BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S Part 92


__ADS_3

Selamat membaca 🌹


Maaf banyak typo 🙏


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌹🌹


Beberapa tangkai mawar kesukaan Chaira diletakkan Darren di atas pusara bertuliskan nama Chaira itu. Darren mengusap pusara itu.


"Assalamualaikum bidadariku,,," lirihnya dengan senyumnya yang sebenarnya tak bisa dibedakan apakah itu senyum bahagia atau kesedihan.


Darren diam sejenak dan terpekur menatap nama di pusara itu.


"Hingga detik ini pun aku masih ingin menggantikan posisimu saat itu sayang,,, Membiarkan tubuhku saja yang merasakan semua luka dan sakit yang kamu derita. Bahkan jika memang nyawa yang harus kuserahkan pun aku rela,,," lirihnya.


Sesaat kemudian matanya membulat mendengar ucapannya sendiri itu. Penyesalan yang begitu besar memang masih sering membuat dirinya merasa apa yang dialami Chaira dulu adalah sesuatu yang tidak adil.


Bukan Chaira yang harusnya mengalami kecelakaan,,,


Bukan Chaira yang seharusnya meninggal,,,


Seharusnya dirinya,,,


Dirinya yang penuh dengan dosa,,,


Bukan Chaira yang bagai bidadari itu,,


"Astaghfirullah,,, Tidak sepantasnya aku menyalahkan takdir dari Rabbku. Yang Maha Penyayang jauh lebih menyayangimu hingga diambilnya kamu dariku sayang,,, Agar kamu tak perlu lagi merasakan sakit atau pun derita akibat ulahku,,,," Darren menghela nafas berat.


"Tuhan juga belum ingin bertemu denganku yang saat itu masih belum cukup menyadari kesalahanku,,, Tuhan masih ingin memberiku waktu agar aku memperbaiki diriku dulu. Dan aku sangat bersyukur karena tuhan sudah begitu baik menghadirkan dua malaikat kecil kita yang mendampingiku sayang,,,," Darren mengingat dengan baik wajah Levi dan Rayya kecil.


Diusapnya wajahnya dengan kasar agar airmata yang sudah memenuhi kelopak matanya itu tak sampai terjatuh. Ditaburkannya bunga bunga yang sudah terpisah dari tangkai dan kelopaknya ke atas makam Chaira.

__ADS_1


Darren memutar tubuhnya lalu tersenyum menatap ke arah pusara yang tepat berada di sebelah kiri pusara Chaira.


Ditaburkannya juga bunga bunga di atas pusara itu. Diusapnya juga batu nisannya.


"Assalamualaikum Ray,,, Aku datang memenuhi janjiku pada diriku sendiri. Kamu masih tidak bosan kan melihatku datang?? Kesekian kalinya aku mengunjungi rumah terakhirmu ini dan aku masih membawa rasa cinta yang lebih besar lagi dan lagi pada bidadari kita. Ku harap kamu tidak cemburu Ray,,," Darren tersenyum sendiri.


Tiap seminggu sekali mendatangi makam ini Darren memang selalu berbicara hal yang sama saat di depan makam Ray.


"Kamu menjaganya dengan sangat baik melebihi aku Ray,,, Bahkan dia pun memilih menyusulmu daripada bertahan hidup bersama kami di sini. Aku iri padamu Ray,,, Kau tau itu kan?? Tapi apa dayaku,,,Cintamu memang lebih besar daripada cintaku." Darren kembali menghela napas mengusir sesak yang mengintai di dadanya.


"Kini yang aku bisa lakukan hanya mencintai dan menjaga putra putri kita dengan baik. Semoga dengan itu kamu memaafkan aku yang masih mengkhianatimu. Kau tau juga kan Ray,,, Cintaku pada Chaira tidak pernah padam meski dia sudah bersamamu. Maafkan aku Ray,,," Darren kembali mengusap nisan bertuliskan nama Ray itu.


Darren bergeser ke makam kecil di samping makam Ray.


"Assalamualaikum putri kecil ayah,,, Putri bahagia di sana ya nak sama bunda,,,sama abi,,sama mama. Maafkan ayah karena ayah sama sekali tidak sempat menunjukkan betapa ayah juga sangat menyayangi Putri. Ayah terlalu bodoh karena mencampakkan mamamu,," Darren menyesali lagi dan lagi apa yang sudah diperbuatnya dulu.


Bayangan wajah imut dan lucu Putri terpampang jelas di makam kecil itu.


Hingga akhir hidup Febby pun Darren masih tak percaya bahwa anak yang dilahirkannya yaitu Putri adalah anak kandungnya. Darah dagingnya sendiri. Namun semua itu dilakukannya karena sikap Febby yang sering membuatnya jadi kehilangan kepercayaan pada wanita itu.


Hingga akhirnya Chaira menerima dan merawat bayi Putri,,, Dan,,,


"Ahhh,,," Darren benar benar merasakan sesak yang teramat sangat di dadanya.


"Kenapa sayang,,, Kenapa hatimu begitu lapang hingga anak dari madumu pun kamu rawat dengan tanganmu sendiri,,,,??? Kenapa kamu begitu baik sayang,,,???" Darren memukul mukul dadanya sendiri berharap dengan begitu bisa mengurangi sesak yang dirasakannya.


Darren menangis,,,


Tersedu sedu di depan makam kecil itu,,,


Penuh rasa bersalah ketika mengingat dirinya dengan tegas menolak anak itu,,,


Penuh rasa malu ketika Chaira dengan tangan terbuka menerimanya,,,

__ADS_1


"Bodoh kamu Darren,, Keterlaluan kamu Darren,,, Di mana hatimu saat itu,,," Darren mengutuk dirinya sendiri.


Setelah puas menangisi semuanya,,, Darren mengangkat wajahnya yang sedari tadi tersembunyi di balik kedua kakinya yang menekuk. Dihapusnya airmatanya lalu kbali menghela napas dengan berat.


Darren mencoba berdiri dengan lututnya yang terasa lemas setelah sekian lama berjongkok dan menangis. Darren menuju ke satu lagi makam yang berada di sebelah makam putri.


"Assalamualaikum tante,,," ucapnya setelah selesai menaburkan bunga.


"Terima kasih sudah begitu menyayangi bidadari dan putra putriku. Terima kasih sudah menerima mereka. Semoga tante bahagia dan tenang di sana. Kembali bertemu dengan belahan hati tante di sana. Sampaikan salamku pada om yang meski belum pernah kenal denganku,,, tapi aku yakin om juga orang baik sebaik Ray." kali ini Darren tersenyum di depan makam mamanya Ray yang juga turut menjadi korban dalam kecelakaan maut itu.


Darren kembali berdiri dan mengambil posisi tepat di tengah makam itu. Dipejamkannya matanya lalu dipanjatkannya doa doa terbaik untuk Chaira dan semua penghuni makam itu.


Matanya terbuka lantas tertumbuk pada tanah kosong tepat di sebelah makam Chaira. Tanah yang sudah dibayarnya untuk kemudian menjadi rumah terakhirnya.


"Aku hanya menunggu waktu itu bidadariku,,, Waktu dimana aku sudah tak berkuasa atas ragaku ini lagi." lirihnya dalam hati.


Bukan berharap cepat mati tapi Darren sadar betul bahwa ada sang Maha Pencipta yang memiliki hak penuh atas nyawanya. Yang akan sewaktu waktu mengambil milikNYA.


"Sayang,,, Kenapa kita tidak sekalian ikut ke sana??" Tiara bertanya pada Levi seraya menunjuk Darren.


"Ayah selalu meminta waktu untuk sendirian tiap kali kesini sayang,,, Dan aku menghargai itu. Aku dan Ayya akan selalu menunggu ayah selesai dengan perang batinnya dan memanggil kami ke sana." ucap Levi sambil tersenyum.


"Oo begitu rupanya,,," ucap Tiara sambil manggut manggut.


Meski seminggu sekali Darren dan anak anaknya ke makam Chaira namun Tiara memang baru kali ini berkesempatan ikut mengunjungi makam Chaira sejak menikah dengan Levi.


Sebelum sebelumnya selalu saja terbentur dengan jadwal kuliahnya atau jam kerja parttimenya. Tapi sekarang sejak hamil Tiara sudah tidak lagi mengambil kerjaannya itu karena Levi melarangnya.


"Ayo sayang,,," ajak Levi ketika Darren melambaikan tangan pada mereka.


\=\=\=\=\=


Terima kasih atas vote, like dan komennya 🌹

__ADS_1


__ADS_2