
Selamat membaca ๐น
Maaf banyak typo ๐
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
๐น๐น
Levi beranjak dari tempatnya berdiri sedari tadi dan menuju ke kursi di pinggiran kolam renang. Kolam renang yang dibuat khusus oleh Darren karena dirinya tau bahwa Levi sangat suka berenang.
Biasanya tiap hari minggu begini Levi lebih banyak menghabiskan waktunya berenang. Namun minggu kali ini Levi sama sekali tak ingin berenang. Kegalauan hatinya membuatnya lebih suka berdiam diri.
Levi hanya duduk dan melamun.
Sementara itu yang sibuk di dapur berdua sudah hampir menyelesaikan masakannya. Rayya dan Darren sepakat membuat pancake saja untuk menu sarapan mereka pagi ini.
"Wahhh akhirnya berhasil juga pancake buatan Rayya ya ayah. Sekian lama belajar buat pancake baru kali ini hasilnya bagus hehehe,,," ucap Rayya puas.
"Asal mau terus belajar,,, sabar dan tidak down,,, pasti bisa berhasil. Ini cuma masalah waktu saja nak." ucap Darren.
"Iya ayah,,, Ayah tapi jadi kan mau masukin Rayya ke kursus memasak??" tanya Rayya kemudian.
"Jadi dong. Kan ayah juga dukung hobi dan bakat memasak Rayya. Sementara Rayya masih sekolah,,, kursus saja dulu. Tapi begitu Rayya lulus nanti,,, Rencana ayah sih mau masukin Rayya ke kampus yang memang untuk jurusan memasak. Biar anak ayah ini bisa jadi chef cantik." ujar Darren sembari mencubit hidung Rayya.
"Jadi chef ayah???" tanya Rayya.
"Iya sayang. Tapi tetap kembali ke Rayya semua keputusannya. Ayah kan cuma sekedar mencarikan jalan untuk Rayya menyalurkan hobi Rayya." jawab Darren tak memaksa.
"Rayya mau bangettt jadi chef ayah. Bisa masakin makanan yang lezat terus buat ayah. Buat kak Levi juga,,," ucap Rayya senang.
"Aamiin semoga semua cita cita kamu tercapai sayang ya,,, Ya sudah kamu tata dulu pancake nya ini ya. Ayah panggil kakakmu dulu." ujar Darren.
"Iya ayah." sahut Rayya.
Darren langsung saja menuju ke kolam karena dirinya sudah paham anak laki lakinya itu pasti ada di sana seperti biasanya.
Dan benar saja putra tampannya itu tengah berada di kursi kolam. Darren menghentikan langkahnya saat dia menyadari ada sesuatu yang berbeda kali ini. Putranya itu tampak tengah melamun dan tidak seperti biasanya. Bahkan putranya itu tetap menyadari kehadiran ayahnya di sana.
"Ehm,,, Levi,,, Pagi pagi kok sudah melamun." tegur Darren.
__ADS_1
"Eh ayah,,," Levi terkejut.
"Ada apa nih putra ayah kok kelihatan gak semangat gini,,, Tell me my man,,,what happen??" tanya Darren sambil duduk di samping putranya.
Ditepuk tepuknya bahu Levi.
"I don"t know ayah. I think i'm falling in love but just in a wrong person." sahut Levi yang bisa jauh lebih terbuka pada Darren.
Levi bisa langsung menyampaikan permasalahannya pada Darren dibanding Rayya yang masih harus berbelit belit dan bertanya sana sini.
"Wah,,, Anak ayah dua duanya lagi jatuh cinta nih rupanya. Tadi adikmu yang curhat sama ayah,,, Sekarang kakaknya juga. Kalian janjian apa gimana nih hahaha,,,," Darren menertawakan kekompakan mereka.
"Rayya jatuh cinta sama siapa sih??" tanya Levi dengan nada tidak suka.
"Ayah juga belum tau tapi ayah harap kamu sebagai kakaknya jangan langsung tabrak saja ya. Ayah tau kamu selalu ingin melindungi adikmu dan tak ingin adikmu itu bergaul dengan pria yang salah. Tapi tetap saja ayah tidak suka nada pertanyaanmu barusan ya. Menunjukkan kamu sangat tidak suka mengetahui adikmu sedang dekat dengan seseorang." Darren bisa membaca nada tidak suka Levi tadi.
"Ehm bukan Levi tidak suka ayah,,, Levi suka kok. Levi juga tidak akan sebegitu protektifnya pada Rayya ayah." sahut Levi langsung gugup dan raut wajahnya langsung berubah.
"Kalau tidak begitu lalu apa??" selidik Darren.
Darren menangkap sesuatu yang aneh dari Levi. Terutama setelah Darren bertanya lagi dan Levi membuang pandangannya menghindari mata Darren. Darren paham putranya selama ini paling tidak bisa membohongi dirinya.
"Ehm,,, Levi lapar ayah. Sudah selesai kan ayah sama Rayya masaknya??" tanya Levi mengalihkan pembicaraan.
"Sudah,,, justru ayah tadi kesini mau panggil kamu untuk sarapan." jawab Darren.
"Kalau begitu ayo ayah,,," Levi menarik tangan Darren.
"Kamu yakin belum mau cerita sama ayah??" tanya Darren menahan tangan Levi.
Levi hanya menunduk tak menjawab. Darren melihat bayangan dirinya saat dirinya rapuh dulu pada diri Levi saat ini. Putranya itu terlihat sama lesunya dengan dirinya pada masa itu.
Darren bisa melihat cinta yang besar namun tak bisa tersalurkan dalam kediaman Levi.
"Baiklah,,, Ayah tidak akan memaksa. Tapi ayah mau kamu ingat akan satu hal. Ayah selalu ada buat kamu kapan pun kamu mau cerita." ucap Darren sambil menepuk bahu Levi.
"Terima kasih ayah." sahut Levi tersenyum dan mengangkat wajahnya.
Darren kembali menepuk bahunya dan mengajaknya masuk menuju ruang makan.Rayya sudah menunggu di sana dan tengah menuangkan susu ke dalam gelas.
__ADS_1
"Lama sekali kalian,,, Pancakenya sampai mau dingin tuh."protes si cantik sambil acuh tak melihat wajah keduanya.
"Maaf Rayya,,, Tadi ayah malah ajak kakakmu ngobrol. Jangan marah ya,,,Pancakenya pasti tetap enak kok." jawab Darren.
"Memang ngobrolin apa sih ayah kok lama??" tanya Rayya yang kali ini sudah meletakkan gelas di masing masing tempatnya.
"Obrolan pria dewasa lah,,, Mau tau aja Ayya." sungut Levi.
"Eh emangnya Ayya masih kanak kanak gitu??? Jadi jangan sok rahasia rahasiaan deh,,," protes Rayya.
"Hahaha,,, Sudah sudah,,, kok malah berantem sih ini anak anak ayah. Katanya lapar tadi?? Ayo sarapan dulu lah,,," Darren melerai.
"Kak Levi duluan ayah,,," Rayya membela diri.
"Ayya juga mancing mancing aja,,," sungut Levi.
"Ayah heran deh sama kalian ini,,, Kadang kayak tom and jerry,,, Kadang akuuuurrr banget,,,kompak banget. saking kompaknya sampai urusan jatuh cinta pun kalian kompak barengan. Galaunya juga barengan hahahha,,," Darren tertawa mengingat pagi ini dirinya menemukan kedua anaknya sama sama galaunya.
"Ayaaaaahhhh,,,,,!!!!" keduanya kompak berteriak dan memandang kesal pada ayahnya karena membocorkan curhatan mereka.
"Tuh kan hahahha,,, kompak banget,,," sahut Darren kembali tertawa.
Levi dan Rayya berpandangan lalu sama sama menunduk malu juga. Lagi lagi Darren tertawa melihat kekompakan adik kakak ini yang baginya hanya sebuah kebetulan saja.
Kebetulan sama sama jatuh cinta namun Darren belum sama sekali curiga.
"Pokoknya siapa pun yang sedang berhasil membuat kedua anak ayah ini galau begini,,, Ayah doakan oranganya adalah orang yang tepat yang semoga saja bisa menjadi tempat terakhir kalian melabuhkan dermaga hati kalian. Tidak perlu dua atau tiga,,, kalau ada satu yang melekat di hati. Bawalah cinta itu sampai mati." ucap Darren.
"Tapi ayah,,, Bagaimana kalau gadis itu adalah Rayya??" batin Levi memandang wajah Darren.
"Kalau ayah tau bahwa kak Levi orangnya,,,Apa ayah masih akan tetap mendoakan Rayya seperti ini??" batin Rayya juga memandang Darren.
Yang dipandang tak melihat dan asyik menyantap pancake buatan putrinya. Tinggal mata Rayya dan Levi yang bertemu.
"Tidak boleh Levi. Lupakan!!!" Levi membuang pandangannya dan mulai makan.
"Kak,,, Gimana caranya biar kakak tau bahwa kakaklah yang Rayya cinta,,," batin Rayya.
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Terima kasih atas vote, like dan komennya ya ๐นโค๏ธ