
Selamat membaca ๐น
Maaf banyak typo ๐
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
๐น๐น๐น
"Aku minta maaf Han,,, Untuk semuanya. Aku tidak bisa menyebutkan satu persatu semua kesalahanku saking banyaknya." ucap Dion gentle di depan Hana yang sudah bisa duduk.
Hana menoleh pada Bryan yang berdiri di sebelah ranjangnya. Bryan mengangguk dan tersenyum memberi isyarat bahwa dirinya tak bermasalah.
"Iya Dion,,, Mungkin memang jodoh kita sebagai suami istri hanya cukup sampai di sana saja. Mungkin aku bukan jodoh terbaikmu dan sebaliknya. Tuhan sudah punya jodoh terbaik yang pasti sudah disiapkan bagimu juga seperti tuhan sudah menyiapkan Bryan untukku." ucap Hana.
"Kamu hanya perlu menunggu."lanjutnya lagi.
Dion mengangguk meski berat baginya melakukannya karena itu bertentangan dengan kata hatinya yang masih tetap menginginkan Hana lah jodoh terbaiknya.Dion merasakan betul apa yang disampaikan Darren tadi tentang betapa sakitnya rasa ketika hati kita memberontak namun kita tak bisa berbuat apa apa selain merelakan wanita terkasih kita untuk bahagia bersama pria lain.
"Hana benar,,, Aku memang hanya perlu menunggu hingga aku bisa memaafkan diriku sendiri." batin Dion.
"Sini bantu gendong anakku Dion." kata Bryan pada Dion.
Dion ragu ragu namun dia tak ingin mengecewakan Bryan yang sudah begitu baik padanya. Diterimanya salah satu bayi Hana dan digendongnya.
"Mata dan hidungnya mirip kamu Bry,," ucapnya.
"Hampir semuanya mirip ayahnya. Gimana nih Han,,, Kamu gak kebagian nih,,,"timpal Darren yang berdiri di samping Dion.
"Yang bener ah,,, Mana coba aku lihat,,," kata Bryan sangat bersemangat lalu menghampiri Dion.
Dion pun menunjukkan wajah bayi yang digendongnya itu. Bryan tertawa saat melihat kebenaran dari perkataan Dion itu.
"Lah kamu ngapain kesini sih,,, Tuh kan sudah gendong sendiri. Lihat yang kamu gendong kan bisa" protes Darren.
"Ya kan siapa tau gak sama." sungut Bryan.
__ADS_1
"Kembar woyyy kembarrrrr." sahut Darren.
"Oiya ya wkwkwkwk,," sahut Bryan.
"Eh tapi benar lho beib,,,Mata sama hidungnya mirip aku. Maaf ya beib,,, Kamu cuma kebagian sedikit saja. Yang mirip sama kamu cuma bibirnya. Tipis dan penuh senyuman." ucap Bryan menoleh pada Hana yang sudah senyum senyum sendiri menyadari kebodohan suaminya tadi.
"Gak apa apa. Kalau masih bayi kan suka berubah ubah wajahnya. Nanti juga bakalan mirip aku kok gedenya wekk,,,," sahut Hana tak mau kalah.
"Gak bisa gitu dong. Anak aku nih,," jawab Bryan.
"Anak kamu kalau kamu buatnya sendirian." ketus Hana manyun.
"Hahahaha,,, Iya deh anak kita ya beib." jawab Bryan mendekati Hana dan mengecup keningnya.
"Terima kasih ya beib sudah melahirkan dua putra sekaligus untukku. Aku mau kita gak usah nunda nunda lagi buat yang putri yaa,,," ucap Bryan menggoda istrinya.
"Isshh,,, Belum juga kering jahitan sudah bahas mau buat lagi kamu itu beib,,,," protes Hana.
"Normal beib normal akunya,,," sahut Bryan tertawa.
Bukan sengaja pamer kebahagiaan namun memang seperti itulah kenyataan dan kebahagiaan yang dirasakan Hana dan Bryan hingga mereka lupa ada hati yang merasa lemah melihat kekuatan cinta mereka.
"Jadilah anak baik kelak. Wakili aku membuat ibumu bahagia dan bangga telah menjadi ibu dan istri yang baik." batin Dion sambil mengelus pipi mungil itu.
Darren melirik sahabatnya itu.
"Bro,,, kan Bryan sudah disini nih. Lo pulang sama gue ya,, Gue mau jemput Levi sama Rayya. Katanya lo kangen mereka. Ikut gak??" tanya Darren membuat drama agar Dion tak berlama lama merasa serba salah di sana.
"Boleh,, gue ikut deh. Gue kangen banget sama mereka. Mereka sudah pada gede gede pasti ya." sahut Dion menangkap umpan dari Darren dengan baik.
Keduanya pun berpamitan setelah Dion menyerahkan bayi yang digendongnya pada Hana. Darahny berdesir hangat saat tangannya menyentuh kulit Hana. Desiran rindu dan gairah yang membuncah membuat dirinya tak ingin lagi berlama lama di sana merasakan rasa nano nano.
Dion baru bernapas lega setelah keluar dari ruangan itu. Ditinggalkannya sepasang suami istri yang tengah berbahagia itu.
"Aku turut bahagia untukmu Han,,,Namun hatiku bersedih sekali. Maafkan aku kalau aku tak bisa sepenuhnya merelakan kamu bahagia dengan pria lain."batinnya disertai setitik airmata menetes di pipinya.
__ADS_1
Cepat cepat Dion menghapusnya sebelum Darren melihatnya.
"Tidak apa apa. Gue paham kok.Gue dulu juga sering begitu kan?? Lo saksi hidupnya,,,"ucap Darren menepuk bahunya.
"Ya tapi lo kan gak di tempat umum gini meweknyaaaa. Lo enak aja bilang gak apa apa. Lo mau bikin gue malu yaaa,,,Kira kira dong ngomongnya. Tahan Dion,,, Jangan nangis dulu. Nanti aja di mobil. Gitu kek,,," Sungut Dion kesal.
"Hahahah,,, Ternyata lo masih Dion gue yang gokil dulu. " kata Darren sambil membuka pintu mobil Dion.
Mereka sepakat memakai mobil Dion saja. Darren kangen disetirin sama Dion seperti dulu dulu semasa mereka masih kuliah.
"Terus gimana nih rencananya? Mau balik jadi casanova atau mau alim kayak gue???" tanyanya begitu sudah duduk di mobil.
"Kalau lo kan emang asli alim dari dulu. Chaira aja yang bisa bikin lo kalang kabut aslinya. Kalau Febby kan sebenarnya lo bisa hindari. Jadi ya wajar kalau lo tambah alim gini. Kalau gue,,,Lain perkara bro. Jiwa casanova gue berontak lah kalau lo suruh gue single terus dan meratapi semua ini terus." kata Dion semangat.
Darren menatap wajah sahabatnya yang jelas jelas menampilkan senyum dan semangat palsu itu. Direngkuhnya bahu Dion.
"Sudah di mobil bro. Tumpahkan dan luapkan saja biar lebih lega dalam hati lo. Setidaknya lo akan punya kekuatan baru setelah kamu sedikit menghempaskan sesak dalam dadamu." ucap Darren tiba tiba dengan suara dan kalimat yang lebih lembut.
Dion memegang kemudi dengan cengkeraman kuatnya lalu berkali kali mengguncang guncangkan tubuhnya.
"Bodoh kamu Dion. Bodoh!!! Menyesal kan kamu sekarang?? Bisa apa kamu sekarang?? Merebut Hana tapi artinya itu mengusik kebahagiaannya atau kamu diam saja merelakan dirinya bersama yang lain padahal hatimu tidak rela??? Jawab Dion jawaaaabbbb,,,,!!!!" Dion memaki maki dirinya sendiri.
Darren diam dan membiarkan saja sahabatnya itu mencaci maki dirinya sendiri,, Meluapkan semua emosinya dan kekecewaan pada dirinya sendiri. Hingga akhirnya sahabatnya itu membenamkan wajahnya di kemudi mobilnya.
Darren bisa melihat guliran airmata yang tak kunjung habisnya terus menerus membasahi celana milik sahabatnya itu.
"Hanaaaa,,, Aku masih sangat mencintaimu sayang,,," ucap Dion di sela sela tangisnya.
"Buktikan dan tunjukkan cintamu itu dengan perlahan mengajari hatimu bagaimana merelakannya bro,,, Gue tau itu berat tapi lo harus bisa melakukannya demi kebahagiaan Hana." ucap Darren masih dengan tangannya di punggung Dion.
Dion memuaskan dirinya menangis hingga hampir sejam mereka berada di dalam mobil.
"Sudah jam pulang sekolah anak anak. Kita berangkat ya,,,Lo sudah lebih baik kan??" tanya Darren kemudian.
Dion mengangguk dan merapikan dirinya sedikit lalu menjalankan mobilnya menuju sekolahan Levi dan Rayya. yang kebetulan jadi satu tempat.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Terima kasih atas vote, like dan komennya yaa ๐นโค๏ธ