BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
Tak bermaksud begitu


__ADS_3

"Sayang,,,, apa aku mengganggu?" Chaira mendatangiku dan menghampiri meja kerjaku.


Hari ini aku tidak ke kantor karena sedang malas saja. Aku ingin bersama Chaira di rumah lebih lama.


"Sebentar ya sayang,,, sedikit lagi,,, " sahutku tanpa menoleh padanya dan tetap sibuk di layar laptopku


Chaira tersenyum dan memutuskan duduk di sofa dekat mejaku. Dia membuka buka majalah yang ada di meja sembari menungguku yang masih sibuk. Hampir setengah jam berkutat menyelesaikan pekerjaanku akhirnya ku tutup laptopku lalu ku regangkan otot otot jari dan leherku.


Aahhh aku lupa Chaira telah lama menungguku. Ku toleh dirinya lalu ku hampiri.


"hmm kasihan kamu sayang,,, kamu pasti lelah menungguku disini" aku mengusap pipi Chaira yang tampak tertidur di sofa.


"eehhmmm,,, kamu sudah selesai sayang? Oh rupanya aku ketiduran. Sebentar sayang aku buatkan kopi dulu untukmu yaaa,,, " Dia segera bangkit berdiri


Ku tarik tangannya berusaha menahannya.


"Tunggu sayang,,," aku menghentikannya


Chaira berhenti dan memandangku tak mengerti.


"ada apa sayang?" Tanyanya


" Aku menginginkanmu"bisikku manja


"Disini???" Chaira terbelalak


Aku mengangguk. Sesaat ku pandangi wajah malu dan paniknya itu lalu aku pun segera tertawa melihat ekspresinya itu.


"Ya gak lah sayang,,, kita ke kamar" Ujarku langsung membopong dirinya menuju ke kamar kami yang ada di ruangan sebelah.


Dikamar aku melakukan hal yang ku inginkan dan kami sama sama menikmatinya. Kami melakukannya berulang kali hingga matahari mulai terbenam.


"Sayang,,, bagaimana menurutmu jika kamu menikah lagi?" Chaira tiba tiba mengatakan hal seperti itu saat kami masih berpelukan tanpa busana


Aku melepaskan pelukanku. Aku diam tak menjawab. Aku bangkit lalu membersihkan diri dan berpakaian. Aku keluar dan berdiri di balkon kamarku. Mataku memandang jauh namun aku tak tau apa yang menarik pandanganku itu. Mungkin saja kelap kelip lampu kota yang mulai berlomba menyinari malam yang sudah mulai turun itulah yang menarik pandanganku. Entahah,,,, kenapa aku merasa tak nyaman dengan perkataan Chaira barusan? Aku merasa tersindir akan perkataannya. Mungkin karena perasaan masih bersalahku karena dulu aku pernah membagi cintaku dengan Rosa. Aku tak tau,,, Yang jelas aku tak suka mendengar Chaira berkata demikian.


Chaira yang memandangiku tampaknya paham bahwa perkataannya membuatku tak senang. Segera dia bersihkan juga dirinya dan kembali mengenakan pakaiannya juga. Dia menyusulku ke balkon.


"Sayang,,, maafkan aku jika perkataanku tak berkenan dihatimu. Aku hanya,,,,, " dia menghentikan perkataannya saat melihatku bergegas meninggalkannya.


"Aku mau keluar dulu bertemu sahabatku" pamitku singkat tanpa menunggu persetujuannya

__ADS_1


Chaira diam memandan kepergianku. Aku pun sama sekali tak menolehnya lagi. Aku merasa marah dan kecewa padanya. Aku butuh waktu meluapkan kekecewaanku itu.


"Bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu padaku?? Bagaimana mungkin kamu sebegitu putus asanya menanti seorang anak? Bagaimana bisa kamu menyuruhku membagi hatiku sedangkan aku bersusah payah menebus kesalahanku dulu yang pernah menodai pernikahan kita,,,, Bagaimana bisa Chaira,,, bagaimana bisa kamu segampang itu mengucapkannya??? "


Bruuaakkkkk,,,,


Kedua sahabatku terkejut saat aku menggebrak meja dan menghentikan nyanyiannya. Kami sedang berada di tempat karaoke elit. ini pertama kalinya aku mengajak mereka bertemu di tempat seperti ini. Dion dan Angga berpandangan dengan pandangan tak mengerti.


"lu kenapa bro??" Dion memberanikan diri bertanya sesaat setelah melihatku mulai menyalakan rokokku


Dia merasa heran saja melihatku.


"pertama,,, lu ngajak kita kesini,,, ini gak biasanya bro. Kedua,,, lu sejak kapan pandai merokok dan minum alkohol??" Angga menimpali


"Chaira??" tanya Dion lagi


Aku kembali menenggak minumanku hingga habis lalu menuangkan lagi dari botol. Sama sekali tak ku hiraukan pertanyaan mereka. Aku hanya ingin sekejap saja membuang kekesalanku. Aku kembali menyulut rokokku yang habis. Aku kembali menuangkan minuman di gelasku jika sudah habis. Ku lakukan itu berulang ulang.


"Stop bro stop" Angga berusaha mengambil gelas berisi minuman yang hendak ku minum lagi


"Gak kayak gini caranya,,, lu ngomong ma kita kali aja kita bisa bantu" lanjutnya


Dion yang menangkapnya segera menyusulku yang langsung keluar dengan sempoyongan. Aku terlalu mabuk. Dion memapahku masuk ke dalam mobil. Angga yang sudah menyelesaikan pembayaran juga langsung menyusul masuk mobil. Mereka mengantarku pulang. Aku tak ingat jam berapakah mereka mengantarku yang jelas tentunya hari sudah menjelang pagi.


Tok,, tok,, tok,,,


Chaira yang menungguku sepanjang malam di ruang tamu terkejut dan segera membuka pintu.


"Halo Chai,,, boleh kami mengantarkan Darren ke kamar? Dia terlalu berat untuk kau papah sendirian" Angga meminta izin Chaira


"si,, si,, silahkan,,, " Chaira segera menyingkir memberi jalan kami untuk masuk lalu segera menunjukkan jalan ke kamarku.


"Apa yang terjadi?" tanyanya lagi pada sahabatku yang telah merebahkanku di ranjang


"Darren terlalu banyak minum Chai,, kami sudah berusaha mencegahnya tapi dia marah." kata Angga


"eehhmmm maaf Chai,,, sepertinya kalian sedang ada masalah. Ajaklah dia bicara besok saat dia sudah sadar. Malam ini biarkan dia istirahat dulu. Dan jika dia sudah sadar katakan saja padanya untuk tak perlu ke kantor. Kami akan mengurus semuanya" Dion menimpali


"Kami permisi Chai,,," pamit mereka


" Terima kasih" ucap Chaira

__ADS_1


Chaira segera mengantar mereka ke depan. Di tangga mereka berpapasan dengan mama yang terbangun mendengar suara ribut Darren yang terus mengoceh tak jelas.


"halo tante,,, " sapa Dion


"ada apa ini,, kenapa Darren?" mama bertanya


"Darren mabuk tante,, kami hanya mengantarnya pulang" sahut Dion sopan


"kenapa kalian biarkan dia sampai mabuk?? kalian kan tau Darren gak pernah minum minuman keras. Atau jangan jangan kalian yang ajari dia ya!!!!" tuduh mama


"mama,,, ini bukan salah mereka. biarkan mereka pulang ya,, sudah hampir pagi ma,, gak enak kalau tetangga dengar ribut ribut." bujuk Chaira


"maafkan mama ya,,, silahkan kalian boleh pergi. Sekali lagi terima kasih." ucap Chaira pada sahabatku yang tak menjawab sepatah kata pun saat mama memarahi mereka


Dion dan Angga mengangguk dan mencoba berpamitan pada mama tapi mama tak meresponnya. akhirnya mereka langsung pergi saja.


"ada apa Chai?? apa ada masalah diantara kalian? tidak biasanya Darren seperti ini?" tanya mama sembari menuju kamarku melihat keadaanku


" Mungkin Chaira ada salah bicara tadi ma sehingga membuat Darren marah dan kecewa" lirih Chaira


"memangnya apa yang kalian bicarakan,,, " tanya mama lagi


Kali ini Chaira tak ingin menjawabnya.


"baiklah mama mengerti,,, mama percaya kalian sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan semua masalah kalian. Mama balik ke kamar mama lagi ya Chai" kata mama


"iya ma" Chaira menjawab sopan dan membukakan pintu untuk mama


Chaira menutup pintu lalu menghampiriku. Dilepasnya sepatu dan kaos kakiku. Dia mengganti bajuku setelah sedikit mengelap tubuhku yang bau alkohol. Lalu dia membelai wajahku dan mencium tanganku.


"maafkan aku sayang,,, aku tak bermaksud apa apa dengan mengatakannya. Ketahuilah dalam hatiku pun aku tak rela membagi cintamu dengan wanita lain mana pun. Tapi aku rela berkorban demi membahagiakan mama" lirihnya


Airmatanya menetes di pipi putihnya.


"Chaaaaaaiiiii,,, Chaira,, Chairaaaa,,, " aku meracau


"iya sayang,,, ini Chai disini" Chaira memelukku


Jangan lupa vote, like dan komen yaaa


Terima kasih 😍

__ADS_1


__ADS_2