
Happy reading ya πΊπΊ
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
πΊπΊπΊ
Darren menyusul Dion ke mobilnya yang entah kenapa diparkir jauh bahkan keluar dari halaman.
"Kenapa jauh banget sih parkirnya,,, bikin gue keringetan aja" sungut Darren.
"Lu tuh yang kenapa!!!" sungut Dion.
"Lah emang gue kenapa???!!!" tanya Darren tidak mengerti.
Dion baru menyadari apa yang dikatakannya. Segera diubahnya mimik wajahnya agar Darren tak berpikir macam macam.
"Maksud gue,,, lu tuh yang kurang olahraga makanya jalan dikit aja udah ngeluh capek lah,, keringetan lah,,," kilah Dion.
"Hmm jadi lu ngerjain gue nih ceritanya,,,???" Darren kesal.
Dion hanya terkekeh mendengarnya lalu menjalankan mobilnya. Mereka menuju ke kantornya. Selama di perjalanan mereka banyak membahas tentang apa saja yang sudah Darren lewatkan selama dirinya tidak aktif di kantor.
Darren yang sudah lama tidak aktif lumayan harus memutar otaknya untuk bisa mengimbangi ketertinggalannya. Bagaimana pun juga dia tidak ingin membuat nasib perusahaannya dan karyawannya terkatung katung lagi seperti dulu saat dirinya terpuruk dalam penyesalan.
Darren juga ingin agar pundi pundi uangnya makin bertambah banyak agar ada yang bisa disiapkan untuk masa depan Levi dan Rayya.
Tiba di kantor ada sambutan kecil kecilan dari para karyawannya yang senang dengan hadirnya kembali Darren di tengah tengah mereka. Semua menyalaminya dan mendukung bangkitnya dirinya.
Mereka semua siap berjuang bersama Darren membawa perusahaan ini kembali berjaya seperti dulunya semasa nyonya Chaira masih mendampingi tuan Darren.
Ucapan mereka semua membuat Darren terharu dan merasa bersyukur karena menyadari ternyata masih banyak yang menyayanginya. Darren tau ini semua adalah bentuk kasih sayang Rabb nya yang menyambut baik usaha tobatnya.
"Lu yang siapin semua ini??" tanya Darren pada Dion.
Dion hanya mengangguk lalu memeluk sahabatnya itu.
"Welcome back,, kursi ini masih setia menunggu lu,,," kata Dion yang mengarahkannya pada kursi tertinggi di perusahaan itu.
"Thanks bro,,," jawab Darren terharu sembari menepuk bahu Dion.
__ADS_1
Dielus elusnya kursi yang sudah lama tak didudukinya itu. Hanya sebuah kursi biasa namun besar makna dan pengaruhnya bagi perusahaannya. Tergantung pada siapa yang mendudukinya.
Kursi itu juga mengingatkan akan doa doa Chaira untuknya dulu tiap kali akan berangkat bekerja. Di kursi itu juga Darren duduk menikmati setiap makanan masakan Chaira yang dibawanya dari rumah.
Airmata Darren kembali menetes mengingat itu semua.
"Lu mau gue beri waktu sendiri dulu??" tanya Dion yang seakan memahami apa yang tengah ditangisi Darren.
Bagaimana pun juga,,, Dion juga saksi hidup perjalanan hidup Darren dari atas hingga jatuh lalu berusaha bangkit namun terpuruk lagi dengan perasaan kehilangan Chaira selama lamanya.
Darren menyeka airmatanya mendengar pertanyaan Dion.
"Tidak,,, gue gak mau melewatkan waktu gue. Gue banyak pekerjaan. Dan gue gak mau menunda cuti lu lagi. Ayo kita bekerja." seru Darren.
"Ini baru my man,,," Dion menyahut dengan tak kalah semangat.
Hari pertama bekerja,,,
Darren mulai sibuk mempelajari berkar berkas penting perusahaan yang terkumpul semenjak dirinya tidak aktif. Darren berusaha mengenal semua profil klien klien baru yang terhubung dengan perusahaan selama ini.
Dibantu Dion,,, semua terasa lebih mudah. Darren bersyukur sahabatnya itu bisa dipercaya memegang kendali penuh perusahaannya selama ini.
Namun sesibuk apa pun dirinya,,, Darren masih menelpon ke rumah untuk menanyakan apa Levi dan Rayya sudah makan siang.
Sebelumnya Darren sudah berpesan pada Ratna bahwa dirinyalah yang akan tetap menentukan apa makanan yang boleh diberikan pada anak anaknya. Ratna pun mengerti akan alasan Darren.
"Gue rasa lu sudah bisa cuti mulai besok bro,,, gue sudah bisa handle sendiri. Tapi ya gue minta lu jangan off tuh handphone biar gue bisa menghubungi lu kalau gue ada yang kurang jelas." kata Darren di perjalanan ke bengkel mengambil mobilnya.
Dion yang masih setia mengantarnya itu hanya mengangguk dan menyanggupi permintaan Darren untuk tetap bisa dihubungi.
Dion yakin Darren tidak akan terlalu sering menelponnya karena sahabatnya itu tidak selemot itu untuk memahami semua hal.
Dion juga ingin segera cuti dan setidaknya bisa menjalankan misi rahasia yang tidak Darren ketahui. Hana istrinya juga pasti senang dengan cutinya Dion.
Dion langsung pulang setelah menurunkan Darren di bengkel. Dia tak sabar ingin memberitahu Hana bahwa mereka bisa segera berlibur.
Darren juga segera melaju pulang dan tak ingin membuat Ratna menunggu terlalu lama. Darren juga tak ingin terlambat menyiapkan makan malam untuk anak anaknya.
Single daddy itu tak menghiraukan rasa lelah dan penatnya setelah seharian berkutat di kantor dengan setumpuk pekerjaannya.
__ADS_1
Baginya,,, anak anaknya tetap menjadi point pertama hidupnya. Betapa pun besar keinginannya untuk menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk anak anak karena telah merasa begitu bersalah telah pernah menelantarkan anaknya,,,terutama Levi,,,, Darren pun menyadari dirinya juga wajib tetap bekerja demi mereka.
Yang bisa dia lakukan sekarang hanya berusaha menjadi ayah terbaik yang tetap bekerja keras demi masa depan mereka namun tidak pernah ketinggalan dengan perkembangan mereka.
Darren memasuki halaman rumahnya.
Levi dan Rayya sudah tampak segar dengan baju bersihnya. Mereka menyambut ayahnya di depan pingu ditemani Ratna yang memegangi bahu keduanya dan juga tersenyum manis dengan lesung pipitnya.
Hati Darren berdebar.
"Melihat anak anak berdiri menyambutku ditemani sosok wanita dewasa membuatku membayangkan seandainya sosok itu adalah kamu bidadariku,,," batin Darren mengingat Chaira.
Tentu akan sangat menyenangkan baginya melihat Chaira yang berdiri di posisi Ratna itu. Sayangnya semua itu tak akan pernah jadi kenyataan dan hanya akan jadi ilusi karena Darren telah melewatkan kesempatan itu.
"Assalamualaikum anak ayah,,," Darren mengucap salam dan membiasakan anak anaknya belajar mengucap dan menjawab salam seperti dulu Chaira mengajari Darren.
"Waalaikumsalam ayah,,," keduanya langsung memeluk Darren yang sudah berjongkok di depan mereka.
"Wahh ayah masih bau acem ini,,," kata Darren menggoda mereka.
"Wangi kok ayah,,," sahut Rayya dengan kecupan mungilnya di pipi kanan Darren.
Levi pun tak mau kalah dengan mendaratkan kecupannya di pipi kiri Darren. Rasa lelah dan penat yang sempat dirasakan Darren di perjalanan tadi mendadak terhapuskan dengan sambutan penuh kasih dari Levi dan Rayya itu.
Darren hendak menggendong keduanya namun tas kerjanya membuatnya agak kesusahan.
"Sini biar aku yang bawakan" Ratna meraih tas itu dari tangan Darren.
"Tidak apa apa,,, lepaskan saja" tambahnya ketika Darren tidak begitu saja membiarkannya.
Darren pun menurut karena tetap ingin menggendong Levi dan Rayya. Mereka pun kemudian masuk ke rumah bersamaan.
Jika ada yang tidak tau silsilah dan cerita hidup Darren dan melihat kebersamaan mereka saat itu,,, tentu akan berpendapat atau beranggapan bahwa Darren beruntung memiliki dua anak lengkap dan istri yang menyambut kedatangannya saat pulang kerja.
Sayangnya semua itu hanyalah anggapan orang,,, bukan kenyataan,,,
\=\=\=\=
Jangan lupa vote, like dan komen yaa
__ADS_1
Terima kasih π