
Selamat membaca 🌹
Maaf banyak typo 🙏
🌹🌹
"Keponakan??" tanya Rayya memandang ke arah Darren.
"Iya nak. Maafkan ayah karena semestinya tidak begini pertemuan kalian. Tapi karena Rayya sudah di sini,,, Ya sudah sekalian saja ayah perkenalkan kalian. Ini om Adi Saswita. Saudara dari abi Ray." kata Darren.
"Alhamdulillah akhirnya Rayya ketemu juga dengan saudara abi. Assalamualaikum om. Ini Rayya. Om apa kabar??" si cantik sangat senang.
"Halo Rayya. Om baik baik saja. Lama ya kita tidak jumpa. Kamu sudah sebesar ini..Dulu kamu masih sering digendong gendong sama abimu." senyum yang dipaksakan tampak di wajah Adi dan Darren bisa melihatnya dengan jelas.
"Iya om,,, Terima kasih masih mengingat hal itu. Itu hal manis yang tidak pernah bisa Rayya lupa dari sosok abi." ucap Rayya sendu.
"Mmm tapi ini siapa om??" tanya Rayya menunjuk Karin.
"Oh ya hampir lupa. Ini Karina Saswita. Putri om satu satunya. Bisa dibilang dia ini sepupu kamu satu satunya juga. Ayo Karin,,,Sapa dulu saudarimu ini." titah Adi.
Darren hampir tak ingin melewatkan apa pun yang bisa dilihatnya dari wajah dan gerakan Adi.
"Ha,,Halo Rayya." Karin gugup ditambah lagi dengan sikap Bimo yang juga tampak tidak nyaman duduk berhadapan dengannya.
"Gila,,, Kenapa musti ketemu Karin di sini sih?? Dan itu,,, sejak kapan dia berhijab? Lalu apa maksud bokapnya bilang terima kasih sama gue karena udah bikin anaknya gak mau kawin??" batin Bimo.
"Baiklah kita semua sudah saling kenal rupanya. Baguslah. Tapi sebenarnya apa hubungan kalian dengan Bimo ini??" tanya Adi membuat Bimo tergagap dan sadar dari pikirannya yang kacau sedari tadi.
Bimo hanya berharap tadi Rayya tak mendengar apa yang diucapkan oleh Adi mengenai Karin yang tidak mau menikah dengan siapa pun. Lagipula Adi tadi bicara dengan sedikit berbisik. Tapi sebenarnya walau Rayya mendengarnya juga tidak akan salah paham karena Bimo tak pernah menyembunyikan apa pun tentang Karin.
Dia hanya merasa tak nyaman saat ini karena ada Darren juga di sini yang dipikirnya belum tau hubungannya dengan Rayya.
"Bisa tau nih om Darren kalau gue ngecengin anaknya." pikir Bimo.
"Loh anda sudah kenal Bimo juga pak Adi??" tanya Darren.
__ADS_1
"Tentu saja saya kenal dengan pemuda yang,,," Adi tak melanjutkan bicaranya karena Karin menghela bahunya.
"Baiklah,,, itu tidak penting. Sebaiknya kita mulai saja pembicaraan kita ini. Mengenai saya dan mendiang Ray."ucap Adi kemudian.
Darren mengiyakan. Lalu dengan lugasnya dia menjelaskan pada Rayya kenapa dirinya bisa menemui Adi saat ini lengkap beserta rencananya ke depannya untuk Rayya.
Baik Rayya maupun Adi sudah sama sama paham ketika Darren selesai menjelaskan alasan dan tujuannya.
"Baiklah saya rasa cukup pertemuan kita hari ini. Saya bersedia menjadi wali nikah Rayya nantinya. Bagaimana pun dia adalah keponakan saya satu satunya. Mendiang Ray akan sangat senang jika saya melakukan ini untuknya. Begitu bukan Rayya??" Adi tersenyum pada Rayya.
"Iya om. Abi pasti sangat berterima kasih pada om. Rayya di sini juga cuma bisa mengucapkan terima kasoh banyak pada om sudah mau mengakui dan menerima Rayya sebagai keponakan om." Rayya bersyukur sekali.
Darren tersenyum saja melihat senyum licik dan penuh tipu daya yang diberikan Adi pada Rayya. Rayya mungkin bisa tertipu tapi tidak dengan dirinya.
Darren berdiri dari duduknya menyusul Adi yang memberinya isyarat untuk mendekatinya.
"Syarat yang ku ajukan bisa kita bahas saat ini atau lain kali saja??" tanya Adi.
"Bagaimana pun aku sebenarnya tak ingin keponakanku itu tau bahwa omnya ini tidak tulus membantunya." Adi tersenyum licik.
"Baiklah,,, Akan ku pikirkan baik baik syarat yang akan ku ajukan nantinya. Dan akan ku kabari lagi." Adi senang.
"Karin kamu mau ikut pulang atau masih ingin bersama mereka??" tanya Adi.
"Karin ikut pulang saja." jawab Karin tak bersemangat.
Wajah Karin memang sudah berubah sedari tadi setiap kali Adi menyebut nama Ray. Setiap Adi bersikap manis pada Rayya. Setiap Karin memperhatikan Bimo.
Itu semua tidak luput dari perhatian Darren dan membuatnya makin penasaran ada apa sebenarnya. Pertemuan mereka hari itu berlangsung tidak lama dan mereka menjadwalkan adanya pertemuan kedua dua hari lagi.
Setelah Adi dan Karin pergi,,, Darren mengajak Rayya dan Bimo pulang ke hotel dan bicara di kamarnya.
"Karena ayah tau hubunganmu dengan Bimo,,, karenanya ayah rasa ayah harus sesegera mungkin mencari wali nikahmu nak." Darren membuka pembahasan.
Rayya hanya mengangguk mengerti namun Bimo salah tingkah.
__ADS_1
"Jadi om sudah tau??" tanya Bimo.
Darren tersenyum melihat ke arah Bimo lalu ke arah Rayya.
"Tidak ada yang bisa putri cantikku ini sembunyikan dariku Bimo." jawab Darren.
"Om,,, Bimo minta maaf ya. Bukan maksud Bimo bohong atau menipu om selama ini. Tapi Bimo hanya menuruti kemauan Rayya." Bimo menjelaskan.
"Om tau dan om tidak permasalahkan itu. Yang ada om berterima kasih sama kamu karena Kamu bisa menjaga diri dan hatimu tetap untuk Rayya seorang meskindia tidak ada di sisimu. Setidaknya dari sana kamu membuktikan pada om bahwa kamu layak untuk Rayya." ucap Darren.
"Jadi ini maksudnya om merestui saya dan Rayya??" tanya Bimo dengan wajah berbinar membuat Rayya jadi malu malu kucing di depan ayahnya.
"Tentu saja om merestui kalian. Karenanya om sudah carikan wali nikah untuk kalian. Om ingin kalian segera menikah. Secepatnya,,," kata Darren.
Baik Rayya dan Bimo sedikit terkejut dengan kata secepatnya itu karena bukan itu tujuan atau rencana mereka.
"Tapi ayah,,, Rayya baru saja tamat dan belum mulai berbuat sesuatu. Rayya belum,,,"
"Ayah sakit nak. Ayah tidak tau sampai kapan ayah bisa bertahan. Karenanya ayah ingin kalian mempercepat pernikahan kalian kalau memang kalian sudah saling yakin dan menanti selama ini. Tidak baik berlama lama menjalin hubungan nak. Takut jadi fitnah malahan."
"Ayah sakit apa?? Kenapa ayah berkata tidak tau sampai kapan bisa bertahan??" Rayya bertanya dengan suara Yang hampir tertelan karena rasa takut kehilangan Darren tiba tiba menderanya.
Rayya tak siap kehilangan sosok ayah yang begitu memahaminya itu.
"Leukimia stadium dua nak."
Tangis Rayya pecah. Dia sangat menyesal kenapa selalu mengabaikan kondisi tubuh ayahnya yang bisa dirasakannya semakin mengurus tiap kali dia memeluknya. Rayya kesal pada diri sendiri kenapa dia bisa tidak pernah membahasnya dengan ayahnya sampai akhirnya penyakit ayahnya sudah stadium dua.
"Kenapa ayah tidak pernah bilang??"
"Karena ayah tidak ingin anak anak ayah lemah mendengarnya. Ayah butuh kalian untuk menjadi lebih kuat dari ayah."
"Ayah." Rayya tak tahan lagi untuk tidak memeluk Darren.
🌹🌹🌹
__ADS_1
Terima kasih atas vote, like dan komennya ❤️