
Selamat membaca 🌹
Maaf banyak typo 🙏
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌹🌹
"Saya sungguh minta maaf atas nama putra saya pak Darren." pak Agung tertunduk lesu di hadapan Darren yang siang itu mengunjungi kantornya untuk urusan bisnis.
Meski enggan menemuinya karena merasa sangat malu namun pak Agung akhirnya tetap dengan besar hati menerima apa pun konsekuensinya. Beliau dengan sehala kerendahan hatinya akhirnya menemui Darren.
"Kalau kita bicarakan ini hati ke hati,,, Maka saya maafkan semuanya pak Agung. Tapi saya mohon maaf karena ini bukan hanya masalah hati dan menyangkut nyawa putra saya,,, Maka saya ingin pak Agung tidak menghalangi atau pun bertindak di luar aturan hukum yang berlaku. Anda mengerti kan?" tanya Darren tegas.
"Saya mengerti pak. Saya tidak akan mempersulit atau pun berusaha membebaskan putra saya karena tanpa anda minta pun saya paham bahwa putra saya sudah kelewatan. Dia harus dihukum dan kali ini biar hukum negara yang berbicara karena hukuman dari saya sudah tidak ada gunanya. Saya sudah gagal mendidiknya." pak Agung bicara dengan hati penuh kecewa pada Bobi.
"Seandainya bukan putra saya yang dicelakai oleh Bobi,,,Apa pak Agung juga akan berlaku demikian??" tanya Darren pelan namun menusuk.
Pak Agung salah tingkah dibuatnya. Sejujurnya memang beliau berlaku demikian karena takut Darren akan memutuskan kerjasama antar perusahaan yang selama ini mendatangkan banyak profit bagi perusahaannya.
Meski dalam hatinya beliau juga kesal akan ulah Bobi namun kenyataannya selama ini beliau selalu tidak bisa berbuat apa apa jika istrinya sudah membereskan segala urusan Bobi.
Dan kini di depan Darren,,, Pak Agung gelisah takut menjawab.
"Baiklah pak Agung,,, Diam anda menjawab pertanyaan saya. Saya mengerti. Anda berlaku demikian hanya karena anda takut saya meninggalkan perusahaan anda bukan?" tanya Darren lagi.
__ADS_1
Pertanyaan itu membuat pak Agung semakin gugup.
"Dengarkan saya,,, Saya tidak akan membawa bawa urusan pribadi seperti ini ke dalam urusan bisnis. Bukankah sudah saya katakan bahwa secara hati ke hati saya memaafkan Bobi,,, Itu artinya tidak ada yang bersifat pribadi di sini. Jadi anda tidak perlu takut saya melakukan hal yang bersifat menyerang anda secara pribadi juga." kata Darren kemudian.
Pak Agung bernapas lega. Detakan jantungnya semakin teratur. Keringat dingin yang sedari tadi mulai bermunculan di dahinya perlahan lahan disekanya dengan punggung tangannya.
"Saya memilih tetap membawa ini ke proses hukum hanya karena saya ingin memberikan efek jera pada Bobi. Agar kelak dia bisa lebih berpikir sebelum bertindak. Cukup putra saya yang hampir jadi korban dari tindakan dan cara berpikirnya yang tidak jernih,, Jangan sampai orang lain juga jadi korbannya." lanjut Darren.
"Jadi tolong sampaikan pada istri anda,,, Saya tetap bermaksud baik meski mungkin caranya terlihat tidak baik bagi keluarga anda." tandasnya.
"Saya sungguh sungguh minta maaf sekaligus berterima kasih pada anda atas kebaikan hati anda pak Darren." pak Agung kembali menangkupkan sepuluh jarinya di depan dadanya.
"Sama sama pak Agung. Tapi pesan saya,,, pada anda dan istri khususnya,,, Jangan karena saya beruang dan punya kedudukan makanya kalian memperlakukan saya seperti ini. Kalau kasus seperti ini terulang lagi pada orang lain yang bukan orang kaya,,, Tetaplah taat pada hukum jika memang terbukti putra kita yang bersalah. Saya permisi kalau begitu,,," Darren beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan itu.
"Baik pak." pak Agung sangat susah menelan ludahnya sendiri mendengar ucapan Darren yang itu.
Ruangan yang ber AC ini tumben tidak bisa mendinginkan dirinya. Berhadapan dengan Darren yang makin hari makin berwibawa membuat nyalinya ciut apalagi ditambah dengan kesalahan besar yang diperbuat oleh Bobi.
"Anak sialan,,, Buat jantungku hampir berhenti." gerutunya.
🌹🌹🌹
"Jadi pak Darren memaafkan Bobi??" bu Maria terbelalak dengan wajah riangnya.
"Iya tapi mama jangan coba coba berpikir bahwa demgan begitu Bobi bisa bebas dari penjara. Bobi akan tetap mendekam di penjara sesuai dengan aturan hukum yang berlaku." ketus pak Agung yang sudah paham dengan isi pikiran istrinya.
__ADS_1
Dan benar saja,,, Raut wajah bu Maria kembali berubah tidak senang.
"Ya kalau gitu gak usah sok sok'an bilang memaafkan." gerutu bu Maria.
"Hmmm,,, Mama ini masih saja merasa disini Bobilah korbannya. Mama buka mata mama,,, Sadari bahwa putra kita yang salah dan dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya itu. Papa ini malu sama pak Darren,,," kata Pak Agung.
Dengan gamblang pak Agung menceritakan dan menyampaikan segala obrolannya dengan Darren siang tadi di kantornya. Bu Maria mendengarkan dengan wajah tidak sukanya terutama saat pak Agung menyampaikan pesan Darren untuknya.
"Kenapa memangnya harus malu,,,??? Siapa juga Darren itu yang berpikir dirinya bisa menasehatiku?? Papa juga,,, Harusnya papa itu berpikir dan ingat bahwa Bobi adalah putra kita satu satunya. Salah benar ya dia tetap putra kita yang harus kita lindungi. Apa pun yang dilakukan oleh Bobi,,,Sebagai orang tuanya kita wajib membantu dia keluar dari masalah ini." ketus bu Maria.
"Membantu keluar juga bukan dengan cara membebaskan dia dari segala tuntutan ma,,, Mama sadar dong kita ini sudah gagal dalam mendidik Bobi sampai anak itu tidak tau batasan antara mana yang baik dan buruk." jelas pak Agung.
"Pokoknya mama tidak terima Bobi disalahkan dan dipenjara seperti ini." ketus bu Maria.
"Percuma aku bicara panjang lebar denganmu Maria!!! Kamu membuat kesabaranku habis. Selama ini aku selalu mengalah dan akhirnya aku sadar bahwa aku pun salah membiarkanmu selalu membebaskan Bobi dari segala masalahnya. Aku muak denganmu yang selalu membenarkan semua ulah Bobi. Meski dia anak tunggalku tapi kalau dia dan kamu tidak bisa diajak untuk berlaku benar,,,Aku tidak takut kehilangan kalian." suara pak Agung meninggi.
"Apa maksud papa??" bu Maria terkejut dengan perkataan pak Agung.
"Aku sudah nyerah dan tidak tau bagaimana cara mendidik kalian lagi. Karenanya aku putuskan,,,Kita cerai. Aku tidak bisa lagi melanjutkan pernikahan kita yang selalu kau dominasi. Aku tidak bisa juga punya istri yang tidak bisa membedakan yang mana yang benar dan salah." pak Agung tersengal sengal saking emosinya.
"Gila kamu Agung,,,Sudah tua juga masih main cerai. Ok kalau begitu aku minta pembagian harta gono gini,,," bu Maria kesal.
"Ambil semaumu!!!" sahut pak Agung tak kalah kesal.
"Dasar tua bangka tidak tau diri. Sudah bagus selama ini aku mendampinginya eh malah sekarang aku diceraikan." sungut bu Maria.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=
Terima kasih atas vote, like dan komennya 🌹