BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S Part 144


__ADS_3

...Selamat membaca 🌹...


...Maaf banyak typo πŸ˜€πŸ™...


...🌹🌹🌹...


Joni yang di sapa langsung bergerak gerak menantang dan menyatakan ingin segera dilahap oleh bibir mungil yang sudah membuatnya tegak mengacung.


"Udah gak sabar ya Joni??"


Karin malah sengaja dengan lihai mengelus dan memainkan benda berukuran lumayan di atas ekspektasi Karin. Bahkan boleh dibilang yang satu ini adalah yang paling wow ukurannya dibandingkan dengan yang pernah dilihatnya sebelumnya.


"Buruan dong sayang. Kasihan tuh Joni. Ntar ngambek loh." pinta Dion dengan wajah sudah dipenuhi dengan fantasi fantasi nakalnya.


"Kalau ngambek malah gak Karin mainin loh,,," Karin menyentil kecil benda yang hanya kemerahan dan berisi urat kehijauan itu makin mengeras.


Dikecupnya kecil ujungnya lalu pelan tapi pasti Karin menguasai benda itu seluruhnya.


"Itu milikmu sayang. Habiskan. Jangan pernah disisakan." Dion mulai meracau.


Tak ingin berbagi dengan siapa pun Karin memuaskan dirinya sendiri memainkan yang sudah halal menjadi miliknya itu. Sangat terasa bedanya ketika bermain main dengan yang sudah halal dan yang masih belum dulu.


Kali ini semua dilakukan Karin tidak hanya dengan buaian nafsu belaka,, namun juga diiringi dengan perasaan cinta dan kesadaran penuh bahwa ini adalah tanggung jawabnya.


Untuk menyenangkan suaminya baik di ranjang atau pun di tempat lain. Demi mengggapai ridho tuhannya.


Dion makin melayang dibuat oleh bibir mungil Karin dan merasa cukup dipermainkan begitu. Ganti dirinya yang menarik agar Karin berdiri lalu dengan sekali gerak dion sudah berjongkok di depan Karin.


Sepasang kaki indah itu bisa dirasakannya gemetar saat tangannya menyusup masuk lewat bawah melewati gaun panjang yang dikenakan Karin. Perlahan Dion meletakkan satu kaki indah itu dipundaknya dan kepalanya pun menyusup masuk ke gaun itu.


Mencium aroma wangi khas area yang baru kali bisa dirasakannya lagi. Pelan namun pasti Dion juga tak mau kalah untuk mendominasi di sana. Tubuh Karin dibuat meliuk liuk dan bergetar hebat ketika puncak asmaranya datang.


Pemanasan dirasa cukup dan jangan tanya apa yang terjadi setelahnya. Tentunya adalah adegan yang lebih memabukkan kedua insan yang dimabuk cinta itu.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Seminggu kemudian,,,


"Baiklah kalau begitu. Papa percayakan Karin untuk ikut kamu." meski berat namun Adi tidak bisa melarang ketika


Dion datang membesuknya bersama Karin dan besannya.


Dion akan membawa Karin ke Hawaii karena di sanalah semua bisnisnya berpusat.


"Jangan khawatir pa. Kami akan sesering mungkin datang membesuk papa." ucap Dion.


"Mau habis uang berapa bolak balik ke sini kamu??" tanya Adi dengan nada gregetnya mengerjai Dion.


"Sampai habis uangku asal buat Karin bisa bahagia ketemu papa gak akan buat aku jadi menyesal pa." Dion menyombong.


"Mantu songong."sungut Adi.


"Aduh maafkan Dion ya pak Adi. Anaknya memang begitu itu." mamanya Dion jadi tidak enak.


"Tidak apa apa bu. Yang penting dia bisa menjadi suami terbaik bagi putri saya. Itu sudah cukup bagi saya. Oh ya saya juga ingin titip Karin pada bapak dan ibu. Tolong diterima dan dianggap anak sendiri. Kalau dia salah,, ditegur saja." Adi bisa langsung sangat sopan saat bicara dengan besannya.


"Tentu pak Adi. Jangan khawatir soal itu." jawab papanya Dion.


"Selalu ingat pesan papa ya Rin. Jadi istri yang baik."


"Iya pa. Papa jaga diri ya. Jangan lupa sholat dan jaga kesehatan. Doakan Karin juga cepat isi ya pa. Biar Karin bisa kasih papa cucu."


"Pasti Rin. Kemana pun kamu pergi,,doa papa bersamamu."


Perpisahan yang sendu itu tetap haru segera diakhiri begitu petugas penjara datang dan membawa Adi kembali masuk ke selnya.


"Ayo sayang kita berangkat." ajak Dion membimbing bahu Karin yang terasa bergetar karena tangisannya.


Berat rasanya meninggalkan papanya sendirian di negara ini menjadi tahanan tapi ini konsekuensi baginya yang memilih menikah dengan Dion.


Tidak menyesal namun hanya terasa berat saja sedikit di awal. Dan itu wajar.

__ADS_1


Dion sekeluarga pun berangkat menuju ke bandara dan bertemu dengan keluarga Darren yang hari ini juga memutuskan bertolak ke Indonesia.


"Gue tunggu kabar baik dari lo dan Karin ya." ucap Darren.


"Jangan lupa,, bukan lo aja juga yang nunggu kabar baik dari Rayya dan Bimo. Gue juga selalu ingin ponakan gue itu bahagia dan bisa segera beri kita berdua cucu. Levi sama Tiara juga kayaknya perlu nih bikin proyek anak kedua." kata Dion.


"Emang udah mulai kok om. Tenang saja. Nanti kita bertiga lomba ya siapa yang duluan gol." kelakar Levi yang langsung dapat pukulan manja Tiara.


"Pasti gue duluan lah yang menang. Kan gue yang duluan nyelup. Lo kan baru kemarin kemarin aja selama di sini. Gue udah tiap malam dan sehari tiga kali pokoknya nyangkul." Bimo tak mau kalah.


"Abaaanggg,,, gak usah detail gitu juga kali ngomongnyya. Rayya malu tau,,," Rayya merajuk karena malu.


"Wah gak sangka adik kakak jago dan doyan juga ya main sama Bimo,,, hahahha,,," ketawa Levi pun disusul pukulan gemas Rayya karena makin malu.


"Udah udah gak usah rebutan. Mau siapa aja duluan ya g jelas kita nikmati kebahagiaan kita masing masing ya. Tapi pasti om sih yang menang. Secara Karinnya tiap hari sampai ampun ampun loh hahaha,,," Dion malah pamer kesaktian.


"Ish,, Om papa juga sering keok kok,,," sungut Karin.


Suasana sebelum berpisah pun terasa hangat dan riuh. Dion merangkul Darren.


"Lo gak boleh lancang ninggalin kita. Lo sehat dan wajib sehat biar bisa gendong anak gue. Lo yang paling ingin menyaksikan gue punya anak kan bro?? Jadi lo harus kuat." ucap Dion.


"I will. Tenang bro." Darren meyakinkan.


Suara operator bandara membuat kedua keluarga itu akhirnya berpisah dan menuju ke pesawat masing masing yang akan membawa mereka kembali ke kehidupannya masing masing meski satu sama lain masih selalu terhubung.


"Bidadariku,,,hari ini aku bahagia sekali. Di hari ulang tahunmu aku masih bisa mengunjungi makammu." Darren meletakkan serangkain mawar di pusara Chaira setibanya dari bandara.


"Kelak jika ayah meninggal,, Ayah ingin kalian makamkan ayah disini." ucap Darren pada semua anak dan menantunya yang ikut ke makam.


"Itu masih lama ayah. Ayah masih harus tunggu dan memastikan kami semua sudah bahagia. Bunda pasti akan


membiarkan ayah bersama kami lebih lama. Bunda meninggalkan kami untuk ayah jaga dan tak akan meminta ayah menyusulnya secepatnya."


Darren mengangguk ketika Levi mengatakannya. Dipeluknya Levi dan Rayya di depan makam Chaira dan Ray. Matanya dipenuhi genangan airmata.

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


...Terima kasih atas vote, like dan komennya 🌹🌸❀️...


__ADS_2