
Chaira memegang testpack dengan gemetar. Matanya terpejam. Dia mengumpulkan sedikit tenaga sebelum melihat hasilnya. Beberapa hari terakhir dia sering merasa mengantuk dan lesu. Perutnya juga terasa tidak nyaman. Dia sedikit curiga pada kondisinya sendiri apalagi saat ingat bahwa dirinya telah melewatkan tanggal haidnya.
"Bismillah" Chaira membuka mata dan membaca hasilnya
Dia tak percaya melihat hasil yang tertera disana. Dikucek kuceknya matanya berkali kali agar tak salah. Namun walau berkali kali dia lakukan hasil disana tetaplah sama.
"Tidak mungkin aku salah" batinnya dengan perasaan tidak menentu.
"Aku harus memastikannya. Aku harus ke dokter" dia segera berkemas
Dia melewatiku yang masih mengenakan dasiku.
"aku pamit keluar dulu sayang" ucapnya
"heemm" sahutku pendek
Chaira segera menyambar tasnya setelah memasang cadarnya. Aku hanya melihatnya dari pantulan cermin.
"kemana dia sepagi ini?" pikirku
Tapi kemudian aku tak peduli. Aku tau Chaira sangat pandai menjaga diri jadi aku tak perlu curiga dia akan melakukan hal hal yang aneh. Aku segera mengenakan jasku dan turun. Saat melewati meja makan aku tertegun melihat roti dan susu Chaira yang masih utuh.
"Tak biasanya dia melewatkan sarapannya" batinku mulai duduk dan menggigit rotiku
Selesai sarapan aku meminta sopir membawaku ke apartemen Febby. Aku ingin mengatakan padanya bahwa aku siap membawa mereka kerumah dan memperkenalkan Mike pada mama. Aku hanya perlu mempertemukan Chaira dengan Febby tanpa perkenalan lagi.
Para karyawan di apartemen itu sering mencuri pandang di belakangku. Mereka mulai curiga ada hubungan apa antara aku dan Febby. Tapi tak ada satu pun yang berani mengatakan atau membicarakan apa yang mereka lihat. Aku segera masuk lift dan menuju kamar Febby.
"Daddyyyyyyy,,,, " Mike kegirangan melihatku datang.
"Hallo handsome,,," aku segera merentangkan kedua tanganku menyambut pelukannya
"Where is mommy?" tanyaku karena tak melihat Febby
Mike hanya menunjuk ke kamar mandi. Aku paham. Mungkin Febby sedang mandi.
"Akan ku telpon lagi nanti" Febby memutuskan pembicaraannya dengan seseorang di telpon saat keluar dari kamar mandi dan melihatku
"Haii dad,,, " sapanya sembari langsung mencium pipiku seperti tiap kali aku datang dan pergi.
Aku masih saja canggung diperlakukan seperti itu. Entah kenapa aku masih merasa ada batasan antara aku dan dia.
"Mike,, today dad will take you and mom to go our new house" aku mengatakan hal itu pada Mike yang langsung bersorak kegirangan
"Yaaaayyyyyy" Mike segera berlari ke kamar dan mengemasi mainannya. Dia tidak mau melihatku marah melihat mainannya yang berserakan dan membatalkan niatku mengajaknya pergi.
Setelah Mike ke kamar Febby menatapku.
"Apa maksudmu Dare?" tanyanya
__ADS_1
"Sesuai janjiku,,, aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahimu. Hari ini aku berniat membawa kalian kerumahku agar kalian bisa mengenal mama lebih dekat" ujarku
Febby tersenyum namun berusaha seanggun mungkin. Batinnya bersorak. Dia merasa menang banyak.
"Chaira??" tanyanya pura pura dengan suara yang terdengar khawatir
"Dia urusanku. Yang penting kamu setujui persyaratanku" ucapku
"Persyaratan apa lagi Dare??? Kamu itu niat gak sih tanggung jawab??" Sungut Febby
Aku memintanya untuk tenang dan aku berusaha menjelaskan padanya ide Dion. Walau pada awalnya dia menolak mengikuti ide itu tapi akhirnya dia setuju.
"Ok,,, aku mengerti. Dan aku setuju. yang terpenting bagiku adalah Mike bisa mendapatkan pengakuanmu. " tandasnya
"Seenaknya saja kau mengaturku Dare,,, Aku pastikan Chaira akan meninggalkanmu" batin Febby
Kami bertiga segera menuju rumahku. Mama membukakan pintu untuk kami. Matanya menyorotkan tatapan keheranan saat melihat siapa yang ku bawa.
"Febby??"seru mama
"Halo tante,,, apa kabar?" Febby langsung mencium pipi kanan dan kiri mama
"Baik,,, tante baik. Ayo masuk." mama mempersilahkan
"Halo sayang,,, siapa,,, " mama berhenti karena aku memotongnya
"English only ma" seruku
"Putra Febby ma,, dan secara biologis juga putraku. Cucu mama" sahutku dengan tegas
Mama memandangku. Mama tampak tak paham.
"Iya tante,,, jadi Mike ini adalah putra kami. Febby minta maaf jika harus seperti ini memberitahu tante. Tapi inilah kenyataannya tante,,, dulu kami pernah melakukannya hingga Febby hamil.,,,," Febby terus menjelaskan semuanya pada mama
Mama yang tak bisa menutupi wajah kagetnya itu mulai paham sedikit demi sedikit dengan penjelasan Febby. Aku diam saja sengaja membiarkan para wanita itu saling bicara hati ke hati. Aku memilih mengajak Mike ke taman rumahku.
"Jadi tante sebenarnya sudah punya cucu?" Mata mama mulai berkaca kaca
Mama mulai menyesali keputusan Febby pergi menjauh dulu karena jika saja Febby tak melakukannya maka almarhum papa akan sangat bahagia. Mama menceritakan betapa papa sangat menginginkan cucu pada Febby. Febby terlihat memeluk mama. Aku yang melihat hal itu dari kejauhan merasa senang karena mama bisa menerima Febby dan Mike.
Tinggal Chaira,,,
"kemana dia?? Selama itukah dia pergi??" aku mulai kesal padanya yang belum juga pulang
Mama dan Febby sudah tampak akrab. Mama juga terlihat beberapa kali memeluk dan menciumi Mike. Mama sama sekali tak keberatan atau protes dengan semua hal yang telah aku dan Febby lakukan. Bahkan mama juga setuju untuk menyembunyikan hal itu dari Chaira. Bagi mama yang terpenting sekarang adalah mama punya cucu dan tak ingin lagi jauh dari cucunya itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=
"Betul bu,,, ibu positif hamil. Usia kandungan ibu sudah memasuki 3 minggu." kata dokter memastikan
__ADS_1
"Apa kandungan saya baik baik saja dok? Saya khawatir karena pernah memiliki riwayat keguguran dan saya juga telah lama menantikan ini. Saya hanya tidak ingin terjadi apa apa lagi pada bayi saya" suara Chaira terdengar risau
"Kandungan ibu sehat. Ibu tidak perlu khawatir berlebihan karena itu malah akan memicu stress yang tentunya tidak baik efeknya pada kandungan ibu. Ibu tinggal rajin meminum vitamin yang saya berikan" tukas dokter
"Terima kasih dok" ucap Chaira
Chaira segera keluar dan duduk di ruang tunggu untuk menebus obat yang sudah diresepkan dokter untuknya. Dibukanya kembali amplop yang berisi keterangan dokter tentang kehamilannya.
"Alhamdulillah,,, mama dan Darren pasti bahagia mendengar ini." Chaira tak henti hentinya mengucap syukur dalam hati atas karunia tuhan ini.
Chaira meraih ponselnya ingin segera mengabari Darren
"Ahh sebaiknya nanti saja dirumah. Aku sekalian ingin bicara dan menarik ucapanku padanya tentang menikah lagi" Chaira mengurungkan niatnya.
Dimasukkannya lagi ponselnya dan saat suster memanggil namanya dia segera datang ke konter obat dan menebus obatnya.
Chaira pulang. Dia sudah tidak sabar membawa berita baik ini untuk mama dan Darren. Segera dibayarnya taksinya begitu sampai di gerbang rumahnya.
"non kembaliannya" teriak sopir taksi
"Ambil saja buat bapak. Saya sedang ada rejeki pak" Sahut Chaira dengan lembut
"Terima kasih banyak non,,, semoga tuhan senantiasa mempermudah segala urusan non" Sopir itu hanya bisa berterima kasih dan mendoakannya
"Aamiin"
Chaira segera membuka gerbang dan berjalan dengan sedikit tergesa gesa. Dia heran begitu melihat pintu yang sudah terbuka. Dilihatnya juga mobil Darren sudah terparkir.
"Baguslah,, berarti Darren sudah pulang. Ini waktu yang pas menyampaikan kabar gembira ini" batinnya
"Sayaaaangggg,,, Mamaaaa,,,, Assalamualaikum" Chaira sedikit berteriak
Namun dia segera menghentikan teriakannya melihat ada tamu yang sedang duduk bersama dengan Darren dan mama.
"Halo Chai,, Apa kabar?? Febby mengulurkan tangannya hendak menyalami Chaira
" Baik. Bagaimana kabarmu?" jawab Chaira sambil menyalami Febby
"Seperti yang kau lihat,,, aku sudah jadi ibu" sahutnya sembari menunjuk Mike
"Duduklah bersama kami Chai,,, kami ingin bicara denganmu" tukas mama
Chaira menurut dan segera duduk di salah satu sofa yang tepat menghadap Darren
"Aku ingin kamu dengarkan baik baik tiap perkataanku. Aku ingin kamu bisa memahami semua perkataanku." Darren mulai bicara
Chaira tertegun mendengarnya.
"Ada apa sebenarnya?" batinnya
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen yaaaaa
Terima kasih 😍