BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
Cobaan apalagi ini tuhan?


__ADS_3

Pagi ini Chaira menyiapkan segala keperluanku. Dia tampak diam saja tak sekali pun berbicara. Tak biasanya dia seperti itu. Tampaknya dia mulai terbiasa saling berdiam diri saat bersamaku. Ingin rasanya aku menyapanya lebih dulu tapi ku urungkan. Aku masih gengsi.


Ku habiskan rotiku dan juga ku teguk habis susuku. Melihatku selesai makan Chaira segera mengambil tas kerjaku dan menungguku di depan pintu. Dia hanya mencium tanganku saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Selanjutnya dia langsung masuk tanpa melambaikan tangannya padaku.


"Kamu berubah Chai" batinku saat sopir mulai menjalankan mobil.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Dibalik pintu Chaira menghapus airmata yang dari tadi ditahannya. Saat menutup pintu dia sudah tak sanggup membendungnya lagi. Mama yang hendak memanggilnya mengurungkan niatnya saat melihatnya menangis. Tapi tak ingin bertanya. Sebenarnya dia turut prihatin melihat hubungan kami yang terasa semakin hambar saja. Namun tetap tak ingin terlalu ikut campur.


Chaira yang melihat mama menatapnya segera sadar dan menghapus airmatanya.


"Mama,,, ada yang bisa Chai bantu?" tanyanya


"Iya nak,,, bisa kamu temani mama ke makam papa?" Mama mengajaknya


"iya ma,, Chai bersiap dulu ya" pamitnya dan segera ke kamar mengganti baju dan mengenakan cadarnya.


Terlintas di pikirannya untuk menelpon Darren untuk meminta izin. Tapi diurungkannya menelpon suaminya itu. Dia memilih untuk menulis pesan singkat saja.


"Aku minta izin keluar menemani mama ke makam"


"ya"


Chaira menghela napas. Sesingkat itu saja jawaban Darrem.


"Ya Rabb,,, jangan biarkan hamba memiliki pikiran bahwa suami hamba tak lagi peduli. Jauhkanlah hamba dari segala pikiran buruk hamba terhadap suami hamba. Berikanlah hamba kesabaran menghadapi sikap suami hamba" Chaira berdoa dalam hati


Chaira segera turun menemui mama yang sudah siap. Mereka berdua hanya berjalan kaki saja ke makam papa karena makam itu tidak terlalu jauh.


" Semoga papa tenang dan mendapatkan tempat terindah disisiNYA"


Mama dan Chaira menutup doa mereka bersamaan. Mama yang memegang pusara papa menitikkan airmata.


"Ma,,, jangan bebani langkah papa dengan tangisan mama ya. " bujuk Chaira sembari mengelus pundak mama

__ADS_1


"Mama hanya selalu sedih mengingat papa masih punya keinginan yang belum tersampaikan Chai,,," ucap mama


Chaira diam tak menjawab. Dia hanya mengajak mama segera meninggalkan makam. Dalam perjalanan pulang mereka memutuskan mampir ke toko bunga untuk membeli beberapa macam bunga untuk mengganti bunga yang sudah layu dirumah.


"Ma,,, Chai sudah meminta Darren menikah lagi" lirih Chaira ditengah kesibukan mereka merangkai bunga di rumah


Mama menghentikan kegiatannya mendengar perkataan Chaira.


"apa kamu yakin nak?" tanyanya


"Chai ingin Darren menikah lagi dan berharap istrinya itu bisa segera memberinya keturunan. Bagaimana pun juga Chai ingin segera punya anak ma. Walau mungkin anak itu tidak terlahir dari rahim Chai sendiri setidaknya Darren punya pewaris dan mama juga bisa segera menimang cucu" lanjutnya sembari tersenyum walau airmatanya bergulir membasahi pipinya.


"Terima kasih nak,,, walau sebenarnya mama ingin pewaris darimu tapi mama tak bisa melawan kehendak tuhan yang memang belum mempercayakan padamu. Bagaimana pun juga keturunan itu penting untuk keluarga kita karena Darren hanya satu satunya putra yang mama punya. Mama harap kamu bisa mengerti. Tapi mama juga khawatir padamu,,, Apa keputusanmu ini tidak menyakitimu nak?." mama menggenggam jemari Chaira


"Tidak ma,, Chai akan terbiasa dan baik baik saja." Chaira memastikan dan menyeka airmatanya


"Kamu memang menantu terbaik. Tuhan menjaminkan surgaNYA untukmu nak" Mama mulai menitikkan airmata lalu mencium kening Chaira


"Jangan menangis ma,,, Tolong bantu Chaira menguatkan hati" pinta Chaira


Mama mengangguk berkali kali sembari menghapus airmatanya.


"Entahlah ma,,, kami tak pernah membahasnya lagi" lirih Chaira


Mama diam saja. Dalam pikirannya dia sibuk menebak segala kemungkinan bahwa inilah yang membuat mereka berdua terlihat tidak harmonis lagi. Mungkin putranya ingin membiasakan Chaira untuk tidak terlalu mesra padanya. Bagaimana pun jika putranya menikah lagi tidak mungkin putranya bisa berlaku seperti itu jika ada kedua istrinya.


"Ahh sudahlah,, yang penting Chaira sudah tidak keberatan jika Darren menikah lagi dan aku bisa segera menimang cucu" mama membatin


Tok tok tok,,,


Mereka berdua menoleh ke arah pintu.


"Biar Chai yang buka ma" ujar Chaira


"Assalamualaikum nak,,, apa kabarmu?" ucap umi yang langsung memeluk Chaira

__ADS_1


"Waalaikumsalam umi,, kenapa tidak bilang kalau mau datang? Chai baik baik saja. Umi tidak mengajak Rosa?" tanya Chaira yang tak melihat siapa pun bersama umi.


"Tidak nak,, Rosa dan Toni sedang sibuk" jawab umi


Setelah dirasa cukup untuk kedua besan saling berbasa basi mama pamit istirahat ke kamar. Mama sengaja meninggalkan Chaira bersama umi karena mungkin saja Chaira ingin bicara dari hati ke hati berdua saja.


Keputusan mama meninggalkan mereka sangat tepat karena tak lama setelah mama ke kamarnya,,, ibu dan anak itu terlibat percakapan serius. Chaira tampak menguatkan dirinya saat menceritakan permasalahannya kepada umi yang antusias mendengarkan. Sesekali Chaira menyeka airmata yang menetes di kedua pipinya.


"Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu ini nak?" tanya umi setelah mendengar Chaira menceritakan semuanya.


Umi tak ingin Chaira bersedih dengan apa yang sudah diputuskannya sendiri. Chaira mengangguk pasti.


"Chai yakin umi,,, Chai hanya meminta doa dari umi agar Chai kuat" kata Chaira


"Iya nak,, umi tak pernah putus berdoa untukmu. Umi pesan sebesar apa pun masalahmu jangan pernah berburuk sangka kepada tuhan. Yakinkanlah hatimu bahwa akan selalu ada hikmah dibalik semua ujian yang DIA berikan. Tetaplah mendekat dan memohon pertolongan hanya kepadaNYA. Umi yakin kamu bisa melewatinya nak" umi menutup perkataannya sambil menyeka airmata di ujung matanya yang hendak menetes


"iya umi,,, terima kasih. kedatangan umi memberikan banyak kekuatan untuk Chai. Chai mohon maaf karena umi mengunjungi Chai ingin melepas rindu tapi malah mendengar semua hal ini" Chaira merasa tidak enak


"Tidak apa apa nak. Mungkin memang inilah bentuk pertolongan tuhan untukmu. Tuhan menggerakkan hati umi untuk mengunjungimu. Umi senang umi bisa menjadi manusia yang dipilih tuhan untuk menolongmu,, memberimu kekuatan dan ketabahan" kata umi


Chaira menggenggam tangan umi,,, menciumnya,, kemudian memeluk umi erat. Umi dengan setia membelai kepala putinya itu. Walau dalam hatinya dia merasa pilu mendengar semua ity namun dia tak boleh menampakkannya di depan putrinya. Dia tidak mau putrinya kembali bersedih.


"Ya Rabb,,, lindungilah putriku. Jauhkanlah dia dari segala kesusahan. Berikanlah putriku ini kekuatan dan ketabahan. " doa umi dalam hati


Umi segera berpamitan setelah cukup lama berada disana. Mama dan Chaira mengantarnya hingga dia masuk ke dalam taksi yang membawanya.


Cccckkiiiiitttt,,,,, Brrruuuaaakkkkk,,,,


Chaira dan mama yang baru saja masuk dikejutkan suara keras. Kemudian terlihat beberapa orang berlarian di jalanan. Chaira segera kembali ke jalan ingin melihat apa yang terjadi.


"Uumiiiiiiiiiiii" Chaira berteriak histeris begitu melihat taksi yang ditumpangi umi sudah ringsek dan dalam kondisi terbalik. Dilihatnya wajah umi yang sudah dipenuhi darah yang mengucur dari kepalanya.


"Ya Rabb,,, cobaan apalagi yang Engkau berikan padaku" batin Chaira


Dia lemas. Kakinya mendadak terasa lunglai. Pandangannya nanar. Dia terjatuh dan tak sadarkan diri.

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan komen yaaaa


Terima kasih 😍


__ADS_2