BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S part 118


__ADS_3

Selamat membaca 🌹


Maaf banyak typo 🙏


🌹🌹


"Apa kakak sudah tau??" tanya Rayya setelah tangisnya mereda namun tetap saja hatinya berduka mendapati fakta bahwa diam diam ayahnya tengah berjuang melawan penyakitnya.


"Belum nak dan mungkin lebih baik biar ayah saja yang memberitahunya sendiri ya." ucap Darren.


"Iya ayah." Rayya sendu.


"Sudah jangan sedih lagi. Kan ayah sudah bilang kalau ayah ingin kamu kuat nak. Ayo kita kembali ke pembahasan tentang pernikahan kalian." Darren ingin mengalihkan pembicaraan.


"Kalau sudah ayah yang menyuruh,,, kapan pun Rayya siap. Lagipula Rayya juga sudah yakin sama bang Bimo.Sudah cukup lama bang Bimo menunjukkan bukti kesetiaan dan kesabarannya menunggu Rayya." Rayya tersenyum di balik cadarnya yang basah oleh airmata.


"Alhamdulillah. Bagaimana denganmu Bimo??" tanya Darren.


"Saya siap juga om. Saya tidak akan banyak janji pada om dan Rayya. Tapi saya akan menunjukkan usaha kepada saya menjadi imam terbaik untuk Rayya om."Bimo mantap sekali.


"Alhamdulillah kalau begitu. Panggil ayah saja ya Bim. Kamu itu sudah sangat dekat dengan keluargaku jadi kamu sudah ku anggap putraku juga." kata Darren.


"Baik om,,, eh ayah. Baik ayah." Bimo mengulang kata katanya.


Darren hanya tersenyum mendapati kegugupan Bimo itu.


"Apa kalian tidak keberatan jika pernikahan kalian ini diselenggarakan di Paris saja. Ayah hanya tidak ingin merepotkan om Adi kalau harus jauh jauh pergi ke Indonesia Rayya. Belum tentu juga beliau tidak sibuk kan." Darren mengatakan alasannya.


"Rayya setuju saja ayah. Tapi apa itu artinya pernikahan itu sesegera mungkin dilaksanakan??" tanya Rayya.


"Iya nak. Sebelum kita semua kembali ke Indonesia. Setidaknya menikah saja dulu secara sah di sini. Kalau kalian mau mengadakan resepsi,,, nanti bisa di Indonesia saja. Tapi ayah kembalikan saja pada kalian semua untuk memutuskan bagaimana baiknya." Darren tak ingin terkesan mengatur semuanya.


"Apa pun itu kami setuju ayah karena tidak ada hal yang lebih baik dari apa yang sudah ayah siapkan selama ini untuk kami." Rayya benar benar tak ingin lagi beradu pendapat dengan ayahnya.


Dia hanya ingin menuruti saja semua kata kata ayahnya. Terutama setelah tau ayahnya sudah banyak menderita sendiri,,, Sekarang dia tak ingin sedikit pun membantah ayahnya, dalam hal apa pun.

__ADS_1


Darren tersenyum bahagia. Tinggal menyampaikan pada Levi juga mengenai penyakitnya dan mengurus hal lain yang sedari tadi sudah dilaporkan oleh Dion. Fakta fakta mengenai siapa Adi dan ada apa dibalik senyum liciknya itu.


🌹🌹🌹


"Ayah hanya ingin menyaksikan Ayya menikah secepatnya bang karena ayah sendiri sebenarnya takut tidak lagi punya waktu banyak." tangis Rayya pecah lagi di hadapan Bimo.


"Sabar ya Ay,,, Yang kuat. Ingat ayah juga minta kita untuk kuat kan??" Bimo mengingatkan.


"Iya bang. Terima kasih sudah mengingatkan Ayya. Terima kasih juga sudah siap menemani Ayya mewujudkan keinginan ayah." Rayya sudah menyeka airmatanya karena tau Darren tak menginginkannya.


"Sama sama Ay. Abang bingung sebenarnya." lirih Bimo.


"Kenapa bang??"


"Bingung harus bahagia atau sedih. Bahagia sih pasti karena apa yang sudah abang impikan selama ini akan segera terwujud. Menghalalkanmu menjadi bidadari abang. Tapi sedih juga karena kondisi ayah. Eh tapi kan gak boleh lemah ya,,, Harus kuat demi ayah." Bimo ingat dengan ucapannya sendiri.


"Terima kasih bang,,, Untuk semuanya."


Keduanya tenggelam dalam perasaan masing masing. Keduanya juga mempersiapkan mental menghadapi Levi dan Tiara yang belum tau hubungan mereka tapi sebentar lagi pasti terkejut karena Darren akan menikahkan keduanya.


🌹🌹🌹


"Iya nak. Kamu setuju kan??" tanya Darren.


Levi belum menjawab tapi matanya masih tetap tajam memandang ke arah Rayya dan Bimo. Rayya hanya menunduk saja sementara Bimo tak ada maksud melawan sama sekali tapi tetap membalas tatapan mata sahabatnya.


Bedanya jika Levi menatapnya penuh kekecewaan,,, Bimo menatap penuh permintaan pengertian dari Levi.


"Ayah tau kamu kecewa sama mereka. Tapi jangan salahkan mereka karena mereka tak ada sedikit pun niat untuk membohongimu nak. Mereka hanya tak ingin menjanjikan sesuatu yang bukan hak mereka untuk menentukan ke depannya. Adikmu hanya berusaha tak mendahului takdirNYA dengan mengatakan padamu bahwa dia akan menikah dengan Bimo suatu hari nanti." Darren memberi Levi pengertian.


"Dan Bimo sendiri,,, Dia hanya menuruti apa kemauan adikmu yang menurutnya juga benar adanya. Bimo tak ingin mengecewakan adikmu dengan diam diam jujur padamu. Pahami juga posisi Bimo nak." tambah Darren.


Pandangan tajam Levi melemah mendengar penjelasan itu. Ditambah dengan lembutnya tangan Tiara yang mengelus lengannya.


"Apa yang ayah bilang itu benar sayang. Turunkan emosimu dan terimalah Bimo sebagai anggota keluarga kita. Dia tidak seburuk itu untuk kamu tolak kan??" Tiara membujuk Levi.

__ADS_1


"Maafin gue bro. Gue,,," tangan Bimo yang hendak mengambil tangan Levi itu ditampik Levi tapi kemudian Levi sendiri yang memeluk Bimo.


"Jagain adik gue. Dia kesayangan gue. Jangan lo buat dia nangis. Dia bidadari kedua yang tuhan kirimkan untuk gue setelah bunda." ucap Levi dalam pelukan eratnya pada Bimo.


"Thanks bro. Gue bakal ingat pesan lo ini." Bimo memnalas pelukan persahabatan yang sebentar lagi menjadi persaudaraan.


Rayya dan Tiara juga berpelukan dalam tangis bahagianya menyisakan Darren yang hanya mengamati dalam pandangan haru.


"Bidadariku,,, kamu mungkin harus menunggu sedikit lama lagi agar aku menyelesaikan semua tugasku sebagai ayah mereka. Tunggu aku di jannahNYA." batinnya sambil tersenyum menggendong Birru yang memainkan hidung mancungnya.


Rayya melepaskan pelukannya dari Tiara lalu menuju ke arah Levi yang juga sudah saling melepaskan pelukan dengan Bimo. Keduanya kini malah saling pukul lengan masing masing karena menertawakan kebodohan keduanya yang tidak bisa saling membaca situasi selama ini.


"Kak,,, Ayah,,," lirih Rayya.


Levi menghentikan pukulannya lalu memandang Rayya dengan penuh pertanyaan. Mata Rayya menyiratkan kesedihan tertahan.


Levi mengerti. Sesuatu yang buruk telah menimpa ayahnya. Segera dihampirinya Darren.


"Ayah baik baik saja kan??" tanyanya cemas.


Darren menggeleng pelan.


"Ayah sakit nak. Leukimia. Sudah stadium dua. Ayah tidak tau sampai kapan ayah bisa menemani kalian. Karenanya ayah pesan sama kamu sebagai yang tertua dalam keluarga kita nantinya,,, Ajaklah semua untuk Saling menyayangi,,saling menjaga,,saling merangkul mengasihi,, Jangan tercerai berai." ucap Darren.


"Ayah,,, Levi tidak tau apa jadinya Levi tanpa ayah." Levi memeluk tubuh ayahnya dengan hati penuh kesedihan.


"Kenapa ayah tidak pernah sedikit pun mengeluh pada Levi?? Sedikit saja ayah,,, Kenapa ayah menanggung sakit itu sendiri?? Kenapa ayah sesayang itu pada kami???"


Tak tahan lagi,, kembali direngkuhnya tubuh yang ternyata benar benar tak lagi segagah dulu itu. Rayya pun menyusul ikut memeluk ayahnya dengan tangisnya yang berderai.


"Jangan menangis. Ayah mungkin tidak tau masih berapa lama waktu ayah,, tapi ayah bilang pada tuhan bahwa ayah masih ingin berlama lama dengan kalian di dunia ini. Ayah sudah meminta bunda untuk bersabar lagi menunggu ayah." Darren tersenyum.


🌹🌹🌹


Terima kasih atas vote, like dan komennya ❤️

__ADS_1


__ADS_2