
Mobil yang menjemput Ray membawa mereka ke sebuah vila besar di kawasan Ubud. Udaranya yang sejuk cukup menenangkan pikiran dan jiwa mereka.
"Selamat datang tuan Ray dan nona Chaira" beberapa wanita berpakaian seperti asisten rumah tangga menyambut mereka
Chaira memandang Ray yang langsung melengos pura pura tidak tau. Chaira tau Ray lah yang menyiapkan mereka untuk membantunya disana.
"Tidak usah sungkan begitu,, kalian cukup memanggilku Chaira saja. Jangan nona. Aku risih dipanggil begitu." kata Chaira dengan ramah
Para asisten saling berpandangan. Dalam hati mereka keberatan untuk memanggil nama saja.
"Baiklah kalian boleh memanggilku ibu saja kalau begitu" kata Chaira yang memahami bahwa mereka tidak bisa memanggul namanya saja.
"Baik bu" mereka menjawab serempak
"Kalian boleh kembali ke tempat kalian masing masing" titah Ray
"Rosa,, kamu bebas mau pilih kamar yang mana" ujarnya lagi
"Yeeaaaayyyy,,, terima kasih Ray" ucapnya segera menarik Toni dan anaknya meninggalkan Ray dan Chaira yang masih menggendong Levi.
"Ray,,, kamu sudah keterlaluan!!" sungut Chaira
"Hahahaha,,, aku masih akan banyak menjahilimu" sahut Ray yang tau Chaira kesal karena dia menyiapkan asisten banyak tanpa sepengetahuannya.
"Harus ku apakan mereka Ray? sebanyak itu,,, hampir seluruh pekerjaan disini akan mereka kerjakan. Lalu aku???" tanya Chaira
"Tugasmu hanya tiga" kata Ray
Alis Chaira saling bertemu. Dia berpikir dan menebak maksdu ucapan Ray.
"Apa Ray?" tanyanya
Ray menarik napas dalam.
"Teruslah berkarya merancang baju, merawat Levi dan,,,, " Ray tak meneruskan
"Dan???" Chaira tak sabar
"Berbahagialah bersama Levi" tukas Ray
Chaira terdiam mendengar jawaban Ray. Airmatanya menetes di ujung matanya.
"Tidak Chai. Jangan ada lagi airmata."Ray ingin menghapusnya tapi dia menahan diri karena Chaira tak akan mengijinkannya.
" Airmata ini adalah airmata kebahagiaan Ray. Aku bahagia Tuhan mengirimkan malaikat seperti dirimu untuk melindungi dan menjagaku." lirih Chaira
"Terima kasih Ray,,, Terima kasih banyak" ucap Chaira membiarkan airmata bahagianya terus menetes.
Dia menghapus airmatanya saat Levi menangis. Ray menyuruhnya segera beristirahat. Ray pamit dan menuju ke vila satunya yang hanya berada di depan vila yang ditempati Chaira.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pesawat yang membawaku dari London pagi ini telah mendarat di ibukota. Aku yang memang sudah cukup mendapat waktu beristirahat tak ingin lagi menunda pertemuanku dengan Febby.
Aku tau dia pasti masih tinggal dirumahku. Dia pasti mempersiapkan berbagai drama baru untukku. Termasuk drama kehamilannya saat ini.
Brakkk,,,
__ADS_1
Ku buka pintu dan ku dorong kasar. Dion yang setia mengekor saja di belakangku.
"Keluar kamu Febby,,,,!!!!!" Aku berteriak memanggilnya
"Febby!!!!!!! Keluar!!!!!" aku terus berteriak dan membuka pintu kamar satu persatu
"Ada?" tanya Dion saat melihatku sendiri saja dari lantai atas
Aku hanya menggelengkan kepala.
"Kemana wanita itu sepagi ini?" pikirku
"Kita cari saja ke kantor Dare,,, siapa tau dia disana." kata Dion
Aku menurut. Kami segera menuju kantor.
Sinta yang terkejut melihat kedatangan kami langsung menyambut. Dia melaporkan banyak hal tentang perusahaan pada Dion. Aku sengaja tak mendengarkan karena hanya fokus mencari Febby.
Aku tak menemukannya juga di kantor.
"Sinta bilang Febby sempat kesini nyariin elu bro. Dia marah marah karena menyangka Sinta sengaja menyembunyikan keberadaan kita" Dion menyampaikan laporan Sinta tentang Febby saja.
Laporan mengenai perusahaan sengaja tidak disampaikannya dulu karena dia tau aku tak mungkin bisa fokus saat ini. Lagipula dirinya masih sanggup mengatasi atau mengurus semuanya.
"Apa Sinta tau dia dimana?" tanyaku
"Gak lah,, Febby cuma sekali saja datang dan tak mengatakan apa pun" kata Dion
"Oh ya,, tadi Sinta juga bilang bahwa ada pesan dari Angga buat lu. Angga minta lu segera menelpon dirinya" kata Dion lagi
"Angga,,, Mungkin dia tau dimana Febby sekarang." pikirku
Sebenarnya aku malas karena aku masih tak bisa menerima pengkhianatannya. Tapi aku putuskan saja untuk datang. Aku sedikit heran kenapa Angga meminta kami untuk bertemu di alamat yang disebutkannya.
"Ngapain Angga minta kita ke makam begini. Apa gak ada tempat lain tuh bocah" Dion bersungut sungut saat kamu tiba disana.
Aku hanya menggeleng tak tau apa alasan Angga.
"Itu dia" ucapku menunjuk mobil Angga yang baru datang.
Kami sama sama keluar mobil dan berjalan saling mendekat. Tanganku mengepal dan ingin segera meninjunya kembali.
"Jangan pakai kekerasan lagi" bisik Dion
Aku melepas kepalanku mendengar bisikan Dion. Dia benar karena kekerasan tak menyelesaikan masalahku.
"Halo Dare,,, Halo Dion,,, " sapa Angga lebih dulu
" Lu sudah sehat?" tanya Dion langsung memeluk sahabatnya itu.
Bagaimana pun kesal dan kecewanya dia pada Angga dia masih bisa melembutkan hatinya untuk memaafkan kesalahan Angga. Dia tau itu juga tak semata mata kemauannya sendiri.
Febby yang mulai menggodanya.
"Dare,,, gue minta maaf atas semua yang gue lakuin ke elu. Gue gak pernah mikir kalau itu semua akan ngaruh ke rumah tangga lu dan Chaira,,, gue,,, " ucapan Angga terpotong
"Ngapain lu ajak gue kesini?" tanyaku memotong
__ADS_1
Aku tak ingin mendengar banyak Drama dari Angga. Aku ingin dia segera mengatakan apa tujuan dan alasannya mengajak kami bertemu di tempat ini.
"Ikuti gue" Angga segera berjalan mendahului masuk pemakaman.
Kami yang tak mengerti pun hanya mengekor.
Tiba di depan sebuah pusara Angga berhenti. Tanpa bicara dia menunjuk ke pusara itu. Mataku mengikuti arah telunjuknya.
Di pusara itu tertulis nama Mike.
Aku tak mampu untuk menguasai pikiranku. Entah apa yang kurasakan saat membaca nama itu. Ada rasa kehilangan yang mendalam mengingat keakraban kami sebelumnya.
Ada juga kemarahan di sisi lain. Entah marah pada siapa. Aku pun tak mengerti. Yang ku tau hanya lututku tiba tiba lemas tak mampu menopang berat tubuhku sendiri.
Aku bersimpuh di depan pusara Mike. Aku menangisinya. Aku tau anak itu tak bisa ku salahkan begitu saja. Dia tidak tau apa apa.
"Saat terakhirnya dia hanya memanggilmu Dare,,, " Lirih Angga
Aku hanya kembali menangis mendengar ucapannya. Ku ciumi nisannya.
"Maafkan daddy Mike" lirihku
Angga terdiam mendengarku masih menyebut diriku sendiri dengan sebutan daddy. Dia merasa aku lebih beruntung karena Mike lebih dulu nenyebutku daddy.
Hingga saat terakhirnya,, Mike masih tak mau memanggil Angga daddy karena Mike bilang daddynya hanya aku.
Angga dan Dion meninggalkanku yang masih tertunduk di depan pusara Mike. Mereka menunggu di mobil.
"Dimana Febby?" tanyaku yang sudah menyusul mereka
"Dirumah gue Dare,,, Gue minta maaf kalau gue tanpa seijin lu yang masih suaminya membawa dia kerumah gue. Tapi gue gak ingin dia melakukan hal buruk setelah kepergian Mike mengingat kondisi dan moodnya yang sedang labil." Kata Angga
Ucapan Angga mengingatkanku pada pernyataan Febby tentang kehamilannya.
"Lu tau tentang kehamilannya kali ini? apa anak itu juga anak lu?" sinisku pada Angga
Dion sama sekali tak menyela. Dia diam saja. Angga yang ku tanya hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Bawa gue menemuinya" titahku
Angga segera mengangguk dan membawa kami kerumahnya. Orang tua Angga yang melihat kedatanganku terkejut. Awalnya yang mereka marah dan tak terima anaknya ku pukuli sekarang mereka sudah memahami bahwa saat itu aku kalap.
"Halo om tante" sapaku dingin
"Dare,, tolong maafkan Angga ya" mama Angga bicara
Aku tak menjawab karena aku tak bisa berpura pura baik jika hatiku masih sakit. Mama Angga menarik napas dalam melihat aku yang sama sekali tak merespon.
Aku langsung menuju kamar yang ditunjuk Angga. Kamar yang merupakan kamar Febby. Aku tanpa mengetuk langsung membuka kamar yang memang tak terkunci itu.
"Febbyyyyyyyy,,,,, " Teriakku
Semua langsung panik mendengar teriakanku. Mereka menuju kamar Febby dan makin terkejut melihat kondisi Febby yang sudah berdarah darah.
Aku yang masih tak bisa menguasai emosiku hanya diam mematung. Aku kasihan namun aku tak ingin membantunya. Angga lah yang dengan sigap mengangkat tubuh Febby setelah sempat mengecek nafasnya yang masih ada. Dia segera melarikan Febby ke rumah sakit.
"Lu masih suaminya bro,, Walau lu pernah mengucapkan lu menalak dirinya tapi lu belum pernah sekalipun mengurus perceraian kalian kan?,,, Jadi lu masih tetap harus tanggung jawab" Dion menepuk pundakku.
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen yaaaa
Terima kasih 😍