BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
Restu #2


__ADS_3

Usai acara makan keluarga dan perkenalan mama papa dengan Chaira aku memgantarnya pulang. Sebenarnya kami semua ingin segera saja menemui ibunya namun Chaira menolak halus.


"Chaira mohon ijin untuk menyampaikan hal ini terlebih dulu pada umi. Bagaimana pun juga umi bukan orang yang biasa berhadapan dengan banyak orang apalagi tiba tiba seperti ini. Izinkan Chaira yang menyampaikannya pelan pelan om,, tante" tukas Chaira seraya memandang kami bertiga bergantian


"iya nak kami mengerti. Kami akan bersabar menunggu kabar baik darimu" mama memeluk lembut Chaira yang mengangguk sopan


Usai berpamitan pada mama papa aku sendiri yang mengantarkan Chaira pulang. Dion dan Angga menebeng mobil papa yang mengantar mereka pulang sekalian ingin bertemu membicarakan bisnis baru pada orang tua mereka.


Seperti biasa Chaira memintaku menghentikan mobil di ujung belokan rumahnya dan aku menurutinya.


"hati hati Chai,,, " pesanku pada bidadariku itu


Chaira mengangguk dan seperti biasa mengucapkan salam yang segera ku jawab. Aku menunggu dan memastikan melihat dia memasuki rumahnya dulu baru beranjak dari sana.


"Ada yang ingin Chaira sampaikan pada umi" suara Chaira pelan saat menghampiri uminya yang sedang merajut syal.


"ada apa nak?" sahut umi sembari meletakkan alat rajut yang dipegangnya di pangkuannya


"Ada seorang pria yang melamar Chaira umi" Chaira berhenti sejenak


Umi menatapnya dengan pandangan menyelidik.


"siapa nak? apa kamu mengenalnya?" tanya umi


"namanya Darren umi,, dia teman kuliah Chai,,, kami sudah hampir 3 bulan ini saling mengenal. Tapi demi Allah Chai tidak berpacarannya dengannya umi. Chai selalu ingat pesan umi. Hari ini dia menyatakan perasaannya pada Chai,,, " Chaira diam lagi


"dan?? apa jawabanmu nak?" umi mengangkat dagu putrinya yang tertunduk malu


"Chai menerimanya dengan syarat Chai tidak mau untuk diajak pacaran umi,,, Darren setuju dan langsung membawa Chai menemui kedua orang tuanya yang ternyata juga menyetujui rencana kami. Tapi Chai tidak akan melanjutkan semua ini jika umi tidak setuju" Chaira menggenggam jemari umi erat


Umi menatap putri semata wayang yang dibesarkannya seorang diri itu. Dalam hatinya ada perasaan berat melepaskan putrinya itu namun dia juga tidak boleh egois menahan putrinya agar tetap bersamanya.


"Apa pria itu sudah melihat wajahmu?" tanya umi seraya mengelus pipi bercadar itu. Chaira menggeleng pelan.

__ADS_1


"Apa kamu yakin dia bisa menerimamu setelah melihat semua yang ada dibalik hijabmu ini nak?" tanya umi lagi


Chaira tertegun sejenak. Kemudian mengangguk pasti.


Umi tersenyum dan mencium kening putrinya.


"maka tidak ada lagi alasan bagi umi melarangmu memberikan semua yang kamu miliki untuk calon imammu itu. Umi ridho melepasmu dan mempercayakanmu padanya.Tapi kamu harus ingat bahwa kamu masih punya abi yang harus kamu temui juga nak" umi mengingatkan


"Terima kasih umi,,, Chaira dan Darren akan berusaha mencari abi" sahutnya bahagia seraya mencium tangan umi yang balas mengelus kepala putrinya itu.


Aku dan kedua orang tuaku menyambut gembira kabar yang diberikan Chaira tentang ibunya yang menyetujui hubungan kami. Mama yang sangat bersemangat segera berbelanja berbagai kebutuhan yang diperlukan untuk prosesi lamaran nantinya. Papa yang tak kalah bahagia pun sudah mulai mengatur ulang jadwalnya agar bisa untuk tidak terlalu sibuk dihari yang sudah ditentukan itu.


Persiapan penyambutan juga diadakan di kediaman Chaira. Uminya memesan beberapa kue kue untuk jamuan para tamu yang hadir nanti.


Sementara aku dan Chaira,,,


Mobilku terhenti di halaman sebuah rumah petak yang ukurannya tak lebih besar dari rumah yang ditempati Chaira. Aku memutuskan turun untuk bertanya kepada pria beruban yang duduk di teras rumah itu. Chaira turun dan mengikutiku.


"Permisi pak,,, apa benar ini rumah pak Dahlan?" tanyaku


"kalian cari siapa?" tanya wanita itu


"maaf bu,,, kami mencari pak Dahlan" kali ini Chaira yang menjawab. Dari tadi dia menatap pria tua itu dan berusaha mengingat kenangan terakhir wajah abinya 20 tahun silam. Wajar saja dia tak bisa mengingatnya apalagi dia tak memiliki selembar pun foto abinya.


"saya Dahlan,,, anak berdua ini siapa ya" pria itu bersuara juga akhirnya


Chaira langsung mengambil jemari pria itu lalu menciumi tangannya. Pria dan wanita itu semakin keheranan.


"Abi,,, ini Chaira. putri abi" suara Chaira tertahan karena airmatanya duluan mengalir


"Cha,,, Ch,,, Chairaaaa?? anak abi??? Masyaallah naaakkk abi rindu sekali." abi langsung memeluknya erat.


Ku biarkan sejenak keduanya berpelukan dan menangis melepas kerinduannya. Mataku lebih memperhatikan wanita disebelah abi yang matanya terus memandangi mobil mewahku.

__ADS_1


"kamu sudah besar nak,,, matamu sama seperti mata umimu,,,, "


"eehhheeemmm"


Suara abi tertahan mendengar seseorang berdehem.


"oh ya nak,,, kenalkan ini ibumu,,, wati" abi mengenalkan wanita itu sebagai ibu kepada Chaira yang langsung mencium tangannya.


"Bu,, ini Chaira putriku" tukas abi yang hanya dijawab dengan anggukan oleh bu wati


Bu wati mengajak kami masuk ke dalam rumahnya yang sempit. Ternyata rumor yang selama ini beredar tentang abi dan istri barunya tidaklah benar. Kehidupan abi dan bu wati tak jauh berbeda dengan kehidupan Chaira dan umi.


Selesai berbasa basi kami menyampaikan tujuan awal kami mendatangi rumah abi. Bu wati yang ikut mendengarkan tampak tidak suka melihat Chaira yang begitu beruntung mendapatkan calon suami kaya raya seperti aku. Berbeda sekali dengan nasib putrinya Rosa yang harus bekerja keras setelah tamat SMA untuk membiayai kebutuhan hidup mereka. Abi tidak lagi sekuat dulu bekerja. Beliau sering sakit sakitan.


"Abi dan bu wati pasti akan menghadiri acara lamaranmu nak" janji abi yang melirik meminta persetujuan pada bu wati. Bu wati hanya mengangguk malas. Dia malas membayangkan harus bertemu umi,, wanita yang telah dilukainya itu.


Setelah cukup lama dan semua sudah disampaikan,,, kami mohon pamit. Saat keluar di halaman kami bertemu putri sulung Bu wati. Abi mengenalkannya pada kami. Rosa menerima perkenalan itu dengan wajah tidak ramah. Perempuan itu lumayan cantik namun kurang terawat. Postur tubuhnya yang tinggi ramping sebenarnya sangat cocok untuk dijadikan model. Hanya saja keberuntungan nampaknya tidak terlalu berpihak pada gadis itu.


Kami segera berpamitan dan membawa mobil kami meningalkan rumah itu.


"Enak sekali anakmu itu bisa dapat suami kaya raya,,,, beda sama Rosa yang harus banting tulang demi bisa membuatmu tetap makan!!!! " suara wati keras terdengar hingga keluar


Pak Dahlan hanya diam dan menelan ludahnya. Dia tak mampu menjawab perkataan pedas istrinya itu. Rasa bahagia bertemu Chaira hari ini cukup membuat hatinya tenang. Dia memilih untuk tidak terlalu mengambil hati atas ucapan istrinya itu.


"Rosa,,, kalau kamu mau,,, kamu bisa mencoba meminta tolong pada Chaira untuk mencarikanmu pekerjaan yang lebih layak" kata pak Dahlan pada Rosa yang sedang duduk melipat baju


"apa dia mau bantu Rosa?" tanyanya


"Chaira anak yang baik,, dia tidak akan membiarkan saudaranya kesusahan nak" ujar pak Dahlan


"Baiklah aku akan mencoba meminta bantuannya" Rosa berbinar


Rosa sebenarnya gadis yang baik. Hanya saja Wati sering mencekokinya dengan hal hal buruk. Wati sering mendandaninya seseksi mungkin agar bisa menarik perhatian pria kaya. Lalu Wati akan mengambil sedikit keuntungan dari pria kaya itu. Seperti halnya saat ini saat dia mendengar Dahlan menyuruh Rosa meminta bantuan pada Chaira. Wati sudah punya akal licik yang sekiranya akan menguntungkan dirinya

__ADS_1


Jangan lupa vote, komen dan like nya yaaaa,,,


Terima kasih 😍


__ADS_2