
...Selamat membaca πΈ...
...Maaf banyak typo ππ...
...πΈπΈπΈ...
"Emaaaakkk,,,Bapaaaakkkk,,," teriak Bimo yang menyambut kedatangan orang tuanya dan adik adiknya di bandara.
"Ampun ini anak udah tinggal di luar negeri masih aja bahasanya emak bapak. Mama kek,,,sekali kali panggil emakmu ini mama." sungut Yanti, ibunya Bimo.
"Alah emak,,,Mana cocok dipanggil mama. Naik pesawat aja paling masih mabuk udara kan tadi??" protes Tedjo, ayahnya Bimo.
"Aduh si bapak bikin malu wae. Pakai cerita emak mabuk." Yanti merasa malu.
"Kenyataan itu." Tedjo tak merasa ada yang salah.
"Eh sudah sudah,,, ini kemana calon istri kamu?? Emak sama bapak kan selama ini belum dikenalin. Sebenarnya emak sama bapak ini mah kurang yakin kamu beneran mau nikahin anak orang?? Pacaran aja gak pernah tau emak." seloroh Yanti.
"Iya sabar nanti Bimo kenalin. Tuh dianya lagi sambut papa sama rombongannya." tunjuk Bimo ke sisi lain di mana rombongan Darren baru tiba dengan pesawat yang berbeda.
Darren dan keluarga Bimo memang tidak berangkat bersamaan karena kebetulan jadwal keberangkatan pesawat Darren sempat di cancel karena Ada meeting direksi mendadak yang tidak bisa ditinggalkan.
"Emak sebenarnya malu kamu menikah sama anak orang kaya. Mana ini pesawat semua mereka yang bayar. Nanti emak tinggal di sini juga pasti mereka juga yang bayar hotelnya. Kamu mah nekad Bim cari istri. Gak sadar diri." Yanti mulai banyak bicara.
"Udah ilang ya mabuknya emak kok udah bawel aja??" tanya Tedjo yang langsung mendapat cubitan keras di pinggangnya dari Yanti.
"Aawww sakit bu." Tedjo mengaduh.
"Dih,,biasanya juga demen ibu cubit. Kan cubitan sayang itu,,," Yanti menggoda suaminya.
Bimo tepuk jidat menyaksikan ulah kedua orang tuanya itu. Bimo paham kenapa ibunya merasa minder dirinya menikahi Rayya karena memang perbedaan status sosial yang begitu jauh dan mencolok.
__ADS_1
Jika dipikir pikir memang rasanya bagai ketiban duriah runtuh bisa menikahi Rayya yang putri orang kaya tak kurang suatu apa. Tapi sejak awal Bimo tidak mengincar. kekayaan Rayya dan Darren tau itu. Oleh karena itu dati pihak Darren juga tak pernah punya pemikiran yang buruk pada Bimo dan keluarganya.
"Bu Yanti,, Bapak Tedjo,,,Saya minta maaf karena jadi gak bisa berangkat bareng. Ada urusan kantor yang gak bisa saya tinggalkan." Darren yang melihat keluarga Bimo langsung menghampir dan menyapa.
"Tuan Darren,,," Yanti kikuk.
"Aduh ibu,,, Gak usah panggil tuan. Saya bukan atasan atau majikan ibu. Kita ini keluarga. Jangan kaku begitu." ucap Darren.
"Iya tuan,, eh pak Darren." ganti Tedjo yang kikuk memanggil Darren seperti itu.
"Nah begitu kan lebih akrab. Bagaimana tadi perjalanannya?? Menyenangkan??" tanya Darren.
"Lumayan lucu pak. Ini ibunya anak anak katrok naik pesawat malah bikin ngakak. Mana isi mabuk udara lagi. Maklum ya wong ndeso tumben tumbenan naik pesawat."
"Aww,,," sekali cubitan Yanti mendarat di pinggang Tedjo.
"Hahaha,,, Pak Tedjo bisa saja. Tapi ibu sudah baikan kan? Atau masih mual??" Darren cemas dengan keadaan Yanti.
"Sudah baikan kok pak Darren. Jangan khawatir. Sudah bisa ngomel panjang lebar lagi kok." Tedjo mengatakannya sambil mengambil kuda kuda bersiap jika Yanti mencubitnya lagi.
"Maafin tingkah emak bapak ya ayah." ucap Bimo pada Darren.
"Gak perlu minta maaf. Ayah justru senang sama keluarga yang begini. Bisa cepat akrab tanpa batas." jawab Darren menepuk pundak Bimo.
Bimo jadi merasa lega karena Darren tak mempermasalahkan kekonyolan orang tuanya. Mungkin Darren sudah tidak kaget karena sering melihat kekonyolan Bimo juga selama ini. Ungkapan peribahasa buah jatuh tak jauh dari pohonnya itu memang benar adanya.
Masih di bandara,,,Bimo perkenalkan satu persatu anggota keluarganya kepada keluarga Darren. Ada Levi beserta keluarga Tiara juga yang datang ke Paris. Semua dibiayai Darren.
Tiara sempat merasa tak enak hati karena Darren juga biayai orang tuanya meski Levi bisa membayarnya sendiri. Tapi Darren menegaskan bahwa semua urusan yang menyangkut hari bahagia Rayya itu,,,adalah tanggung jawabnya.
Tiara akhirnya tak berani protes apa apa lagi. Dia hanya mengingatkan orang tuanya agar tak merepotkan Darren selama berada di Paris.
__ADS_1
"Jadi ini calon menantu emak?? Sholeha pisan euy,,, Pintar kamu cari istri Bim,,,Yang begini ini inshaallah bisa diajak berumah tangga sampai ke surga inshaallah." Yanti menyentuh wajah Rayya yang tertutup cadar.
"Aamiin,,, Inshaallah,,, Alhamdulillah Rayya masih tetap berusaha agar bisa istiqomah mak,,," ucap Rayya.
"Aamiin ya neng,,, Sini peluk emak dulu." Yanti membuka kedua tangannya menyambut calon menantu pertamanya itu.
Rayya yang baru kali ini mendapat pelukan dari sosok ibu setelah tak pernah mendapatkan pelukan Chaira setelah kepergiaannya langsung meneteskan airmata.
"Kenapa neng kok nangis?? Emak ada salah kata??" Yanti takut salah.
"Rayya senang dipeluk emak. Pelukan emak buat Rayya jadi merasa dipeluk bunda." jawab Rayya di sela isakannya.
"Oalah neng,,, Mulai sekarang neng jangan sedih dan jangan takut akan kekurangan pelukan ibu karena neng sudah punya emak sekarang. Meski tubuh emak jauh kalah wanginya dari tubuh bundanya neng,, tapi kasih sayang emak juga gak kalah sama bunda." Yanti yang baru ingat cerita Bimo bahwa Darren tidak menikah lagi dan selama ini membesarkan Levi dan Rayya seorang diri, turut merasakan apa yang dirasakan Rayya.
"Terima kasih mak." ucap Rayya kembali memeluk calon mertuanya itu.
"Terima kasih bu." Darren yang melihat dan mendengar ucapan Yanti tadi juga mengucap terima kasih.
Ada sekilas rasa bersalah dalam hatinya karena membiarkan anak anaknya tumbuh tanpa pengawasan dan kasih sayang sosok ibu,,, Tapi Darren tak bisa membagi hatinya lagi dengan wanita lain.
"Bidadariku,,,Maafkan aku yang tidak bisa mengalah demi anak anak. Aku sungguh tidak bisa membuka hati lagi." ucap Darren dalam hati.
"Ayah,,, Jangan pernah merasa bersalah pada kami. Ayah sudah lebih dari sekedar ayah,,,Ayah juga sudah jadi bunda bagi kami. Ayah terkuat,,, terbaik,,,bagi kami." Levi yang bisa sangat memahami apa yang tengah dirasakan dan dipikirkan ayahnya itu langsung mendekati Darren dan mengatakannya.
"Terima kasih nak." Darren tersenyum.
Setelah dirasa semua sudah siap melanjutkan kembali perjalanan menuju hotel,,,Mereka pun meninggalkan bandara.
Pesawat Dion akan tiba dalam tiga jam lagi dan Dion berpesan untuk tidak usah menunggu atau menjemputnya karena dia tidak langsung menyusul ke hotel melainkan singgah dulu di kantor klien barunya yang kebetulan berada di Paris.
Sekali perjalanan untuk bisnis dan nikahan Rayya,,, dan mungkin juga untuk jawaban akan perasaannya pada Karin.
__ADS_1
...πΈπΈπΈ...
...Terima kasih atas vote, like dan komennya πΉπβ€οΈ...