
"Tolong bu,,, katakan dimana Rosa" Toni memelas di depan bu Wati yang hari itu mengunjungi rumah abi.
"Aku sudah bilang jangan lagi mengusik Rosa. Dia sudah bahagia.!!!! " ketus bu Wati
"Tapi bu,,, saya berhak untuk tau. Bagaimana pun juga saya adalah,,,,,, " Tono tak melanjutkan perkataannya
"Stooppp,,, jangan pernah berani berani mengucapkannya. Dari awal aku sudah tak setuju Rosa dekat denganmu. Hanya saja kamu terus saja mempengaruhinya. Sekarang aku tak akan pernah membiarkan kamu mengganggunya lagi!!! " tukas bu Wati
"Sekarang kamu pergi!!!! dan jangan pernah berani menampakkan wajahmu lagi!!!! Rosa sudah bahagia bersama suaminya" lanjut bu Wati
"apa??? Rosa sudah menikah?? Tapi bu,,, mana mungkin bisa. Rosa sedang hamil anak kami bu,,, buah cinta kami" Toni memperjelas ucapannya
"huusssstttt diam kamu!!! Rosa sudah ku nikahkan dengan pria kaya bernama Darren. Dan Darren tidak mempermasalahkan siapa ayah bayi itu jadi kamu tidak perlu lagi mengkhawatirkannya. Pulang!!!!"
Brruuaakkkk,,,,
Bu Wati menghentikan bicaranya dan menoleh kedalam rumahnya. Tampak abi sudah terjatuh dan memegang dada kirinya. Bu Wati segera menghampirinya. Toni yang ingin membantu dihardiknya agar segera pulang. Dengan terpaksa Toni pergi meninggalkan rumah itu dengan hati kecewa dan luka mendengar Rosa kekasih hatinya yang tengah mengandung buah cintanya telah dinikahkan dengan pria lain.
Toni dan Rosa telah lama menjalin kasih hingga saat mereka terlalu larut dalam buaian nafsu hingga mereka lupa diri. Rosa baru menyadari kehamilannya saat dirinya sudah tinggal dirumah Darren. Hanya beberapa hari sebelum kecelakaan yang menimpa Darren. Bu Wati yang mengetahui kehamilan Rosa itu sempat marah besar pada putrinya itu saat Rosa menceritakan hal kehamilannya. Dan saat mengetahui bahwa Darren menderita amnesia bu Wati memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari ayah yang tepat bagi calon cucunya. Apalagi Darren juga menganggap bahwa Rosa adalah istrinya bahkan hingga detik ini juga masih mengganggap bahwa anak yang dikandung Rosa adalah darah dagingnya. Rosa yang memang sudah tidak gadis lagi juga bisa dengan leluasa mengajak Darren berhubungan intim tanpa harus membuat Darren curiga jika melihat darah keperawanannya. Jika pun suatu hari ingatan Darren kembali dia akan percaya saja bahwa itu memang bayinya karena selama ini memang dirinya sering menyetubuhi Rosa. Hal ini semakin memperlancar akal licik bu Wati.
Bu Wati membantu abi bangun dan duduk bersandar di dinding.
"apa benar Rosa hamil bu,,, dan,, dan kamu menikahkannya dengan Darren yang amnesia itu,,, ba,, ba,, bagai,, bagaimana dengan Chaira" abi terbata bata sambil menekan dadanya yang masih sakit
"putri kesayanganmu itu sudah pergi dari rumah itu. Dia tidak kuat melihat Darren yang sangat mencintai Rosa yang mengandung anak si Toni sialan itu!!!" sungut bu Wati
"ka,, ka,, kau keterlaluan bu,,," abi langsung tak bergerak lagi
"bi,,, bi,,, bangun,, kenapa kamu ini!!!! " bu Wati mengguncang guncang tubuh abi
\=\=\=\=\=\=\=\=
"Maafkan Chai bi,, Chai tidak ada di sisi abi di saat terakhir abi" Chaira mengusap pusara abi
__ADS_1
Tampak hadir disana umi, bu Wati, mama, papa, Rosa dan aku yang tak terlalu memperhatikan keadaan sekitar. Kami semua menghadiri pemakaman abi setelah mendengar kabar dari bu Wati. Ya abi meninggal karena serangan jantung. Setidaknya begitu kata dokter yang datang beberapa saat setelah abi pingsan. Hanya bu Wati yang tau apa yang sebenarnya terjadi.
Selesai pemakaman satu persatu kami meninggalkan makam abi.
"Ayo mas kita pulang" ajak Rosa
"Pulanglah duluan,,, aku masih ingin disini" kataku
Rosa hanya menaikkan bahunya tak mengerti kenapa aku masih ingin disana dan segera meninggalkanku. Dia tak lagi peduli tentang itu dan segera pulang apalagi hujan sudah mulai turun dengan derasnya. Entah kenapa aku merasa sangat bersedih dengan kepergian abi. Aku merasa abi sangat dekat denganku. Sebenarnya tidak aneh juga karena abi adalah ayah Rosa. Tapi sepertinya ada kekuatan lain yang memintaku untuk tetap tinggal disana. Ketika semua sudah pergi,,, aku baru menyadari seseorang masih duduk bersimpuh memegang pusara. wanita itu bahkan tak menghiraukan hujan yang semakin deras. Aku memberanikan diri mendekatinya dan memayunginya.
Wanita itu menoleh kearahku yang berdiri memayunginya.
"Dare,,, ka,, ka,, kamu masih disini??"
Aku yang tak memperhatikan hanya terkejut menyadari bahwa wanita itu adalah Chaira. Dari tadi aku hanya melihat wanita duduk bersimpuh menghadap pusara tanpa ku lihat wajahnya.
"Chaira,,,, " aku terdiam sesaat. Aku tak lagi memanggilnya dengan sebutan kak.
Kami larut dalam kebisuan kami. Dalam hati kami saling mendoakan abi.
Chaira mengangguk dan menyambut tanganku dengan tangan kanannya.
Deggg,,,
Kulihat cincin kami yang berdekatan itu.
"Chaira,,," aku langsung memeluknya erat. Aku tak peduli payung yang ku pegang terlepas dan membuat tubuh kami basah oleh air hujan.
Chaira yang terkejut dan bingung sesaat hanya diam. Dia terlalu terkejut mendapat perlakuan semacam ini dariku yang seperti diketahuinnya menderita amnesia. Puas memeluk tubuh kurus itu aku meraih kembali jemarinya yang dilingkari cincin pernikahan kami. Aku berusaha melepaskannya dan Chaira berusaha menolak. Dia tak mengerti kenapa aku melakukan hal itu.
"Please Chai,,, aku hanya butuh sedikit jawaban dari semua pertanyaanku" pintaku
Chaira diam dan tak paham tapi dia membiarkan aku melepas cincin itu. Dengan gemetar ku periksa bagian dalam cincin itu. Dengan tangan masih gemetar aku pun melepaskan cincinku. Ku sandingkan kedua cincin itu dan ku baca tiap ukiran huruf dan angka yang tertera disana.
__ADS_1
Mendadak semua bayangan samar selama ini bisa ku lihat dengan jelas. Wajah Chaira yang bahagia di hari pernikahan kami,,, Mata teduhnya yang selama ini sangat mempesonaku,, Pesona dirinya saat malu malu menghadapi malam pertama kami dan setiap malam yang kami lalui,,, lalu wajah sedihnya saat meminta maaf padaku karena kehamilannya yang beresiko.
Terlintas wajah Febby saat terakhir kamj bersama di suatu kamar dan dia mengatakan bahwa kami telah melakukannya. Lalu kecelakaan itu,,,,
Dan sesaat kemudian bayangan wajah Rosa muncul,,, wanita yang selama ini menemaniku dan saat ini mengandung anakku,,, dia hamil akibat ulahku,,, dan aku ingat siapa dirinya sebenarnya,,, Rosa adik tiri Chaira istriku,,,
Lututku lemas tak mampu lagi menopang berat tubuhku. Aku bersujud di kaki Chaira.
"Maafkan aku bidadariku,,, maafkan semua yang telah ku lakukan padamu. Aku sungguh berdosa padamu. Ampuni aku istriku,,, " aku berulang kali mencium kakinya
Chaira yang berdiri mematung setelah sekian lama akhirnya baru memahami apa yang terjadi.
"Tidak sayang,,, bangunlah,, tidak seharusnya kamu seperti ini. ayo bangun sayang,,, jangan membuatku menjadi istri durhaka karena membiarkanmu bersujud dikakiku,,, " Chaira berusaha membuatku berdiri.
Saat aku sudah berdiri dia memandangku. Wajah kami berdua basah kuyup hingga tak bisa kami bedakan yang mana airmata dan mana air hujan.
"jadi kamu sudah ingat semuanya sayang??" tanya Chaira memastikan
Aku mengangguk mengiyakan.
"Aku ingat semuanya sayang,,, "
Chaira meraih tanganku kemudian mencium punggung dan telapaknya.
"Assalamualaikum suamiku" ucapnya sembari menangis bahagia
"waalaikumsalam bidadariku" aku segera memeluknya erat
Tak akan pernah ku lepas lagi
Maafkan aku bidadariku,,, aku telah begitu menyakitimu,,,
Jangan lupa vote, like dan komen yaaa
__ADS_1
Terima kasih 😍