BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
Berbahagialah


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Chaira Fajira binti almarhum Dahlan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!!!!" Ray mengucapkan kalimat itu dengan lantang dan tegas.


" Saaahhhhh" para saksi menjawab serempak saat penghulu menanyakan.


"Alhamdulillah" seru semuanya.


Kecuali aku,,,


Aku mulai menangis dalam keterpurukanku sendiri. Aku memutuskan hadir di pernikahan mereka walau hatiku menolaknya.


Bagaimana pun juga aku tak ingin mengecewakan Chaira lagi dengan tidak menghadiri pernikahannya.


Ku lihat Chaira mulai mencium tangan Ray,,, suaminya,,,


Hatiku kembali perih melihat wanitaku yang selama ini menjaga kesuciannya akhirnya tersentuh pria lain. Aku merasa cemburu membayangkan Ray yang akan mendapatkan ijinnya memiliki dirinya seutuhnya sepertiku dulu.


Aku cemburu membayangkan saat Ray membuka cadar Chaira,,,


Aku bahkan tak rela membayangkan saat mata nakal Ray memandangi tubuh wanitaku,,


Tuhan,,,


Aku sungguh tak rela.


Ingin rasanya kubawa lari Chaira saat ini,, Ku sembunyikan rapat rapat agar tak ada siapa pun bisa menemukannya kecuali aku sendiri.


Keegoisanku mulai menggerogoti jiwaku. Aku berada di puncak kecemburuanku saat aku melihat Chaira pasrah ketika Ray mengecup lembut keningnya.


"Tuhan,,, jauhkanlah aku dari segala perasaan ini. Lindungi aku agar aku terhindar dari perbuatan perbuatan yang melukainya kembali" aku terus berdoa agar tuhan membantuku menenangkan jiwaku yang terus berontak.


Para tamu undangan bergantian mengucapkan selamat pada mereka.


Aku hapus airmataku. Aku melangkah maju. Ku tegarkan diriku sendiri melangkah mendekati mereka berdua. Aku pun ingin mengucapkan selamat pada keduanya.


Entah apa aku tulus atau tidak mengucapkannya,, yang jelas aku melakukannya karena aku hanya ingin Chaira tak terbebani langkahnya.


Jika aku berbuat hal aneh seperti mengganggu jalannya pernikahan mereka itu sama saja dengan menyakitinya lagi. Namun jika aku tegar mengucapkan selamat pada mereka,,, Chaira akan bahagia.


Setidaknya untuk saat ini kebahagiaannya adalah tujuan utamaku. Aku rela mengesampingkan perasaanku sendiri.


"Dare,,,"


Aku tersentak saat menyadari giliranku mengucapkan salam telah tiba. Aku sudah berdiri di depan Ray. Ku lihat wanitaku berdiri disampingnya menatapku.


Mata itu,,,


Ahhh,,,


Aku sungguh terpesona dengan mata itu,,, Aku sungguh sangat dan masih mencintai pemilik mata itu.


"Ya tuhan,,,


Tolong usir sejenak rasa ini,, Berikan aku kekuatan untuk mengucapkan sepatah dua patah kata pada mereka." batinku.


"Selamat,,, Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah." ucapku dengan suara berat tertahan.


"Terima kasih Dare" ucap Ray.


Aku memeluk Ray. Ray dengan tenang memelukku balik dan menepuk nepuk punggungku. Sebagai pria sejati dia pasti tau apa yang ku rasakan.

__ADS_1


Dia juga pernah merasakannya saat mengucapkan selamat padaku saat pernikahanku dulu. Namun dulu aku sama sekali tak memahami apa yang dirasakannya.


"Aku titipkan dia padamu,, Jaga dia,," pesanku pada Ray setengah berbisik.


Ray melepaskan pelukannya dan menatap mataku.


"Pasti" jawabnya


Aku beralih ke hadapan Chaira. Betapa besar pun keinginanku untuk memeluknya aku tau dia tak akan bersedia. Jadi aku berusaha sangat menahan diri.


"Selamat Chai,,," hanya kalimat singkat itu yang mampu ku ucapkan.


"Terima kasih Dare kamu sudah hadir. Kehadiranmu sungguh sangat ku harapkan." ucapnya.


Aku tersenyum kecut mendengarnya.


"Berbahagialah" pesanku.


"Terima kasih Dare,,, " suaranya terdengar lirih.


Aku segera bergeser dan langsung keluar meninggalkan tempat itu. Aku keluar membawa semua lara di hatiku. Ku pacu mobilku dengan cepat.


Aku berbelok di halaman sebuah masjid setelah beberapa saat lalu mendengar lantunan suara adzan dari mini radio di mobilku. Aku segera mengambil air wudhu dan mulai mendirikan sholat. Kebetulan waktu sudah memasuki saat dhuhur.


Aku yang datang terlambat terpaksa sholat sendirian karena para jamaah telah selesai. Bahkan disana hanya tinggal beberapa orang saja termasuk aku.


"Ya tuhan,, ampuni segala dosaku. Aku ingin bertobat. Aku pernah menyakiti dan mengecewakan bidadariMU. Aku sungguh telah bersalah padaMU karena telah lalai.


Aku tau kini penyesalanku pun tak akan membawanya kembali padaku namun aku memohon kepadaMU agar Engkau memberiku kekuatan dan kesabaran menerima kenyataan ini.


Aku yang hina ini ingin senantiasa berjalan di jalanMU. Belajar menjadi insan yang baik. Bimbinglah aku,,,,, "


Sederet doa panjang ku ucapkan diiringi dengan lelehan airmataku yang tidak ada hentinya. Aku tak peduli walau mungkin ada beberapa orang yang mendengarku atau bahkan mengejekku yang terus menangis.


"Tuhan hanya sedang rindu padamu nak,, makanya Dia memberimu cobaan dan teguran seperti ini. Agar kamu ingat kepadaNYA." ucap pria bersorban itu.


"Apa seorang pendosa sepertiku masih bisa diberi ampunan pak kyai?" Tanyaku padanya.


Pak kyai duduk di sebelahku. Dia tersenyum.


"Apa yang telah kamu lakukan nak?" tanyanya


Aku tertunduk. Sungguh aku malu menjawab pertanyaannya itu. Airmataku kembali berderai.


"Aku telah menuduh istriku yang sholehah berselingkuh,, aku bahkan menuduhnya membunuh mama,,, " aku dengan gamblang mengakui deretan perbuatanku


"Astaghfirullah,,, menuduh wanita sholehah berzina atau berselingkuh adalah salah satu perbuatan yang dilaknat olehNYA nak,, sudahkah kamu memohon maaf padanya? " tanya Kyai


"Sudah pak,, " lirihku.


Aku semakin kecut mendengar kata laknat itu,,,


"Maka bertobatlah,,, kamu beruntung telah mendapatkan maaf darinya maka dari itu bertobatlah,, jangan sia siakan sisa hidupmu untuk berbuat hal yang tak disukai olehNYA lagi" pesannya.


Kami terlibat pembicaraan serius. Aku belajar banyak tentang agama darinya. Aku bahkan berkata padanya bahwa aku ingin sering sering datang kerumahnya untuk belajar agama.


"Tentu nak,, datanglah. Pintu rumahku terbuka lebar bagi orang yang ingin belajar agama. Aku senang bisa menjadi pembimbingmu" ujarnya.


Setelah itu aku mengantarnya pulang. Seorang wanita paruh baya menyambutnya. Pak kyai mempersilahkanku masuk dan memperkenalkannya kepada istrinya.

__ADS_1


Istrinya menyediakan minuman hangat dan beberapa jajanan hangat untukku.


"Assalamualaikum" suara riang terdengar.


"Waalaikumsalam" kami menjawab serempak.


"Nah kenalkan ini Hana,,, putri bapak. Hana kenalkan ini nak Darren. Dia ingin belajar lebih banyak agama. Mungkin kamu juga bisa membantunya dan belajar bersama" kata Pak kyai.


"Hana tau pak,,, Hana kenal kok. Tapi mungkin dia lupa sama Hana" katanya.


Aku mengerutkan keningku mendengar dia berkata demikian.


"Maaf,, memangnya dimana kita pernah bertemu sebelumnya?"tanyaku karena aku benar benar tak mengingatnya.


Hana tersenyum.


" Saya pernah magang di perusahaan bapak. Waktu itu saya pingsan dan bapak membantu membawa saya ke rumah sakit"ucapnya.


Aku kembali berusaha mengingat.


Ingatanku langsung berpindah ke beberapa tahun silam saat aku baru menikah dengan Chaira. Hana adalah salah satu karyawan magang yang pandai.


Tidak ada yang spesial dari kenangan masa itu karena aku memang hanya kebetulan membantunya saat dia tiba tiba pingsan di lift saat hanya berdua denganku.


Aku tak pernah menaruh hati padanya. Aku yang kala itu hanya mencintai Chaira,, bahkan sebenarnya hingga kini pun hanya dia yang ku cintai.


"Oh ya,, aku ingat. kamu karyawan yang pingsan dalam lift" jawabku setelah yakin benar dengan ingatanku.


"Hahahah iya pak,, saya minta maaf sangat merepotkan bapak waktu itu. Saya bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih pada bapak karena kebetulan itu hari terakhir saya magang. Terima kasih ya pak telah menolong saya" ucapnya dengan suara riangnya.


"Panggil Darren saja" ucapku


Kami duduk di halaman rumah yang menyediakan kursi taman di bagian tengahnya. Kami terlibat obrolan ringan setelahnya. kami membicarakan pekerjaan dan hal hal ringan lainnya.


Hana,,,


Dia tak secantik bidadariku,,, Rambut lurusnya pendek sebahu tak tertutup hijab. Aku tak ingin menilainya tak pantas berpenampilan begitu karena dia putri seorang kyai.


Aku bahkan masih hina. Pantas saja pak kyai meminta kami agar belajar agama bersama.


Ku lirik Hana yang tertawa saat menceritakan dirinya yang waktu itu pingsan karena dia tak sempat makan dari pagi saking banyaknya tugas yang ku berikan.


Hampir tak ada yang spesial darinya.namun suaranya mampu membantuku melupakan sejenak apa yang terjadi di kamar pengantin malam itu.


Aku tak berani membayangkannya.


Aku takut hatiku kembali terbakar api cemburu dan aku takut aku yang cemburu melakukan hal hal buruk yang akan menyakitinya lagi.


Disela tawa renyah Hana yang duduk disampingku malam ini aku hanya bertanya dalam hati,,,


"Apa Ray sudah kau ijinkan membuka cadarmu seperti kau mengijinkanku dulu sayang?"


Aku tak rela kecantikanmu yang tersembunyi dibalik hijabmu dinikmati pria lain,,,


"Hey,,, jangan bersedih,,, aku tak tau apa yang kau pikirkan Dare,,, tapi aku yakin malam ini kita ditakdirkan bertemu kembali untuk saling berbagi rasa,,, jadi pertemuan kita malam ini mari kita mulai dengan rasa bahagia,,,, Ayo Dare,,, Berbahagialah,,, Baik itu untuk dirimu atau pun untuk orang lain" Kata Hana


"Kau benar,,,Berbahagialah Dare,,,, Berbahagialah Hana,,," aku mengikuti nada suaranya yang riang.


"Berbahagialah Chaira,,, " bisik hatiku

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan komen yaaaa


Terima kasih 😍


__ADS_2