BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S part 111


__ADS_3

Selamat membaca 🌹


Maaf banyak typo 🙏


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌹🌹


"Thanks bro. Gue tau lo akan selalu bantu gue. Gue juga tau cuma lo yang bisa gue andalin untuk semua hal. Karena itu gue ajak lo kesini. Karena gue dapat info bahwa salah satu keluarga Ray tinggal di kota ini." ucap Darren.


"Di Paris??" Tanya Dion memastikan.


Darren mengangguk dengan mantapnya. Rupanya selama ini dia terus mencari informasi mengenai keluarga Ray yang mungkin masih bisa dihubungi. Maklum Ray adalah anak tunggal dari ayah dan ibunya yang juga sama sama anak tunggal.


Karenanya mencari keluarga Ray bukanlah hal gampang. Tapi selama ini Darren diam di rumah tak lagi mengurus perusahaan karena dia fokus mencari tau tentang keluarga Ray.


Darren sengaja memberi perintah pada beberapa ornag kepercayaannya untuk membantunya mencari tau di lapangan. Sementara dirinya lebih sibuk mencari jejak keluarga di jejaring sosial.


Hal itu dilakukannya karena pengacara keluarga Ray yang tempo hari datang untuk menyampaikan wasiat drai mendiang Ray sudah tidak bisa ditanya tanya lagi karena beliau sudah tutup usia akibat kecelakaan fatal yang dialaminya.


Penerusnya mengaku tidak banyak tau tentang keluarga Ray yang sudah lama meninggal itu. Jadilah Darren harus berusaha lebih keras lagi.


"Ok,,, Kita cari sama sama. Tapi gue mau lo janji satu hal sama gue." kata Dion.


"Janji?? Tumben lo begini,,,, Janji apa memangnya?" tanya Darren.


"Lo janji lo bakal lebih perhatiin diri lo. Penyakit lo bukan penyakit biasa Dare. Lo bisa meninggal. Meski gue tau lo akan jawab bahwa lo menginginkan berada di sana bersama Chaira,,, Tapi lo gak boleh menyerah begitu saja. Lihat anak anak lo,,, cucu lo,,, Mereka masih butuh lo Dare." Dion serius.


Darren tersenyum dan mengangguk.


"Jangan senyum saja,,, Jangan cuma mengangguk. Setidaknya lo lihat sahabat lo ini!! Gue juga masih ingin berlama lama sahabatan sama lo." Dion mulai tak sabar melihat reaksi Darren.


"Hei,,, Memangnya gue kelihatan menyerah ya?? Gue kelihatan gak mau sembuh ya?? Gue tetap rutin cek kan selama ini?? Gue mau banget hidup lama melihat tumbuh kembang cucu cucu gue kelak. Gue mau banget terus gangguin lo dengan segala urusan gue,,, Tapi tetap saja bro,,, Gue tak punya kuasa lebih atas hidup gue. Gue hanya bisa menikmati penyakit ini semua sebagai penghapus segala dosa dosa gue selama ini." Darren panjang lebar.


Dion terdiam.

__ADS_1


"Jadi lo gak usah kuatir gitu. Yang ada nanti anak anak malah akan curiga lihat lo yang parno begini. Gue akan hidup lebih lama lagi bro." Darren menepuk bahu Dion.


"By the way,, Terima kasih sudah begitu cemas dan peduli sama gue." lanjut Darren.


Dion tak tau harus menjawab apa. Dia tau persis kondisi Darren sejak awal sahabatnya itu sedang mengunjunginya sebelum Levi menikah dulu. Darren tiba tiba jatuh pingsan dengan lelehan darah di hidungnya. Bukan main cemasnya Dion waktu itu apalagi setelah diagnosa dokter yang didengarnya waktu itu.


"Leukimia stadium 2."


Pernyataan dokter waktu itu membuat Dion terbelalak.


"Apa?? Bagaimana bisa dok?? Sahabat saya itu selalu hidup sehat. Bahkan dia juga bukan perokok seperti saya. Setau saya juga dalam keluarganya tidak ada yang mengidap penyakit itu." Dion mengingat ingat.


"Mungkin dokter periksa ulang saja ya. Siapa tau salah diagnosa." pinta Dion.


"Maaf pak. Kami sudah tiga kali memeriksa dan memastikannya." kata dokter dengan seulas senyum khas dokter yang pasti dalam hatinya juga tau ini berat untuk diterima oleh pasien dan keluarganya.


Dion tersandar lemas. Dipandanginya Darren yang masih belum sadarkan diri.


"Apa harus dirawat inap dok?" tanyanya kemudian.


Dion tau persis Darren adalah tipe ayah yang selalu memberitahu anak anaknya kapan dia akan pulang dan berusaha keras menepati janjinya itu.


"Untuk saat ini cukup menunggu kondisi pasien stabil dulu. Bisa dibawa pulang dan rawat jalan saja. Akan saya buatkan resep obat untuk pereda sakit dan penahan agar sel kankernya tidak cepat menyebar. Saya sarankan pasien juga rutin melakukan kemoterapi." pesan dokter.


"Iya dok. Terima kasih. Akan saya sampaikan nanti begitu pasien sadar." ucap Dion.


Dokter mengiyakan dan segera menulis di kertas kosong yang sudah disediakannya di mejanya. Kertas berisi tulisan orat oret ala dokter yang hampir tidak bisa Dion pahami itu diserahkannya pada Dion.


"Silahkan ditebus di apotik." kata dokter.


Dion mengangguk mengiyakan dan tak banyak pertanyaan lagi saat dokter meminta ijin untuk melihat pasien lainnya.


Dion tenggelam dalam pikirannya sendiri mengenai keadaan Darren.


"Gue tau lo pasti bukan sekarang ini aja seperti ini. Selama ini lo pasti sudah kesakitan tapi lo tahan dan lo sembunyikan dari anak anak lo. Lo gak tega sama mereka. Dare,,, gue tau banget lo." ucapnya saat Darren tersadar.

__ADS_1


"Memangnya gue kenapa? Gue sehat sehat saja." jawab Darren sambil tersenyum lemah.


"Lo kena Leukimia stadium dua dan lo masih ngaku lo baik baik saja sama gue??!!" ketus Dion.


Darren tersenyum lagi.


"Dare,,, Please!! Senyum lo manis manis banget!!!" Dion kesal.


"Rahasiakan ini dari anak anak. Gue gak mau mereka mencemaskan gue dan malah gak fokus dengan belajarnya. Gue mau mereka jadi orang terpelajar semua dan bisa meneruskan apa yang sudah gue bangun selama ini. Apa yang sudah gue siapkan untuk mereka selama ini juga harus bisa diatur sebaik mungkin. Jadi gue gak mau pria tua sakit sakitan ini membuat konsentrasi mereka terpecah belah." ucap Darren lirih hampir tak terdengar.


"Tapi mereka harus tau Dare,,," protes Dion.


"Mereka akan tau pada waktunya nanti. Gue sendiri yang akan menyampaikan pada mereka." jawab Darren.


"Kalau mulai sekarang dikasih tau kan,,," Dion berhenti bicara karena Darren meletakkan telunjuknya di bibirnya mengisyaratkan agar Dion berhenti bicara.


"Mana obat gue? Gue mau minum obat." kata Darren.


"Sakit ya Dare,,, Gue ambil dulu obat lo." Dion panik.


Darren hanya tersenyum saja melihat sahabatnya itu panik keluar menuju ke apotik untuk menebus obat obatan resep dokter tadi.


🌹🌹


"Ayo turun. Sudah sampai nih jangan ngelamun aja."


Ucapan Darren itu menyadarkan Dion dari memorinya tentang penyakit Darren. Rupanya mobil telah berhenti di depan lobi hotel dan salah satu pegawai hotel sudah membukakan pintu untuk mereka.


Darren tersenyum melihat Birru yang sudah bisa berjalan itu tertatih tatih lucu menuju ke lobi hotel. Anak itu begitu penasaran dengan tempat baru yang dilihatnya.


Pandangan mata Darren juga tertuju pada Bimo yang sedang membukakan pintu mobil untuk Rayya dengan sengaja menolak pegawai hotel yang hendak membantunya.


Darren tersenyum mengerti.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Terima kasih atas vote, like dan komennya 🌹


__ADS_2