
Selamat membaca 🌹
Maaf banyak typo 🙏
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌹🌹
Sore itu kuliah Bimo sudah selesai dan dia tengah bersiap siap menuju ke parkiran menghampiri vespa modif kesayangannya.
"Bimo,,, Tunggu!!" panggil Karin.
Bimo yang sudah hafal benar suara itu menghentikan langkahnya dan mendengus kesal.
"Nih hareem gak kapok kapok ya udah dikasih omongan gitu hmmm,,," batinnya.
"Apa lagi sih Rin?? Lo kayak rumput teki tau,,, Udah dicabut masih aja tumbuh sono sini." gerutu Bimo.
"Gue sudah bilang kan jangan,,," perkataan Bimo terhenti saat Karin mendongakkan wajahnya.
"Kalau seandainya aku ini gadis yang punya iman,,, Apa kamu akan pertimbangkan aku??" tanya Karin sore itu dengan wajah sendu dan mata sembabnya.
"Kenapa muka lo gitu? Lo nangis??" Tanya Bimo heran dan dengan sedikit simpati.
Sedikit saja ya.
"Jawab aja pertanyaanku Bim,,," pinta Karin.
Tunggu!!
Nih Karin kenapa ya,,,
Tumben dia bahasanya sopan aku kamu,,, bukan gue elo.
Bimo berpikir keras dan memandang curiga berusaha mencari cari arti dari perubahan sikap Karin itu. Gadis manja ini pasti lagi buat buat drama buat menarik simpatinya.
"Bim,,,,!!" seru Karin menyadarkan Bimo.
"Eh apaan,,,,?? Lo?? Beriman?? Sudah runtuh kali nih langit ya?? Lo kesambet setan apaan ngomong gitu Rin? Secara lo itu Karina Saswita yang menjunjung tinggi adab kecantikan dan keseksian kan,,,Hahaha lo bikin gue ngakak aja deh,," Bimo terpingkal pingkal.
Karin diam bahkan sama sekali tak menjawab atau pun protes dengan sikap Bimo yang mentertawakannya dengan keras hingga beberapa mahasiswa yang ada di sekitar mereka terus memperhatikan mereka.
Bahkan Karin meneteskan airmata.
__ADS_1
What??
Karin,, Nangis??
Gara gara apaan?
Bimo menutup mulutnya berusaha berhenti tertawa saat menyadari hal itu. Dipandanginya wajah sendu dan basah oleh linangan airmata itu dengan seksama. Timbul rasa bersalah di hatinya membuat gadis itu menangis.
"Rin,,,Lo nangis gara gara gue ketawain?" tanya Bimo menyentuh pundak Karin dan sedikit mengguncangnya.
"Aku cinta kamu Bimo,,," Lirih Karin tetap menunduk dan tersedu.
"Rin,,, Jangan gini dong. Mana Karin yang biasanya sok dan mendominasi itu?? Ini lo beneran?? Kok jadi cengeng gini sih lo??" Bimo heran sekali.
"Jawab Bim,,,Kalau aku berubah dan bisa jadi gadis beriman seperti katamu kapan hari,, Apa kamu mau pertimbangkan aku??" mata bulat yang meredup itu menatap polos pada Bimo menuntut jawaban.
Ah Karin,,,
Kamu kok cantik sih,,,
"Eh apaan sih gue ini,,,, Astaghfirullah,,," Bimo istighfar dalam hati.
"Gue gak bisa jawab itu Rin. Tapi gue demen kalau lo emang mau berubah. Dan semoga perubahan itu datangnya dari hati lo,,, Bukan karena lo mau dapetin gue aja. Lo musti tulus Rin kalau mau berubah. Kalau gak,,, itu akan terasa berat." Bimo menasehati.
"Rin,,, Gue,,,,Gue gak tau rahasia tuhan dan rencananya buat gue. Tapi saat ini dan untuk ke depannya gue memang tak ingin melukai hati gadis gue." ucap Bimo sebelum Karin benar benar meninggalkannya.
"Huuffttt,,,, Kok gue ngerasa jahat tumben ya sama cewek. Gila,,, Gue kayaknya baru kali ini bikin cewek nangis. Kok sakit ya rasanya lihat cewek nangis,,, Nyesek banget di dada gue." batin Bimo.
Wajah Rayya terbayang di benaknya kemudian.
"Tapi syukur deh gue bisa tau gimana rasanya kalau ada cewek nangis karena gue,,, Jadi gue bisa gak ulangi itu apalagi ke Rayya. Rayya gak boleh nangis gara gara gue. Gue bakalan gak maafin diri gue sendiri kalau sampao Rayya sedih." tekad Bimo makin kuat.
🌹🌹
Seminggu berlalu bahkan hampir dua minggu sejak terakhir kali bicara pada Karin,,, Bimo tak pernah lagi ditemui atau pun melihat Karin.
Gadis itu bak hilang ditelan bumi. Entah kemana perginya gadis itu. Dengar dengar sih ayahnya dipindahtugaskan dan itu memaksanya untuk ikut pindah juga.
Entahlah Bimo tidak peduli.
Malah bagus bukan karena pengganggu hubungannya dengan Rayya hilang akhirnya. Dan tentu saja menghilangnya Karin itu juga sudah diceritakannya pada Rayya.
"Abang gak nyinggung perasaannya kan?"
__ADS_1
"Mungkin sih tapi biarin aja deh Ay,, Gadis seperti Karin itu sesekali juga perlu digituin."
"Tapi kan tetap lebih baik lagi kalau abang bisa memberinya pengertian baik baik tanpa harus membanding bandingkan Rayya sama dia."
"Habisnya dia ngeyel sih. Eh kok jadi bahas Karin mulu sih ini kita. Udah ah gak usah dibahas lagi. Masih banyak hal yang lebih penting dan seru buat kita bahas kan? Oh ya gimana kuliahmu hari ini?"
"Alhamdulillah lancar bang. Tadi Rayya dapat resep baru yang kira kira akan bisa Rayya pakai untuk menu restoran Rayya kelak."
"Semangat belajar dan gapai cita cita kamu ya sayang,,, Abang akan selalu support dan doain semoga semua yang kamu impikan bisa jadi kenyataan,,,Aamiin,,,"
"Aamiin,,,, Ayya sholat dulu ya bang sudah masuk waktu isya nih di sini. Assalamualaikum bang,,,,"
"Waalaikumsalam calon bidadari abang."
Begitulah kisah LDR hari itu terjalin. Semakin erat semakin manis semakin tak sabar menanti waktu mempertemukan mereka.
🌹🌹
"Bidadariku,,,Lihat ini cucu kita. Dia tampan ya,,,Seperti aku kan??" Darren bicara sendiri di depan foto Chaira berukuran besar di kamarnya sambil menggendong Birru.
Birru yang sudah mulai bisa diajak berinteraksi itu pun tertawa tawa khas bayi yang buat Darren makin gemas. Tangan Birru juga menggapai gapai foto Chaira seperti ingin minta digendong.
"Mau minta gendong sama grandma ya sayang ya,,, Kasihan Birru gak bisa merasakan kelembutan sentuhan grandma,,, Sabar ya sayang,,, Grandma mungkin gak nisa sentuh kamu tapi grandpa yakin,,, Grandma sedang tersenyum pada kita saat ini." Darren berbicara.
Birru tertawa lagi seolah mengiyakan perkataan Darren.
"Anak pintar,,," puji Darren.
Tak ingin kehilangan atau melewatkan waktunya melihat tumbuh kembang cucunya seperti dirinya melewatkan tumbuh kembang Levi dulu,,, Sejak Birru lahir,,, Darren tak terlalu aktif di kantor karena sekarang hampir sembilan puluh persen urusan kantor sudah dihandle oleh Levi. Darren hanya ingin menghabiskan waktunya bersama cucu pertamanya ini.
"Seandainya saja aku lebih cepat menyadari kebodohanku dulu,,, Seandainya saja aku bisa pertahankan rumah tangga kita,,, Seandainya saja kamu tak perlu menikah dengan Ray dan mengalami kecelakaan itu,,, Kita akan menua bersama dan bermain dengan cucu cucu kita sayang. Kamu akan terlihat keriput tapi makin cantik di mataku yang makin rabun."
Airmata Darren menetes.
Entah airmata sedih atau bahagia dengan semua yang sudah terjadi.
Sedih mengingat saat ini dirinya hanya sekedar berandai andai saja menua bersama Chaira namun bahagia karena menikahnya Chaira dengan Ray akhirnya menjadikannya seorang ayah yang punya putri secantik Rayya.
"Skenario tuhan tetap yang terbaik Dare,, Bersyukurlah untuk semuanya. Untuk semua kebaikan maupun sesuatu yang kamu rasa buruk,,, karena keburukan itu tetap menyisakan kebaikan untukmu jika kamu termasuk orang orang yang pandai bersyukur." Darren menasehati dirinya sendiri.
\=\=\=\=\=
Terima kasih atas vote, like dan komennya 🌹
__ADS_1