
"Kopinya pak"
Sinta tersenyum manis dan menyodorkan secangkir kopi untukku.
"Terima kasih. Kamu selalu tau kapan aku butuh kopi Sinta" kataku yang sangat butuh inspirasi waktu itu.
Aku meminum kopi itu pelan sambil sesekali meniupnya.
"Apa bapak butuh yang lain lagi pak?" tanya Sinta.
Aku memandangnya. Entah kenapa aku merasa dia sedang menggodaku. Aku menangkap sinyal nakal dari ucapannya itu. Dia masih tersenyum manis menunggu jawabanku.
Sinta akhir akhir ini memang kurasakan sikapnya berubah padaku. Dia lebih perhatian dan sering mengenakan pakaian yang minim. Sama seperti saat ini juga.
Dia hanya mengenakan rok mini yang mempertontonkan paha mulusnya. kemejanya pun hanya kain tipis yang memperlihatkan bagian dadanya yang mengenakan bra dengan warna kontras.
Bohong jika kelelakianku tak tergugah mengingat aku sudah lama sekali tak merasakan sentuhan wanita. Sinta tampak puas melihat aku yang terus memandanginya naik turun.
"Pak,,, apa bapak butuh hal lain lagi?" tanyanya mengulangi pertanyaannya tadi.
Tiba tiba bayangan Chaira dan anak anak yang tengah tersenyum menyambutku berkelebat di mataku.
Aku melihat seorang bidadari bergaun serba putih dengan hijab yang menutup seluruh tubuhnya. Aku melihat anak anakku tersenyum dan melambaikan tangannya padaku.
Aku tersadar.
"Astaghfirullah" lirihku.
"Tidak Sinta kamu boleh pergi. Sekali lagi terima kasih untuk kopinya." tukasku.
Sinta tampak kecewa dengan jawabanku itu. Tentu saja bukan itu yang diharapkannya. Dia segera beringsut dan hendak meninggalkan ruanganku saat aku kembali memanggil namanya.
"Sinta tunggu,,, " seruku
"Ada apa pak?" matanya berbinar
"Jika kamu tidak keberatan aku ingin memintamu untuk berpakaian lebih sopan dan tak terbuka seperti ini. Itu jika kamu bisa menerima kritikku. Kalau memang kamu tak bisa menerimanya aku terpaksa menggantikanmu dengan yang lain" ucapku.
Sinta tampak terkejut mendengarnya.
"Tapi pak,,, " Sinta hendak memprotes.
"Ku anggap kata tapi mu ini sebagai penolakan. Kamu boleh mengemasi barangmu dan akan ku beritahu segera ke divisi mana kamu ku pindahkan. Terima kasih Sinta. Silahkan keluar" ucapku.
Aku bernapas lega melihat Sinta telah keluar dari ruanganku. Aku yakin tindakanku sudah benar. Aku tak ingin ada wanita yang sekiranya membuat pikiranku goyah.
Aku tak ingin lagi terjerumus dalam nafsu. Cukup sudah aku melakukan kesalahan dengan meniduri Rosa dulu walau saat itu aku memang amnesia.
Cukup sudah aku terbawa nafsu saat menggauli Febby walau benar waktu itu dia sudah jadi istri sahku.
Aku tak ingin lagi membagi hati dan cintaku bahkan ragaku kepada wanita lain lagi. Aku belajar banyak dari Ray yang begitu setia menunggu Chaira hingga akhirnya dia benar benar bisa memilikinya.
Namun aku tak berani berharap banyak tuhan akan mengembalikan Chaira padaku. Aku hanya fokus pada niatku untuk bertobat.
Aku akan sangat puas jika nantinya aku kembali dipertemukan di surgaNya bersama keluarga kecilku.
__ADS_1
Aku hanya ingin menjadi insan yang baik,, lebih baik.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Ray,,,," suara Chaira terdengar penuh cinta saat malam itu Ray kembali membawanya ke puncak kenikmatan.
Ray melepaskan dirinya dan berbaring disebelahnya. Chaira menciumi pipinya lembut dan memeluknya.
"Hey ada apa ini,,, kenapa kamu begitu manja dan bernafsu akhir akhir ini sahabatku??? kamu mau lagi???" Ray menggodanya.
Chaira menutup bibir Ray mengisyaratkan agar Ray diam. Dia kemudian meletakkan kepalanya di dada bidang Ray.
"Entahlah Ray, akhir akhir ini aku ingin terus berada di dekatmu. Aku selalu merindukanmu" ucap Chaira.
"Hmmm apa ku bilang?? Aku ini sangat tampan dan mampu membuat sahabatku ini sangat takut jauh dariku,,,, " Ray mencubit hidung Chaira gemas.
"Sudah jangan terlalu percaya diri begitu,,, diamlah dan biarkan aku mendengarkan detak jantungmu" ucap Chaira yang langsung menempelkan telinganya di dada kiri Ray.
Ray menurut saja walau merasa aneh dengan tingkah istrinya itu. Tak biasanya istrinya itu seperti itu. Chaira yang biasanya malu malu akhir akhir ini sering memulai bahkan berani meminta lebih dulu jika dia menginginkan Ray.
"Sayang,,, apa kamu sudah datang bulan?" celetuk Ray tiba tiba saat dirinya memikirkan sesuatu yang aneh dari diri istrinya.
"Belum,, memangnya kenapa sayang? " Chaira menjawab tanpa menyadari tujuan Ray bertanya.
Ray segera melepaskan dirinya dari Chaira yang masih menempel di dadanya. Dia langsung duduk dan menatap Chaira. Chaira yang tak mengerti hanya menatap Ray.
"Serius kamu belum datang bulan??" tanya Ray lagi.
"Belum Ray,,, memangnyaaaaa,,,," Chaira menghentikan ucapannya.
Matanya saling berpandangan dengan mata Ray. Mereka memikirkan hal yang sama. Keanehan sikap Chaira dan jadwal datang bulan yang belum datang juga.
"Kita tes besok pagi yaaa,,, " lanjutnya.
Ray segera mengangguk dan memeluknya. Dirinya tak sabar menunggu pagi datang agar segera tau apakah Chaira memang tengah hamil atau tidak.
Chaira terbangun saat subuh tiba. Dia segera ke kamar mandi. Dia mengambil tes kehamilan yang memang sudah disiapkannya saat mereka baru menikah.
"Alhamdulillah" senyumnya mengembang.
Beberapa bulir airmata menetes saat melihat hasil tes kehamilan yang menunjukkan bahwa dirinya tengah hamil. Dia sangat bahagia akan anugerah Tuhan ini.
Pantas saja akhir akhir ini dirinya ingin selalu dekat dekat dengan Ray. Bahkan birahinya meningkat. Mungkin saja ini disebabkan oleh hormon kehamilan yang dia alami.
Dibawanya keluar hasil tes itu dan dibangunkannya Ray yang masih pulas.
"Sayang bangun,,,, " bisiknya di telinga Ray.
Ray yang masih sangat mengantuk hanya menggeliat saja. Chaira tersenyum melihat kelakuan Ray itu. Dia kembali membisikkan sesuatu di telinga Ray.
"Aku hamil"
Ray langsung membuka matanya dan menatap wajah Chaira yang tengah tersenyum itu.
"Kamu tidak bohong kan sayang?" tanya Ray yang langsung duduk.
__ADS_1
Chaira tak menjawab namun langsung menunjukkan hasil tes itu. Ray mengambilnya dan membaca hasilnya. Berkali kali dia terlihat mengucek matanya takut jika dirinya salah baca.
"Yeeeeeaaaaayyyyyy alhamdulillahhhhhh"
Ray langsung melompat bangun dan berjingkrak jingkrak seperti anak kecil yang baru mendapatkan barang yang sangat diinginkannya.
"Rayyyy,,, pakai celanamuuuuu" Chaira berteriak geli.
Ray yang baru menyadari bahwa dirinya sedang tak memakai apa pun malah membuat gerakan seperti seorang atlet bina raga yang sedang memamerkan bodinya.
Mereka tak pernah memakai apa pun saat tidur karena Ray yang memintanya. Agar setiap saat dia menginginkan Chaira dirinya bisa langsung saja memulai.
Chaira hanya menepuk jidatnya sendiri melihat tingkah lucu Ray. Dia segera menjerit saat Ray tiba tiba membopongnya.
"Ray lepaskan nanti aku jatuh" titahnya namun tak dihiraukan oleh Ray.
Dia masih saja membopong Chaira dan membawanya naik ke ranjang lagi. Ditindihnya tubuh Chaira.
"Terima kasih sayang" ucapnya menatap mata Chaira yang berada dibawahnya.
"Aku yang berterima kasih karena kau telah begitu membahagiakanku" jawab Chaira.
Ray mencium kening Chaira lembut.
"Kapan kamu akan turun dan membiarkan anakmu ini bernapas lega? kamu berat sekaliiiii" canda Chaira.
Ray yang menyadari dirinya terlalu lama menindih Chaira segera bangun dan tertawa.
"Kalau bunda gak mau ditindih abi ya gak jadi jadi nanti dedeknya" ucapnya sembari mencium perut Chaira.
Mereka segera mandi dan bersiap menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah. Mereka mengucap syukur pada tuhan yang telah mempercayakan mereka anugerah terindahNYA.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi ini aku menerima surat pengunduran diri dari Sinta. Dia memilih pergi dari kantorku. Dia menolak ku tempatkan di divisi lain.
Aku tak tau jika dia merasa malu karena aku memilih Hana yang menggantikan dirinya. Aku yang tak tau bahwa ada persaingan ketat memperebutkanku diantara mereka hanya membiarkan dan memberikan uang pesangon yang cukup untuk Sinta sebagai bukti terima kasih perusahaan atas dedikasinya selama ini.
"Semoga dia memaafkan jika ada perkataanku yang menyinggung hatinya" lirihku.
Aku sebenarnya lega karena dengan perginya Sinta berarti berkurang godaan setan untukku.
Hana,,,
walau aku sudah tau isi hatinya padaku setelah dia sendiri yang mengungkapkannya namun aku percaya dia tidak akan senekad Sinta.
Hana juga putri seorang kyai yang pasti mendapat didikan cukup dari orang tuanya. Ditambah lagi dirinya yang kini sudah semakin istiqomah berhijab membuatku merasa aman di dekatnya.
Tunggu,,,
Aman???
Aku tidak tau perasaan apa sebenarnya yang ku rasakan tiap aku bersama Hana. Yang jelas dia berhasil membuatku tertawa dengan segala keacuhannya dan keceriaannya.
Terima kasih Hana,,,
__ADS_1
Jangan lupa vote,, like dan komen yaaaa
Terima kasih 😍