
Selamat membaca 🌹
Maaf banyak typo 🙏
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌹🌹🌹
Wajah Hana berseri seri di layar web saat Darren menunjukkan akte cerai dari Dion untuknya melalui panggilan video mereka malam itu. Keduanya memang tetap saling berkomunikasi khususnya saat ada yang penting untuk disampaikan.
Bukan keseringan.
"Jadi Dion sudah menceraikanku?? Berarti aku sudah bebas. Aku senang sekali Dare."ucap Hana berbinar.
"Senang??" tanya Darren tidak mengerti.
"Iya senang. Senang bisa lepas dari pria yang tidak bisa tegas mengakui masa lalunya. Senang lepas dari pria yang tidak bisa memakai mata hatinya melihat yang mana yang baik dan buruk." ucap Hana.
Darren mendengus dan mengacak rambutnya asal.
"Entahlah Han,,,Aku tidak tega sebenarnya padanya jika dia harus terjebak pada rayuan Ratna. Bagaimana pun juga dia tetap sahabatku kan?? Aku sudah coba mengingatkannya tapi dia malah menuduh kita macam macam." keluh Darren.
"Sudah biarkan saja dia mau bicara apa yang jelas di antara kita tidak ada hubungan seperti yang dituduhkannya itu. Santai saja Dare,,, Nanti juga dia sendiri yang akan menyesal kalau menyadari kesalahannya itu." tukas Hana dengan senyum manisnya.
"Iya aku tau itu Han. Aku kemarin memukulnya bukan karena aku kesal dituduh macam macam tapi aku ingin otaknya itu berfungsi lagi dengan baik setelah ku pukul. Tapi aku juga tidak bisa mencegahnya lebih jauh karena saat ini Ratna tengah mengandung anaknya." lirih Darren.
Mata Hana membulat mendengarnya.
"Mengandung??? Ratna?? Anak Dion?? Secepat ini??" tanya Hana masih dengan mata bulatnya.
"Upss,,," Darren menutup bibirnya dengan tangannya sendiri.
Darren baru menyadari mungkin kalimatnya itu menyakiti hati Hana yang selama pernikahannya dengan Dion belum pernah hamil sekali pun.
"Maaf Han maaf. Aku tak bermaksud membuatmu sakit hati."ucap Darren penuh penyesalan.
"Tidak Dare,,,Tidak apa apa. Tidak perlu merasa bersalah. Aku tidak sakit hati sama sekali. Aku hanya heran kenapa bisa secepat ini Ratna mengandung anak Dion?? Padahal,,,," Hana tak melanjutkan kata katanya.
__ADS_1
"Padahal apa Han??" tanya Darren penasaran.
Hana menggeleng pelan setelah matanya mengerjap ngerjap sesaat. Sepertinya dia merasa telah salah bicara.
"Tidak ada Dare. Bukan apa apa. Sudah jangan dibahas lagi. Yang mau nikah biar nikah. Aku cukup move on dan melanjutkan hidupku dengan lebih baik. Oh ya mana Levi sama Rayya?? Aku kangen nih sama mereka. Kamu kapan bawa mereka kesini?? " ucap Hana kemudian seolah mengalihkan pembicaraan.
Darren mengangguk lalu mengalihkan pandangannya ke sekeliling ruangan mencari keberadaan Levi dan Rayya. Darren kemudian memanggil mereka agar mendekat padanya dan berbicara dengan Hana.
"Hai ponakan tanteeee,,, Apa kabar??" suara Hana langsung ceria melihat wajah Levi dan Rayya di layar webnya.
"Hai tante Hanaaaa,,,," sahut keduanya serempak.
Ruangan itu pun dipenuhi dengan suara suara tawa riang Hana yang senang bisa bersenda gurau dengan Levi dan Rayya meski hanya melalui video call.
Dalam hatinya Darren heran bagaimana bisa Hana selepas dan seringan itu menghadapi masalahnya dengan Dion.
Mungkinkah dulu kamu juga bersikap seperti ini bidadariku?
Apakah saat aku menyakiti hatimu namun kamu tetap tersenyum seperti ini??
Atau mungkin kamu bermandikan airmata saat itu karena ulahku??
Ampuni hambaMU yang tidak tau diri ini.
Darren mengingat kembali semua yang sudah dilakukannya pada mendiang Chaira dulu. Rasa sesal kembali menyesakkan dadanya saat mengingat keterlambatannya menyadari semua kesalahannya.
Lamunannya buyar saat tangan Levi menarik narik dirinya dan memintanya untuk juga melambaikan tangannya pada Hana yang akan menutup obrolannya malam itu.
"Baik baik di sana Han,,, Jaga dirimu dan salam buat ibu ya."pesan Darren.
"Oke sip,,,"Hana mengacungkan jempolnya dan kembali tersenyum riang.
🌹🌹
"Ibu???"
Hana tersentak saat melihat bu Irma sudah berdiri dan menangis di pintu kamarnya. Wajah renta itu menyiratkan kesedihan yang amat sangat.
__ADS_1
"Sejak kapan ibu berdiri di sini?? Kenapa tidak masuk?? Padahal tadi Hana lagi ngobrol sama Darren dan anak anaknya lho. Kan ibu bilang ibu ingin lihat anak anak Darren." kata Hana berusaha mengalihkan perhatian bu Irma yang terus mengelus kedua pipinya.
"Kamu gak apa apa Han?? Kenapa gak cerita sama ibu??" tanya bu Irma.
Bu Irma kembali tersedu. Meski telinga renta itu sudah banyak berkurang kemampuan mendengarnya namun malam ini beliau yakin telinganya tidak salah dengar saat Hana dan Darren membahas Dion yang sudah menceraikan Hana.
"Hana tidak apa apa bu. Berhubung ibu sudah dengar,,, Mari Hana ceritakan semuanya agar ibu tidak berpikir macam macam." Kata Hana sambil membimbing tangan renta itu menuju ke tepian ranjangnya.
Hana pun menceritakan semua yang telah terjadi dalam rumah tangganya pada bu Irma yang tak berhenti menangisi nasib putri semata wayangnya itu. Dalam hatinya beliau tetap bersyukur karena mendiang pak Kyai sudah tidak ada. Bu Irma tidak bisa membayangkan reaksi pak Kyai jika mengetahui hal yang menimpa putri kesayangannya itu.
"Jadi apa rencanamu sekarang Han??" tanya bu Irma.
"Menata hidup jadi lebih baik lagi bu."sahut Hana riang.
"Kamu akan menikah lagi kan??" tanya bu Irma mencemaskan kebahagiaan putrinya.
"Kalau untuk yang itu masih jauh dari bayangan bu. Hana tidak buru buru apalagi setelah semua ini. Hana tidak ingin salah pilih lagi."jawab Hana yakin.
"Ibu hanya bisa doakan yang terbaik untukmu Han."lirih bu Irma kembali meneteskan airmatanya.
"Ibu,,, Hana baik baik saja. Doa ibu dan kekuatan ibu akan membuat Hana jauh lebih kuat lagi. Jadi Hana mohon ibu tidak menangisi Hana lagi. Ibu harus kuat untuk Hana. Ya bu ya,,," Hana menggenggam tangan ibunya.
"Iya Han,,, Ibu tidak akan menangis lagi selama kamu juga tidak berhenti tersenyum seperti ini. Karena senyummu mengingatkan ibu pada mendiang ayahmu. Kamu punya senyum yang sama dengan ayahmu."puji bu Irma.
"Baik ibu,,,Hana janji akan selalu tersenyum untuk ibu." ucap Hana.
Bu Irma mengelus kepala anaknya dan mencium keningnya penuh kasih sayang. Dibelai belainya rambut Hana yang meletakkan kepalanya di pangkuan ibunya.
"Kamu tidak mau ceritakan hal itu pada Dion Han??" tanya bu Irma kemudian disela kesibukannya membelai kepala Hana.
"Tidak bu,,, Biarkan saja. Lagipula belum tentu dia bisa menerima kenyataan itu. Biar itu jadi rahasia Hana dan ibu saja. Hana mohon ibu juga tidak pernah mengatakan hal itu pada siapa pun. Biarkan dia sendiri yang tau pada saatnya kelak." Sahut Hana.
"Terserah kamu saja Han. Ibu nurut. Ini hidupmu dan kamu bebas menentukan kemana arah perahumu kamu bawa. Ibu hanya berdoa dan berdoa semoga segala kebaikan dilimpahkan kepadamu Han." ucap Bu Irma.
"Aamiin ya Rabb,,, Terima kasih ya bu atas doanya."ucap Hana tersenyum.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Terima kasih atas vote, like dan komennya yaa 🌹🌹🌹