BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S Part 122


__ADS_3

Happy reading ❀️


Maaf typonya banyak πŸ˜€πŸ™


🌸🌸🌸


Acara kumpul keluarga yang semula dikira akan menjadi acara hangat itu malah dipenuhi emosi dan airmata.


"Apa benar kamu yang mendalangi kecelakaan itu Adi??" Darren yang sudah bisa menguasai kembali diri dan emosinya bertanya kepada Adi.


"Dengar ya,, Aku sama sekali tak berniat mencelakai jandamu itu!! Aku hanya menargetkan Ray saja. Aku ingin Ray lenyap karena aku mau jadi satu satunya penguasa." jawab Adi dengan berapi api.


"Tapi setelah ku pikir pikir,, bagus sih kalau akhirnya jandamu itu juga tamat riwayatnya. Dia tak lagi jadi batu sandunganku lagi untuk mendapat seluruh kuasa atas harta Ray dan keluargaku. Sayangnya anak laki laki kalian ini sekarang malah mendapatkan semuanya." lanjutnya.


Levi sudah mau maju menjotos wajah Adi yang sama sekali tak menunjukkan bahwa dia menyesal atas perbuatannya itu. Tapi Darren mencegahnya.


"Jangan nak,,, Emosi tidak menyelesaikan masalah." ucap Darren.


"Tapi ayah,,, pria ini secara tidak langsung yang sudah membuat ayah berpisah dengan bunda." Levi tidak terima sekali dengan perkataan Adi tadi.


"Ayah tau,,, tapi dengan kamu memukulnya tidak akan membuat bunda kembali pada ayah kan? Nak,,, ayah berpisah dengan bunda karena kesalahan ayah dan bunda meninggal karena memang takdirNYA." Darren begitu sabar menasehati.


Hati Levi pun luluh dengan ucapan halus ayahnya itu. Dia begitu menghormati ayahnya dan tau betul bahwa ayahnya orang berhati baik dan tidak pendendam


"Kamu dengar itu kan Levi??? Bahkan ayahmu saja pasrah. Bukan salahku jika ibumu ikut jadi korban kecelakaan itu. Itu hanya nasibnya saja yang buruk karena menjadi istri Ray!!!" ketus Adi.


"Papa!!! Cukup! Istighfar pa,,," Karin tak tahan lagi untuk berdiam diri.


"Diam kamu anak sialan. Seberapa besar papa menyayangi dan berusaha membuatmu bahagia tapi kamu malah membocorkan rahasia besar papa selama ini!! Aku tidak suka punya anak berhati lemah sepertimu!!!"

__ADS_1


"Astaghfirullah,,, Papa,,,"Airmata Karin kembali mengalir membasahi pipi putihnya.


"Sekarang kalian semua sudah tau kan fakta mengenai aku,,, Aku orang yang sudah memberi Ray minuman berisi obat tidur hingga itu membuat dia mengantuk di jalan dan mengalami kecelakaan itu. Iya,,,Aku orangnya!!! Tapi kalian bisa apa??? Mau melaporkanku?? Apa kalian punya bukti??" Adi tertawa menyeringai dan terlihat jahat sekali.


"Om,,," Rayya bersuara.


"Hai keponakanku,,,kamu sudah pikirkan jawabanmu untuk syarat keduaku?? Meski Karin itu tidak berguna jadi anak tapi aku tetap tak bisa begitu saja membiarkannya hidup dalam bayang bayang priamu itu. Jadi Rayya sayang,,, Kamu mau kan membagi apa yang jadi milikmu untuk Karin juga?? Jangan buat seumur hidupnya Karin hidup dengan kebencian seperti aku benci Ray!!!"


"Om,,,masih belum terlambat untuk om bertobat. Berubah ya om,,, demi semua yang menyayangi om. Karin,,, mendiang tante,,, mendiang abi,,,dan juga Rayya. Kami semua,,,keluarga om,,, akan sangat bahagia jika om mau bertobat." Rayya tak menjawab apakah dirinya menerima syarat itu atau tidak.


"Malah ceramah nih bocah,,,!! Gak anak gak ayah gak ibu semua suka ceramahi orang. Ingat ya Rayya,,,kalau kamu tidak mau menuruti syarat keduaku itu maka aku tidak akan mau jadi walimu. Silahkan pikirkan baik baik,," Adi mengancam Rayya.


Rayya tertunduk lesu dan itu membuat Adi makin yakin bahwa Rayya pasti akan menyerah begitu saja pada syarat keduanya.


Pandangannya berasa kabur karena matanya dipenuhi airmata. Bimo mendekatinya dan menyentuh bahunya.


"Bukan abang tidak mau mengerti bagaimana posisimu,,, tapi abang ingin kamu memantapkan hatimu dulu. Kita bisa tunda pernikahan kita dulu." ucap Bimo.


"Stop!! Jangan banyak bicara lagi!!!" suara yang tiba tiba terdengar keras itu membuat semua yang ada dalam ruangan itu menoleh ke arah pemiliknya.


Dion berdiri dengan gagahnya ditemani beberapa orang berseragam polisi lokal. Tentu semua bingung kecuali Darren yang memang sudah tau Dion akan datang. Tapi sebenarnya dia juga bingung kenapa Dion membawa polisi juga bersamanya.


"Arrest him." Dion menunjuk Adi.


Dua orang polisi langsung maju dan menghampiri Adi yang bingung.


"Siapa kamu main datang ke rumahku dan suruh orang menangkapku?" tanya Adi.


"Sudah saatnya anda mempertanggungjawabkan perbuatan anda tuan Adi Saswita. Semua bukti kejahatan anda ada di sini." seseorang kembali muncul dan kali ini membuat Adi tak bisa berkata kata lagi.

__ADS_1


Orang itu adalah asisten daripada pengacara yang dicelakai oleh Adi. Rupanya selama ini Adi menjadi buron sejak dia memutuskan untuk pindah ke Paris. Berbekal dengan paspor palsu dan surat surat palsunya,,,Adi bisa meninggalkan Indonesia dan membawa serta Karin.


"Please go with us. Do not try to escape." ucap salah satu polisi.


"Rin,,, kamu harus bisa bebasin papa!!" teriak Adi pada Karin yang hanya bisa melepas papanya dibawa polisi.


Karin hanya terduduk lemas di sofa sambil menutup wajahnya.


"Maafkan Karin pa,, Bukan Karin tidak mau membantu papa tapi papa memang harus bertanggung jawab untuk semua perbuatan papa." batinnya.


Dion melihat ke arahnya saat Karin mengangkat wajahnya. Karin hanya balas anggukan saat Dion lebih dulu mengangguk.


"Bro,,,ini bagaimana ceritanya kok bisa ada polisi?" tanya Darren membuat Dion langsung membuang pandangannya dari Karin.


"Adi itu bukan hanya dalang dari kecelakaan Ray Dare,,, Tapi dia juga buronan atas kasus kecelakaan pengacara Ray yang dulu menemui lo. Motifnya karena kesal pengacara itu tidak mau mengubah isi wasiat Ray. Lagi lagi urusan harta." Dion menjelaskan.


"Kamu yakin??" tanya Darren.


"Sumber beritaku sudah sangat akurat. Lo kayak gak paham cara kerja gue selama ini saja." sungut Dion.


"Ya ya,,, tapi sekarang bagaimana dengan Rayya,,,?? Dia terlihat terpukul. Ujian pranikahnya lumayan berat baginya." Darren melihat ke arah Rayya yang tengah bicara dengan Bimo.


"Rayya gadis lo yang cerdas, kuat, sabar. Lo gak perlu khawatirkan dia. Gue rasa lo lebih paham bagaimana membuat perasaannya membaik. Lo kan bukan hanya ayahnya,, tapi lo juga bundanya,, dan segalanya baginya." Ucap Dion.


Darren mengangguk lalu menghampiri Rayya dan Bimo. Meninggalkan Dion yang masih berdiri mematung menatap Karin.


"Dia berbeda,,," batin Dion.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Terima kasih atas vote, like dan komennya 🌸


__ADS_2