BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
Dion


__ADS_3

"Jangan terlalu banyak kegiatan Han,,, kamu sudah kerja pagi sampai sore terus kamu masih menulis lagi sampai malam. Ingat kondisimu Han" tukas ibu


"Hana baik baik saja bu" Jawab Hana.


Ibu geleng kepala saja mendengarnya. Beliau segera keluar ketika mendengar seseorang datang dan mengucapkan salam. Ibu yang kembali masuk menghampiri Hana.


"Ada tamu untukmu Han" ucapnya.


"Siapa bu? Darren?" Tanya Hana.


"Bukan,, ibu tidak kenal. Sebaiknya kamu segera temui saja dia" titah ibu.


Hana merapikan dirinya di depan cermin sebelum menemui tamunya. Dia terkejut saat melihat pria tinggi dengan tubuh atletisnya tengah berdiri memandangi foto foto dirinya yang terpampang di dinding.


"Dion,,, Silahkan duduk" Hana mempersilahkan.


"Halo Hana,,, apa aku mengganggu waktumu?" tanya Dion.


"Tidak,, tapi ada keperluan apa kamu datang kemari?" tanya Hana tanpa basa basi.


"Aku ingin mengajakmu keluar untuk sekedar makan malam,, jika kau tak keberatan tentunya" ucapnya.


Sebenarnya Hana keberatan karena dia tau malam ini aku pasti akan datang mengunjungi pak kyai. Hana sebenarnya lebih ingin menemuiku saja.


Belum juga dia menjawab aku telah muncul di pintunya.


"Assalamualaikum" ucapku


"Waalaikumsalam" jawab mereka hampir bersamaan.


"Lu disini bro?" tanyaku pada Dion.


"Seperti yang lu liat,,, gue ingin mengajak Hana keluar makan malam. Tapi tampaknya lu juga mau menemuinya Dare,,, " ucap Dion.


Aku menggeleng.


"Gue mau ketemu bapaknya,,, silahkan saja kalau kalian ingin keluar. Hana,, dimana bapak?" tanyaku langsung tanpa peduli kesalnya Hana dengan jawabanku itu.


"Bapak masih di masjid" jawabnya ketus.


"Kalau begitu aku susul ke masjid saja. Bye Dion,,, Hana" aku yang memang bertujuan hanya menemui pak kyai langsung keluar.


"Darrrrreeee" Hana yang berusaha mencegahku kesal karena aku sama sekali tak menoleh lagi.


"Kau pasti senang melihat sahabatmu itu begitu acuh padaku" sungut Hana pada Dion.

__ADS_1


"Apa dia memang selalu seperti itu???" sungutnya kembali.


Dion tak menjawab dan hanya tersenyum memandangi wanita yang telah mencuri hatinya itu. Ada segelintir rasa sakit di hatinya karena wanita itu hanya memikirkanj yang sudah pergi.


Rasa iba yang besar juga muncul kembali saat dia ingat betapa aku tak ingin membuka hatiku bagi siapa pun lagi termasuk Hana. Aku hanya menganggapnya teman. Tak lebih dari itu.


"Ayo ku ajak kamu jalan jalan saja agar hatimu lebih bahagia" ucap Dion langsung menarik tangan Hana keluar.


"Eh,, eh,, kamu jangan seenaknya membawaku pergi seperti ini. Kamu bahkan tidak minta ijin dulu pada ibu. Tidak sopan sekali. Tidak seperti Darren yang,,,,,, " ucapan Hana terhenti saat Dion tiba tiba mencium bibirnya.


Hana terdiam seketika. Darahnya tiba tiba berdesir mendapat ciuman pertamanya.


"Aku memang tidak bisa seperti Darren yang mengabaikan perasaanmu" ucap Dion langsung membuka pintu mobil dan mendudukkan Hana disana.


Hana yang masih terkejut diam dan hanya menatap Dion yang menemui ibunya untuk berpamitan dan minta ijin mengajak Hana keluar.


"Pria ini begitu berbeda. Dia tidak dingin seperti Darren. Bahkan sebenarnya sifatnya sama denganku. Main sambar saja" batin Hana sambil sesekali melirik Dion yang terlihat santai mengemudikan mobilnya.


"Ada apa Hana?? Apa ciumanku tadi membuat otakmu beku hingga kamu tidak bisa bicara lagi?" tanyanya menggoda Hana.


Hana tak menjawab. Dia hanya menatap pria itu baik baik.


"Kenapa kamu menciumku?" tanyanya


"Karena kamu bawel sekali. Ada aku di depanmu kamu terus saja membahas Darren. Bukankah aku sudah pernah bilang jangan pernah berharap padanya" jawab Dion ringan


"Serumit apa hidupnya?" tanya Hana.


"Dia terbawa dan larut dalam penyesalan mendalam karena telah memperlakukan istrinya begitu buruk. Dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri hingga saat ini. Aku tau seperti apa Darren,,, dia akan selamanya seperti itu. Cintanya pada istrinya yang sangat besar itu akan mengikat hatinya selamanya." jelas Dion


"Apa istrinya adalah cinta pertamanya?" selidik Hana


"Ya,,, Cinta pertama dan aku yakin akan menjadi cinta terakhirnya. Aku bahagia saat tau dirinya bisa juga jatuh cinta. Aku bahkan tertawa saat dia melakukan hal hal konyol demi mendapatkan cintanya,,,,, " Dion menceritakan kenangan indahku bersama Chaira.


Hana diam dan terus mendengarkan. Begitu banyak yang batu dia tau dari kehidupanku.


"Tapi kini aku berduka atas apa yang menimpanya,, aku sangat merasa bersalah pernah menjadi salah satu penyebab keretakan rumah tangganya" Dion menghentikan mobilnya di tepi jalan saat mengatakan itu.


"Jika saja ada yang bisa ku lakukan untuk kembali mempersatukan mereka" suara Dion terdengar penuh penyesalan.


Hana memandang pria gagah yang tengah terlihat begitu merasa bersalah itu. Dalam hatinya tumbuh kekaguman luat biasa melihat pria yang tampaknya selalu cengengesan itu ternyata memiliki hati yang begitu lembut.


"Dia bahkan diam diam merasakan kepedihan hati sahabatnya. Dia sangat berbeda dengan Darren yang dingin dan acuh padaku. Dion lebih banyak bicara. Dan jika dipandang lebih lama dia tak kalah tampan juga dari Darren" batin Hana


"Oke,,, apa sudah cukup nona cerita tentang Darren?? Apa kau sama sekali tak ingin tau sesuatu tentangku?? Tak ingin tau perasaanku terhadapmu??" Tanya Dion yang tiba tiba kembali ceria.

__ADS_1


Dion kembali memacu mobilnya tanpa menunggu jawaban Hana yang masih terdiam.


"Apa kamu tidak malu mengajak wanita rendahan sepertiku masuk ke restoran mahal seperti ini?" tanya Hana ketika mereka sampai di sebuah restoran mewah.


"Mengajak wanita yang ku cintai sepertimu?? Kenapa harus malu?? Bila perlu akan ku umumkan ke seluruh dunia bahwa kamulah wanita yang telah mencuri hatiku" jawabnya ringan.


Pria itu sungguh bersifat sama sepertiku,,, Dia mengutarakan perasaannya tanpa malu malu.


Benarkah dia mencintaiku?


Hana mulai bimbang dengan hatinya sendiri. Dia masih menginginkanku namun hatinya mulai luluh dengan perlakuan Dion padanya.


Dion yang benar benar menunjukkan betapa dia ingin menunjukkan pada seluruh dunia bahwa hanya Hanalah yang dicintainya. Digandengnya mesra Hana. Dikalungkannya tangannya di pinggang Hana memasuki restoran itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Aku pulang setelah cukup lama berbincang dengan pak Kyai. Aku kembali menghabiskan malamku dengan mendekatkan diriku padaNYA.


Aku yang sudah beberapa hari terakhir ini kembali belajar mengaji sudah mulai lancar saat membaca alquran. Aku ingat dulu Chaira lah yang sering membimbingku.


Aku tersenyum saat menyadari dulu aku memang sebenarnya belum bisa dijadikan imam olehnya karena justru dia yang belalu banyak mengajariku tentang agama.


Aku tersenyum mengingat betapa susahnya dia membangunkanku tiap subuh. Kemudian akan membangunkanku dengan kecupan manisnya di bibirku.


Aku tersenyum mengingat semua kenangan manis kami. Namun kemudian senyuman itu berubah menjadi tangis saat aku membayangkan semua yang ku alami dulu bersamanya hanya tinggal kenangan.


Kini semua hal itu menjadi milik Ray,,,


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Aku akan menunggumu hingga kamu bisa membuka hatimu untukku" ucap Dion yang mengantarkan Hana hingga depan rumahnya.


"Ingat,, jangan tunggu Darren baru kau memberiku jawaban karena aku takut aku keburu diambil wanita lain" lanjutnya yang sudah masuk mobilnya.


Hana tertawa mendengar kalimat itu. Dia melihat cerminan dirinya sendiri pada diri Dion.


"Ibu lebih suka kau dengannya Han,,," kata ibu yang tiba tiba muncul dan menepuk bahu Hana yang masih senyum senyum mengingat perkataan Dion.


"Ah ibu,,, kami cuma berteman biasa. Sebenarnya aku masih tetap berharap pada,,,, " Hana berhenti saat pak Kyai muncul.


"Jangan nak,,, jangan ganggu pria yang tengah berusaha memperbaiki dirinya,, Biarkan dia tenang nak. Biarkan dia berusaha memaafkan dirinya sendiri dulu. Kamu harus ingat usiamu yang sudah patut untuk menikah. Bapak sama ibu hanya ingin kamu bahagia nak,,, Bapak lihat nak Dion lebih bisa membuatmu bahagia." kata pak kyai lalu masuk ke dalam disusul ibu.


Hana termenung memikirkan kata kata orang tuanya.


"Dion" Hana menyebut nama itu dengan senyuman mengembang di bibirnya.

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan komen yaaaa


Terima kasih 😍


__ADS_2