
Perusahaan maju pesat dibawah kepemimpinanku dan Dion. Angga yang juga telah kembali dari luar negeri memutuskan bergabung juga dengan kami. Kami bertiga berusaha semaksimal mungkin memajukan perusahaan.
"Papa bangga sama kamu nak,,," ujar papa yang terbaring lemah di kamarnya.
Aku genggam tangan lemahnya. Aku merasa sedih melihat papa yang makin hari makin melemah saja kondisinya. Hampir 3 bulan kondisi papa memburuk. Hal itu disebabkan oleh penyakit kronis yang dideritanya. Selama ini kami sudah berupaya mencari pengobatan terbaik untuk papa tapi sejak sebulan terakhir papa menolak. Dia hanya meminta untuk dirawat dirumah saja.
Aku dan Chaira memutuskan tinggal dirumah mama sejak kondisi papa seperti itu. Aku tak ingin melewatkan perkembangan kondisi papa tiap harinya. Umi pernah beberapa kali datang menjenguk papa namun tidak pernah menginap.
Mengenai hubunganku dengan Chaira,,,
Setahun berlalu sejak kami pindah kerumah baru semua kembali normal. Chaira tetap menjadi istri terbaikku walau dia semakin disibukkan dengan berbagai pesanan baju dari para pelanggan yang suka dan cocok dengan gaun rancangannya. Rosa yang sudah menikah dengan Toni tetap menjaga hubungan baik dengan kami. Chaira pun mewujudkan keinganannya yang tertunda yaitu menjadikan Rosa sebagai modelnya. Toni yang sama sekali tak keberatan pun sering banyak membantu dengan mengasuh bayi mereka dirumah. Toni bukan lulusan sekolah tinggi jadi agak sulit baginya mendapatkan pekerjaan.
Dan aku,,,, Tak mau kalah dengan Chaira,,, aku tetap berusaha menjadi suami terbaik untuknya. Walau sering bertemu Rosa dirumah tapi kami tak pernah merasa kikuk atau memliki perasaan apa pun. Kami sepakat untuk tidak pernah lagi mengungkit hal buruk yang sudah berlalu.
Bu Wati telah meninggal beberapa bulan lalu akibat sebuah kecelakaan yang menimpanya. Sejak saat itu Chaira sendiri yang meminta Rosa dan Toni serta anaknya agar menempati rumah lama kami saja bersama umi juga.
Yaaa,,, begitulah hubungan antar keluarga yang terjalin diantara kami. Tak pernah satu pun dari kami bicara atau mengungkit masa lalu. Kami saling menyemangati,,, mendukung dan membantu. Hingga suatu hari keluarga kami kembali diterpa musibah. Aku harus merelakan kepergian papa sebelum kami bisa mewujudkan keinginannya.
Hampir tiap hari aku mengunjungi makam papa yang dekat dengan komplek perumahanku. Sejak papa meninggal mama memutuskan untuk tinggal bersama kami agar tak merasa kesepian. Awalnya mama meminta kami yang tinggal bersamanya dirumah mama tapi Chaira menolak dengan alasan semua pelanggannya terlanjur tau alamat kami. Mama memaklumi dan akhirnya mengalah.
"Ayo sayang kita pulang,,, biarkan papa beristirahat dengan tenang" Chaira membujukku yang hari itu masih terdiam di depan pusara papa.
"bagaimana mungkin papa bisa tenang jika permintaan terakhirnya pun hingga kini belum bisa kita wujudkan" lirihku
Chaira terdiam. Dalam hatinya dia merasa bersalah.
"Maafkan aku sayang,,, a,, aku,,, aku,, " Chaira tak melanjutkan bicaranya karena aku memberinya isyarat untuk berhenti
"aku tak bermaksud begitu sayang,,," aku baru sadar kata kataku mungkin menyakitinya
__ADS_1
"apa pun yang terjadi kita sama sama berusaha ya,,, jangan lupa juga terus berdoa dan berserah diri kepadaNYA" ujarku tak ingin membuat istriku bersedih hati.
Chaira mengangguk.
Kami segera meninggalkan makam dan pulang.
\=\=\=\=\=\=\=
"Dare,,, Kapan kamu akan memberi papa cucu??? Papa ingin sekali menimang cucu. ingat nak,,, kamu harus segera memiliki keturunan agar kelak ada yang menggantikanmu juga. Bagaimana pun kamu pewaris tunggal papa" hampir tiap hari papa mengingatkanku akan hal itu
Kata kata itu terngiang terus di telingaku.
"Maafkan Darren pa" batinku
\=\=\=\=\=\=\=\=
Tahun ke lima pernikahan kami rumah kami masih sepi dari suara tangis bayi. Sesungguhnya aku dan Chaira sudah banyak mengunjungi dokter dan berkonsultasi dan melaksanakan program kehamilan. Namun belum satu pun berhasil. Dokter kami mengatakan jika kondisi rahim Chaira yang lemah dan keguguran yang pernah dialaminya tempo dulu mempengaruhi kemungkinan Chaira bisa segera hamil lagi. Hal yang sama juga sudah pernah disampaikan oleh dokter dokter lain yang pernah menangani Chaira.
"oh ya Chai,,, mau temani mama kerumah teman mama gak? Mama diundang teman mama yang menantunya baru saja melahirkan. Mereka beruntung sekali lho Chai baru sebulan menikah sudah hamil dan sekarang melahirkan putri cantik. Kamu kapan dong kasih mama cucu??? Keburu mama tua loh,,, " pagi ini mama mulai lagi saat kami sedang sarapan
"Mama bisa pergi sendiri saja kan? Aku tak mengijinkan Chaira meninggalkan rumah hari ini" tukasku berusaha menyelamatkan Chaira dari ajakan mama
"kamu itu ya Dare,,, mama tuh ajak Chaira biar siapa tau dia cepat ketularan, bisa cepat hamil. Sudah berapa tahun nih mama nunggu cucu" sungut mama
"ma sudah ma,,, pokoknya Darren gak ijinkan Chaira pergi" Aku segera meninggalkan mama di meja makan.
Chaira segera menyusulku dan membawakan tas ku.
"hati hati ya sayang" pesannya
__ADS_1
"Jangan ambil hati ucapan mama ya sayang" balasku
"iya sayang,,, Chai paham mama tak bermaksud apa apa" Chaira menjawab lembut
Ku lambaikan tanganku pada istriku saat taksi yang menjemputku mulai berjalan. Chaira segera masuk kedalam rumah.
"Chai,,," panggil mama
"ada apa ma?" tanya Chaira sopan
Mama kemudian menyuruhnya duduk disampingnya.
"Mama ingin minta maaf padamu,,, Mama tak bermaksud menyindir atau menyakiti hatimu nak. Kamu sudah sangat baik pada mama. Hanya saja mama ingin sekali punya cucu. bahkan jauh sebelum papa meninggal kami sudah sangat menginginkannya. Papa sudah keburu pergi sebelum kesampaian gendong cucu,,, "mama mulai menangis
" Ma,,, tidak perlu meminta maaf. Chai tak pernah berpikir bahwa mama sedang menyindir karena apa yang mama katakan itu adalah benar. Seharusnya Chai yang meminta maaf ma,,, Chaira juga ingin segera bisa hamil lagi dan memberi mama cucu,,, Tapi usaha Chai belum juga berhasil ma. Chai mohon mama bersabar ya ma,,, " Chaira mulai ikut menangis
"Mama tau nak,, tapi mama takut akan seperti papa,,, meninggal sebelum melihat cucunya. Kasihan papamu nak,,,, " tangis mama semakin menjadi
"Ma,,, beritahu Chaira,,, chaira harus bagaimana? Chai tidak bisa melihat mama terus bersedih seperti ini,,," Chaira merasa serba salah
Mama menatapnya dalam dalam. Dalam hatinya mama juga paham bahwa Chaira pasti jauh lebih bersedih daripada dirinya. Mama juga paham Chaira menantunya ini juga sudah berusaha keras agar bisa cepat memberinya keturunan. Mama kembali ingat seberapa besar perjuangan menantunya itu selama menjadi istri Darren. Wanita itu masih tetap berada disisi putranya,,, menerima dan mencintai putranya walau putranya telah begitu menyakitinya. Ada segelintir rasa bersalah di hati mama telah beberapa kali mengatakan hal yang mungkin menyakiti hati menantunya itu.
" Maafkan mama ya nak,,, tak seharusnya mama terlalu menuntutmu dan membuatmu merasa bersalah. Seharusnya mama terus mendukungmu dan mendoakanmu." Dipeluknya menantunya itu dengan erat.
"Mama doakan kalian bisa segera punya momongan ya" ujarnya lagi
"Terima kasih ma" Chaira membalas pelukan mama
" Aku tidak bisa melihat mama terus seperti ini. Aku tak ingin mama sampai mengalami hal yang sama seperti papa. Aku harus melakukan sesuatu" batin Chaira
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen yaaaa
Terima kasih 😍