
"Ibu kandungannya dijaga ya,,,Jangan lupa minum vitamin yang saya berikan" pesan dokter.
"Terima kasih dok,,, saya suaminya akan sangat galak padanya jika dia sampai lupa meminum vitaminnya" Ray menggoda Chaira di depan dokter.
Chaira mencubit lengannya gemas. Mama juga memukul pundaknya agar menjaga sikap di depan dokter.
"Saya percaya pada bapak bahwa bapak akan menjaga baik baik istri dan calon anak bapak. Untuk itu saya juga ingin berpesan agar bapak dan ibu bisa menahan diri dulu semasa trimester pertama ya,,, boleh berhubungan tapi jangan terlalu sering dan lama. Takut mengganggu perkembangan janin pak,,,bu,,, karena kandungannya ibu masih terlalu muda dan rentan" dokter kembali berpesan.
Kali ini Chaira tak tahan untuk menahan tawanya melihat ekspresi Ray yang tampak tak terima jika harus mengurangi jadwal malamnya dengan Chaira.
Siang itu mereka mampir ke sebuah restoran yang menjadi favorit mama Ray. Mereka sedikit ingin merayakan hari bahagia ini.
"Mama harap cucu mama perempuan tapi apa pun yang tuhan berikan mama terima. Yang jelas cucu dan menantu cantik mama ini sehat semua" ucap mama sembari menggenggam jemari Chaira.
"Iya ma,,, doakan kehamilan Chaira sehat dan tanpa gangguan ya ma" Chaira balas menggenggam tangan mama.
"Gimana ma?? Ray hebat kan,, langsung jadi loh" kelakar Ray.
Chaira memukul lengan Ray. Mamanya juga gemas dengan pertanyaan putranya itu.
"Raayyy,,, aku malu!!!" sungutnya.
Ray tertawa saja dan selalu puas bisa menggoda istrinya. Mereka segera menghabiskan makanannya dan bergegas pulang .
"Ingat baik baik pesan dokter tadi ya sayang. Mama tidak mau terjadi apa apa pada cucu mama ini" ucap mama saat mereka sampai dirumah.
"Terutama kamu ya Ray,,, Jangan maksa!!!! Ingat pesan dokter tadi!!!" Mama memperingatkan Ray.
Wajah Ray kembali menunjukkan rasa tak terima.
"Ahh dokter itu tidak tau apa kalau aku masih doyan doyannya" sungutnya.
"Ngalah dulu Ray!!" sahut mama yang sempat mendengar ucapan Ray sebelum beliau menuju kamarnya.
Chaira mencubit gemas pinggang Ray.
"Aku malu tau kalau kamu seperti itu." protes Chaira.
"Biarkan saja,,, toh benar kan yang ku bilang itu sayang" Ray masih saja membela dirinya.
Chaira tersenyum mendengar rajukan manja suaminya. Dipeluknya pinggang Ray dan ditempelkannya pipinya di dada suaminya itu.
"Aku mencintaimu sayang" lirih Chaira.
Ray membalas pelukan hangat itu.
"Aku juga mencintaimu sayang" ucapnya sembari mengecup kepala istri tercintanya.
Aku mengurungkan niatku saat akan masuk ke dalam. Melihat kemesraan sepasang insan yang tengah berbahagia itu membuat hatiku menjerit.
Aku datang untuk mengantar Levi pada bundanya namun lagi lagi tuhan menghukumku karena aku harus melihat adegan mesra itu.
"Eeehhmmm,,, Assalamualaikum" Aku mengucapkan salam dan itu membuat mereka terkejut dan segera melepaskan pelukannya.
"Waalaikumsalam" jawab mereka serempak.
__ADS_1
"Apa Levi sudah makan siang Dare?" tanya Chaira yang langsung memeluk Levi yang berlari kecil ke arahnya.
"Sudah Chai,, bahkan dia habis banyak tadi makannya. Aku menyuapinya" ujarku.
"Terima kasih Dare" ucap Chaira.
"Kamu mau pergi Ray?" tanyaku berbasa basi.
"Oh ya,, aku harus ke kantor. Apa kamu masih ada perlu denganku? Tanya Ray.
" Tidak Ray,, aku hanya mengantarkan Levi saja. Aku juga harus kembali ke kantor segera. Oh ya terima kasih telah mengijinkanku membawa Levi. Aku akan datang kembali hari sabtu" ucapku.
"Pintu rumah kami terbuka untukmu Dare" sahut Ray.
Sebelum pamit aku menyempatkan diri melihat dan mencium Putri yang tengah tertidur lelap di kamarnya. Ray sendiri yang mengantarku ke kamar Putri.
Aku menjabat Ray saat berpamitan. Ku pandang Chaira yang menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya dan mengangguk sopan padaku untuk menggantikan jabat tangan.
Untuk sesaat aku terpana dan teringat pertama kalinya aku berjumpa dengannya. Dirinya persis melakukan hal seperti ini. Jika dulu hatiku terasa ingin berlompatan melihatnya seperti itu,, kali ini hatiku terasa nyeri.
Kamu semakin terasa jauh dariku sayang,,,,
"Ayo Dare" Ray yang tak ingin aku berlama lama memandang istrinya segera mengajakku pergi.
Aku segera mengangguk mengikuti langkahnya keluar rumah. Aku masuk ke mobil. Dari sana aku kembali merasa tersayat melihat Chaira yang mencium telapak dan punggung tangan Ray. Ray kemudian mengecup kening dan kepala istrinya serta mengusapnya.
Ya tuhan,,,
Aku berharap Engkau butakan saja mataku agar aku tak melihat semua itu,,,
Sesakit ini tuhan,,,
Melihat mereka saling mencium sekali saja aku sudah sangat sakit hati,, lalu bagaimana rasa sakit yang dirasakan bidadariku dulu yang tak mampu melarangku saat aku meniduri Rosa tiap malam???
Aku memacu mobilku segera meninggalkan rumah itu. Aku tak sanggup jika harus melihat adegan mesra lainnya.
Sepanjang jalan aku memukul dadaku yang sesak berkali kali. Aku berharap rasa sesaknya bisa menghilang namun semakin aku menghantamnya semakin sesak itu mendera.
Aku menghentikan mobilku di tepi jalan saat aku merasa tak sanggup lagi. Aku menundukkan wajahku di kemudi mobil. Aku menangis.
Tuhan,,
sungguh pedih balasan darimu,, aku merasa tak mampu lagi.
Aku puas puaskan menangis disana. Aku menghentikan tangisku saat ponselku berdering. Hana menelponku. Aku tak menjawabnya dan hanya melirik jam tanganku.
Sebentar lagi jadwal meetingku dengan beberapa klien. Hana pasti ingin mengingatkanku. Jika mengikuti hatiku yang masih terluka ini ingin rasanya aku terus menangis saja.
Tapi mengingat bahwa aku punya Levi dan Putri yang juga butuh kasih sayang dan kecukupan materi dariku,,,aku menghapus airmataku.
Aku harus kuat demi mereka,,, Aku menghidupkan mobilku dan kembali melaju membelah jalanan.
Ayah akan kuat sayang!!!!
Betapa pun pedih balasan tuhan untuk ayah,, Ayah akan berusaha sabar dan menerimanya. Ayah memang pantas menerimanya nak,,,
__ADS_1
Kelak jika kalian sudah dewasa,, saat kalian sudah paham apa yang terjadi,,, Ayah hanya memohon agar kalian tak membenci ayah,,
Teruntuk Levi putraku,,,
Jangan benci ayah karena ayahlah yang telah menyakiti bunda,,,
Dan untuk Putri ku,,,
Maafkan ayah yang sempat meragukanmu nak,,,
Untuk kedua anakku,, Ayah janji ayah akan berubah. Ayah memang telah gagal menjadi suami yang baik untuk bunda namun ayah akan berusaha menjadi ayah terbaik untuk kalian.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Sesampainya di kantor Hana yang langsung menyiapkan semua materi yang ku butuhkan saat meeting nanti. Dia sangat cekatan dan sangat membantuku.
Kami berdua segera menuju ruang meeting yang disana telah menunggu klien kami. Memimpin rapat hingga selesai dan mencapai kesepakatan yang bagus walau hatiku sedang sangat tidak baik adalah nilai plusku.
Aku berusaha keras memajukan kembali perusahaan peninggalan papa ini. Aku tak ingin papa kecewa padaku.
Aku mengunjungi makam mama dan papa sore itu,,,
"Papa,, mama,,, Dare datang." bisikku sembari mengusap pusara mereka yang berdampingan.
"Maafkan Dare yang telah begitu mengecewakan kalian. Dare telah gagal,, Dare gagal jadi pemimpin perusahaan,, Dare juga gagal jadi pemimpin keluarga,,,," aku mulai terisak mengingat betapa bahagianya papa dan mama dulu saat aku memperkenalkan Chaira pada mereka.
"Dare janji,,, Dare akan berubah. Dare tobat." aku berjanji di depan pusara mereka.
Aku berencana mengajak Levi mengunjungi makam papa mama hari sabtu nanti. Aku ingin Levi juga mengenal kakek neneknya. Putri masih terlalu kecil untuk ku ajak ke makam jadi aku akan menunggu dia agak besar dulu.
Aku menelpon Ray dan mengutarakan rencanaku itu.
"Iya Dare,, boleh,, kau boleh membawanya. Aku akan coba menanyakan pada Chaira apakah dia juga ingin ikut serta menengok makam mama papamu" kata Ray.
"Terima kasih Ray" tutupku.
Aku melirik jam di kamarku. Sudah masuk waktu isya. Aku bergegas mengambil air wudhu dan menunaikan ibadah sholat. Aku masih terus berusaha agar sholatku tidak pernah bolong.
Walau aku sibuk kerja tapi aku tak mau melewatkan ibadahku juga. Saat ini banyak ibadah dan mendekatkan diri padaNYA adalah satu satunya jalan agar aku bisa lebih bersabar menerima semua yang terjadi.
Aku berharap ini akan mengurangi pedihnya balasan tuhan padaku. Namun aku rela jika memang balasan tuhan masih lebih pedih lagi karena apa yang ku lakukan pada bidadariku dulu jauh lebih membuatnya pedih.
Bidadariku,,
Berapa ribu kali pun aku meminta maaf padamu rasanya tak pernah mengurangi penyesalanku.
Maafkan aku bidadariku,,,,
Maafkan semua salahku,,,,
Maafkan aku yang masih tetap mencintaimu,,,
Maafkan aku yang masih saja menyelipkan namamu dalam doaku,,,
Maafkan aku yang masih berharap keajaiban tuhan mampu membawamu kembali padaku,,,
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen yaaaa
Terima kasih 😍