
Selamat membaca πΈ
Maaf banyak typo π
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
πΈπΈπΈ
"Apa kamu tidak marah kalau aku ingin kita tunda dulu bulan madu kita sayang?? Sepertinya aku juga belum tega meninggalkan Darren kerja sendirian." kata Dion.
"Tidak apa apa sayang,,, kita batalkan saja dulu. Mungkin sampai minggu depan saja ya,, pastikan dulu Darren bisa menghandle semuanya." sahut Hana.
"Terima kasih sayang. Kalau begitu biar aku ke kantor saja ya,, aku ingin memastikan Darren bisa melakukan semua sendiri tanpaku setelah minggu ini." kata Dion.
"Iya sayang,,, aku siapkan bajumu dulu ya." kata Hana.
Dion mengangguk dan mengucapkan terima kasih atas pengertian Hana.
"Maaf Hana,,,aku sudah berbohong padamu." batin Dion.
Hana membantu menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan Dion. Dan ketika semua sudah siap Dion pun langsung menuju ke kantornya.
"Lah,, kok lu ngantor lagi bro??" tanya Darren heran melihat kedatangan Dion.
"Gue gak tega ninggalin lu sendiri. Lagian gue ogah lu ganggu pas lagi honeymoon dengan segala spam telpon lu,,," kata Dion.
Darren terkekeh mendengarnya.
"Trus Hana??" tanya Darren.
"Dia bisa ngerti kok. Tenang aja lu,," kata Dion lagi.
Darren langsung berbinar dan bangkit dari duduknya lalu menghampiri Dion. Dipijatnya kedua bahu sahabatnya itu.
"Hmm kalau udah kayak gini mesti ada maunya nih,,,," kata Dion yang hafal gelagat sahabatnya ini.
Darren pun kembali terkekeh tanpa menghentikan pijatannya.
"Lu tolongin gue ya,,," Kata Darren.
"Kan bener,,, tolongin apaan??" sungut Dion sambil mengikuti arah pijatan Darren.
"Kasih Ratna tinggal di rumah lu dulu ya,,," jawab Darren.
Ratna???
Dion mendelik.
"Bagaimana bisa ceritanya Ratna tinggal sama gue??" tanya Dion.
"Ratna gak punya tempat tinggal bro,,, pagi ini dia diusir sama tuan rumahnya karena lama menunggak sewa kontrakan" kata Darren.
__ADS_1
Ratna menunggak bayar kontrakan??
Sebegitu susahkah kehidupannya selama ini??
Dion mendadak merasa bersalah.
"Gue gak mungkin kan biarin dia tinggal di rumah gue,,, gue gak enak ma tetangga bro. Lu tau sendiri kan gue malah gak nyaman juga kalau ada wanita tinggal di rumah gue apalagi dia bukan istri gue. Kalau di rumah lu kan masih ada Hana jadi lu gak risih kayak gue." lanjut Darren.
"Gue bisa saja sih suruh dia ngekost dulu,,, tapi gue rasa kayak gue ngusir dia. Dia bilang cuma sementara saja sih sampai dia dapat tempat lagi." pikir Darren.
"Suruh di rumah gue aja. Biar gue yang ngomong sama Hana." sahut Dion cepat.
"Lu yakin Hana bisa ngerti??" tanya Darren.
"Lu bantu ngomong juga lah kalau gitu,,," kata Dion.
"Ok,,,begitu lebih baik karena bagaimana pun juga gue gak mau Hana salah paham sama lu. Ratna kan tanggung jawab gue sebenarnya tapi kondisi gue aja yang gak memungkinkan." kata Darren.
"Iya,, gue yakin Hana bisa terima dia kok. Lagipula Hana biar ada temannya juga." kata Dion.
Bagaimana pun juga Dion ingin bertanggung jawab atas Ratna yang memang masih istrinya yang tak pernah sama sekali ditalaknya. Mengetahui bahwa hidupnya ternyata serba kekurangan,,,Dion merasa miris.
Dion merasa tambah gagal menjadi suami. Gagal menerima buah hati mereka dan kini ditambah dengan kegagalannya memuliakan istrinya.
Terutama setelah Darren menceritakan awal pertemuan mereka. Ratna mendorong gerobak sayur. Dion semakin merasa sangat bersalah.
"Seharusnya saat ini kamu juga mendapat fasilitas yang sama dengan yang Hana dapatkan dariku Na,,," batin Dion.
πΈπΈ
"Ayah,,,Ayya hali ini punya gambal bagus cekali,,," kata Rayya begitu Darren menggendongnya.
Levi yang tidak minta digendong hanya menggandeng tangan Darren.
"Gambar apa sayang?" tanya Darren.
"Gambal ini ayah" kata Rayya sembari menyerahkan selembar kertas yang memang berisi gambar khas anak kecil yang masih ala kadarnya.
Ada gambar Darren,,, Levi,,, Rayya,, dan Ratna.
Deg,,,
Darren berdebar.
"Aku yang mengajarinya tadi." sahut Ratna menjelaskan.
Ratna langsung masuk ke dalam mendahului Darren yang belum berkomentar. Darren lebih sibuk meredakan apa yang dirasakannya saat itu.
Perasaan iba pada Rayya yang sepertinya mulai tergantung pada Ratna,,,Rayya yang masih kecil sepertinya membutuhkan sosok ibu.
Perasaan bersalah pada Chaira karena dirinya telah membiarkan wanita lain masuk ke rumahnya dan mulai merebut perhatian anak anaknya.
__ADS_1
Ratna membuat anak anak lupa bahwa yang harusnya mereka gambar itu adalah Chaira,,,bundanya.
Meski Darren pernah memiliki perasaan pada Ratna tapi saat ini dia tak lagi merasakan hal yang sama. Dan entah kenapa Darren merasa terganggu dengan cara Ratna mengajari Rayya menggambar.
"Na,,,aku mau bicara." kata Darren begitu anak anak sudah tidur.
Ratna yang masih mengelap meja dapur setelah selesai mencuci semua perabotan menghentikan pekerjaannya.
"Ada apa Dare,,,,??" tanyanya.
"Mengenai gambar tadi,,," Darren belum selesai bicara saat Ratna langsung memotong.
"Bagus ya,,, Rayya pandai menggambar. Diajari sebentar saja sudah langsung bisa,,,," sela Ratna.
"Aku tidak ingin kamu mengajari anak anak untuk menggantikan posisi bundanya,,, kamu boleh mengajari mereka menggambar wanita dewasa,,, tapi hanya gambar bundanya." jawabku.
Ratna diam. Ada kekesalan yang luar biasa mendapat kalimat seperti itu dari Darren. Dirinya padahal berharap Darren akan berterima kasih padanya.
"Maaf Na,,,aku hanya tidak ingin anak anak lupa siapa bundanya." jelasku kemudian.
"Apa kamu tidak berencana menikah lagi,,,?"selidik Ratna.
Darren hanya menggeleng pelan.
"Masih ada banyak wanita yang bisa,,,," Ratna belum selesai bicara.
"Tidak ada Na,,, Chaira hanya satu." tegas Darren.
"Tapi kamu harus move on Dare,,, melanjutkan hidup. Anak anak masih kecil dan butuh kasih sayang seorang ibu,,,"kata Ratna.
"Sudahlah jangan membahas itu,, ada hal lain yang ingin ku bicarakan denganmu." kata Darren mengalihkan pembicaraan.
"Apa itu,,?" Ratna penasaran.
"Sebelumnya aku minta maaf padamu Na,, bukan maksudku untuk menolak keberadaanmu di sini,,,tapi aku tidak ingin timbul fitnah. Jadi aku ingin kamu tinggal di rumah Dion sementara waktu. Rumahnya tidak terlalu jauh kok dari sini,,, Kalau di sana ada Hana istrinya. Jadi tidak akan ada fitnah." kata Darren.
"Rumah Dion??" Ratna mengulang kata itu.
"Ya Na,,, kamu tidak keberatan kan??" tanya Darren.
"Aku tidak mau,,," jawab Ratna cepat.
Darren merasa serba salah. Sebenarnya Darren tidak ingin memaksa agar tak terkesan terlalu mengusirnya. Tapi kehadiran Ratna benar benar membuat dirinya tidak nyaman.
"Enak saja aku disuruh tinggal dengan Dion. Kamu tidak tau sih Dare ada hubungan apa antara aku dan Dion jadi kamu seenaknya saja menyuruhku tinggal bersamanya." batin Ratna.
"Tapi sepertinya akan seru sih kalau aku bisa mendekati Dion lagi,,, Darren rasanya sudah tidak bisa diandalkan. Pria bucin ini cinta mati pada mendiang istrinya. Entah apa istimewanya wanita itu,,," sinis Ratna.
\=\=\=\=\=
Jangan lupa vote,like dan komen yaa
__ADS_1
Terima kasih πΈ