu makan siang tiba. Dion segera mengajakku makan diluar.


"No bro,,, gue udah ada ini,,, " kataku sambil menunjuk kotak makanku

__ADS_1


"Hahh,, serius lu????" mata Dion terbelalak melihat kotak itu


Aku hanya nyengir kuda.


"Jadi bener yang dibilang ma anak anak disini semua kalau lu tuh takut banget ma istri lu sampai segininya??? Dion heran


Aku tak tahan menahan tawaku. Aku tau selama ini banyak yang membicarakanku di belakang masalah kotak nasi yang ku tenteng tiap harinya dulu.


Dion yang heran bertambah heran melihatku terus tertawa.


" Gue bukan takut istri bro,,, tapi gue menghargai dia. Lu bayangin istri lu udah rela bangun pagi buat siapin sarapan lu,,, terus dia juga musti segera masak buat makan siang lu,,, Terus udah kayak gitu lu mau nolak gitu aja??? Nggak kan??? Lagipula gue paling doyan ma masakan istri bro jadi gue secara pribadi meminta dia selalu menyiapkan kotak nasi makan siang untuk gue" Tandasku


Dion melongo mendengar semua ucapanku. Sejurus kemudian dia kembali bertepuk tangan dengan ritme yang lambat.


"salut bro,, gue beneran gak nyangka seorang Darren Narendra yang gue kenal seperti apa dulunya sekarang berubah banget. Keren bro keren lu sumpah,, " pujinya


"Chaira banyak banget ngajarin gue arti hidup bro,,, Dia banyak sekali melakukan hal baik buat gue,,," aku menghentikan sejenak ucapanku. Dadaku terasa sesak.


"tapi lu tau sendiri apa yang udah gue kasi ke dia,,, Gue cuma kasi dia penderitaan,,,, " lirihku sembari menundukkan kepalaku


"Hey bro,,, Gak seperti itu juga. Itu semua diluar keinginan dan kesadaran lo,,,, Yang terpenting sekarang lu jangan ulangi lagi hal yang sama,,,, " Dion mendadak serius


"jadi boleh dong gue cicipin masakan Chaira" Dion dengan cepat menyambar kotak nasiku dan membawanya ke meja lalu mulai membuka dan melahapnya


"woooiiii jangan woiiiii,,, Awas lu ya,,, enak aja lu makan bekal gue,,, wooii sudah woooiii sudaahhhhhh,, " kami saling berebut menyuapkan makanan ke mulut kami seperti anak kecil berebutan


Sinta yang awalnya mendengar suara ribut tergopoh gopoh masuk namun akhirnya hanya mentertawakan tingkah kami lalu keluar lagi.


Siang itu perutku terasa masih lapar gara gara Dion menghabiskan hampir separuh bekalku. Dion tertawa puas mendengar perutku yang sesekali berbunyi karena aku masih lapar. Aku berharap waktu cepat berlalu karena aku sudah sangat merindukan Chaira dan tentu saja masakannya heheheh,,,,


Begitu semua pekerjaan kami selesai Dion menawarkan diri untuk mengantarku pulang. Aku tak menolaknya karena kebetulan arah kami sama.


"Yakin lu gak mau temenin gue di bar?" Dion menanyakan hal itu saat kami sudah sampai di depan pintu gerbang rumahku


"yakin bro,,, gue bukannya gak mau temenin lu tapi lu tau kan,,, bidadari gue sudah menunggu" jawabku sembari melambaikan tanganku pada Chaira yang sudah menunggu di teras.

__ADS_1


"Ok bro gue ngerti,,, oh ya sampaikan pada Chaira,,, besok dobelin dong bawa kotak nasinya" serunya


Aku tak paham dengan maksudnya.


"satu buat lu,,, satu lagi buat gue bro,,,, hahahhaha,,, masakan Chaira toppppp" lanjutnya sembari mengangkat dua jempolnya


"enak aja lu,,, itu khusus buat gue tau!!!! " sungutku sembari membuka pintu mobil. Dion hanya tertawa mendengarku ngoceh. Dia segera melajukan mobilnya setelah sempat melambaikan tangan pada Chaira.


Aku memasuki halaman rumah dengan perasaan penuh rindu pada Chaira. Segera ku peluk dirinya erat begitu dia selesai mencium tanganku.


"sayang aku kangeeeennnn,,,, " aku menghujani wajahnya yang masih tertutup cadar dengan ciuman bertubi tubi


"aduuhhh sayang gak enak dilihat tetangga ihhh" Chaira berusaha menghentikanku namun tak berhasil


Aku tetap saja memeluk dan menciuminya. Segera ku bopong tubuhnya memasuki rumah dan ku pastikan mengunci pintunya lalu kubawa dirinya menaiki tangga menuju kamar kami.


"Turunin sayang,,, aku takut nih" Chaira mulai ketakutan


"pegangan erat dong kalau takut" candaku sambil tetap tak membiarkannya turun


Ku rebahkan tubuhnya di ranjang besar kami. Segera ku buka semua pakaian yang melekat di tubuhku. Ku singkap gaun panjangnya dan menarik turun celananya. Ku lampiaskan kerinduanku padanya hingga kami sama sama lelah.


Krruuukkkk,,,


Perutku kembali berbunyi. Chaira tertawa mendengarnya.


"tuh cacingnya sudah miss call" ucapnya.


Segera didorongnya aku agar dia bisa bangun dan membersihkan diri. Kemudian turun kebawah menyiapkan makan malam kami. Aku segera menyusul turun.


"Nanti tambah lagi ya sayang,,, biar cepat,,,,, duuung" aku membuat gerakan membesarkan perutku


Chaira tertawa lagi dan mencubitku lalu melanjutkan kegiatannya menyiapkan makanan di meja. Aku terus saja memandangnya sambil sesekali mengerlingkan mataku nakal saat dia menoleh padaku.


"Teruslah tertawa sayang,,, tak akan kubiarkan kamu menangis lagi. Akan ku buat keadaan menjadi normal lagi seperti dulu" ujarku dalam hati

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan komen yaaaa


Terima kasih 😍


__ADS_2