BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
Menuruti maumu


__ADS_3

Febby terbangun pagi ini dengan perasaan tak menentu.


"Kenapa Darren tak menemuiku semalam? Padahal semalam adalah malam dimana seharusnya kami menikmatinya? Apa jangan jangan,,,, " Febby cepat meraih ponselnya


"Apa saja yang sudah kau katakan padanya?" ketus Febby saat Angga menjawab telponnya.


"Hai beib,,, sabar dulu. masih pagi babe jangan marah marah nanti ilang manisnya" Angga malah menggodanya


"Dasar,,, jawab dulu pertanyaanku!!!" Febby kesal


"Aku tidak mengatakan apa pun tentang kita,,,, setidaknya tidak untuk sekarang." Jawab Angga ringan


"Heehhh,,, apa maksudmu??" Febby makin kesal dibuatnya


"Hahahaha,,, rileks beib. Darren tetap harus tau kan? hahahha" Angga tertawa


"Dasar sinting!!! kamu tidak bisa ya seenaknya mencampakkan aku lalu mau memiliki aku lagi setelah aku bersusah payah mendapatkan Darren" kata Febby


"Coba saja hentikan aku kalau kamu bisa" ejek Angga


Febby kesal dan menutup telponnya.


"Dasar pria gila,,," sungutnya


"aku tak boleh membiarkan dia mendekati Darren. Darren tidak boleh tau" pikirnya


Tok tok tok,,,


Febby terkejut mendengar ketukan di pintu kamarnya. Dia beranjak dan membukanya.


"Hai sayang,,," Febby langsung mencium bibirku


Aku mendorongnya dan memilih segera masuk menemui Mike yang masih tidur.


"Kenapa dia mendorongku? Apa dia lupa aku ini sudah jadi istrinya? Atau jangan jangan,,, Angga???" Febby berpikir keras


Aku mengecup kening Mike. Kemudian bangkit dan akan keluar saat Febby menghadangku di pintu.


"Apa yang salah dengan ciumanku??" tanyanya


Aku menarik napas dalam.


" Beri aku waktu. Aku memang menikahimu tapi kamu harus ingat alasan utamanya adalah Mike." aku menjawabnya


"Segampang itu kamu menjelaskannya padaku?" tanya Febby


"Please Febby,, aku tidak ingin bertengkar denganmu. Aku harap kamu mau bekerjasama dan bersabar dulu. Bantu aku untuk bisa membuka hatiku untukmu" ucapku lalu menggeser badannya agar aku bisa lewat


Febby membiarkanku lewat dan meninggalkannya.


"Ku kira sudah saatnya aku menikmati hasil usaha kerasku mendapatkanmu,,, Nyatanya aku masih harus kerja keras lagi.!!! Febby bicara sendiri.


" Siapkan sarapanku" teriakku padanya dari lantai bawah


"Apa??? Dia menyuruhku membuatkan sarapannya??" Febby makin kesal tapi dia tetap turun.


Dibuatkannya aku susu dan mengoleskan selai di rotiku. Lalu dengan kasar menyodorkannya padaku. Aku menggeleng dibuatnya.

__ADS_1


"Sebagai istri tidak begitu seharusnya kau bersikap. Menyiapkan sarapan itu tugasmu dan harus kau lakukan dengan lembut,, ikhlas,, seperti Chaira. Dia selalu membuatkanku sarapan sebelum aku turun. Tidak perlu memintanya pun Chaira sudah melakukannya" ujarku mengajarkan padanya


"Oohh,,, jadi kau sedang membandingkan aku dengan Chairamu itu??" Febby mulai kesal lagi


" Aku tidak sedang begitu. aku hanya ingin kamu belajar" aku mulai marah dibuatnya.


Chaira tak pernah sekali pun berani membantah ucapanku. Dan itu membuatku terbiasa diperlakukan seperti itu.


"Chaira Chaira Chaira dan Chaira saja!!!" Febby berteriak kesal


Dia segera berlari menaiki tangga. Aku mengurungkan sarapanku melihat tingkahnya dan segera berangkat ke kantor.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dion memperhatikan aku yang datang dengan muka masam.


"Hey pengantin baru,,, kenapa lu? Febby mens???" Godanya


"Diam!!!" bentakku


"Ok,, ok,,, dasar labil" dia mengiyakan lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


Aku tak segera memulai kerjaku. Tiba tiba saja aku merindukan Chaira tapi segera ku usir perasaan itu karena aku kembali mengingat ulahnya.


"Gue mau lu ke kantor polisi" titahku pada Dion


"Ngapain?" tanyanya heran.


Dion kembali menghentikan pekerjaannya dan mendekati mejaku lalu duduk di kursinya.


"Lu benar bro,, gue tak perlu sekejam ini padanya. Bagaimana pun juga itu semua karena ulah gue" lirihku


"Gue segera kesana" ujarnya lagi tak ingin aku yang disebutnya labil berganti pikiran lagi.


"Tunggu" sergahku


"Ah apalagi,,, jangan bilang lu berubah pikiran ya" Dion mulai merasa tak enak


"Katakan padanya,,, untuk tidak menemuiku lagi sampai dia menyadari kesalahannya itu..Jangan khawatir masalah biaya biaya hidup. Aku akan tetap mentransfer uang bulanannya" ujarku


"Lu gak niat ceraiin dia bro?" tanya Dion kembali duduk di depanku


Aku hanya menggeleng.


"Gue belum mikir kesana" lirihku


"Terserah lu lah,, gue cabut sekarang" Dion segera pergi menuju kantor polisi menemui Chaira.


\=\=\=\=\=\=\=


"Jadi Darren mencabut tuntutannya? Apa dia sudah tau bahsa aku tidak bersalah?" Chaira bertanya pada Dion


Dion menggeleng. Sebenarnya dia tak sampai hati menyampaikan pesanku.


"Maaf Chai,,, Darren mencabutnya bukan karena dia percaya itu bukan ulahmu tapi dia ingin kamu introspeksi diri dulu. Dia pikir disini mungkin bukan tempat yang bagus untukmu memikirkan kesalahanmu." kata Dion


"Dan dia memintamu untuk tidak usah menemuinya sebelum kamu menyadari kesalahanmu" tambahnya

__ADS_1


Chaira hendak menyela tapi Dion kembali bicara.


"Jangan khawatir masalah biaya hidupmu. Darren masih menganggapmu istri jadi dia akan tetap menanggung biaya hidupmu" lanjut Dion


Chaira tertunduk.


"Bukan uangmu yang aku harapkan,, tapi kepercayaanmu bahwa aku tak melakukan hal yang dituduhkan Febby" batin Chaira


"Terima kasih Dion" itu saja jawaban Chaira


Setelah mengurus dan menyelesaikan urusan di kantor polisi Dion menawarkan diri mengantar Chaira tapi ditolaknya. Dion tak memaksa.


"Maafkan aku Chai,,, setidaknya aku lega kamu sudah bebas dari penjara. semoga kamu bisa segera menyadari kesalahanmu dan bisa kembali pada Darren. Bagaimana pun juga aku lebih suka melihat Darren bersamamu" Batin Dion


Chaira menyetop taksi dan segera menuju butiknya menemui Rosa.


Rosa menyambutnya dengan sukacita. Cukup rasanya saling melepas rindu Chaira mulai menceritakan pada Rosa semua yang dikatakan Dion tadi.


"Jadi apa rencana kakak sekarang?" tanya Rosa setelah Chaira selesai bercerita.


"Aku akan lebih fokus pada pekerjaanku. Mengelola butik. Fokus pada kehamilanku ini juga" Kata Chaira mengelus perutnya.


"Kita sama sama melangkah ke arah yang lebih baik ya nak walau tanpa ayah bersama kita. " Chaira bicara sendiri


Rosa memeluknya.


"Semangat ya kak,,, Aku dan Toni akan selalu mendampingimu" ujarnya


Chaira mengangguk.


"Terima kasih ya Ros" ucapnya


"Jika memang kamu memintaku untuk tidak menemuimu maka akan aku lakukan Dare,, Tapi jika kamu mengira aku tak menemui karena ingin introspeksi diri maka kamu salah,,, Justru aku yang memberimu waktu untuk menyadari kesalahanmu dan menemukan siapa pelaku yang sebenarnya. Bagaimana pun juga aku sangat menyayangi mama seperti menyayangi umi. Aku tak akan melakukan hal keji seperti itu" batin Chaira


"Semoga tuhan selalu menjagamu Dare,,, membuka mata hatimu,,, semoga dengan kita saling berjauhan seperti ini kita bisa kembali saling merindukan satu sama lain"


"Dan aku akan merawat anak kita sebaik mungkin walau tanpamu"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Jadi dia sama sekali tak protes?" tanyaku pada Dion


"Yaahhh seperti Chaira yang ku kenal selama ini lah,,, diam seribu bahasa" jawab Dion


Aku diam tak bicara lagi. Aku sibuk memikirkan kenapa Chaira sama sekali tak menolak? Apa dia sudah tak mencintaiku lagi? Apa dia tak ingin bersamaku lagi?


Kenapa aku malah kecewa saat dia menuruti kemauanku??


Harusnya aku senang,,,


Tapi tidak,,


Aku justru merasa kehilangan.


"Tidak,, tidak,, Aku tidak boleh lembek begini. Bagaimana pun juga itu hukuman untuknya" pikirku kembali


Jangan lupa Vote, like dan komen yaaaa

__ADS_1


Terima kasih 😍


__ADS_2