BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
Memutuskan tetap tinggal


__ADS_3

"Ingat Ros,,, kamu harus berhasil membuatnya menidurimu. Itu tidak akan sulit karena dia memang menganggapmu istrinya. Walau kau yang memulainya dulu tetap tidak akan aneh baginya!!!" bu Wati mengingatkan Rosa sembari berbisik sebelum dia membawa Darren ke kamar.


"iya bu Rosa ngerti" bisik Rosa


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Chaira menatap sendu pintu kamarnya yang kini ditempati Rosa dan suaminya. Senyum sinis Rosa saat menutup pintu kamar kembali terbayang di benaknya. Wanita itu mengatakan akan membuat suaminya menyentuhnya dan menghamilinya. Chaira menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia seakan tak punya kekuatan lagi membayangkan semua itu.


"ayo nak,,, umi antar ke kamar" umi menyadarkannya


Chaira mengangguk. Dia menatap kembali sejenak pintu kamar Darren.


"Semoga kamu dijauhkan dari hal hal buruk sayang" lirihnya mendoakan suaminya


Umi segera membawanya pergi. Di ruang sebelah mereka bertemu mama papa yang terlihat murung. Mereka berpikir keras bagaimana cara membebaskan putranya dari Rosa dan bu Wati namun tak juga mendapatkan cara. Hampir semua cara yang terpikirkan terbentur oleh kondisi Darren saat ini. Bagaimana pun juga mereka tak ingin membuat Darren tertekan jika mereka terus memaksa.


"kemarilah Chai" panggil papa saat melihat Chaira dan umi


Chaira menghampirinya.


"ada apa pa?" tanya Chaira lembut


"dengan berat hati papa minta kamu agar tetap tinggal disini nak. Bagaimana pun juga kamu harus tetap menjaga suamimu atau bahkan melindunginya dari wanita jahat itu jika kondisinya memungkinkan. Papa dan mama tidak bisa terus terusan disini karena khawatir emosi kami meledak tiap melihat wanita itu meracuni Darren. Kami takut tak bisa menahan diri dan malah membuat keadaan Darren memburuk." kata papa

__ADS_1


"mama tau ini berat untukmu nak tapi hanya kamu yang bisa melakukannya" lanjut mama


Chaira tertunduk. Matanya terasa kabur oleh airmata yang kembali menggenang. Satu sisi dia memang tak ingin jauh dari suaminya tapi disisi lain dia merasa tak mampu dan kuat jika tiap hari harus melihat Rosa bermesraan dengan suaminya.


"mereka benar nak, umi akan menemanimu disini jika kamu mau" bujuk umi


"tidak umi. Biar Chaira sendiri saja disini. kehadiran umi mungkin akan membuat Darren bingung dengan silsilah keluarga kita. Rasanya tidak mungkin membiarkan umi dan bu Wati tinggal bersama disini. Saat ini dia hanya mengenali bu Wati sebagai mertuanya" kata Chaira


"Chaira akan tetap disini pa,, ma,, papa benar. Chaira harus tetap bersama Darren disaat seperti ini. Siapa tau dengan tiap hari melihat Chai,,, hatinya tersentuh dan bisa segera mengingat semuanya" Chaira bersemangat


Umi dan mama memeluknya bergantian.


"kami bangga padamu nak,, Darren tidak salah memilih bidadarinya" puji papa


Malam itu juga papa mama dan umi meninggalkan rumah itu. Mereka kembali kerumah masing masing.


"Setidaknya Chai tau Darren melakukannya tanpa sadar bu" sahut Chaira tersenyum kemudian meninggalkan bu Wati yang kesal dengan jawabannya itu.


\=\=\=\=\=\=


"selamat pagiiiiii kak Chaira yang tersayang" Rosa menyapa Chaira yang sibuk menyiapkan sarapan di dapur.


"pagi Rosa" Chaira membalikkan badan. Hatinya mendadak nyeri melihat Rosa sepagi itu sudah turun dalam kondisi kepala yang terbalut handuk.

__ADS_1


"apa mungkin mereka telah melakukannya??" batin Chaira. Hatinya terasa makin nyeri membayangkan hal itu.


"Kak, gak nyangka ya mas Dare jago banget di ranjang. Pantesan kamu sangat tak ingin kehilangannya" Rosa bicara sambil menggigit roti


"upsss maaf kak, aku lupa kamu masih istrinya." Ucapnya lagi seakan tak sengaja mengatakan hal itu


Chaira hanya tersenyum.


"Walau saat ini kamu hanya jadi istri bohongan setidaknya kamu harus mulai belajar Ros,,, belajar untuk menyimpan baik baik urusan ranjang dari orang lain. Tidak baik membicarakan urusan itu pada orang lain apalagi jika memang suamimu itu hebat disana. Berjaga agar orang lain yang mendengar itu tidak memiliki rasa penasaran dan malah punya rasa ingin memiliki suamimu agar bisa merasakan kehebatannya itu." tutur Chaira lembut mengajari adik tirinya itu hal hal dalam berumah tangga.


Rosa diam tak menyangka Chaira malah akan mengatakan hal semacam itu. Dia kira dengan mengatakan hal itu dia akan bisa menikmati drama pagi melihat Chaira yang menangis. Ternyata Chaira sama sekali tak menangis bahkan dengan tegar memberinya pelajaran rumah tangga.


"aku tau kamu hanya coba untuk tampil tegar kak,,, aku ingin tau apa kamu masih bisa setegar ini jika tau aku hamil nantinya. Yaaa,,, suamimu itu sudah menanam benihnya di rahimku ini" Ucap Rosa mengelus perutnya


Chaira tersenyum.


"jika pun hal itu terjadi maka aku hanya perlu untuk memintamu menjaga baik baik bayi itu nantinya. Aku akan menunggu hingga bayi tak berdosa itu lahir. Aku akan menjadi ibunya juga. Bagaimana pun juga anak Darren juga anakku kan" jawab Chaira tegar.


Rosa merengut dan segera meninggalkan dirinya. Airmata Chaira mulai menetes saat Rosa meninggalkannya. Bohong jika dia tak bersedih dengan semua yang dikatakan Rosa tadi.


"aku tidak boleh terlihat lemah" batin Chaira.


Dihapusnya airmatanya dan kembali menyibukkan dirinya di dapur. Bagaimana pun juga dia sudah memutuskan untuk tetap tinggal disana. Apa pun yang terjadi dia harus mampu menghadapinya.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen yaaa


Terima kasih 😍


__ADS_2