
Selamat membaca 🌺
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Darren menunaikan ibadah sholat subuhnya dengan khusyuk. Dirinya tak lupa memanjatkan doa bagi semua anggota keluarganya yang telah pergi mendahuluinya.
"Semoga kalian semua ditempatkan di jannahNYA yang terindah. Aamiin,,," Darren menutup doanya pagi itu.
Menyadari bahwa dirinya bukan lagi seorang pria yang tinggal sendiri dan bisa memesan makanan apa pun yang menjadi kesukaannya,,, Darren pun meraih ponselnya.
Dibukanya web yang menyediakan berbagai resep masakan dan bahan apa saja yang dibutuhkan serta bagaimana cara membuatnya.
Dirinya lebih fokus membaca resep masakan yang khusus untuk sarapan kedua anaknya.
"Omelet?? Sepertinya cocok. Tapi apa aku bisa membuatnya ya,,,??" pikir Darren yang memang tak pernah memasak itu.
Jika lapar dirinya hanya tinggal menekan tombol pesan di ponselnya dan makanan pun akan datang kepadanya. Namun kali ini,,, Darren tidak mau anak anaknya makan makanan sembarangan.
Darren harus memastikan asupan gizi untuk kedua anaknya itu tercukupi. Untuk itu Darren bertekad untuk belajar masak dan memasak makanan untuk anaknya sendiri.
"Aku pasti bisa,,, aku tak ingin membuat Chaira kecewa dan tidak tenang di sana. Harus yakin!! Aku pasti bisa,,,!!!" tekadnya bulat.
Setelah cukup lama berkutat dengan ponselnya,,, Darren paham cara membuat omelet,,, Darren pun bergegas ke dapur dan mencari apa dia punya semua bahannya.
Dan setibanya di dapur dia pun menepuk jidatnya sendiri.
"Bagaimana mungkin aku bisa punya semua bahannya kalau masak saja tidak pernah." gumamnya setelah menyadari sebutir telur pun dia tidak punya.
"Aku harus ke pasar,,, tapi aku tidak mungkin meninggalkan mereka di rumah saat mereka masih tidur begini. Hhmm,, bagaimana ini??" Darren pusing.
Darren pun terduduk di kursi meja makan yang berada dekat dapurnya. Darren lesu dan putus asa.
Baru sehari mengurus anak itu pun belum full seharian saja dia sudah pusing. Terbayang dalam benaknya bagaimana sibuknya Chaira membesarkan ketiga anaknya semasa hidupnya.
Terlintas lagi beribu penyesalan di hatinya karena tak ada di sisi Chaira saat dia tentu butuh bantuan.
"Bukannya menemaninya,,, tapi malah menceraikannya sepihak. Kamu jahat Dare,,," bisik hati Darren.
Betapa penyesalan itu tidak pernah hilang apalagi sekarang Chaira telah pergi tanpa memberinya kesempatan memperbaiki hubungan mereka.
"Tunjukkan cintamu pada mereka Dare,,,"
__ADS_1
Pesan mendiang Chaira dalam mimpimya semalam kembali terngiang di telinganya. Darren pun bangkit.
"Ya,, aku harus bisa!! Demi cintaku padamu bidadariku,, demi anak anak kita,,," ucap Darren.
Bertepatan dengan itu telinganya pun menangkap suara dagang sayur keliling di komplek perumahannya itu. Dengan cepat dia berlari dan keluar untuk memanggil tukang sayur itu.
"Sayuuurrr,,,, sayuuuuurrrr!!!!" teriak Darren dari pintu rumahnya.
Tukang sayur itu pun menoleh dan merasa tidak yakin bahwa pria yang tak pernah ditemuinya itu adalah yang memanggilnya.
Dengan ragu ragu wanita tukang sayur itu pun mendekati rumah Darren.
"Bapak panggil saya??" tanyanya.
"Iya,,, saya mau beli tapi saya tidak bisa meninggalkan halaman rumah saya ini. Anak anak saya masih tidur semua. Apa ibu mau masuk ke halaman saya??" tanya Darren pada wanita itu.
Wanita tukang sayur itu tampak melihat ke sekeliling dulu. Dia takut Darren berniat buruk padanya.
"Tenang saja,,, saya bukan orang jahat." ucap Darren lagi.
Tukang sayur itu pun tersenyum dan mengangguk. Dengan langkah mantap dia memasuki halaman rumah Darren yang pagarnya sudah dibuka otomatis oleh Darren melalui remote nya.
"Bapak mau beli apa?? Silahkan dipilih pilih" kata tukang sayur itu.
Tukang sayur itu pun heran. Selama ini para ibu ibu komplek sibuk memilih sendiri apa yang mereka perlukan lalu menyerahkannya padanya untuk dihitung.
Tapi Darren yang tidak pernah belanja di tukang sayur keliling tidak tau seperti itu biasanya.
"Sepertinya pria tampan ini baru kali ini belanja." batin wanita tukang sayur itu.
"Istrinya kemana pak,,, kok belanja sendiri." tanyanya sambil memilih milihkan bahan yang dibutuhkan Darren.
Darren tidak menjawab pertanyaan itu dan hanya berterima kasih saat penjual sayur itu menyerahkan sebungkus plastik berisi semua keperluannya.
"Berapa semuanya??" tanya Darren.
"Lima puluh ribu pak." sahut penjual sayur.
"Tunggu,,, saya ambilkan uang dulu." kata Darren.
Penjual sayur itu pun menunggu. Tak lama kemudian Darren kembali dengan selembar uang seratus ribu.
__ADS_1
"Kembaliannya untuk ibu,, sebagai rasa terima kasih saya karena ibu telah banyak membantu saya pagi ini. Saya doakan dagangan ibu laris manis." ucap Darren.
Penjual sayur itu pun melongo menerima uang yang dua kali harga belanjaan Darren yang sebenarnya sudah dinaikkan harganya tanpa sepengetahuan Darren. Dia pikir bapak tampan itu juga tidak akan tau harga setiap barangnya.
"Te,, ter,, terima kasih pak" ucapnya terbata bata kareba merasa tidak enak sudah curang pada Darren.
Darren hanya tersenyum. Penjual sayur itu keluar dari halaman rumah Darren dan menghampiri ibu ibu komplek yang sudah menunggunya di pertigaan komplek tempat biasanya dia mangkal.
"Lama bener sih baru dipanggil sama duren itu,,,!!!" celetuk salah satu ibu ibu komplek.
"Ehh emangnya itu duren??" tanya ibu ibu lain.
"Iyaaa,,, sudah lama dia tinggal sendirian. Dengar dsngar sih bininya baru meninggal,, makanya sekarang dia jadi single papa,,," timpal yang lain.
"Waahhh mau dong sama duren,,,"
"Single papa kan hot ya,,, "
Ibu ibu komplek pun mulai ramai dengan gosip yang mereka siapkan tiap harinya. Hari ini Darren pun tidak luput dari bahan pergosipan mereka.
Penjual sayur itu hanya diam dan berpikir.
"Pria sebaik itu kok tidak menikah lagi,,,?? Tidak mungkin dirinya tidak ada yang mendekati,, Seandainya saja aku ini bukan penjual sayur keliling,,, aku juga ingin mendekatinya." batin penjual sayur.
"Ehh Ratna,,, mikir apa kamu?? Jangan jangan kepincut sama si duren itu ya kamu,,, Baru dipanggil masuk ke runahnya sekali saja sudah jadi bego dan bengong bengong begini. Nih hitung berapa belanjaanku,,,!!" tegur salah seorang ibu ibubyang sudah selesai belanja.
"Ah bu Mirna bisa saja,,, ya mana mungkin lah tuan kaya itu mau sama penjual sayur keliling begini,,," jawab penjual sayur bernama Ratna itu.
"Yang penting kan rayuannya Ratna,,," sahut ibu ibu yang lain.
Ratna hanya tersenyum tipis dan memilih tidak menanggapinya. Segera dihitungnya belanjaan yang sudah selesai dan memberi kembalian sesuai jumlah belanjaan itu.
Sesekali matanya kembali ke halaman rumah Darren saat ibu ibu itu masih sibuk memilih.
"Kamu masih saja seperti dulu Dare,,, Tampan dan kaya. Tapi mana mungkin aku bisa mendekatimu apalagi berharap kamu mau sama aku Dare,,, kamu saja sudah lupa padaku,,," gumamnya dalam hati.
"Hitung dulu Ratna,,, jangan ngelamun saja!!!"
Lagi lagi seorang pembeli mengganggu lamunannya.
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen yaa
Terima kasih 💞