BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S Part 41


__ADS_3

Selamat membaca ❤️


Maaf banyak typo 🙏


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻


"Biar aku saja yang bukain pintunya. Aku bisa kok,,," teriak Hana.


"Okeee,,, Hati hati jalannya,,,"teriak Darren dari dalam kamar mandi di lantai bawah yang sengaja dipilihnya agar dia mendengar jika sewaktu waktu Hana membutuhkan dirinya.


"Iya bawel,,," sahut Hana.


Hana pun bangkit dari duduknya pelan pelan sambil memegangi pinggangnya yang makin terasa pegal pegal akhir akhir ini. Minggu terakhir kehamilan ini memang lumayan mengganggu aktifitasnya namun Hana menikmatinya.


Ting tong,,, Ting tong,,,


"Mereka sedang apa sih!! Lama banget,,,!!!"Dion tidak sabar sekali dan terus memencet bel.


"Siapa ya??" suara Hana terdengar dan membuat Dion menghentikan aksinya menekan bel.


Hana penasaran siapa tamu di rumah Darren karena orang itu terhalangi dinding pembatas pagar. Perlahan Dion pun menggeser tubuhnya lalu menampakkan dirinya.


"Dion??" Setengah terkejut Hana melihat siapa yang ada di pagar.


"Buka pagarnya Han,,, Aku mau bicara dengan kalian. Ada banyak hal yang ingin ku tanyakan pada kalian." kata Dion.


Mendengar jawaban itu Hana menekan remote pagar agar terbuka. Dion pun melangkah masuk dengan pandangan tajam menusuk ke arah perut besar Hana.


"Aku tidak akan berbasa basi lagi Han." ucapnya melirik dengan pandangan tidak suka pada perut itu.


"Mau tanya apa?" tanya Hana berusaha bersikap wajar meski dia tau Dion pasti bertanya tanya melihat kehamilannya itu.


"Kenapa kamu tak pernah bicara padaku masalah hasil lab itu?? Kenapa kamu diam saja bahkan sampai kamu pergi pun kamu tetap diam." tanya Dion.

__ADS_1


Belum sempat Hana menjawab pertanyaan itu, Dion sudah bicara lagi.


"Jadi ini jawaban di balik kepergianmu dulu? Kamu pergi karena tau selamanya aku tak akan pernah bisa memberimu anak?? Karenanya kamu memilih pria lain yang lebih bisa dipastikan bisa memberimu anak?? Kamu sengaja dan pura pura merelakan aku bersama Ratna karena kamu tau aku tetap tak akan bisa memberinya anak,,, Lalu kamu datang ke pesta pernikahan kami dulu sebenarnya untuk menertawakan aku karena aku telah dibodohi Ratna. Begitu kan??" cerca Dion.


"Dion cukup,,,!!! Jaga bicaramu!!! Kamu datang kesini ingin bertanya atau hanya ingin kembali menuduh??" tanya Hana balik.


Dion terdiam namun mata tajamnya masih menghujam.


"Sebagai seorang yang berpendidikan semestinya Kamu bisa kan bedakan yang mana sikap bertanya dan mana yang menuduh?? Kamu bisa kan baik baik bicara?? Kamu bisa kan menjernihkan pikiranmu dulu sebelum bicara terlalu banyak begini?? Bisa kan??" tanya Hana.


Dion tak menjawab namun pandangannya sudah mulai menurun. Tampak dirinya merasa ucapannya tadi mungkin keterlaluan.


"Akhiri semua kebodohanmu. Apa masih belum cukup bagimu dibodohi oleh Ratna?? Apa masih belum cukup pelajaran yang bisa kamu petik dari sana??? Sampai akhirnya kamu mengorbankanku dan rumah tangga kita. Apa masih belum cukup membuatmu cerdas sih semua yang sudah terjadi itu??" cerca Hana.


Dion masih diam.


"Siapa yang datang Han??" Darren muncul dengan rambut basahnya yang menunjukkan dirinya baru selesai mandi.


Melihatnya membuat mata Dion kembali berkilat melihatnya dan otaknya dipenuhi tuduhan tuduhan kotor.


Plaaakkk,,,


Hana yang sudah bisa membaca jalan pikiran Dion itu langsung menampar pipi Dion. Baik Dion maupun Darren cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Hana baru saja.


Dion memegang pipinya yang terasa panas oleh tamparan Hana.


"Jangan pernah berani berpikir kotor lagi tentang aku dan Darren. Cukup Dion cukup!!! Sudah Cukup kamu memfitnahku dan membuatku terluka. Aku sudah tidak sanggup lagi jika harus kembali menghadapi sikapmu. Meski dulu aku memang pernah begitu menginginkan Darren,, tapi bagiku dia sekarang tak lebih sebagai orang tuaku." Hana bicara hingga terengah engah.


Hana mundur mundur dan hampir roboh karena tak bisa mengimbangi berat tubuhnya. Beruntung Darren cepat menyangga tubuhnya.


"Han,,, Hati hati. Ingat kandunganmu,,," ucap Darren mengingatkan.


Hana menangis sesengukan setelahnya. Dirinya yang selama ini tabah dan tegar melewati cobaan rumah tangganya dulu dengan Dion,,, Akhirnya meneteskan airmatanya juga. Cukup lama dia berusaha menahan perih dalam hatinya demi membuat ibunya tetap tersenyum dan tak menangis.


Tapi kali ini Hana tak bisa lagi menahan bendungan airmatanya.

__ADS_1


"Belum puas kamu menyakitiku Dion?? Belum puaskah???" Ibu hamil yang cenderung labil emosinya semenjak kehamilannya itu makin terlihat meledak ledak.


"Kamu biarkan aku dihina oleh Ratna,,, Kamu lebih percaya dia daripada aku,,, Kamu menceraikanku sepihak tanpa memberikan apa yang jadi hak ku. Kamu juga mengambil alih rumah yang dulunya kamu berikan padaku." Hana makin emosi mengingat semuanya.


"Bahkan ketika Ratna memfitnahku mandul,,,Aku diam karena aku berharap kamu bisa bersikap bijak dan ingat bahwa kita sudah pernah melakukan tes lab bersama. Setidaknya kamu tunggu dan cari tau dulu apa hasil labnya. Tapi kamu,,, Apa yang kamu lakukan??? Kamu malah makin merasa dirimulah yang paling sempurna dan akulah yang mandul. Kamu makin terperosok dalam kubangan dosa buatan Ratna. Katakan padaku sekarang,,, Suami macam apa kamu Dion????" teriak Hana.


Emosi itu membuat perut Hana sakit karena kontraksinya. Sang bayi rupanya merasakan kemarahan ibunya hingga keduanya pun berontak. Hana merasa sakit dibagian perut bawahnya. Tubuhnya dirasa makin berat oleh Darren karena Hana melemas.


"Han,,, Tarik napas Han,, Tarik napas pelan pelan. Bertahan. Aku bawa kamu ke rumah sakit sekarang." Darren yang memegangi Hana mulai panik.


Dion mematung. Mematung antara meresapi semua yang dikatakan Hana dan berusaha menerima kenyataan bahwa Hana sudah sangat membencinya. Dion tak melihat ada celah lagi bagi dirinya.


"Dion,,, Bukain pintu mobil!!! Jangan diam saja!!" teriak Darren menyadarkannya.


Dion tergagap dan langsung membantu membukakan pintu mobil Darren. Begitu Hana sudah masuk mobil,,, Darren menelpon Bryan.


"Aku bawa Hana ke rumah sakit sekarang. Sepertinya Hana mau melahirkan. Kamu langsung nyusul kesana saja ya Bry,,," Darren sempat menelpon Bryan sebelum menjalankan mobilnya.


"Siapa yang ditelpon Darren?? Bry??" batin Dion.


"Tutup pintunya Dion. Jangan bengong gitu aja!!!" ketus Darren melihat Dion berdiri saja di pintu mobilnya.


Begitu Dion menutup pintu Darren pun langsung saja tancap gas dan tak mempedulikan apakah Dion mau ikut atau tidak. Darren panik karena ini pertama kalinya dia menghadapi situasi seperti ini. Dulu saat Chaira melahirkan Levi dirinya tidak mendampingi. Jadi tidak heran jika Darren panik.


"Sabar ya Han,,," ucapnya saat Hana mengeluh sakit.


Dion memutuskan mengikuti kemana perginya mobil Darren karena dirinya peduli dan merasa dirinyalah yang menyebabkan Hana begini. Dion bisa menebak mungkin sebenarnya bukan hari ini seharusnya Hana melahirkan namun karena tekanan emosinya tadi sehingga mempengaruhi kehamilannya.


"Bertahan ya Han,,, Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri selamanya jika sampai terjadi hal buruk padamu maupun bayimu. Tak peduli anak siapa itu tapi aku sungguh tak mau bayi tak berdosa itu juga kena imbas. Aku terima semua kekesalanmu tadi. Aku justru senang pada akhirnya kamu bisa meluapkan semuanya." Dion sudah mulai jernih kembali otaknya.


"Tuhan,,, Beri kekuatan pada mantan istri hamba dan calon bayinya. Hamba tau dia sangat menginginkan bayinya jadi hamba mohon beri mereka keselamatan.Biarkan Hana bahagia tuhan. Sudah cukup dia menderita karena hamba. Terlepas dari masih ada atau tidak peluang bagi hamba kembali padanya,,, Saat ini hamba hanya ingin meminta maaf padanya. Berikan hamba kesempatan untuk itu tuhan." doa Dion di tengah tengah perjalanan ke rumah sakit.


\=\=\=\=\=\=


Terima kasih atas vote, like dan komennya yaa 🌻❤️

__ADS_1


__ADS_2