BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S Part 95


__ADS_3

Selamat membaca 🌸


Maaf banyak typo πŸ™


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌸🌸


"Jadi sekarang kalian memintaku menghukum kalian atas ketidaksopanan kalian tadi?" tanya Levi begitu semua sudah menegakkan kepalanya.


Seketika semua mengangguk dan membuat senyum Levi makin tak bisa dihilangkan dari wajah tampannya. Tiara sudah berkali kali menyenggol tangannya memberi tanda agar Levi tak terlalu menampakkan kesenangannya bisa menghukum anak buahnya.


"Apa pun hukumannya kalian tidak menolak??" tanya Levi makin membuat Tiara gusar.


"Sayang,,," Tiara hendak bicara tapi diberi isyarat untuk diam oleh Levi.


"Kami tidak akan menolak pak apa pun konsekuensi." ucap salah satu menggantikan si juru bicara yang sudah tak mau bicara lagi tampaknya.


Sepertinya si juru bicara kesal sedari tadi bicara terus karena membuat dirinya tampak seakan akan paling bersalah. Padahal semua juga bersalah. Oleh karena itu dia memilih diam dan tak lagi bicara. Membiarkan teman temannya gantian bicara. Lagipula semua sudah duduk di meja itu.


"Baiklah kalau begitu kalian makanlah,,, Ini sudah malam. Kasihan perut kalian jika dibiarkan kosong. Nanti bisa masuk angin atau sakit. Kalau kalian sakit siapa yang akan bekerja besok? Keluarga kalian juga akan susah kalau kalian sakit. Aku dan ayah mengundang kalian ke sini untuk bersenang senang dan berbagi kebahagiaan,,, bukan untuk pulang dalam kondisi tidak bahagia apalagi sakit." ucap Levi.


Tiara tersenyum penuh arti setelah mendengar suaminya menyuruh anak buahnya makan. Sedari tadi Tiara memang khawatir Levi akan merusak suasana malam ini dengan memberikan hukuman aneh untuk mereka.


"Ayo,,,Makan dulu semuanya. Di sini boleh,,, Di meja lain juga boleh. Aku juga mau lanjut makan dessert. Aku senang kalian sudah mau duduk dan menemani aku dan istriku. Sekarang kalian boleh menikmati acara santai ini tanpa aku kalau kalian merasa risih makan di sini." lanjutnya.


Senyum Tiara makin mengembang karena dia bahagia rupanya suaminya itu mengerti apa isi pikirannya juga.


"Ternyata Levi suamiku masih seperti dulu. Rendah hati,,, bukan pendendam." batinnya dalam hati.

__ADS_1


Melihat bos muda dan istrinya senyum senyum saja,,, Memua berpandangan dan tidak mengerti. Alih alih memberi hukuman,,, Levi malah menyuruh mereka makan dan peduli akan kesehatan mereka.


"Tapi pak,,," sanggah salah satu yang merasa urusan mereka belum selesai.


"Ada apa?" tanya Levi.


"Malam ini kami bisa saja makan namun mana bisa kami menikmati makanan itu kalau pikiran kami masih terganggu." ucap yang lain.


"Terganggu apa lagi memangnya?" tanya Levi.


"Mmm,,, mengenai apa yang sudah kami lakukan,,, Apa bapak akan memberhentikan kami besok??"Tanya yang lain to the point.


"Memberhentikan kalian??" tanya Levi.


"Iya pak,,, Kami kan sudah kurang ajar pada bapak dan keluarga." sahut yang satunya.


"Iya benar,,, Aku melihat semua itu. Aku juga sudah sering mengingatkan atau menegur kalian tapi kalian tidak pernah mau mendengarkanku karena aku hanya anak baru." jawab Levi membuat rasa bersalah mereka makin besar.


"Tapi Bagaimana bisa kalian berpikir aku akan memecat kalian? Bahkan selintas pun tidak ada bayangan aku akan memecat kalian." kata Levi berikutnya.


Lagi lagi semua berpandangan dengan pandangan makin tak mengerti.


Biasanya bos muda apalagi yang sudah tau selama ini pekerjaan mereka juga tidak maksimal pasti begitu diangkat akan langsung menyingkirkan semua yang pernah dilihatnya tak melaksanakan tugasnya dengan benar.


"Dengan memecat kalian memang apa yang aku dapatkan?? Aku hanya akan kebingungan karena pekerjaku berkurang dan bukan gampang mencari pekerja senior seperti kalian." ucap Levi.


"Aku yakin kalian bukan tidak punya kemampuan yang mumpuni di bidang kalian masing masing. Kalian hanya butuh untuk didongkrak lagi semangatnya agar kalian kembali seperti semula saat kalian berlomba lomba mendapatkan posisi kalian saat ini." kata Levi lagi.


"Setelah bertahun tahun kalian bergabung dengan perusahaan kami,,,Bukan pemecatan yang harusnya kalian dapatkan. Dedikasi kalian selama ini patut dipertimbangkan. Aku tidak ingin menjadi bos yang main pecat tanpa mengingat semua yang telah ku dapatkan dari anak buahku." lanjut Levi.

__ADS_1


Semua mendengarkan dengan seksama.


"Aku ingin menjadi atasan yang merangkul kalian semua. Atasan yang Jika kalian ada masalah,,, akulah tempat nyaman yang bisa kalian datangi,,, Sama dengan apa yang ayahku lakukan pada kalian semua selama ini,, Aku dan ayahku sebenarnya sama. Kami tidak pernah membeda bedakan kalian. Kami menyayangi kalian semua. Tanpa kalian,,, Kami bukan apa apa,,," tegasnya.


"Mengenai kesalahan kalian,,, Aku sadar betul,,, Kalian adalah manusia biasa sama sepertiku. Hari ini mungkin kalian yang berbuat salah,,, Bisa jadi besok aku. Kesadaran itu aku gunakan untuk memberi kalian kesempatan agar kalian bisa belajar dan memperbaiki diri kalian. Aku juga takut dengan Memecat kalian hanya akan menimbulkan kebencian dalam hati kalian kepadaku." kata Levi dengan wajah sedihnya.


"Karenanya aku ingin kalian tetap bersamaku,,, Bersama sama Bangkit dari kesalahan dan berusaha tak mengulanginya lagi. Belajar lebih menghargai sesama tak peduli dia bawahan atau atasan karena pada dasarnya tak ada satu pun manusia yang berhak untuk membeda bedakan derajat seseorang." Levi masih panjang lebar.


Semua makin menunduk dan merenungi kesalahan masing masing.


"Saat kalian salah,,, tugasku adalah merangkul kalian. Bukan semena mena menghukum kalian apalagi menggunakan status dan kekuasaanku saat ini. Jadi kalian tenang saja,,, Bagi yang masih ingin bekerja denganku,,,silahkan kerja seperti biasa namun dengan jiwa dan semangat yang baru. Maafkan diri kalian sendiri terlebih dulu,, Dan bangkitlah." lanjut Levi.


"Bagi yang tidak terima dengan sikap dan perkataanku atau merasa apa yang kalian lakukan sebelumnya adalah bukan suatu kesalahan,,, Aku mengerti dan tak akan memaksa kalian. Aku hanya bisa mendoakan semoga lintu hidayah terbuka lebih lebar bagi kalian segera,,, Aamiin." tutup Levi.


"Pak kami,,," salah satu ingin bicara namun terasa berat.


"Sudah kalian makan saja dulu ya. Tidak usah dipikirkan dulu tentang keputusan kalian. Kalian masih punya waktu nanti di rumah untuk memikirkan semuanya. Sekarang saya mohon kalian berbahagia bersama kami." Tiara menjawab.


Levi memandang istrinya dengan senyum bangga katena istrinya sependapat dengannya.


"Baik bu Tiara,,, Kalau begitu kami pamit ambil makanan dulu." pamit mereka.


"Silahkan,,," jawab Tiara lembut.


Akhirnya mereka semua bisa bernapas lega dan dadanya tak lagi sesak. Mereka pun lantas berbaur dengan para undangan lain yang masih memanjakan perut dan lidahnya dengan hidangan hidangan lezat yang masih terus saja berdatangan.


Dari meja seberang Darren tersenyum.


"Putraku sudah dewasa dan mampu menjadi pemimpin yang baik." gumamnya setelah sedari tadi rupanya mendengarkan apa pun yang dikatakan Levi.

__ADS_1


__ADS_2