
Selamat membaca 🌹
Maaf banyak typo 🙏
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌹🌹
"Ayo anak ayah bangun,,,, Hari ini kalian ikut ayah ke kantor saja ya." ucap Darren pagi itu.
"Kok ikut ayah??" tanya Levi.
"Iya nak karena nanti tidak ada yang akan menemani kalian di rumah." jawab Darren.
"Mbak Na??" Rayya yang sudah duduk dan mengucek matanya pun bertanya.
"Mbak Na sudah tidak bisa menemani kalian sayang. Jadi,,,Kalian tidak keberatan kan kalau ikut ayah ke kantor??" tanya Darren.
"Tidak ayah. Levi malah senang karena nanti bisa bantu ayah kerja yeeaaayyy,,,,Adik Rayya tapi tidak boleh ganggu ayah nanti ya." ucap Levi pada adiknya.
Rayya pun hanya mengangguk. Dia masih sedikit mengantuk jadi belum seceriwis biasanya.
"Kalau begitu anak anak ayah harus segera mandi ya. Mau mandi sendiri apa dibantu ayah??" tanya Darren.
"Sendiriiii,,,," sahut keduanya serempak.
Darren tersenyum dan mengangguk. Tidak sia sia selama ini dia sudah mulai mengajarkan anak anaknya untuk mandiri. Mandiri dalam artian bisa mengerjakan segala sesuatu untuk dirinya namun dalam hal sederhana dulu seperti mandi, makan sendiri tanpa disuapi,,,ganti baju sendiri.
Setelah semua siap,,,Darren pun membawa mereka ke kantor. Sesampainya di kantor beberapa pasang mata yang selama ini selalu tersihir tiap kali melihat pesona single daddy itu melotot.
__ADS_1
Tampaknya mereka menemukan cara untuk meluluhkan hati single daddy itu hari ini.
"Selamat pagi adik adik cakep,,, Yuk sama kakak saja mainnya,,,"
Hampir semuanya menyapa Levi dan Rayya. Sebagian besar menawarkan diri untuk mengajak mereka berkenalan dan bermain bersama mereka. Para wanita wanita itu mencoba menarik hati bos single daddynya dengan menunjukkan sikap keibuannya meski tidak sepenuhnya adalah keikhlasan karena mereka melakukannya demi sang ayah.
"Terima kasih semuanya tapi anak anak akan berada di ruangan saya saja." ucap Darren tersenyum sambil menuntun kedua anaknya masuk ke dalam lift.
Meski semua kecewa karena tak ada yang berhasil namun mereka cukup meleleh pagi ini melihat senyum sang bos tampan.
Sampai di lantai tempatnya bekerja Darren pun menyapa sekretarisnya yang langsung bangun dari duduknya dan menyapa anak anak.
Sama dengan karyawan lainnya,, sekretaris ini pun mendapat penolakan dari Darren saat menawarkan diri menjaga anak anak. Darren bilang bahwa dia perlu berkonsentrasi mengerjakan semua berkas yang diperlukannya hari ini jadi dia tak semestinya menjaga anak anak.
"Baik pak. Oh ya pak,, Tadi pak Dion datang dan menyerahkan semua berkas ini kembali pak. Katanya pak Dion sudah tidak akan melanjutkan pekerjaannya. Apa pak Dion resign pak??" tanya sekretaris itu.
Darren menghela napasnya. Darren benar benar menyesalkan tindakan Dion yang cenderung sangat berbeda dengan biasanya. Sahabatnya itu sekarang lebih emosian dan tidak bisa berpikir sebelum bertindak.
"Baik pak." sahut sekretarisnya.
Darren lantas masuk ke ruangannya dengan Levi dan Rayya. Ruangan kerja yang cukup luas ini cukup layak untuk anak anaknya menunggunya selesai bekerja. Ada Tv dan juga sofa yang bisa dipakai anak anak istirahat.
Meski anak anaknya senang dengan fasilitas seadanya itu karena ini memanglah hanya kantor tapi Darren mulai berpikir akan sedikit merubah tatanan ruangannya.Darren ingin membuat satu spot khusus untuk anaknya bermain terutama Rayya yang masih kecil.
Darren berniat untuk terus membawa anak anak kerja agar tak perlu lagi ada yang mengasuhnya. Kalau untuk urusan meeting dengan klien dia juga akan mengatur agar meeting bisa dilakukan di kantornya saja. Darren yakin Levi bisa menjaga adiknya sementara saat dirinya meeting.
Single daddy itu berpikir matang untuk urusan anak anaknya. Dirinya benar benar ingin menjadi ayah dan sekaligus bunda terbaik bagi anak anaknya. Tidak perlu lagi ada pengasuh daripada pengasuh hanya akan bikin rusuh.
Levi dan Rayya pun mulai sibuk sendiri dengan tontonan kartun di Tv. Darren duduk membaca semua berkas kerja yang dibawakan sekretarisnya dari Dion tadi.
__ADS_1
"Lebih baik ku coba menelponnya." gumam Darren.
Darren coba menelpon Dion agar dirinya bisa diberi kesempatan bicara atau menjelaskan semuanya. Darren yang benar benar belum mengerti duduk perkara namun kena tuduhan itu ingin kejelasan. Namun Dion mereject panggilannya.
Berapa kali Darren mencoba,,, segitu juga Dion reject.
"Gue gak paham kenapa lu bersikap seperti ini bro. Tapi gue akan tetap minta maaf seandainya memang gue ada salah sama lu. Gue harap lu bisa pikirkan baik baik persahabatan kita. Tiap masalah pasti bisa kita selesaikan selama ini. Mungkin kali ini lu hanya butuh waktu menenangkan diri lu."
Darren menulis pesan itu di aplikasi chat onlinenya dan hanya di baca saja oleh Dion. Tidak ada balasan. Darren menghela napas dan memilih mengabaikannya saja. Bekerja jauh lebih penting daripada memikirkan sahabat yang kini entah dirasuki setan apa.
🌹🌹
"Seenaknya saja minta maaf dan bawa bawa persahabatan. Kalau lu emang sahabat gue,,, Lu gak bakalan rusak rumah tangga gue dengan cara seperti ini. Mulut lu aja manis ngasi gue saran buat bicara sama Hana. Tapi mulut lu juga yang duluan ember ke Hana." sungut Dion setelah membaca pesan dari Darren.
"Hana juga,,,Kemana sih kok di telpon gak nyambung nyambung. Isi rumahnya dijual lagi. Pergi kemana gue gak tau,,, Gak ada jejaknya. Menghilang begitu saja. Kayak anak kecil saja. Ngambek ya ngambek tapi gak usah minggat juga kali,,," sungutnya lagi.
Pagi ini Dion memang sengaja berangkat lebih awal agar bisa mengembalikan semua berkas kerja ke kantof Darren lalu mengunjungi rumah ibu mertuanya. Dion pikir Hana pasti hanya bisa ke rumah ibunya karena Hana tak punya saudara lagi di kota ini.
Ternyata rumah itu sudah kosong dan keterangan dari tetangga yang menurutnya tidak banyak membantunya untuk bisa menemukan istrinya itu membuat dirinya makin kesal dan makin menyalahkan Darren yang sudah dituduhnya sebagai dalang perusak rumah tangganya.
"Gak ada sahabat sahabatan lagi,,, Capek gue jadi sahabat lu. Mulai sekarang lu musuh gue. Musuh pribadi dan musuh kerja. Gue bakal buktiin ke lu bahwa kerjaan gue jauh lebih ok daripada lu. Selama ini kan gue yang urus perusahaan lu. Gue emang selalu ngerasa salah saat lu kehilangan Chaira karena ide gila gue. Tapi sekarang kita impas Dare,,, Gue gak perlu lagi ngerasa salah sama lu." batin Dion kesal.
Dion kembali mencoba menghubungi Hana namun tetap gagal. Kesal tak mendapat apa pun Dion pun menggebrak mejanya.
"Apa sih maunya Hana. Selama ini tuh gue yang dikejar kejar wanita dan baru dia aja yang gue kejar. Apa itu yang bikin kepalanya makin besar?? Ok Han,,, Terserah kamu aja sudah. Pulang silahkan,,, Gak pun silahkan!!!"
Dion kesal dan menyimpan foto pernikahannya yang ada di meja kerjanya ke dalam lacinya.
\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Terima kasih untuk vote, like dan komennya ya 🌹🌹