
Selamat membaca πΈ
Maaf banyak typo π
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
πΈπΈ
Hari menjelang sore,,,
Rumah baru nan mungil itu lengkap dengan segala perabotan mewah. Segala peralatan elektronik merk mahal pun turut melengkapi. Mulai dari yang kecil sampai yang besar semua tersedia.
Taman kecil di sudut halaman yang lebih didominasi tumbuhan tak berbunga membuat mata terasa teduh dengan rerimbunan dedaunan hijau.
Suara gemericik air mancur di kolam ikan yang juga mungil membuat telinga juga berasa dimanjakan. Ikan warna warni sibuk berkejaran satu sama lain namun langsung menyelam lebih dalam begitu didekati.
Tirai kamar yang masih baru masih terasa sangat lembut saat disentuh. Dua kamar berbeda ukuran tersedia di rumah itu. Yang satu lebih kecil dan satunya lebih besar. Keduanya sama sama dilengkapi dengan kamar mandi di dalam kamar yang memudahkan siapa pun yang menempati kamar itu.
Dan di kamar yang besar nan luas ini,,, Tiara duduk di tepi ranjang berseprai putih polos dihiasi taburan bunga mawar merah. Wangi bunga khas mawar merah merangsang indera penciumannya.
Tiara menghirupnya dalam dalam.
Seprai yang masih baru itu juga terasa sangat lembut meski kalau diteliti lagi ternyata terdapat jahitan jahitan embossnya. Namun karena terbuat dari bahan premium tentunya tetap terasa lembut. Seprai yang tak mungkin bisa dibeli Tiara untuk kamarnya di rumah ibunya.
Tiara bangkit menuju ke jendela yang juga dihiasi tirai lembut. Tirai itu membelai wajah Tiara ketika angin lembut meniupnya. Tiara merasa angin sore itu menusuk kulitnya karena kebaya brokat kombinasi tile yang dipakainya itu lumayan tipis.
Tiara pun menutup jendela itu. Bertepatan dengan itu,,masuklah Levi. Dia tersenyum memandang Tiara yang kini resmi menjadi istrinya. Dihampirinya Tiara yang masih berdiri canggung di dekat jendela.
"Kamu suka rumahnya sayang??" tanya Levi lembut setelah mencium kening Tiara.
"Suka sayang,,," Jawab Tiara dengan seulas senyum.
__ADS_1
"Ayah itu penuh kejutan sekali. Padahal aku tidak minta. Hanya sempat cerita cerita kapan hari. Cuma bilang bahwa aku ingin tinggal berdua dengan istriku di rumah mungil yang berisi dua kamar saja lengkap dengan taman bunga kecil. Itu pun karena ayah yang bertanya apa impianku dan sambil bergurau." kata Levi.
"Tidak ku sangka ayah diam diam sudah menyiapkannya untuk kita. Mana lengkap dengan isinya lagi,,," Levi berkaca kaca mengatakannya.
"Ayah sayang sama kita sayang. Kamu tau itu kan??" Tiara mengatakannya dengan sangat lembut.
Levi tersenyum dan menangkupkan kedua tangannya di wajah Tiara.
"Apa semua ini cukup membuatmu bahagia sayang??" tanya Levi.
"Bersamamu saja aku sudah bahagia,,,Ditambah dengan semua hadiah dari ayah,,, Mana mungkin aku bisa bilamg aku tidak bahagia. Tapi kita akan lebih bahagia lagi jika kita suatu hari bisa membelinya sendiri untuk kita wariskan pada anak anak kita nantinya,,," ucap Tiara.
"Anak??" mata Levi berbinar.
Wajah Tiara bersemu merah melihat mata Levi. Dia segera menundukkan kepalanya namun dengan segera juga Levi mencegahnya dengan tangannya yang masih berada di pipi Tiara.
"Assalamualaikum istriku,,, Kamu cantik sayang. Terima kasih sudah mau menjadi istriku,,," ucapnya lembut lalu memindahkan satu tangannya ke atas kepala istrinya dan mengusapnya lembut.
Matanya hanya terpejam ketika wajah Levi semakin mendekati wajahnya. Bibirnya yang semula terkatup rapat lambat laun terbuka pelan pelan dan membiarkan suaminya mengecap manisnya.
Tiara yang tingginya tidak terlalu beda jauh dari Levi memudahkan Levi untuk menciumnya. Ciuman yang awalnya malu malu karena keduanya baru pertama kalinya berciuman,,, Lama lama terasa makin dalam dan memanas ketika tangan Levi menarik pinggang Tiara dan merapatkannya ke tubuhnya.
Tiara tersentak namun dengan cepat menyadari dan membiarkan Levi menariknya. Malah detik berikutnya tangannya makin erat memeluk Levi.
Seperti tak puas dengan sensasi rasanya,,, Levi tetap tak mau melepaskan bibir Tiara meski Tiara mulai sesak napas. Levi bagai orang yang kehausan bertahun tahun dan baru kali ini menemukan sumber air.
Dan akhirnya Tiara bisa bebas bernapas saat Levi melepaskan bibirnya. Tapi baru bernapas sebentar,,, Tiara kembali berdebar debar. Tangan Levi mulai tergerak untuk melepas kancing kebaya Tiara satu persatu,,, Dibantu oleh Tiara yang tak ingin kebaya mahalnya itu robek karena Levi terlihat begitu tidak sabar.
Tiara makin merasa pipinya memerah begitu semua pakaiannya lolos dari tubuhnya. Levi yang baru kali ini bisa memandangi tubuh polos,,, memandanginya dengan teliti seakan tak ingin melewatkan apa pun yang dilihatnya.
Hal itu tentu saja membuat Tiara makin malu lalu dengan langkah kecilnya dia berlari menuju ke ranjang besar itu. Tiara masuk ke selimut tebalnya menutupi diri dan wajahnya. Dia sangat malu.
__ADS_1
Melihat itu Levi makin merasa tertantang. Segera dilepaskannya semua pakaiannya sendiri lalu menyusul istrinya naik ke ranjang. Dibukanya selimut itu dan Tiara kini bisa dengan bebas melihat tubuh polos Levi. Kembali dirasakannya pipinya memanas saking malunya.
Baru kali ini juga dia melihat tubuh polos laki laki secara utuh tanpa ada batasan apa apa. Bahkan ini semua sudah halal bagi mereka.
Kamar yang sudah tertutup dan didinginkan oleh AC ini terasa panas dan membuat tubuh Tiara gerah saking gugupnya. Tiara heran kenapa dirinya yang merasa sudah tak suci lagi ini masih merasa begitu canggung ketika dihadapkan dalam situasi seperti ini.
"Apa mungkin karena kali ini aku benar benar sadar dan siap akan apa yang akan terjadi selanjutnya?? Kalau kemarin aku bahkan tak sadar apa yang terjadi,,,"pikirnya.
Namun memikirkan itu membuat tubuh Tiara yang tadinya menurut dengan semua perlakuan dan belaian Levi kali ini menolak. Tiara mendorong tubuh Levi yang sudah berada di atasnya. Tiara tersadar dan langsung duduk menyelimuti dirinya.
"Kenapa sayang??" Tanya Levi tak mengerti dengan perubahan sikap Tiara.
"Aku tidak pantas,,,Tidak pantas,,," airmata Tiara mulai berjatuhan.
Levi tersenyum lalu dengan lembut menggapai kepala Tiara dan menciumnya setelah Tiara sempat berusahan menolak namun tak dilepaskannya.
"Kita sudah pernah membahas ini kan sayang??"tanya Levi mendongakkan wajah Tiara yang tertunduk.
Mata Tiara masih digenangi airmata.
"Jauhkan pikiran seperti itu. Jangan pernah mengungkitnya lagi. Bagiku kamu tetaplah gadis suci yang tengah bersiap mempersembahkan miliknya yang berharga untukku,,,Aku yang sudah sah menjadi suamimu dan berhak untuk itu." kata Levi lembut sambil menyeka airmata Tiara.
"Levi,,,Sayang,,," Bibir Tiara bergerak gerak membuat hasrat Levi kembali bangkit.
"Bolehkah aku menunaikan apa yang jadi tugasku pada istriku hari ini sayang??" Levi meminta ijin karena tak mau memaksa Tiara.
Dipandangnya kedua bola mata basah Tiara dengan penuh harap.
\=\=\=\=\=\=
Terima kasih atas vote, like dan komennya πΈ
__ADS_1