
Selamat membaca 🌹
Maaf banyak typo 🙏
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌹🌹
"Istirahatlah nak,,, Biar ayah yang gantian jaga Tiara." kata Darren sembari menepuk bahu Levi.
Levi menoleh dengan mata yang lelah. Maklum sejak siang tadi Tiara dibawa ke rumah sakit akibat pingsan karena dehidrasinya,, Levi belum beranjak sama sekali dari samping ranjang Tiara yang masih tertidur.
Tiara sudah siuman tadi tapi karena kondisinya masih sangatlah lemah dan meski selang infus sudah terpasang di tangannya mengalirkan cairan pengganti namun tetap saja Tiara masih sangat lemah. Tubuhnya masih menolak untuk digerakkan lebih banyak. Matanya pun masih sangat berat sehingga dirinya pun memilih untuk tidur saja agar tubuhnya cepat pulih.
"Iya nak Levi,,,Tinggal saja dulu. Kamu juga perlu untuk makan dan minum juga. Kamu perlu istirahat juga nak." bu Mila yang terbaring di ranjang sebelah Tiara menimpali.
"Tidak apa apa bu. Levi masih ingin di sini. Sebaiknya ibu kembali beristirahat ya biar ibu cepat pulih kembali. Ayah juga,,, Ayah pulang saja dulu sama Rayya. Biar Levi di sini bersama Bimo saja."sahut Levi memandang bergantian pada semua orang yang dia sebut namanya.
"Om Herman juga boleh istirahat dulu. Biar Levi yang jaga tante sekalian." ucap Levi kemudian pada pak Herman yang terlihat tengah memijit mijit tengkuknya sendiri.
"Om tidak apa apa Levi. Om masih bisa jaga tante." pak Herman mengatakannya sambil menggenggam tangan bu Mila yang tersenyum padanya.
Bu Mila memang meminta agar pak Herman mencarikan ruang perawatan yang bisa sekamar dengan Tiara saja agar gampang menjaganya. Bu Mila juga perlu perawatan setelah beberapa kali sempat pingsan.
Awalnya Pak Herman tak bisa dapat kamar yang demikian karena kebetulan setiap kamarnya sudah terisi satu orang. Namun Darren membantunya mendapatkan kamar yang demikian.
Pak Herman sempat menolak karena harga kamar VIP itu tentu mahal dan beliau merasa tak mampu membayarnya.
"Aku yang akan membayarnya Herman. Tenang saja." kata Darren tadi berusaha membuat pak Herman tak menolak lagi.
__ADS_1
"Tapi Dare,,," pak Herman merasa tidak enak hati.
"Sudahlah,, Lagipula aku tak bisa membiarkan Levi menjaga Tiara dalam keadaan yang serba sempit begini. Kalau kamu setuju mereka dibawa ke ruang VIP kan setidaknya masih ada sofa atau ruangan lain bagi Levi istirahat." ucap Darren.
"Baiklah,,, Aku menurut padamu. Aku anggap ini hutangku padamu karena seharusnya aku yang membiayai anak dan istriku." sahut pak Herman.
"Hey,,, Kan aku yang memaksamu jadi ini bukan hutang. Sekali lagi kutegaskan ini bukan hutang. Yang berhutang itu aku,,Aku masih belum memberikanmu uang ganti rugi untuk modal usahamu yang dulu bangkrut akibat ulah orangku." kata Darren setengah bercanda karena dia baru ingat dia belum sempat menyerahkan cek senilai kerugiaan yang diderita pihak pak Herman dulunya.
"Kamu serius mau memberikan uang itu??" tanya pak Herman.
"Aku tak bercanda sama sekali." jawab Darren tegas.
Pak Herman menelan ludahnya dengan susah payah. Satu sisi beliau menginginkan uang tersebut namun di sisi lain kebaikan Darren padanya membuatnya tak enak hati untuk meminta lebih. Belum lagi rasa bersalahnya karena sempat menolak putra Chaira mendekati putrinya,,, Sekali lagi pak Herman menelan ludah.
"Baiklah kalau begitu ayah sama Rayya pulang dulu ya. Kabari ayah begitu Tiara sudah merasa lebih baik." pamit Darren sambil menepuk bahu Levi lagi.
"Iya ayah,,," sahut Levi dengan senyum lelahnya.
"Ehhhmmm ayah,,,Apa Rayya boleh di sini saja?? Kasian bang Bim sendirian dan bosan nanti." kata Rayya setengah merayu.
Darren memicingkan matanya mendengar alasan Rayya yang ingin tinggal di sana juga. Sejurus kemudian setelah otaknya mampu memahami kenapa Rayya meminta hal demikian,,, Darren pun tersenyum.
"Baiklah,,,Asal Bimo tidak merasa keberatan kalau harus menjagamu juga. Bagaimana Bimo??" tanya Darren mengalihkan pandangannya pada Bimo.
"Selalu siap jaga Rayya om,,, Dengan senang hati malahan." sahut Bimo dengan sikap hormat bendera.
Seisi ruangan tertawa geli melihat ulahnya itu terutama Rayya yang kalau tidak ingat ini banyak orang bisa langsung jingkrak jingkrak karena keinginannya untuk berlama lama dengan Bimo akhirnya terkabul.
Darren hanya senyum dan geleng geleng kepala saja melihat ulah Bimo itu. Darren memandang Rayya yang juga tampak kegirangan itu.
__ADS_1
"Hmmm Apa ini artinya aku akan segera punya menantu laki laki juga dalam waktu dekat?? Tapi tidak,,, Rayya masih belum cukup umur dan masih harus melanjutkan pendidikannya dulu." batin Darren.
Meski tau bahwa dibalik sikap urakannya itu Bimo tetaplah pemuda yang baik namun Darren hanya tak ingin cita cita Rayya menjadi seorang chef bertaraf internasional itu harus pupus karena pikirannya bercabang.
Rayya masih harus kuliah ke luar negeri setelah lulus SMAnya. Dan itu artinya Rayya harus belajar jauh dari Bimo kalau masih mau mencapai cita citanya itu.
Darren mulai merasa akan ada babak baru cobaan sebagai single daddy. Digaruknya perlahan kepala belakangnya yang tiba tiba saja terasa gatal. Darren pun melangkah keluar.
"Ayah tidak apa apa kan pulang sendiri??" tanya Rayya yang menyusulnya bersama Bimo.
"Tentu saja tidak apa apa. Ayah pulang sekarang ya. Kamu baik baik di sini. Jangan merepotkan om Herman. Jaga sikap dan jaga diri ya nak. Jangan lupa ingatkan kak Levi untuk makan dan istirahat juga. Hubungi ayah kalau ada hal penting." pesan Darren sebelum benar benar meninggalkan kamar VIP itu.
"Iya ayah,,,Rayya pasti ingat pesan ayah." jawab Rayya.
Darren tersenyum dan mengelus kepala Rayya.
"Bimo,,, Om titip Rayya lagi ke kamu ya." Darren mengalihkan pandangannya pada Bimo yang menjawab dengan seulas senyum.
Darren ragu hendak melangkah karena sebenarnya dia ingin menekankan pada Bimo untuk menjaga jarak dengan Rayya. Tapi melihat kebahagiaan Rayya,,,Senyum Rayya,, Darren tak tega.
"Ada apa om??" tanya Bimo heran karena Darren masih berdiri di tempatnya.
"Ah sudahlah,,, Mungkin juga tidak ada rasa lebih di antara mereka berdua. Bisa jadi Rayya hanya menganggap Bimo itu kakaknya sama seperti Levi. Aku masih bisa membicarakan hal itu lain kali." Batin Darren.
"Om??" suara Bimo sekali lagi terdengar.
"Oh,,, Maaf Bim,,,Om cuma sedang mengingat ingat apa ada hal yang om lupa untuk om katakan pada Rayya dan Levi. Tapi sudah semuanya kok,,, Om pergi dulu ya,,," pamitnya langsung pergi tanpa menunggu jawaban Bimo.
"Om Darren kenapa yak,," Bimo bicara sendiri sambil mengangkat bahunya sendiri lalu masuk ke ruangan VIP itu menyusul Rayya. Tak lupa ditutupnya kembali pintu itu agar AC di ruangan itu tetap bisa bekerja optimal.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Terima kasih atas vote, like dan komennya ya 🌹