BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
Surat


__ADS_3

"Cari,,, Temukan dia untukku!!!!" Aku berteriak di ruang kerjaku


Beberapa orang suruhanku itu segera menyanggupi dan meninggalkan ruanganku.


Dion yang duduk di kursiku hanya memandangiku yang kalut. Sesaat kemudian dia beranjak dan menepuk bahuku.


"Gue tau lu lagi kalut bro,,, tapi kalau lu kayak gini itu otak lu gak bisa pakai mikir jernih. Lu musti tenang bro" ujarnya


"Gue gak bisa tenang sebelum gue temuin istri gue!!!!" ketusku.


Belakangan ini aku jadi sensitif dan pemarah. Entah apakah hal itu sebenarnya adalah ungkapan kekesalanku pada diriku sendiri atau bagaimana.


"Gue tau,, tapi ada hal lain juga yang harus lu urus. Istri lu tuh gak cuma Chaira aja,,, tapi ada Febby. Mau lu apain tuh wanita? Lu gak bisa biarin dia gitu aja. Lu harus ambil tindakan bro" Dion mengingatkan


Arrrrggghhhhh,,,


Aku mengacak acak rambutku. Ku biarkan saja telpon di meja kerjaku berbunyi. Sepertinya dari Sinta. Melihatku tak bergeming Dion memutuskan untuk menjawab telpon itu.


"Suruh dia masuk" titah Dion pada Sinta yang menyampaikan ada Angga yang ingin bertemu.


Angga masuk.


"Apa lagi sih ini????" Aku bertambah emosi melihat Angga.


"Dare,,, gue datang baik baik. Gue cuma mau bicara sama kalian berdua. Please kali ini kalian terima gue" Pinta Angga


"Lu mau bilang apa lagi bro?" tanya Dion


Aku yang sama sekali tak tertarik diam saja dan memalingkan wajahku. Aku sungguh muak melihat wajah Angga karena mengingatkanku pada kebodohanku.


"Dare,, gue tulus ingin minta maaf. Maafin semua kesalahan gue ke lu. Gue sungguh gak pernah bayangin akan seperti ini akhirnya. Gue sadar gue salah sudah main di belakang lu. Gue emang baji***n bro,,, tapi gue sudah sadar dan gue ingin perbaiki semuanya." kata Angga yang menghela napas karena aku sama sekali terlihat tak mendengarkan


Aku memang sedang tak mendengarkan karena pikiranku jauh melayang pada Chaira yang belum juga bjsa ku temukan. Betapa aku sangat merindukan istri cantikku itu.


"Dare,,, " suara Angga menggangguku


"Gue ingin kita seperti dulu lagi. Kasih gue kesempatan buat ngebuktiin kalau gue sudah berubah Dare,,, please" lanjutnya


Aku menatap matanya tajam.


"Agar kamu bisa kembali menjebakku?? Memintaku untuk kembali menjadi ayah dari bayi yang sekarang dikandung wanita itu? Bayi yang aku sendiri tak tau bayi siapa itu sebenarnya" aku mulai marah


Dion yang dari tadi melihat ketulusan dalam nada bicara dan sorot mata Angga berusaha menengahi.


"Bro,,, gak ada salahnya kita coba maafin dan kasih dia kesempatan lagi. Kalau masalah anak nanti gue yang akan urus. Gue akan buktikan bayi itu bayi siapa. Bayi lu kah,,, atau Angga kah,, atau mungkin pria lain lagi. Tapi untuk saat ini lu trima dulu kenyataan bahwa lu memang tetap harus bertanggung jawab sama Febby selaku suaminya." kata Dion


"Kita bisa tempatkan dia di rumah yang dijaga ketat oleh orang orang kita. Lu gak perlu tinggal sama dia. Daripada lu kasar sama dia saat lu emosi." lanjutnya


"Awalnya gue merasa gue mencintai dia,, tapi omongan papa kemarin ada benarnya. Papa buat gue sadar bahwa gue gak mencintainya. Gue cuma terbawa perasaan bersalah pada Mike." Angga mulai bicara lagi

__ADS_1


"Kejadian yang menimpa mama lu sungguh gue gak pernah tau Dare. Kejadian itu juga membuka mata gue bahwa Febby bukan wanita yang baik untuk gue jadikan pilihan hati gue ke depannya jika lu sampai menceraikan dia" lanjutnya lagi


"Gue memang akan ceraikan dia setelah bayi itu lahir." cetusku


"Gue berani sumpah bayi itu bukan bayi gue Dare. Gue bahkan mau buat perjanjian tertulis sama lu bahwa gue akan bertanggung jawab seandainya kelak anak itu terbukti anak gue. Gue yakin lu gak akan main curang." janji Angga


"Maksud lu,,, lu bakal mau nikahin dia kalau sampai anak itu terbukti anak lu walau lu tau Febby gak baik buat lu?" tanyaku memperjelas


"Gue mungkin gak bakal nikahin dia tapi gue akan rawat anak itu dan gue ambil hak asuhnya." jelasnya


Aku diam dan berpikir.


Drettttt,,,


Aku menyambar ponselku dan menjawab panggilan.


"Apa????" aku terkejut


"Baik,, saya segera kesana." kataku pada orang yang menelponku.


Dion dan Angga berpandangan.


"Kita kerumah sakit sekarang. Febby kabur dari sana" kataku


Dion dan Angga segera mengiyakan. Kami segera masuk ke dalam mobilku. Seperti dulu dulu saat kami selalu bertiga kemana mana Dion lah yang menyetir.


Setelah sempat berpandangan dengan Angga yang dari awal mengurus semua, Angga memintaku untuk maju.


"Saya suaminya" kataku


"Pasien meninggalkan sebuah surat. Mungkin anda bisa baca" ujar suster sembari menyerahkan surat itu.


"Oh ya pak,, anda juga diharuskan membayar seluruh biaya penanganan rumah sakit untuk pasien selama ini" tambahnya


"Akan segera kami urus sus,,, terima kasih" Dion menjawab mewakiliku.


Dion segera pergi menuju ke bagian pembayaran dan menyelesaiakan semuanya.


Aku menyerahkan surat Febby yang sudah ku baca pada Angga.


"Dare,, aku minta maaf untuk semua yang sudah aku lakukan. Aku tau kesalahanku sudah terlalu banyak untuk bisa kau maafkan tapi aku tetap meminta agar kau sudi memaafkanku.


Dare,,, anak yang ku kandung ini adalah anakmu dan aku tidak bohong. Aku tak pernah mengkhianatimu selama pernikahan kita. Apa yang pernah ku lakukan dulu bersama Angga tak pernah lagi ku ulangi.


Aku pergi Dare,,, setidaknya ijinkan aku melahirkan anak ini dulu lalu kau bisa berbuat semaumu padaku. Aku siap bertanggung jawab.


Dan untukmu Angga,,, Terima kasih banyak sudah menjagaku selama ini. Aku juga minta maaf padamu karena aku yang menggodamu dulu. Membuatmu menjadi duri dalam persahabatan kalian. Aku sungguh minta maaf.


Aku pamit pergi dari kehidupan kalian.

__ADS_1


Maafkan aku"


Angga selesai membaca surat Febby. Dia menatapku. Ingin mencari tau apa rencanaku selanjutnya.


Dion yang baru kembali setelah selesai mengurus administrasi tampak heran melihat kami saling berdiam diri.


"Apa ada masalah lagi???" tanyanya


Angga tak menjawab dan hanya mengulurkan surat itu untuk dibaca juga oleh Dion. Dion membaca dengan cepat isi surat itu.


"Nah bagus kan kalau gitu,,, Artinya tuh wanita udah tobat. Urusan nanti lu masih tetap mau bawa kasus kematian mama lu ke hukum itu dia juga sudah pasrah dan mau bertanggung jawab. Jadi sementara Febby ngilang lu bisa fokus mencari Chaira bro" kata Dion yang sama sekali tak memusingkan kepergian Febby


Baginya justru itu bagus untukku dan untuk persahabatan kami. Disurat itu Febby sudah menjelaskan bahwa dirinyalah yang menggoda Angga hingga Angga lupa diri.


"Chaira hilang?" tanya Angga


Dion mengangguk.


"Kita sudah coba cari tapi belum juga ada hasilnya. Mungkin gak sih kalau dia pergi keluar negeri Dare?" tanya Dion padaku yang masih diam saja.


"Gue akan bantu lu cari Chaira Dare,,, gue akan suruh semua orang suruhan gue untuk cari jejak Chaira." kata Angga


Aku hanya meliriknya saja.


"Please Dare,,, percaya sama gue. Terima gue lagi. Gue ingin bantu lu. Gue ingin kita jadi sahabat lagi seperti dulu." lirihnya tertunduk lesu karena sorot mataku masih saja tampak menghakiminya.


Aku menghampirinya yang masih saja tertunduk. Ku sentuh kedua bahunya lalu ku peluk dirinya. Angga yang terkejut langsung membalas memelukku.


Dion yang menyaksikan hal itu pun tak ingin ketinggalan. Dia ikut memeluk kami berdua.


"Sahabat selamanya" ujarku pada mereka


"Yaaa sahabat!!!!" sahut mereka serempak


"Terima kasih Dare" ucap Angga hampir menangis bahagia karena aku memaafkannya


"Lu jangan seneng dulu,, gue bakal pecat lu lagi jadi sahabat gue kalau lu gak bisa temuin Chaira!!!" ancamku setengah bercanda


"Hahahhahah siap bossss!!!" jawabnya


Persahabatan kami kembali terjalin. Suasana yang kaku kemarin sudah mencair.


Aku ingat Chaira yang selalu mengajariku untuk memaafkan siapa pun yang mungkin pernah dengan sengaja membuat kesalahan pada diri kita.


"Sayang,,, aku ingin segera bisa menemukanmu dan kembali belajar banyak darimu. Aku sadar sebagai imammu aku masih banyak kekurangan. Tuhan,, pertemukan kami" doaku dalam hati.


Jangan lupa vote, like dan komen yaaa


Terima kasih 😍

__ADS_1


__ADS_2