
Dua minggu kami menikmati bulan madu kami di Paris,, aku masih belum puas menghabiskan waktuku bersama Chaira.
Namun menjadi pengantin baru tak lantas menjadikanku lupa bahwa aku juga punya tanggung jawab baru,,, Aku sebagai CEO baru di perusahaan papa yang sudah diover handle kepadaku juga harus mulai mempelajari dan memahami segala sesuatu tentang perusahaan. Untuk itu hari ini aku meminta izin Chaira agar memperbolehkan aku mulai bekerja setelah sebulan kami menikah.
"Iya sayang,,, tentu saja boleh. Bagaimana pun jika itu tanggung jawabmu sebagai anak papa dan juga sebagai suami yang mencari nafkah untuk istrinya. Pergilah sayang,,, doaku selalu bersamamu" ucap Chaira pagi itu berusaha meyakinkan aku yang masih ragu hendak meninggalkannya dirumah baru kami ini.
Rumah ini merupakan hadiah perkawinan dari papa mama untuk kami. kami mulai menempatinya sekembalinya kami dari Paris. Awalnya Chaira menolak karena ia tak enak menerima limpahan harta dari mereka. Dia ingin kami belajar mandiri namun mama berhasil meyakinkannya bahwa suatu saat nanti jika memang kami sudah memiliki cukup banyak tabungan kami diperbolehkan untuk memilih dan membeli rumah sendiri. Tiket honeymoon ke Paris pun sebenarnya cukup membuat hati Chaira sangat tidak enak namun aku katakan padanya untuk menerimanya saja agar papa mama tidak kecewa.
Aku menatap wajah istri cantikku itu. Walau telah memiliki dirinya seutuhnya aku masih tak pernah puas memandang wajah ayunya itu. Ku perbolehkan dirinya membuka cadarnya saat kami berdua dirumah karena kebetulan Chaira tak menginginkan adanya asisten rumah tangga atau pun tukang kebun membantunya. Dia ingin mengerjakan tugasnya sebagai istri sepenuhnya. Lagipula dia mengatakan itu semua juga untuk mengusir rasa bosannya dirumah saja. Aku tak mengijinkannya bekerja diluar tapi aku tak melarangnya untuk bekerja dari rumah. Chaira yang rupanya memiliki bakat merancang busana mulai berani secara online menawarkan rancangan rancangannya kepada teman temannya yang membuka usaha di bidang fashion.
"Terima kasih sayang atas ijinmu. Baik baiklah jaga dirimu dirumah ya." pesanku sembari mengecup keningnya
"pulanglah untuk makan siang bersamaku nanti ya,,, atau kalau memang pekerjaanmu terlalu banyak kamu bisa menelponku agar aku sendiri yang mengantarkan makan siangmu" tukasnya sembari menata kotak sarapanku ke dalam tas bekalku.
Ya,,, jabatan tinggi di perusahaan tidak membuatku lantas malu membawa kotak nasi dari rumah. Kenapa harus malu? Aku justru harus berbangga hati menenteng makanan yang khusus dibuat oleh istriku sendiri di zaman sekarang yang banyak pria di luar sana tak seberuntung aku memiliki istri yang mau menyiapkan sarapan untuk suaminya.
"apa jadinya aku jika istriku memiliki kesibukan tinggi seperti kebanyakan wanita wanita karir diluar sana? " aku membatin sendiri saat aku melihat Chaira berjalan mendekatiku membawa tas bekalku itu
"ini sayang menu untuk sarapanmu nanti. Hari ini kamu kesiangan jadi tak ada waktu lagi untuk sarapan dirumah" istriku dengan lemah lembut bicara
"iya sayang. Besok ku usahakan bisa bangun lebih pagi agar kita bisa sarapan berdua ya" sahutku seraya mengelus kepalanya
Chaira mengangguk kemudian memberikan tas kerjaku dan mencium telapak dan punggung tanganku. Dulu aku pernah heran melihatnya melakukan itu pertama kalinya padaku. Tapi dia bilang itu karena baginya mencium punggung tangan berarti meminta doa, restu serta ungkapan hormat kepadaku. Sedangkan mencium telapak tangan menandakan rasa terima kasihnya padaku karena dengan tangan itulah aku bekerja untuk mencari nafkah baginya.
Chaira tak pernah berhenti membuatku lebih mencintainya lagi dengan semua yang dilakukannya. Dia membuat aku merasa begitu sangat dihargai.
"Aku berangkat dulu sayang. Assalamualaikum"pamitku
"Walaikumsalam sayang,, berhati hatilah di jalan" pesannya
\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari pertama di kantor aku disibukkan dengan banyak pekerjaan. Dimulai dari perkenalan ke seluruh divisi hingga mempelajari semua hal. Kesibukan di kantor membuatku tak merasa waktu berjalan begitu cepat hingga saat melirik jam di tanganku aku terkejut.
"ahh sudah jam 12. Chaira pasti menunggu kabar dariku" batinku
Segera ku raih ponselku dan mendial nomernya.
__ADS_1
"sayang,,, aku akan segera pulang untuk makan siang bersamamu. Apakah kamu sudah selesai memasak?" tanyaku
Chaira mengatakan bahwa semua sudah siap dan hanya tinggal menunggu kedatanganku saja. Aku berniat untuk membeli saja makanan tambahan jika dia belum selesai masak karena aku tak punya banyak waktu jika harus menunggunya selesai masak. Tapi sekali lagi aku merasa bersyukur mendapatkan istri yang pandai mengatur waktunya sendiri dan mengerti akan waktuku. Aku segera bergegas mengemudikan mobilku membelah jalanan menuju rumahku.
Bidadariku tampak cantik membukakan pintu dan menyambut kedatanganku. Wajah ayunya kian bertambah saat dia mengenakan hijab berwarna terang. Jika saja aku sedang tak terburu buru begini ingin rasanya ku bawa dia ke ranjang kami dan melampiaskan hasratku padanya yang seakan tak pernah padam ini.
"Sayang siang ini aku ada meeting penting dengan klien baru. Doakan semoga semua lancar dan kami bisa bekerja sama dengan perusahaan mereka" kataku pada Chaira yang sedang sibuk mengambilkan nasi dan lauk pauk untukku.
"iya sayang pasti ku doakan,,, Jangan lupa baca Bismillah setiap saat akan mengerjakan sesuatu ya sayang. seperti nanti sebelum bertemu klienmu agar semua yang kamu kerjakan berkah." jawabnya sembari menyodorkan piringku
Aku tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Kami memulai santap siang kami setelah berdoa bersama. Aku tak pernah bosan dengan masakan istriku ini. Sejak pertama merasakan masakannya aku tak pernah lagi membeli makanan diluar. Tidak ada masakan lain yang leboh cocok untuk lidahku. Ku habiskan makan siangku ini setelah menambah nasi tadinya. Chaira tersenyum senang melihatku yang sangat menikmati masakannya.
"Nanti kamu akan pulang tepat waktu kan sayang?" tanya Chaira memastikan
"iya sayang pasti" janjiku
Setelah berpamitan aku kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaanku. Bertemu klien baru membuat aku sedikit merasa canggung dan grogi namun dengan bantuan staff lama papa aku bisa mengatasi hal itu dengan baik. Kesepakatan untuk bekerja sama akhirnya diputuskan. Aku sangat senang dan puas dengan hasil kerjaku dan timku. Tak lupa aku mengabarkan pada bidadariku dirumah yang pastinya telah berdoa untukku. Aku tak mungkin bisa meraih sukses seperti ini tanpa doa darinya juga.
Setelah menyelesaikan pekerjaan aku segera bergegas pulang karena Chaira memberitahuku bahwa malam ini kami tak hanya akan makan malam berdua saja karena mama papaku serta umi dan abi serta bu Wati serta anak anaknya akan mengunjungi kami dan makan malam bersama kami. Aku bahagia karena pernikahan kami ini tak hanya membawa kebahagiaan untuk kami berdua saja melainkan untuk keluarga kami juga. Namun kami tak menyadari ada satu orang yang tak bahagia akan hal itu.
"Besar juga rumahmu ini" bu Wati bicara pada Chaira di dapur saat mereka mulai menyiapkan makanan.
"kalau kamu dapat rejeki itu jangan lupakan keluargamu,,, jangan seneng itu dinikmati sendiri" ketus bu Wati
"maksud ibu apa ya?" tanya Chaira keheranan
Bu Wati menghela napas.
"apa kamu tidak lihat aku dan abi mu ini,,, hidup kami serba kekurangan. Apa kamu tidak ingin sedikit membagi apa yang kamu miliki ini untuk kami???? Apa kamu,,,,,"
"Watiiii,,, cukup!!!" suara abi terdengar
Bu Wati yang terkejut tak melanjutkkan perkataannya. Dia menoleh ke arah abi. Wajah kesalnya tidak bisa disembunyikannya.
"memangnya salah kalau aku cuma minta dia itu ingat bahwa keluarganya ini kekurangan. Setidaknya dia bisa kan minta suaminya yang kaya raya itu untuk membantu kita" sungut bu Wati
Chaira segera menahan abi yang hendak bicara lagi.
__ADS_1
"sudah bi sudah,,, gak enak kalau didengar yang lain" bisik Chaira pada abi
"Nanti Chaira akan coba bicarakan pada Darren ya bu,,,sekarang kita bawa dulu semua makanan ini ke meja. Sepertinya semua sudah menunggu di meja makan."lanjut Chaira
Bu Wati yang masih belum puas dengan jawaban Chaira akhirnya mengalah dan meninggalkan Chaira sendiri di dapur tanpa membantunya. Chaira hanya menggeleng melihat kelakuan ibu tirinya itu.
" Biar Rosa bantu kak" Rosa muncul dan menawarkan diri
"Terima kasih dek,,, " sambut Chaira
Chaira memperhatikan Rosa yang tinggi semampai itu. Dia terpikir ingin menjadikannya model untuk gaun rancangannya. Namun dia perlu membicarakannnya dulu dengan suaminya. Untuk sementara dia tahan dulu pikirannya itu dan memilih kembali menyiapkan makan malam mereka.
"masakanmu enak sekali Chai,, " mama memuji
"iya papa sampai nambah nih" timpal papa
"jangankan papa yang baru sekali makan masakan Chai,,, aku yang sudah tiap hari dimasakin aja masih nambah nambah terus" Aku tak mau kalah
Semua tertawa mendengar ucapanku.
"pantas kamu kelihatan gemuk sekarang Dare,,, "mama menyahut dan kembali membuat kami semua tertawa.
Bu Wati dengan tawa palsunya berusaha membaurkan dirinya. Kami menawarkan kepada mereka semua untuk menginap malam ini.
" apa kami tak mengganggu kalian nak?" tanya umi
"tentu saja tidak umi. Rumah ini memiliki banyak kamar. Kalian bebas memilih kamar mana yang ingin kalian gunakan." sahut Chaira
Mendengar jawaban Chaira itu mereka semua akhirnya mengiyakan. Sepertinya mereka tadi khawatir akan mengganggu kami yang masih pengantin baru ini. Walaupun mereka menginap disini tentu saja mereka tak akan mendengar apa pun yang kami lakukan dalam kamar karena aku sudah memasang peredam suara seperti yang disarankan oleh dua sahabatku hehehehe,,,
Chaira yang tampak menahan suara desahannya saat ku pacu tubuhku diatasnya tersenyum malu saat ku bisikkan kata tentang peredam suara itu.
"jangan ditahan sayang" bisikku lagi dan kembali mengambil kendali akan dirinya membawa kami hingga ke puncak. Menuntaskan tugasku sebagai suami. Chaira pun telah berusaha sebaik mungkin menyenangkan aku selama ini.
Kami melewati malam dengan tidur saling berpelukan.
Jangan lupa vote, like dan komentarnya yaaaa,,,
__ADS_1
Terima kasih 😍