
Selamat membaca ❤️
Maaf banyak typo 😀🙏
❤️❤️
Karin tersentak bangun saat alarmnya berbunyi. Mimpinya pun buyar seketika.
"Astaghfirullah,,, kok bisa sih aku mimpiin om Dion??" lirihnya sambil mengusap wajahnya.
Karin merasa aneh saja kenapa bisa dia sampai mimpi om om yang kemarin secara terang terangan meski hanya lewat telpon mengungkapkan perasaannya.
"Pasti saking kesalnya aku sama dia sampai sampai aku memimpikannya. Dasar tidak tau malu. Masak dia nembak aku yang lebih pantas jadi anaknya?" sungut Karin.
Karin bergegas turun dari ranjangnya dan mencuci muka. Matahari sudah lumayan tinggi saat dia bangun. Hari ini dia sedang mengalami haid jadi tidak perlu untuk menunaikan ibadah sholatnya dan bisa bangun siangan.
"Hari ini aku mau besuk papa. Semoga hati papa sudah melunak dan tidak marah lagi padaku." batinnya.
Karin pun lantas pergi ke dapur dan bersemangat memasak makanan kesukaan papanya dengan harapan makanan ini bisa menyampaikan permohonan maafnya pada papanya. Berharap cinta kasih yang dituangkannya ke dalam makanan itu bisa menghangatkan hubungan mereka kembali.
Tangan Karin yang sudah ahli memotong motong sayuran itu pun mulai menunjukkan keahliannya.
"Aww,,," Karin meringis saat ujung jarinya terkena pisau.
"Tumben sih kena pisau segala. Mikirin apaan sih aku ini kok gak fokus gini." Karin membersihkan lukanya sebelum diobati.
"Ingatlah,,, Ada hati lain yang selalu siap menyambutmu."
Ucapan Dion itu kembali terngiang di telinganya. Ah rupanya sedari tadi dia sibuk memikirkan Dion.
"Om Dion." lirihnya.
__ADS_1
Diliriknya jam dinding di tengah ruangan itu. Sudah siang dan dia yakin Dion pasti sudah terbang jauh meninggalkannya. Ada perih dan rasa kehilangan di sudut hatinya. Seperti kehilangan seseorang yang awalnya begitu memberi warna.
"Astaga,,, Kenapa aku jadi mellow begini sih?? Cuma om om Rin. Ya udah sih kalau emang dia pergi. Lantas kenapa?? Dia juga bukan siapa siapamu kan?? Kamu juga cintanya bukan sama dia tapi sama Bimo. Kamu ditolak Bimo aja gak segini mellownya kan??" Karin mengomeli dirinya sendiri.
"Teruslah hidup dalam bayangan kebahagiaan. Bukan kesedihan,,,kadang merelakan sesuatu untuk lepas dari kita menjadi hal lebih mudah daripada mati matian menahannya."
Lagi lagi ucapan Dion itu kembali terngiang.
"Om Dion udah ya!!!! Berhenti mengganggu Karin!!!" Karin menggeleng gelengkan kepalanya sambil menutup telinganya sendiri seolah tak mau dengar apa pun. Matanya pun tertutup rapat seolah ingin mengusir semua bayang bayang Dion yang sedari tadi memenuhi benaknya.
"Gak ada om Dion di sini Rin,,, Kamu kenapa??"
Karin tersentak mendengar suara Rayya yang tiba tiba sudah ada di rumahnya. Karin tentu terkejut tapi juga malu karena benar kata Rayya,,, Dion tidak ada di sini.
"Rayya?? Kok kamu bisa masuk??" tanyanya heran.
"Loh pintu depan gak ketutup tuh. Aku juga sudah ucapin salam tapi kamu gak jawab jawab malah kamu teriak teriak. Jadi aku langsung masuk saja karena aku cemas kamu kenapa kenapa." jelas Rayya.
Karin mengangguk meski masih bingung kenapa bisa dia tidak ingat dia sudah buka pintu sebelum masak tadi. Kenapa juga dia bisa tidak dengar ucapan salam Rayya. Kenapa dia hanya memikirkan Dion,,,Dion dan Dion saja.
"Eh tidak,,,tidak,,,tidak usah. Om Dion gak begitu kok." Karin menjawab dengan cepat takut Dion kena tegur dari Darren.
"Lalu kenapa kamu sebut nama om Dion sampai kayak orang histeris gitu tadi??" Rayya penasaran.
"Masak sih??"
"Iya Rin,,, Jujur saja sama aku ada apa. Aku ini saudara kamu kan?? Aku akan sangat senang kalau kamu mau membagi keluh kesahmu denganku."
"Gak ada apa apa kok Rayya,,, Beneran."
"Yakin??" mata Rayya menuntut kejujuran dari Karin.
__ADS_1
Yang ditanya hanya menghela napas berat. Tampak ada beban berat di dadanya.
"Cerita aja Rin. Aku gak ember kok orangnya." Rayya meyakinkan.
Karin memandang mata Rayya yang menyiratkan ketulusan itu. Dalam hati Karin merasa sangat bersyukur bisa bertemu saudara sebaik Rayya ini tapi sudut hati satunya juga merasa bersalah karena tetap menyimpan cinta untuk calon suami saudaranya ini.
Bahkan cintanya itu membuat papanya seolah mendapat alasan baru dan gelap mata ingin kembali merusak kebahagiaan anak Ray demi melampiaskan dendamnya dulu.
"Mungkin apa yang dibilang om Dion itu benar. Cintaku sebaiknya dilepaskan karena cintaku ini membuat orang lain menderita. Aku juga akan sangat egois kalau memaksakan cintaku pada Bimo. Bukankah sama saja?? Aku juga tetap tak akan pernah mendapatkan Bimo meski aku bisa menyingkirkan Rayya. Bimo akan sangat membenciku dan lagi lagi aku harus tenggelam dalam rasa sakit yang ku tanggung sendiri."
"Rin,,, kok malah ngelamun sih??" teguran dari Rayya itu membuat Karin tersentak dari lamunannya.
"Masih gak mau cerita sama aku??" tanya Rayya lagi.
Karin bimbang.
"Ya sudah kalau gak mau gak apa apa. Kita jadi besuk om Adi kan hari ini?? Jadi masak kesukaan om Adi juga seperti katamu??" Rayya bersemangat.
Karin tersenyum dan mengangguk.
"Yeaayy ayo kalau gitu kita mulai. Tapi tangan kamu terluka Rin. Biar aku saja yang potong memotong ya..Kamu ambil bagian lain saja." ucap Rayya.
"Terima kasih ya. Meski papa begitu buruk memperlakukanmu tapi kamu masih begitu baik pada papa. Kamu masih mau ikut menyiapkan makanan kesukaan papa. Semoga papa bisa merasakan ketulusan kamu juga lewat makanan ini nantinya ya Rayya." Karin terharu.
"Aamiin,,, semoga cinta kita berdua mampu meluluhkan hati om Adi ya." Keduanya berpelukan erat penuh kasih sayang.
Karin merasa sangat beruntung karena tuhan begitu baik menghadirkan Rayya dalam hidupnya saat dia butuh pelukan hangat begini. Kebaikan Rayya menyentuh hatinya.
"Aku makin tak punya alasan untuk menyakitimu Rayya. Benar,,, aku memang harus merelakan Bimo bersamamu. Demi kebahagiaanmu dan Bimo,,,aku rela menyingkir. Lagipula ada hati yang selalu siap menyambutku,,,eh,,,kok aku jadi ngelantur begini sih???"
Karin menepuk nepuk jidatnya sendiri.
__ADS_1
❤️❤️❤️
Terima kasih atas vote, like dan komennya ya 🌹🙏